Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 230 ~ Pedang Raja Emas Hitam


__ADS_3

Tan Hao melebarkan mata ketika baru saja sampai dan melihat pertarungan yang terjadi. Fen Fang merasa reaksi itu karena Tan Hao mengenal pendekar wanita yang sedang berdiri di atas dahan pohon belasan meter di depannya.


“Apa kau mengenal wanita itu? Aku lihat perasaanmu sedikit terpengaruh!” Fen Fang bertanya setelah melirik Tan Hao.


Helaan napas terdengar lirih sebelum Tan Hao bergumam pelan, “Ran, aku senang kau baik-baik saja!” kemudian Tan Hao mengungkapkan secara singkat pada Fen Fang sementara pertarungan adu aura tenaga dalam terus meluas hingga sampai ditempat Tan Hao berada.


Tentu saja Fen Fang mengenali wanita yang memiliki busur di punggungnya itu, tetapi tidak dengan dua wanita lainnya.


Disaat itu juga terdengar tawa lantang, Fen Fang langsung menatap tajam orang itu. Ia tentu saja mengenalinya sebab saat dulu masih berhubungan dengan Kaisar Mugi Wara, dirinya sempat bersitegang dengan Komandan Hirada.


“Tidak perlu terburu-buru membantu mereka, aku ingin lihat sejauh mana mereka bertiga berkembang. Lagipula, orang itu tak memiliki pendukung sama sekali. Dia sendirian...!” Tan Hao menyarankan setelah menyadari reaksi Fen Fang ketika diterpa aura yang cukup kuat.


“Aku mengerti, terserah kau saja!” balas Fen Fang melunak, tetapi ekspresi wajahnya terlihat lain.


Tan Hao penasaran dengan peningkatan yang diperoleh tiga wanita bersaudara tersebut. Sudah lebih dari enam tahun ia tak melihat pertarungan mereka, untuk itu ia meminta Fen Fang menahan diri.


Situasi pertarungan semakin memanas, adu tekanan aura tenaga dalam sudah hampir mencapai puncaknya. Itu terbukti ketika Hirada mulai meraih pedang besarnya. Disisi lain, Wen Liu telah bersiap dengan Pedang Bintang Kembar.


“Kalian yang cari mati sendiri...! Cukup main-mainnya...!” Totsuki Hirada menyibak udara ketika mengayunkan pedangnya ke arah Wen dan Zey berada.


Benturan aura tenaga dalam yang terjadi seketika menghilang dengan cepat, Wen Liu ingin membalas hal itu tetapi wanita yang berdiri di atas dahan pohon melesat cepat kemudian mendarat tepat di depannya.


BOOM!!


Ledakan energi kilat biru menyambut serangan Hirada, kilat biru itu berasal dari sepasang trisula yang di pegang wanita berambut hitam panjang.


“Jangan sentuh adikku, bajingan...!”


Ran Liu langsung mengeluarkan teknik pertama dari jurus Trisula Dewi Perang, Kilat Biru Trisula Dewi untuk menghadang serangan teknik pedang Hirada.


“Kau?!” Hirada terkejut menyadari serangannya berbalik namun terpecah ketika membentur pedangnya.


Fen Fang tertegun melihatnya kemudian melirik Tan Hao dengan cepat.


“Kenapa kakek begitu terkejut? Dia belum serius, aku rasa orang itu akan kalah memalukan, hehe...!” Tan Hao tertawa kecil menyaksikan Ran Liu mampu meningkatkan kecepatan teknik yang diberikannya beberapa tahun lalu.


Fen Fang tersenyum sinis sebelum membalas ejekan Tan Hao, “Kau bisa bilang begitu karena belum pernah melihat seberapa tangguhnya Pedang Emas Hitam, aku berani bertaruh kalau wanita itu akan kewalahan setelah beradu tiga teknik serangan lagi,”

__ADS_1


“Kakek juga tak pernah melihat apa yang mampu dia perbuat ketika menyangkut saudaranya! Kita lihat saja....”


Keduanya terdiam dan kembali menyaksikan pertarungan, posisi mereka yang lumayan jauh serta menyembunyikan hawa keberadaan membuat keduanya bebas menonton tanpa disadari.


Kembali ke tempat pertarungan, Hirada tak menyangka jika wanita yang sedari awal hanya diam saja ternyata memiliki kemampuan yang cukup merepotkan. Sebelumnya ia berpikir kalau wanita itu hanya menonton karena sadar diri tak memiliki kemampuan, tapi nyatanya berlainan.


“Kakak! Serahkan ini pada kami, kakak baru saja sembuh. Tubuh kakak belum sepenuhnya terbiasa....”


“Tidak! Justru ini kesempatan bagiku untuk membiasakan diri setelah sekian lama tak berdaya, lagipula aku sudah cukup lama tidak merasakan sensasi pertarungan yang sebenarnya!” Ran Liu menolak permintaan Zey Liu, ia berkeinginan melawan Hirada bukan untuk mengalahkannya saja tetapi juga membiasakan tubuhnya setelah sembuh dari luka dalam beberapa hari yang lalu.


