
Kepulan asap pekat segera tersebar setelah ledakan dari benturan kedua jurus tersebut sempat mengguncang area pertarungan. Bukan hanya pendekar topeng biru yang terkena dampaknya, tapi juga beberapa pendekar topeng putih dan hitam.
Dibalik asap terlihat samar-samar, Yong Li tengah berdiri tetapi tumpuan kakinya setengah tertekuk. Sementara kedua tangannya nampak menggantung dan tangan kanan masih memegang pedang yang ujungnya telah patah.
Disisi lain, Patriark sekte Harimau Emas itu berdiri sembari memanggul kapaknya, ekspresi wajahnya begitu cerah, terlihat pakaiannya seperti tercabik-cabik namun tubuhnya tak terluka sedikit pun.
"Aku merasa tubuhku seperti sedang memakai zirah, bahkan dampaknya sangat sedikit yang aku rasakan. Apakah ini fungsi lain dari sumber daya itu? Hoo ... Tak heran jika dia dijuluki Tuan Muda. Hng! Maaf guru ... tapi aku tak punya pilihan lagi, aku harap guru memaafkan ku di sana."
Chen Seng terlihat menatap langit, sorot matanya menunjukkan hal lain dari ekspresi wajahnya. Seperti seorang yang penuh penyesalan tapi disisi lain juga merasa penuh kepercayaan diri.
Sejenak kemudian ia mengubah arah pandangan dimana Yong Li berada. Setelah menghirup napas beberapa kali, ia melesat dengan kecepatan tinggi menuju kearah Yong Li sementara kapaknya telah siap memenggal apapun yang akan dilewati.
Yong Li terlihat sedang mengatur pernapasannya sembari menyeimbangkan tubuhnya, meskipun kesadarannya masih tetap terjaga. Tapi luka yang ia derita cukup parah, menyebabkan keseimbangan tubuhnya rapuh. Bisa dibilang akan rubuh hanya dengan hembusan angin.
"Kurang ajar! Ini benar-benar tidak bisa diterima. Bagaimana mungkin aku bisa kalah dari orang lemah itu? Jika aku mati disini olehnya, hmm ... Aku yakin Shen Dong akan ...."
CRAAKK ... SLASSHH ...
Chen Seng memenggal kepala Yong Li sebelum ia menyelesaikan kesahnya. Kapak Naga terkenal karena dapat kembali ke keadaan semula hanya dengan darah manusia dan itu baru saja terjadi.
Bersamaan dengan terlepasnya kepala Yong Li, Kapak Naga menyerap habis sisa darah yang menempel di mata pisaunya. Hal itu disaksikan oleh seluruh pendekar topeng putih dan hitam yang masih sadarkan diri. Membuat mereka bergidik ketakutan, sementara beberapa pendekar topeng emas hanya diam ditempat, terlihat kewaspadaan mereka begitu tinggi.
"Dendam ya? Apakah dengan berhasil membalas dendam dan membunuh seseorang akan mengakhiri rasa itu? Aku rasa itu tak sesederhana itu! Yah ... meskipun aku tahu ini akan menyebabkan masalah baru, tapi sampai kapanpun kebencian itu akan terus terjaga."
Chen Seng memandangi kepala Yong Li yang tergeletak di atas tanah tak jauh dari tubuhnya. Sementara pikirannya masih mempertanyakan apa yang telah ia lakukan.
Sementara itu, ditempat lain yang tak terlalu jauh dari tempat pertarungan antara Chen Seng dan Yong Li. Mudong Shen masih terus menyerang wanita bertopeng ungu tersebut tanpa memberikannya kesempatan untuk menyerang balik.
Terlihat jelas bahwa arah pertarungan memperlihatkan Mudong Shen lah yang menguasai situasi, sementara wanita bertopeng tersebut seperti terpojok oleh berbagai serangan jurus kapak bumi yang memiliki hawa energi berbentuk kumbang jantan.
__ADS_1
Namun, yang terlihat tidaklah sama dengan apa yang terjadi. Ekspresi dan sorot mata Mudong Shen seakan memberi jawaban akan situasi yang sebenarnya.
"Apa dia mengulur waktu berniat untuk menghabiskan tenagaku? Jika begini terus, aku akan dalam masalah. Sementara pil roh hitam sudah hampir mencapai batasnya! Aku harus segera bertindak ...."
"Mau sampai kapan mereka akan bermain seperti itu? Aku hampir bosan menunggu disini! Hoamph ...." keluh seorang pemuda yang memiliki corak teratai di punggungnya. Terlihat ia seolah terduduk di atas gumpalan awan sembari mengamati pertarungan.
