
Fen Fang melotot tajam, ia tak menyangka kalau Tan Hao mengetahui jika dirinya sedang mengumpulkan kepala manusia. Seketika itu juga dalam benaknya berpikir kalau mungkin saja Tan Hao juga sudah mengetahui kegunaan dari kepala-kepala itu.
"Hehe, aku lelah. Aku tidur duluan ..." ujar Fen Fang sembari berjalan ke tempat tidur yang berada disudut lain kamar tersebut.
Ruang kamar yang disediakan memang cukup luas, terdiri dari empat kamar tidur dan satu set meja makan. Bangunan bertingkat dua itu hanya memiliki dua ruang kamar yang diperuntukkan bagi petinggi asosiasi bila berkunjung. Salah satu kamar di gunakan oleh Tan Hao dan lainnya sementara kamar lain masih terkunci.
Hujan yang mendera begitu lebat disertai angin, kini berangsur reda hingga hanya terlihat seperti gerimis padat tanpa angin.
Dingin air hujan masih harus ditambah dengan dingin udara ketika menjelang pagi. Sebelum Tan Hao merebahkan diri, ia menyempatkan untuk menambah selimut yang menutupi tubuh Lan Lihua.
Tan Hao masih mengamati wajah Lan Lihua sembari membelai rambut gadis berdada besar itu. Kelihatan dari sorot matanya seperti menyimpan rasa harap yang besar.
Tak berselang lama, Tan Hao tertidur sementara tangannya menopang rambut Lan Lihua yang sedikit tergerai dipembaringan bercat putih tersebut.
Fen Fang yang awalnya berpamitan untuk tidur lebih dulu, membuka pelan-pelan kedua matanya begitu dirinya sudah tidak mendengar lagi gumaman Tan Hao pada Lan Lihua.
'Tentu saja kau pasti sangat lelah! Aku sampai lupa kapan terakhir kali melihatmu tertidur setenang ini. Tenang saja, aku pasti akan membantumu...! Jika aku sudah berhasil mengembalikan kekuatanku, aku berjanji akan membawamu ke Pulau Phoenix untuk mengambil sesuatu yang aku simpan disana.'
Fen Fang bangkit dari tidurnya kemudian duduk di tepi tempat tidur sembari membatin, sementara pandangannya terarah pada dua orang yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri.
'Cih ... Orang tua tidak berguna! Sejak kapan kau jadi selembut ini? Apa kau sudah lupa kapan terakhir kali mati dan siapa yang membunuh kita! Tuntaskan dulu dendam kita, setelah itu membantu bocah itu bukan lagi masalah!" seru ular besar didalam pikiran Fen Fang yang terlihat malas.
Fen Fang bangkit dari duduknya kemudian melangkah dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara berniat untuk keluar kamar.
"Selamat pagi, Tuan! Apa ada yang tuan inginkan!"
Setelah menutup pintu tanpa bersuara, dirinya dikejutkan oleh suara yang menyapa cukup ramah. Fen Fang tak menduga kalau Ying Yue benar-benar menaruh dua pelayan di depan pintu kamar.
"Ah tidak! Aku hanya ingin jalan-jalan menikmati udara pagi. Tapi aku minta, saat matahari sudah setinggi satu kaki. Kalian siapkan sarapan dan susu hangat, jangan lupa satu guci arak!" ujar Fen Fang setengah berbisik sebelum kemudian berjalan meninggalkan dua pelayan wanita yang berpenampilan sama dengan ekspresi yang sama bingungnya.
Fen Fang memutuskan untuk pergi ke atap bangunan asosiasi setelah beberapa kali menoleh kesana kemari tidak jelas arah tujuan.
"Cih, terus saja berlagak tidak mendengarku!" geram sosok ular itu yang memiliki nama Niu Ru.
"Aku tidak akan pernah melupakan orang itu! Buat apa terburu-buru. Itu tidak bagus," ujar Fen Fang setelah terduduk menghadap kearah matahari terbit.
Tidak ada yang istimewa dari kota tersebut selain bisa menikmati matahari terbit tanpa terhalang, udara dingin berhembus sangat kuat. Bekas hujan semalam juga masih bisa terlihat.
Dari atas atap bangunan, Fen Fang melihat dengan jelas penduduk kota Shaoguan mulai beraktifitas. Di kejauhan ia juga melihat penjagaan masih tetap sama.