Hirada tertawa kemudian bertepuk tangan mendengar perbincangan itu, “Kalian bersaudara rupanya! Hahaha ... Sayangnya, meskipun kemampuanmu lumayan tapi tak cukup untuk bisa mengalahkanku seorang diri! Aku sarankan, kalian bertiga majulah! Hahaha,”


“Jangan sombong! Bahkan jika kau seorang Alam Dewa Bumi sekalipun, aku tak gentar menghadapimu!” Ran Liu melapisi tubuhnya dengan energi tenaga dalam sembari menyiapkan trisulanya.


“Haha lucu sekali! Kalian pikir, kalian Dewi dari Empat Penjuru! Majulah, akan aku perlihatkan jarak antara kita,” Hirada tak ingin kalah, ia juga melapisi pedang besarnya yang berwarna hitam gelap dengan energi tenaga dalam sambil mengubah posisi tubuhnya bersiap menyerang.


Nama Dewi Empat Penjuru memang telah tersebar luas semenjak pertempuran Lembah Hijau, tetapi Hirada tak mengetahui jika ketiga lawannya itu merupakan anggota dewi empat penjuru.


Wen dan Zey saling berpandangan mendengar pengakuan Hirada, keduanya tak menduga kata-kata itu keluar dari mulut orang yang memiliki bekas luka di mata kanannya itu.


DUAR!!


Hirada kembali melepaskan teknik pedangnya, terlihat jelas ia hanya sekali mengayunkan pedang besar itu tetapi sabetan energi berbentuk bulan sabit yang tercipta berjumlah lebih dari belasan.


Kecepatan yang luar biasa menurut penglihatan Wen, tetapi itu bukan masalah bagi kakaknya.


Dan benar saja, Ran Liu bergerak lincah seperti menari di udara dengan sepasang trisulanya. Gerakan itu merupakan teknik kedua dari jurus Trisula Dewi Perang.


“Itu! Kakak akan mengeluarkan jurus Gelombang Penjuru Langit! Kita mundur!”


Wen dan Zey langsung mengambil jarak mengetahui apa yang akan dilakukan kakaknya, sementara tawa percaya diri Hirada masih terdengar sayup-sayup setelah ia melepaskan serangannya.


Dan benar saja, energi yang tercipta dari tarian Trisula Dewi Perang itu menghasilkan seperti ombak energi dalam jumlah besar.


BLARR!!


Ledakan bertubi-tubi sebanyak jumlah energi pedang berbentuk bulan sabit yang dikeluarkan Hirada terjadi hampir bersamaan menciptakan sisa pekikan yang mengaum di udara.

__ADS_1


Tawa percaya diri Hirada langsung lenyap ketika mendapati beberapa bagian pakaiannya sobek terkena dampak serangan yang dikeluarkan Ran Liu.


“Kurang ajar...!”


WHONG!!


“TEKNIK PEDANG RAJA! PEMENGGAL DEWA!”


BOOM!!


Kemarahan Hirada langsung memuncak dan ia langsung mengeluarkan salah satu jurus terbaiknya.


Serangan itu mengandung energi tenaga dalam dua kali lipat dari serangan sebelumnya, dan hanya tercipta tiga tebasan berbentuk bulan sabit tetapi memiliki ukuran yang jauh lebih besar.


Zey Liu tak tinggal diam begitu saja, menyadari ada kesempatan untuk menyerang Hirada yang baru saja mengeluarkan jurusnya, Zey Liu meraih busurnya dengan cepat kemudian mengerahkan sebagian energi tenaga dalamnya untuk mengeluarkan teknik pertama dari Busur Bulan.


SWOOSH!!


Jurus Formasi Hujan Pencabut Nyawa langsung terarah pada Hirada hanya berselang satu tarikan napas sejak dia menyeimbangkan tubuhnya, sontak saja hal itu membuatnya tak memiliki cukup waktu untuk bersiap menghalau ratusan hujan energi anak busur yang mulai menghujamnya.


Sementara Ran Liu memejamkan mata sebelum menyambut serangan tiga tebasan energi yang mengarah padanya.


WHUNG!!


“Gelombang Penjuru Langit tingkat kedua...!” Wen Liu terkagum-kagum menyaksikan apa yang dilakukan kakaknya, ia tak percaya jika teknik jurus bisa di tingkatkan.


Wen juga terlihat tak menyangka, bahkan kakaknya tak bergerak dari posisi dan hanya menggerakkan kedua tangannya tetapi dia mampu mengeluarkan jurus yang secara kasat mata mengandung energi jauh lebih besar dari sebelumnya.


BLARR!!


DUAR!!


Ledakan besar terjadi hampir bersamaan, ketika jurus Zey Liu mengenai Hirada dan jurus Ran Liu menghancurkan tiga tebasan energi pedang.


Gelombang energi yang dihasilkan meluas bahkan pepohonan disekitar terhempas keras. Tan Hao dan Fen Fang terkejut bersamaan dengan datangnya hempasan tersebut, meskipun tubuh keduanya tak berpengaruh hanya penglihatan mereka saja yang terganggu.


“Bagaimana bisa kau selalu saja memiliki wanita yang menyeramkan! Dia bahkan terlihat tak jauh beda dari Hua Hua...!” Fen Fang melindungi pandangannya menggunakan lengan selagi ia menyaksikan apa yang terjadi selepas hempasan kuat menyebar.

__ADS_1


__ADS_2