
Salah seorang pendekar di meja yang hening tanpa pembicaraan itu melepaskan Aura Pembunuh yang besar, tertuju pada Liu Zey yang masih berdiri karena keterkejutannya.
"Apa yang kalian ketahui lebih baik berikan pada kami atau aku tak akan segan membunuh salah satu dari kalian." kata pendekar itu yang masih dalam duduk tenangnya.
Aura Pembunuh yang begitu pekat terasa menyesakkan orang-orang di meja yang lain.
Su Kong tak tinggal diam begitu saja menyadari bahwa ia sanggup melawannya sendiri tanpa perlu Dewi Busur turun tangan.
Sebelum Su Kong bereaksi, Dewi busur telah lebih dulu bereaksi. Terlihat guratan kemarahan di wajahnya.
"Tikus kecil ingin menekan seekor singa,-!!"
Ucapan singkat Dewi Busur terdengar begitu meremehkan bagi pendekar lain, namun bagi pendekar pemilik Aura Pembunuh itu terasa bukan omong kosong.
Ia dapat melihat dengan jelas, aura pembunuhnya tak bekerja sama sekali pada Dewi Busur.
"Kau memang gadis hebat,-!! Selain tidak tertekan dengan aura pembunuhku, kau juga cukup hebat dalam menyembunyikan kekuatanmu." kata pendekar tersebut sembari menarik kembali aura pembunuhnya yang kini telah berdiri menghadap Liu Zey.
"Kau terlalu berlebihan?! Aku hanya gadis biasa saja,-!! Rekan Su Kong, mari kita pergi, aku sudah hilang nafsu minum? Disini terlalu panas."
Liu Zey merasa tidak perlu membuat keributan, ia memutuskan untuk menyudahi acara minum arak bersama Su Kong yang masih duduk dalam kebingungannya.
"Ah..ohh baiklah kalau begitu,-!! Su Kong menjawab sekenanya sembari berdiri, tak lupa ia menaruh beberapa koin perunggu sebagai biaya 2 guci arak.
Liu Zey berjalan lebih dulu yang kemudian Su Kong mengekor dengan sedikit berlari kecil.
Ketika Liu Zey sampai disamping Pendekar itu, dirinya tersenyum manis.
__ADS_1
"Simpan tenagamu,-!! Atau nanti akan jadi mayat?!"
Pendekar setingkat Pertapa Ahli tersebut membelalak tak percaya dengan ucapan pelan yang dilontarkan Liu Zey di dekat telinganya.
Hingga sampai Liu Zey dan Su Kong telah keluar kedai cukup jauh pun ia tetap berdiri dengan tatapan membelalak.
"Senior Hung Shun,-!! Apa ada masalah?!" seru ringan rekan di belakangnya dengan menyentuh pundaknya kemudian ia tersadar.
"Gadis itu,-!! Mana mungkin?! Bahkan dia sama sekali tak merasakan takut di hatinya? Siapa dia sebenarnya?" batin Hung Shun yang di kenal luas sebagai Jari Setan.
Hung Shun sendiri merupakan orang terkuat kedua di Pembunuh Bayangan dalam Organisasi Malam Gelap. Julukan Jari Setan yang disematkan padanya bukanlah rumor bualan semata. Ia telah lama malang melintang dalam dunia hitam sebagai pembunuh dan pencari benda pusaka.
Dalam perjalanannya, ia hanya tidak cukup beruntung dari Jari Iblis Yi Mo yang saat ini merupakan Ketua dari Pembunuh Bayangan, yang pada waktu itu tidak sengaja menemukan sebuah pusaka tingkat Langit.
"Ah tidak apa,-!! Aku hanya kagum dengan keberaniannya?! Sepertinya kita cukup lama di tempat ini tapi tak menemukan informasi apa-apa? Sebaiknya kita bergegas pergi sekarang." kata Hung Shun yang kemudian berjalan keluar. Kedua rekannya mengekor dibelakangnya setelah meminum arak di gelas terakhir.
"Hei, lalu sekarang apa yang mau kau lakukan,-!!" seru Su Kong setelah cukup lama mengikuti Liu Zey dari belakang yang sejak keluar dari Kedai tak mengatakan sepatah kata pun hingga keduanya telah jauh meninggalkan pusat pasar.
"Apa yang akan ku lakukan,-!! Bersiap untuk melakukan perburuan, yang terpenting aku harus mendapatkan Bunga Teratai Iblis itu,-!! Masalah Pusaka Zirah Naga Suci itu rencana kedua,-!!" kata Liu Zey sembari melirik Su Kong yang masih mengekor sedikit di belakangnya tanpa berani berjalan sejajar.