__ADS_1
"Niu! Apa kau mengetahui soal Manusia Ular Gurun? Mungkin mereka salah satu dari keturunanmu," tanya Fen Fang sembari mengamati orang-orang yang mulai keluar dari rumah mereka.
"Aku tidak tahu! Yang jelas mereka bukan keturunanku. Jangan asal menebak!"
Perbincangan keduanya terus berlangsung hingga matahari mulai menampakkan diri, kadang kala mereka saling mendebat hal hal kecil.
Apa yang mereka lakukan baru berhenti ketika menyadari kalau situasi penjagaan tiba-tiba berubah, tak ada lagi penjaga yang ada di atas dinding kota membuat Fen Fang terdiam heran sesaat.
Perlu diketahui jika penjagaan yang dilakukan oleh pendekar yang dikirim asosiasi terbagi menjadi empat sisi. Dan yang di lihat Fen Fang adalah sisi timur.
"Serangan datang? Secepat ini kah?" Fen Fang melompat kemudian berlari kearah dinding kota bagian timur.
Ditengah laju larinya, ia tak melihat ada sesuatu yang janggal di dalam kota. Semua penduduk beraktifitas seperti biasanya, menurut pendapatnya mungkin Manusia Ular Gurun ini melakukan serangan diam-diam dengan sasaran para penjaga.
"Apa memang seperti ini penjagaan disini?" tanya Fen Fang pada salah seorang yang memiliki pangkat lebih tinggi dari lainnya.
Orang itu yang berdiri menghadap ke luar kota tersentak oleh sapaan Fen Fang, "Ah kakek ini siapa? Kenapa menanyakan hal seperti itu? Lebih baik kakek kembali ke dalam,"
"Kalian, perhatikan dengan teliti! Jangan sampai hilang pengawasan. Kita tidak tahu arah datangnya serangan ini!" perintah orang itu sembari menunjuk kearah beberapa penjaga.
Fen Fang tersenyum sinis, orang yang memiliki pakaian berbeda dari penjaga lainnya itu kembali ke posisinya tanpa menjawab. Dia tampak sibuk mengatur barisan pertahanan.
Setelah beberapa waktu mengamati area sekitar, Fen Fang memutuskan untuk kembali ke penginapan asosiasi meninggalkan orang yang sewaktu Fen Fang melesat kembali ke dalam kota, hanya meliriknya sembari tersenyum sinis.
"Kyaa ... Tolong ... Ada ular! Tolong aku ...!"
Belum lama Fen Fang berlari menggunakan jurus angin senyap, terdengar suara wanita minta tolong, 'Apa itu? Apakah mungkin itu ulah manusia ular?' gumamnya setelah berhenti tiba-tiba untuk mencari sumber suara tersebut.
DUARR!
Ledakan singkat terjadi di salah satu rumah yang tak begitu jauh dari aliran sungai, terlihat asap membumbung ke langit. Fen Fang dengan sigap langsung mengubah arah lalu melesat berlari menggunakan jurus angin senyap.
"Hahaha! Tidak ada yang akan menolongmu! Para penjaga itu hanya menjaga tembok kota bukan orang-orang didalamnya, salahkan dirimu sendiri kenapa memiliki anak perempuan secantik ini!" ujar seorang yang memiliki wujud berbadan manusia namun berekor seperti ular, terdapat pula sisik transparan di sekujur kulitnya.
Orang itu sedang memanggul seorang anak perempuan di bahunya, sementara yang berteriak dan terisak di depannya seorang wanita kurang lebih berusia tiga puluh tahunan.
"Tolong lepaskan anakku!" hardik wanita paruh baya itu sambil menahan rasa geram.
"Seharusnya kau bangga...! Anakmu akan menjadi bagian dari Ratu Qin Ling! Persembahan terhormat yang akan menjadi kekuatan dari Roh Dewi Ular, haha!"
__ADS_1
DUAK!
"Siapa itu...! Berani menyerangku diam-diam? Cari mati ...!" geram orang itu setelah menerima pukulan telak di punggungnya.
***
Tan Hao terbangun setelah hidungnya dipermainkan oleh Lan Lihua, terlihat wanita itu menyunggingkan senyum penuh makna.
