
Tamu penting lainnya yang hadir merupakan orang-orang penting di kota Shuning, meski hanya perwakilan namun kesemuanya memiliki jabatan dan juga memiliki kemampuan pendekar tingkat tinggi.
Dan dari semua tamu, hanya ada satu yang paling mencolok dari segi apapun. Dia merupakan walikota Shuning, Tuan Shen Ho. Semua orang sudah pasti dengan jelas bisa melihatnya, bukan hanya tempatnya yang mewah namun juga dua orang wanita yang menemaninya begitu menyita perhatian.
Patriark Sun sebenarnya tak ingin mengundangnya namun karena para Tetua Tombak memaksa untuk mengirimkan undangan sebagai rasa hormat dan patuh membuat Patriark Sun tak bisa menolaknya.
Penerimaan murid baru sebenarnya hanyalah acara kecil yang di adakan setahun sekali, sebab tidak ada yang terlalu istimewa dari acara tersebut.
Sebenarnya, ada acara yang cukup besar yang melibatkan seluruh sekte Kerajaan Shio, acara tersebut di gelar setiap lima tahun sekali. Yang Upacara pembukaannya langsung di buka oleh Raja Li Xiuhuan.
Alasan mengapa cukup banyak perwakilan dari sekte lain yang datang ke Tujuh Tombak Emas bukan untuk menyaksikan acara yang ada melainkan mereka mempunyai tujuan yang sama yaitu melihat potensi dan kekuatan pendekar muda yang dimiliki Tujuh Tombak emas.
Acara lima tahun sekali itu akan di gelar tidak lama lagi, mereka sangat penasaran dengan Tujuh Tombak Emas yang beberapa tahun terakhir namanya cukup tersohor dan menjadi bahan perbincangan seluruh pendekar yang ada di Kerajaan Shio.
Keberhasilan Tujuh Tombak Emas membumihanguskan Lembah Hijau tanpa korban jiwa dipihaknya menjadi cerita utama selama beberapa tahun belakangan. Karena kejadian itu juga yang menyebabkan seluruh sekte aliran hitam membatasi pergerakan mereka dan bahkan ada beberapa sekte aliran hitam yang menghentikan aktifitas luar mereka, menyebabkan situasi beberapa tahun ini begitu tenang dan hampir tak ada tindak kejahatan.
Dari semua tamu yang hadir, Patriark Sun hanya lebih dekat dengan Wu Bing sehingga hanya dia yang menjadi teman bicara. Para Tetua Tombak melakukan tugas mereka masing-masing membuat Patriark Sun seperti berada di kalangan orang asing meskipun dia sebagai Tuan rumahnya.
Hampir semua perwakilan sekte aliran putih telah hadir kecuali Sekte Anggrek Suci.
Terlihat perwakilan mereka juga tak cukup membaur dan akrab dengan yang lainnya kecuali dari sekte lain yang mempunyai hubungan dekat.
"Sebenarnya aku merasa bosan tapi mau bagaimana lagi,-!! haihh.. Apakah saudara tidak merasakan hal yang sama, Saudara Shen jing,-!!Ohh ya bagaimana kabar Patriark Shen Dong??."
Terlihat seseorang yang duduk di paling ujung tidak melihat tema acara yang sedang berlangsung, dia beberapa kali menghela nafas serta melirik singkat seseorang di sampingnya yang juga terlihat enggan melihat acara yang berlangsung. Ia adalah Shen Jing, salah satu penasehat Patriark Shen Dong dari Sekte Pedang Langit.
"Mau bagaimana pun tugas tetaplah tugas, meskipun aku merasa menyedihkan berada di sini dengan memandangi anak-anak yang sedang menari,-!! Tau begini mestinya aku ikut Patriark Shen ke Kerajaan Hao untuk berkunjung ke Sekte Langit Cerah. hehh,?"
__ADS_1
Shen jing berbisik pelan sambil menggeleng kecil. Ia merasa menyesal telah salah memilih misi yang diberikan. Sekarang ia hanya duduk diam dengan menyaksikan calon murid uji tanding. Ia merasa seperti melihat anak-anak yang sedang menari dibanding melihat sebagai pertarungan.
Seseorang di sampingnya hanya tertawa kecil mendengar keluhan Shen Jing tanpa membalas perkataannya.
Patriark Sun menyadari dengan jelas bahwa perwakilan yang datang tidak bertujuan melihat acara penerimaan murid baru tapi bertujuan hal lain.
"hehh, orang-orang ini. Biarpun kalian sekte aliran putih, tapi niat dan tujuan kalian telah salah jalan. Andaikan Dia ada disini, aku ingin lihat bagaimana cara kalian membuat alasan,-!! Ahh, lagi lagi teringat tentangnya. Saudara kecil yang bodoh. hehh."
Batin Patriark Sun.
