
Fen Fang sangat bahagia bukan hanya karena mendapatkan kepala dari pertapa surga, tetapi juga ia berhasil mendapatkan esensi darah murni dari siluman ular.
Asal usulnya yang belum jelas diketahui oleh Tan Hao sedangkan pencapaian kekuatannya memiliki cara dan langkah yang berbeda membuatnya semakin menunjukkan kalau dirinya bukan berasal dari alam bumi yang mana merupakan alam bawah dari tiga alam di semesta.
Keberadaan Niu Ru dalam dirinya juga memberi nilai tambah kebenaran asal usulnya. Phyton Naga Angsa sendiri merupakan hewan suci tingkat langit yang hanya satu tingkat dibawah Phyton Naga Air, hewan suci surga.
Jika kepala seorang pertapa menjadi makanan untuk meningkatkan kekuatannya, esensi darah murni dari manusia ular berguna sebagai pendobrak tingkatan kultivasinya.
Seorang Half-Saint atau Alam Pertapa Dewa memerlukan lebih banyak dukungan untuk peningkatan kultivasi tubuh melebihi pendekar di seluruh alam bawah, tetapi cara dan langkah tiap Half-Saint berbeda, hal itu terjadi berkaitan dengan asal keturunan yang dimiliki.
Fen Fang sebagai pemilik seruling iblis, di masalalu menjadi iblis pembantai hanya untuk mengumpulkan jiwa dan inti roh murni manusia sebagai sumber kekuatannya, dan kini mengumpulkan kepala manusia yang memiliki dasar tingkatan terendah Pertapa Alam Semesta dan juga esensi darah murni.
Satu-satunya jawaban mengenai hal itu terdapat didalam Pulau Phoenix. Rahasia besarnya tersimpan disana setelah disadarkan oleh gurunya yang merupakan seorang penjaga jalan naga.
Ketidaktahuan Tan Hao mengenai hal itu sangat wajar, sebab kitab seribu kehidupan dalam dirinya tidak mencakup semua hal yang ada di Alam Langit, itu hanya mencakup pengetahuan yang ada pada Alam Bumi dan penciptaan semesta. Terdapat sekat pemisah yang lebar mengenai isi dan rahasia dari Alam Langit ataupun Alam Cahaya 12.
Sebenarnya, satu-satunya orang yang bisa menjelaskan hal itu adalah Kera Biru, Leluhur Lan. Itu menjadi alasan utama, sebab asal usul asli Lan Lihua juga sangat rumit untuk dipecahkan Tan Hao.
Baik Fen Fang, Lan Lihua ataupun Tan Hao memiliki satu kesamaan yang nyata, mereka merupakan keturunan para saint alam atas yang berada di alam bumi dalam tujuan dan takdir berbeda. Sebenarnya ada satu orang lagi yang diketahui memiliki darah keturunan, dia juga memiliki hubungan guru dan murid dengan Fen Fang.
__ADS_1
Setelah Tan Hao mengetahui cara kultivasi Lan Lihua dalam membangkitkan kekuatan seorang Saint, maka sebenarnya jika Tan Hao lebih mendalami semua hubungan, dia akan tahu jika perbedaan cara kultivasinya dengan Fen Fang dan Lan Lihua menunjukkan asal usul klan mereka di Alam Langit.
Bertemu dengan Manusia Ular seperti telah direncanakan oleh takdir bagi Lan Lihua maupun Fen Fang tetapi tidak bagi Tan Hao. Dirinya harus bekerja lebih keras untuk terus melangkah di jalurnya dalam berkultivasi untuk mencapai tingkatan Saint Sejati atau bahkan melebihinya.
***
"Jika begini, bukankah ini terlalu mudah! Apakah ini kehendak langit ataukah ada sesuatu dibaliknya?" Fen Fang berbicara sendiri sembari melompati atap bangunan menuju ketempat Tan Hao.
Fen Fang sendiri telah mendapatkan beberapa inti roh berwarna kuning, sebagian lagi berwarna oranye dan satu berwarna hijau. Sejauh ini, dirinya sama sekali tak mendapatkan perlawanan yang berarti ketika menjalankan aksinya. Meskipun dalam hati merasa kecewa, tetapi disisi lain ia merasa senang dengan kemudahan ini.
Tanpa ia sadari bahwa lawan yang dihadapi memanglah bukan tandingannya, bahkan jika bertarung sungguhan dengan Jenderal Rui Yun sekalipun, Fen Fang bisa dikatakan mampu menang tanpa kesulitan hanya jika sama-sama mengandalkan kemampuan.
Perbedaan kekuatan jelas terlihat, dua orang petarung dari kalangan manusia benar-benar berhasil mengobrak-abrik istana benteng barat manusia ular tanpa tandingan sejauh ini.