"Ah, selamat pagi keras kepala! Bagaimana kabarmu?" sapa Tan Hao sembari meliukkan tubuh sebelum bangkit dari tidurnya.
Wajah Lan Lihua nampak cerah, sementara luka bakar di beberapa titik tubuhnya entah bagaimana bisa mengering secepat itu meskipun masih menyisakan bekas yang cukup jelas.
"Bagaimana kau bisa tidur disini? Sementara di luar sana aku dengar sedang terjadi keributan? Tidakkah kau ingin menjadi pahlawan bagi mereka atau ... untuk diriku!"
Tan Hao terperanjat mendengar tutur kata Lan Lihua yang berubah seratus delapan puluh derajat dari kemarin lalu. Senyum tipisnya kelihatan manis dan sopan saat sedang membenahi kerah baju Tan Hao.
"Ah itu...! Ya, aku pikir Kakek Fang sedang di luar. Bagaimana bisa aku menjadi pahlawan jika menjaga istriku saja aku tidak becus? Apa yang akan aku katakan nanti pada Leluhur Lan dan Paman Feng," Tan Hao beranjak dari tepi tempat tidur dan menuju ke meja makan yang berada di tengah ruangan.
"Bagaimana kondisimu saat ini? Apa masih ada rasa sakit yang kau rasakan?" tanya Tan Hao sembari menuang segelas air lalu memberikannya pada Lan Lihua.
Lan Lihua tersenyum manis saat membenahi posisi duduknya dan meraih gelas air itu, "Aku lebih baik dari yang kau ketahui kakak! Aku terbangun ketika merasa tubuhku seperti terpanggil sesuatu, rasanya seperti aku sangat lapar!"
"Oh bagaimana aku bisa lupa, kau kan belum makan apapun dari kemarin! Tunggu sebentar ... Pelayan! Siapkan sarapan tanpa daging!"
"Baik Tuan!"
Tan Hao berubah ekspresinya seperti seorang yang mencoba bertanggung jawab, kelihatan dalam memerintah pelayan yang ada di luar kamar raut wajahnya begitu canggung.
'Ada apa dengan Kak Hao Hao? Kenapa sikapnya jadi seperti itu?' batin Lan Lihua sambil tersenyum paksa melihat tingkah Tan Hao saat memberi perintah para pelayan.
"Kakak, maksudku bukan itu! Aku seperti membutuhkan sesuatu di luar sana dalam jumlah banyak, entah kenapa energiku berdesir sewaktu baru saja terjadi keributan. Aku tidak tahu itu apa, aku hanya merasa seperti itu," Lan Lihua tersenyum canggung dalam menjelaskan, ia mengerti benar perubahan perhatian Tan Hao yang masih kaku tersebut.
Tan Hao langsung berubah serius saat Lan Lihua mengatakan itu, sejenak kemudian ia langsung mengeluarkan buku biru yang ia selipkan di pakaiannya.
'Apa jangan-jangan Bintang Gajah Naga membutuhkan Inti Roh dari Manusia Ular Gurun itu untuk kembali bercahaya? Semoga saja benar ... Semoga saja benar!' Tan Hao membolak-balikkan lembaran buku tersebut berusaha mencari jawaban dari apa yang ia pikirkan.
Sementara Lan Lihua terlihat kebingungan, dalam satu waktu dirinya melihat perubahan sikap Tan Hao sampai tiga kali, 'Sebenarnya apa yang terjadi! Sampai kakak bisa seserius itu? Apa aku yang menyebabkan Kakak Hao Hao seperti itu?'
"Ketemu...! Bintang Gajah Naga yang merupakan simbol dari keberanian, menelan segala kerakusan dan kekejaman. Cahaya terang darinya adalah amukan emosi keberanian dalam meleburkan rasa kejam dan rakus. Tidak ada yang dapat menandingi batasan dari rasa iri dan dengki, hanya ada cahaya terang yang menyinari...."
__ADS_1
'Aku tak menyangka, akan secepat ini menemukan cara untuk memulihkan Hua'er! Tapi apa maksud dari kalimat terakhir ini? Batasan rasa iri dan dengki, cahaya terang yang menyinari? Apakah itu maksudnya bulan di langit malam?' batin Tan Hao beberapa saat setelah membaca salah satu lembaran dari buku tersebut.