•••••
Setelah berakhirnya penjelasan panjang Dewi LianHua pada Tan hao menyangkut tujuan dan keinginannya, membuat Tan hao memiliki perasaan yang rumit. Ia terlihat begitu buruk raut wajahnya. Tatapan mata Tan hao begitu kosong.
"Sesuatu yang besar harus diawali dari yang terkecil. Aku tidak membebanimu, aku hanya berharap kau mampu. Aku sudah mengatakan yang sejujurnya, sekarang yang mau aku katakan adalah kembalilah keduniamu dan lakukan semuanya dari awal, ingat,!! lakukan semuanya dari mulai yang terkecil dan terlemah dengan penuh hati-hati dan rinci. Jangan remehkan hal kecil apapun. Dan yang paling utama dari semuanya adalah jangan pernah berhenti atau menunda pelatihanmu, kupikir kau sudah tau akibat dari itu bukan,?"
Tan Hao menyadari pemikirannya salah dan sekarang ia tau apa yang harus ia lakukan. Hanya saja ia masih belum mengerti tentang bagaimana cara kerja Dimensi Suci, Dewi LianHua juga tak pernah mau memberitahukannya.
Padahal Tan Hao berfikir, jika mampu menguasai ilmu Dimensi Suci ini, sudah dipastikan ia akan menjadi pemilik kekuatan terhebat di Alam Bumi. Namun sayangnya, Dewi Lianhua tak ingin mengajarinya.
Selama ini yang Dewi LianHua lakukan hanyalah menjelaskan sesuatu dan menceritakan masalah-masalah dunia tanpa sekalipun mengajarinya ilmu atau sebuah jurus.
Dalam hati Tan hao berharap diakhir penjelasan Dewi LianHua, ia akan diajari sebuah ilmu atau jurus yang hebat. Mendapatkan sebuah ilmu atau jurus dari seorang Dewi merupakan sesuatu yang menakjubkan.
"Aku tau apa yang kau pikirkan, sayangnya aku adalah Dewi Pencerahan. Tidak akan bisa memberikan sebuah hadiah khusus. Aku hanya bisa memberikanmu ini. Benda ini memang kecil dan tidak ada harganya, tapi benda ini menyimpan sesuatu yang istimewa. Simpanlah. Suatu saat kau akan tau fungsinya."
Tan Hao sempat muram wajahnya namun segera berubah ketika Dewi Lianhua mengatakan memberikan sebuah benda. Tan hao berfikir benda itu sebuah senjata surga atau sejenisnya, ia begitu antusias membuka kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Namun, setelah ia menerima dan melihatnya. Wajahnya kembali muram dengan seringai tipis.
"Biji Teratai,? Apa-apaan ini...? aihh.. harapan yang tak sesuai. fuhh." kata Tan hao dalam hati diakhiri helaan nafas kasar sembari menyimpan biji teratai yang ada ditangannya ke sela-sela lilitan kain di pinggangnya.
"Dasar, kurang ajar. Apa kau tau apa salah satu kemampuanku." Seru Dewi LuanHua dengan begitu keras serta tegas.
"Ehh, mana aku tau. Kan Dewi Hua tidak memberitahuku." jawab cepat Tan hao dengan bodonya.
Dewi LianHua terlihat menahan marahnya, meskipun matanya terpejam tapi jelas terlihat urat-urat di pelipisnya.
"Sudah kubilang panggil aku Dewi LianHua, bodoh. Sekarang kuberitahu kau, kemampuanku Membaca isi hati dan pikiran. Tch.."
Tan Hao terkejut dengan sikap konyolnya seakan tidak menganggap kemarahan dan nada tinggi Dewi LianHua sebagai sebuah keseriusan.
"Sudah cukup, waktumu habis disini. Sekarang kau harus kembali."
Dewi LianHua membuang muka dengan kedongkolannya, sentilan ringan jarinya membuat Tan Hao hilang dalam sekejap.
Setelah mengirim kembali jiwa Tan hao kembali pada tubuhnya. Dewi LianHua senyum-senyum sendiri.
"Dasar bocah nakal, kau sama bodohnya dengan Yaoshan. hihi. Tidak tau sopan santun, hanya tau mengusik orang."
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba muncul Bunga Teratai yang lainnya namun berukuran lebih besar dari milik Dewi LianHua. Terlihat seorang perempuan muda bergaun tak kalah indah dari milik Dewi LianHua.
"Ahh anakku yang cantik, kenapa baru muncul sekarang. Bukankah kau ada rindu dengannya,-!! Dia persis sepertimu tapi sedikit, hhahaaha."
Dewi LianHua berkata dengan enteng yang diakhiri tawa lantang. Sikap dan tingkahnya sangat berbeda jauh saat sedang bersama Tan hao beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
Perempuan muda diatas Bunga Teratai yang baru saja muncul itu hanya diam menunduk dengan ekspresi jengkel. Terlihat aura yang di pancarkannya begitu kental melihat tingkah serta sikap Dewi LianHua yang belum berhenti tertawa.