"Ini masih lebih mudah daripada berburu siluman buas tahap langit, tapi sayangnya mereka tak berguna untukku. Tapi aku harus segera menyelesaikan ini, biar bagaimanapun besok aku harus sudah kembali pada Hua'er ... Dan urusan sekte...! Tunggu dulu, kenapa aku tak terpikirkan sebelumnya?" Tan Hao terhenti langkahnya ketika memikirkan masalah sekte, senyum dibibirnya sejenak menghilang sejenak kemudian kembali dan terlihat lebih cerah.
Segera setelah menyadari kegunaan manusia ular untuk dirinya, Tan Hao bergegas menuju tempat pertemuan dengan Fen Fang yang sebelumnya telah disepakati.
Sebelumnya Tan Hao terlalu fokus pada inti roh untuk Lan Lihua sampai mengabaikan permasalahannya. Sudah hampir seminggu sejak ia meninggalkan Hibei, itu berarti waktu yang ditentukan akan segera datang dalam waktu dekat.
__ADS_1
Sejak dirinya memasuki Kota Shaoguan, Tan Hao belum mendapat informasi terbaru mengenai pergerakan yang dimaksud Selir Xinxin. Pemberitahuan Ye Yuan sebelumnya juga masih mengambang, tak terlalu jelas siapa dan apa yang dimaksud. Hal itu membuat Tan Hao sebelumnya merasa pusing memikirkan segala kemungkinan, tapi itu wajar jika menyangkut soal perebutan tahta kerajaan.
Raut wajahnya nampak cerah bahkan ketika melewati beberapa kerumunan prajurit ular yang sedang berjaga, cara Tan Hao menghabisi lawan tak sekeras Fen Fang, itulah mengapa ia tak mendapatkan kendala apapun. Bahkan tak menimbulkan keributan.
Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di tempat sebelumnya, terlihat Fen Fang telah lebih dulu sampai dan tengah memainkan beberapa inti roh di muka telapaknya sambil terduduk santai.
"Kau lama sekali! Bagaimana hasilmu, aku pikir lebih banyak yang aku dapatkan, heh!" keluh Fen Fang santai sambil masih memutar-mutarkan inti roh seperti mainan melayang.
"Tidak juga, kakek saja yang terlalu bersemangat! Lagipula, aku mendapatkan beberapa yang terbaik. Tapi aku pikir, ini aneh! Menurutmu apa!" tanya Tan Hao sambil lalu mengambil tempat duduk disamping Fen Fang.
Fen Fang menghentikan permainannya kemudian mendengus ringan, "Aih ... Ini semacam membiarkan kita melakukannya! Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku pikir manusia ular yang menyerang di Kota Shaoguan tidak ada hubungannya dengan istana ini. Meskipun mereka bawahan Jenderal Rui Yun...."
"Penatua istana memiliki andil besar dalam memutuskan sesuatu meski tanpa persetujuan Jenderal Rui Yun, aku bisa pastikan kalau serangan yang dilakukan bukan hanya untuk kepentingan ratu mereka tetapi juga membuat citra buruk bagi Jenderal Rui Yun. Penatua istana yang aku bunuh memiliki semua ingatan itu, disaat benteng lain mendapatkan pengakuan dari warga desa sekitar layaknya dewa penyelamat, justru benteng ini dibawah kepemimpinan Rui Yun malah menjadi teror mengerikan bagi nyawa warga,"
Tan Hao membayangkan apa yang ia dapatkan setelah berhasil membaca semua ingatan pemilik inti roh berwarna hijau beberapa waktu yang lalu. Dalam menghabisi lawan, Tan Hao memang hanya mengandalkan insting dewa yang dipadukan dengan Mata Ilusi Dewa.
Hal paling menakjubkan ketika kembali menggunakan mata ilusi dewa setelah sekian lama hanya terfokus pada penggunaan mata dewa, Tan Hao mampu secara impulsif melihat ingatan seseorang meskipun dalam ruang lingkup dunia ilusi. Hal itu sempat membuatnya terkejut dengan perubahan peningkatan mata dewa tetapi ia harus tersenyum kecut saat mengetahui kalau mata ilusi dewa hanya mampu melihat ingatan seseorang selama sepuluh detik waktu normal.
"Itu dia...! Persis dengan apa yang aku pikirkan, kemungkinannya hanya satu. Jenderal Rui Yun telah mencapai masa dimana ia sudah tidak berguna lagi walaupun sebenarnya kekuasaannya bisa dibilang mutlak. Entahlah, kita hanya akan berspekulasi terus menerus, lagipula ini bukan urusan kita. Baiknya kita segera selesaikan lalu kembali, aku rindu udara segar ... Disini udara sangat buruk untuk orang tua sepertiku,"
__ADS_1
Fen Fang menyerahkan inti roh yang ia dapatkan lalu kemudian bangkit dari duduknya. Tan Hao melihat lutut Fen Fang sedikit bergetar dan ia hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Jika boleh jujur, sejak kau kembali aku merasa tertekan sangat berat. Ada sesuatu pada dirimu yang tak menyukaiku, aku tak tahu apa itu tapi lupakan ... Aku masih bisa mengendalikan tubuhku, ayo kita pergi ... Malam akan segera datang, itu saat yang tepat untuk memanah ular."