
Fen Fang jelas lebih tahu mengenai wilayah Kota Shaoguan, tetapi kelihatan kalau Tan Hao sudah tahu kemana arah tujuan mereka. Hal itu membuat Fen Fang terheran namun juga merasa senang.
"Sepertinya kau yakin sekali kalau di depan sana ada manusia ular lainnya! Apa kau punya semacam peta rahasia soal seluk beluk wilayah ini? Aku pikir asosiasi memberikannya padamu saat aku tak ada,"
Keduanya melaju menggunakan jurus angin senyap ke arah timur dari dinding kota yang dijaga Bao Jia, tak ada yang mencoba menghentikan mereka sebelum keluar dari gerbang timur. Para penjaga bahkan tak ada yang menyapa keduanya.
Tan Hao tersenyum lebar, "Aku tidak punya yang seperti itu! Tapi aku punya mata dewa, mudah bagiku melihat sesuatu yang bahkan terlindungi oleh formasi sekalipun!" pandangannya terarah ke satu titik gurun pasir yang disana terdapat satu buah bongkahan batu besar.
Tidak ada satu manusia pun yang mereka lihat, sejauh pandangan mata hanya ada hamparan pasir. Tan Hao berhenti ketika telah sampai di depan bongkahan batu tersebut.
"Kenapa berhenti? Bukankah kau sudah tahu lokasi manusia ular berada?" Fen Fang bertanya sambil mengamati wilayah sekitar.
Menurut perkiraannya, mungkin saja dirinya akan kembali bertemu dengan jenderal ular yang dulu sempat ia bohongi. Meskipun sekarang kekuatannya telah lebih baik dari saat dulu, tetapi melawan orang yang memiliki dendam akan sangat merepotkan baginya. Fen Fang menyapu bersih hamparan pasir di depannya sembari bersiap waspada kalau-kalau ada serangan mendadak.
Sementara Tan Hao terlihat sedang menatap tajam ke depan tetapi bibirnya tersenyum tipis, kelihatan dari cara pandangnya jika ia tengah mengancam sesuatu.
"Bukankah kakek punya mata iblis? Aku kira Kakek Fang bisa melihat kota ini ... Dan juga orang yang berdiri itu,"
Fen Fang menoleh karena terkejut dengan apa yang dikatakan Tan Hao, "Maksudmu? Di balik bongkahan ini merupakan kota manusia ular? Jika benar, maka jarak dengan Shaoguan ... Bukankah sangat dekat!"
'Sayang sekali, aku tak bisa leluasa menggunakan mata iblis! Tapi cukup masuk akal jika batu besar ini ternyata adalah pintu gerbang ke alam manusia ular!' batin Fen Fang seraya mengamati bentuk batu tersebut.
Dari apa yang dipahaminya, wilayah ini seharusnya bagian barat dari Istana Dewi Ular. Fen Fang meyakini jika apa yang di lihat Tan Hao merupakan Istana Benteng Barat yang merupakan wilayah kekuasaan jenderal barat, ia nampak menghela napas ringan menyadari kalau dirinya tak memiliki kemungkinan bertemu jenderal ular yang dulu ia bohongi sebab dia merupakan jenderal ular penguasa benteng timur.
__ADS_1
"Apa kau mau memaksa masuk? Aku sarankan lebih baik jangan gegabah, tujuan kita mungkin saja sudah diketahui mereka. Aku pikir kita mungkin butuh cara lain,"
"Ada apa denganmu? Biasanya juga bertindak sesukamu! Kita memburu mereka bukan membantai...."
Tan Hao membentuk segel menggunakan kedua tangannya sembari menjelaskan apa yang sudah ia rencanakan, alis Fen Fang turun naik namun kemudian tersenyum lebar ketika Tan Hao menyudahi penjelasannya.
WOSH
Pusaran dimensi muncul tiba-tiba di sebelah bongkahan batu besar setelah Tan Hao selesai membentuk tanda.
"Ayo kita masuk, kakek!" Tan Hao tersenyum kemudian melangkah masuk lebih dulu kemudian disusul Fen Fang yang sebelumnya terlihat melemparkan beberapa koin emas ke arah yang berbeda-beda.