WHONGG ... WHONGG ...
DUAARR ...
WOSH ... WOSH ..
Mudong Shen menyalurkan segenap tenaga dalamnya, ia berpikir untuk segera menyelesaikan pertarungan sebelum efek dari pil roh hitam habis.
"Oh sepertinya dia mulai serius! Apa dia telah menyadarinya, cihh! Kalau begitu, aku juga ...." kata wanita bertopeng ungu tersebut yang suaranya terdengar bertumpuk.
BLAARRR ...
Chen Seng mengernyitkan dahi ketika melihat ledakan energi tenaga dalam wanita bertopeng ungu tersebut, energi yang cukup besar serta memiliki dua warna, biru muda dan hijau.
"Oh astaga! Wanita itu ternyata dia, heh hehe! Pantas saja orang itu memaksaku untuk membantunya. Haishh ... Harimau Utara berkhianat pada aliansi demi urusan seorang istri, ohh ... sial!" Chen Seng terkejut menyadarinya namun beberapa saat tingkahnya berubah konyol sambil menepuk keningnya diiringi dengan gelengan kepala.
Chen Seng melompat mendekati tempat pertarungan mereka dan kemudian berhenti di salah satu batu besar yang tak jauh dari posisi beberapa pendekar topeng hitam. Ia yakin, dengan kematian Yong Li membuat para pendekar topeng hitam dibawah kendalinya saat ini.
"Akhir dari Kumbang Neraka, sungguh tragis. Ini akan jadi cerita yang menarik. Ha ha ha ... Kumbang Neraka yang terkenal kejam tak berbelas kasih tewas ditangan seorang wanita muda. Ha ha ... Duduk terdiam sebagai penonton jalannya kematian, mengirimkan sebaris doa dan sepotong dupa, untuk kawan lama yang tewas tanpa lencana. Ohh," Chen Seng bertingkah konyol sembari bersenandung. Itu membuat beberapa pendekar topeng hitam menatap keheranan.
Diwaktu yang sama, Mudong Shen terlihat begitu serius, ia menatap tajam wanita itu sebelum kemudian melompat dengan penuh tenaga sembari menyalurkan energi tenaga dalam di kedua kapaknya.
KAPAK BUMI LANGIT : HUJAMAN TANDUK KUMBANG
__ADS_1
SWOOSHH ...
Mudong Shen langsung mengeluarkan jurusnya sebelum jarak keduanya terlalu dekat. Energi yang besar tercipta melingkupi tubuhnya sebelum berubah menjadi gumpalan energi transparan kuning tua yang berbentuk kepala kumbang, sementara kedua kapaknya seolah menjadi tanduk dari kepala kumbang transparan itu.
Laju lesatannya cukup tinggi hingga menciptakan tekanan udara yang begitu kuat, bahkan gerakannya itu terlihat seperti menendang angin.
RAUNGAN NAGA LANGIT : PEMBEKU BUMI
BLAARRR ...
GROOARR ... SWISSHH ...
WHIRR ... WHIRR ...
KLRKKK ...
Area sekitar pertarungan dituruni butiran es setelah terdengar bunyi raungan dari langit. Wanita itu menghunuskan pedangnya lurus keatas sembari tangan kirinya membentuk tanda di depan dada.
Mudong Shen terlambat menyadarinya, ia terlalu terfokus pada wanita itu. Energi tenaga dalamnya seolah menyempit seperti ditekan dengan paksa. Tak berselang lama, muncul kristal es di sekujur tubuhnya.
"Apa ini?"
Sebelum sempat ia melakukan sesuatu, tubuhnya membeku sempurna di udara. Chen Seng termenung menyaksikan hal itu, pikirannya merasa lega bahwa ia tak sempat menyinggung wanita itu terlalu jauh.
"MATI!!"
BLAARRR ...
Bersamaan dengan gerakan pedangnya seperti memotong, tercipta kilatan cahaya yang mengenai tubuh beku Mudong Shen.
__ADS_1
Chen Seng menutup kedua mata dan memalingkan wajahnya sebelum tubuh beku Mudong Shen hancur berkeping-keping seperti kaca yang pecah.
"Sangat disayangkan! Tapi aku bersyukur, bukan aku yang ada didalamnya. Andai saja kemarin aku kelewat batas menyinggungnya, mungkin aku sudah jadi butiran es seperti itu! Haih ... Memang suami istri yang sungguh mengerikan! Tak berbelas kasih sama sekali jika sudah tersinggung. Haish ...."