Su Kong hanya diam tak membalas ucapan Liu Zey, dirinya bisa melihat dengan jelas keseriusan serta keinginan yang begitu kuat dalam diri Liu Zey.
Su Kong merasa perjalanannya kali ini dalam mengumpulkan benda berharga akan terasa begitu panjang. Dirinya paham benar daerah serta medan yang harus di lalui walaupun belum pernah kesana.
Dari pengetahuannya, ia bisa dengan cepat menyimpulkan dengan adanya pusaka tingkat surga serta salah satu sumber daya paling langka di alam bumi, seharusnya terletak di tempat yang sangat sulit di jangkau, dengan jalan menuju kesana juga lebih dari kata berat.
Ia menilai, Liu Zey terburu-buru dalam mempersiapkan perjalanannya bukan soal saingan dari para pendekar tingkat tinggi yang sedang berkumpul di berbagai sudut kota Huizhu. Namun lebih kepada ia sedang khawatir tentang perkembangan kondisi Dewi Bintang.
__ADS_1
Dalam pikirnya, Su Kong memutuskan untuk membantu Liu Zey, berbagai pertimbangan ia pikirkan yang salah satunya, jika bisa membantu Liu Zey dalam mencari pengobatan untuk Dewi Bintang kemungkinan terbaiknya ia akan memiliki dua orang hebat dengan kemampuan tinggi sebagai rekan budi baik atau setidaknya orang yang akan membantunya suatu saat ketika dalam kesulitan.
Mengingat sifat baik Liu Ran, Su Kong yakin dengan keputusannya. Ia bukan hanya menjadi seorang yang lebih baik tetapi juga seorang yang berhasil mengalahkan ego diri untuk kepentingan orang lain yang sejatinya baru ia kenal.
"Sepertinya, bukan hanya fisikku yang akan lelah tapi juga otakku,-!! Yahh, mau bagaimana lagi. Seorang yang memiliki pengetahuan luas sepertiku memang akan bersinar terang hingga dibutuhkan banyak orang, he he he."
Tingkah menggemaskannya yang terlalu membanggakan dirinya sendiri cukup membuat Liu Zey tersenyum sinis dengan penuh geram tatkala mendengar pernyataannya.
"Bicara lebih banyak lagi,-!! Kupastikan kepalamu akan lepas." seru datar Liu Zey yang nampak serius menyiapkan berbagai keperluan sebelum ia simpan dalam cincin bumi nya.
"E,ehh,-!! Iya..baik."
Su Kong terkejut sendiri dengan reaksi konyolnya yang posisinya berada di luar pintu kamar Liu Zey.
"Haihh.. Beginilah jika menjadi seorang lelaki berhati lembut,-!! Selalu salah dan selalu kalah di depan seorang wanita." gumam pelan Su Kong dengan ekspresi konyolnya.
Beberapa saat setelah Liu Zey selesai menyiapkan semua keperluannya dan menyimpannya dalam cincin bumi. Ia menemui Liu Ran yang diikuti oleh Su Kong.
Kamar tidur keduanya memang berbeda ruangan namun tidak terlalu jauh, terlihat Liu Zey menitikan airmata ketika membuka pintu kamar dan melihat wajah pucat Liu Ran yang sedang tergolek lemah di tempat tidurnya.
"Kakak, aku kemari untuk memberikanmu beberapa pil ini,-!! Ini cukup untuk beberapa minggu." kata Liu Zey dengan duduk di tepi tempat tidur sembari meletakkan satu botol kaca berukuran sedang di meja kecil.
"Kakak Ran,-!! Aku berniat untuk pergi beberapa waktu. Apapun yang terjadi, jangan paksakan menggunakan kekuatanmu lagi atau keadaanmu akan lebih buruk." lanjut Liu Zey yang menggenggam ringan tangan Liu Ran.
Su kong hanya berdiri di depan pintu tanpa berkeinginan untuk ikut masuk, ia merasa ini bukanlah sesuatu yang bisa ia campuri. Meskipun ia cukup merasa khawatir.
"Aku tau tujuanmu,-!! Jangan paksakan jika diluar batasanmu, bukankah aku selalu akan membaik setelah dua hari begini. Percayalah, kakakmu ini orang yang gigih,-!!" ucap Liu Ran sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tentu saja aku tidak akan mati semudah itu, sebelum bertemu dengannya, rasa sakit seperti ini tak ada apa-apanya dibanding rasa sakit merindukannya." batin Liu Ran sembari mengubah posisinya menjadi terduduk di tepi tempat tidur.