***
"Apa kakek pernah ketempat ini? Kulihat Kakek Fang tak terlalu terkejut?" tanya Tan Hao masih diam berdiri mengamati orang-orang yang terlihat sibuk berlalu lalang.
Fen Fang tersenyum kecut, "Yah, bisa dibilang aku pernah membodohi satu kota benteng manusia ular. Aku hanya tak menyangka akan kembali menyaksikan keramaian ini meskipun di tempat berbeda,"
Tan Hao tertawa kecil sesaat, "Lalu, sebaiknya kita pergi kemana? Mereka ini bukan petarung atau pendekar. Mungkin jika di dunia manusia, mereka termasuk rakyat biasa. Bukan mereka incaran kita, kan!"
Keduanya berdiskusi ringan sembari berjalan santai, di dalam benteng barat itu hanya ada satu jalan besar. Kehadiran keduanya nyatanya tak menarik perhatian manusia ular meskipun jelas terlihat keduanya berjalan menggunakan kaki, sementara mereka menggunakan ekor, seolah itu bukan menjadi masalah bagi mereka.
Meskipun agak berbeda, tapi bisa dilihat tata letak bangunan maupun bentuk bangunan bisa dibilang mirip dengan yang dibangun manusia umum, yang membedakan hanya bagian atap serta pintu.
__ADS_1
Terdapat juga kedai makanan yang terlihat ramai pengunjung, meskipun tak memiliki tempat duduk.
Tan Hao tersenyum menatap benteng yang berdiri mengelilingi kota, bukan hanya sangat tinggi tapi juga terlihat sangat tebal.
'Aku rasa tempat ini lebih seperti penjara daripada kota, mereka semua terkurung disini dan hanya mengandalkan apa yang ada di tempat ini. Kupikir mereka tak sekalipun melihat dunia luar ... Dan bahasa mereka, hmm!' batin Tan Hao sebelum menghela napas, ia baru menyadari kalau bahasa yang mereka gunakan berbeda dengan manusia umum.
Jika tak ada kitab 1000 kehidupan, sudah pasti Tan Hao tak bisa mengerti apa yang mereka bicarakan. Lain hal dengan Fen Fang yang bisa memahami dengan mempelajari bahasa mereka sewaktu dulu ia berkelana.
Cukup lama Tan Hao dan Fen Fang menyusuri jalan besar yang dibangun melingkar menuju ke pusat benteng, bukan hanya jarak yang bertambah jauh tapi juga menjadikan keamanan lebih terjaga. Sebab, tak ada jalan lain dan tak mungkin melewati sela-sela bangunan yang berdiri hampir berdekatan.
Tan Hao tak menduga jika semuanya tersedia di tempat itu, mulai dari senjata, roh energi hewan buas, darah siluman buas dan tanaman sumber daya serta masih banyak lagi yang dijual di kedai-kedai.
Tan Hao dan Fen Fang saling berpandangan ketika keduanya dihampiri oleh salah satu manusia ular yang berpenampilan seperti seorang prajurit lengkap dengan senjata tombak.
"Ada yang ingin bertemu dengan kalian! Ikuti aku...!"
Prajurit ular itu tak mengucapkan salam ataupun sekedar basa-basi, ia langsung meminta kemudian begitu saja berbalik arah kembali sambil melirik Tan Hao dan Fen Fang tanpa memberi penjelasan lebih banyak.
'Aku rasa kita akan segera bertemu orang merepotkan! Sebenarnya aku malas, tapi karena aku butuh banyak kepala ... Yah, apa boleh buat!' ujar Fen Fang pada Tan Hao melalui pikirannya.
'Tidak masalah! Kita ikuti saja orang ini, lagipula aku sudah tidak sabar bertemu dengan jenderal ular yang kau maksud,'
Tan Hao yakin kalau orang yang menunjukkan jalan itu suruhan dari jenderal ular benteng barat, itu berarti tujuan kedatangannya sudah diketahui. Tetapi ia tak merasa gusar sama sekali, sebab yang dipikirkannya saat ini hanya bagaimana mendapatkan inti roh sebanyak mungkin untuk pelatihan Lan Lihua.
__ADS_1