Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 225 ~ Pendekar Negeri Taiyo


__ADS_3

Beberapa minggu sebelumnya, Pangeran Li Fen An membagikan berbagai macam sumber daya termasuk pil kelas tinggi seolah harta kekayaannya tidak terbatas.


Pangeran Li Fen bukan hanya berhasil mendapatkan dukungan dari keluarga bangsawan yang ada di dalam kota kerajaan, tetapi juga sepuluh sekte aliran hitam dan juga lima sekte aliran netral. Hal itu membuat posisinya terlihat sangat kokoh di singgasana raja.


Rencana Pangeran Li Fen bukan hanya berhenti sampai disana saja, ia memang memiliki harta kekayaan yang sangat melimpah. Bahkan jauh lebih melimpah lagi sebab dirinya berhasil membekukan aset dan harta milik Pangeran Li Chen.


Selain merekrut sekte aliran hitam dan netral menggunakan sumber daya, ia juga berhasil merekrut salah satu organisasi gelap paling berbahaya di seluruh kekaisaran yang bermarkas di Benua Emas. Organisasi Biara Setan. Meskipun hanya mengirimkan salah satu organisasi bawahannya, tapi kekuatannya tak bisa diremehkan.


Tan Hao pernah beberapa kali berhadapan dengan anggota dari organisasi bawahannya ini, di Benua Perak dikenal dengan nama Organisasi Iblis Darah.


Tidak ada satupun yang mengetahui kecuali Pangeran Li Fen sendiri dan dua orang menteri kerajaan kepercayaannya, adanya penasehat paling mengesankan yang sangat terkenal di masa lalu. Bahkan ketenarannya bukan hanya soal kecerdasan dalam berpolitik, tetapi juga kemampuannya bisa dibilang pernah puluhan tahun yang nomor satu di dataran Benua Perak.


Orang itu dikenal dengan sebutan Pendekar Pengguncang Semesta, Tang Yu. Di Benua Perak, dialah satu-satunya orang yang bermarga Tang.


Dialah orang yang menjadi penghubung kesepakatan antara Pangeran Li Fen dan Organisasi Biara Setan, atas nasehat dari Tang Yu juga yang membuat Raja Yan dan Raja Shu berani bertindak atas rencana mereka masing-masing.


Pangeran Li Fen memang terkenal bodoh politik dan hanya tahu menghamburkan kekayaan, tapi tidak ada satupun yang menyangka jika rencananya yang kelihatan bodoh itu nyatanya dikendalikan dengan sangat hati-hati dan penuh perhitungan.


Pangeran Li Fen hanya bisa menuruti keinginan dan nasehat dari Tang Yu karena dialah yang membuat dan menjalankan semua rencananya. Pangeran Li Fen hanya duduk diam sembari melihat hasilnya.


Entah bagaimana bisa seorang pendekar penguasa masa lalu bisa menjadi bawahan Pangeran Li Fen, tapi yang jelas dia selalu berada bersama Pangeran Li Fen.


Perkemahan besar yang terdiri dari lima belas anggota sekte aliran hitam-netral terlihat sangat tenang, tak ada pergerakan atau tanda-tanda bersiap menyerang.


Keberadaannya di hutan sebelah timur Kota Shuning sejak tiga hari lalu, tetapi tak ada hal apapun dan lebih mirip seperti kamp prajurit kerajaan yang tengah berlatih jika sekilas diamati.


Letaknya yang berdekatan dengan Pegunungan Kaca Api sebelah barat daya menjadikan posisi mereka nyaris tak terdeteksi mata-mata maupun pendekar dari aliran putih yang sekedar lewat untuk menjalankan misi.


Perkemahan yang dibuat juga tak membabat hutan, itu menjadikan posisi mereka sangat tertutup dan terlindungi. Bahkan para anggota sekte banyak yang berburu hewan buas di sekitar tepi pegunungan kaca api untuk dijadikan santapan sekaligus mencari beberapa kristal hewan buas.


Kamp yang dibangun melingkar itu mengelilingi satu perkemahan besar dengan warna tenda yang mencolok daripada yang lainnya.

__ADS_1


Terdapat beberapa pendekar yang berjaga disekitar perkemahan itu. Sedangkan di dalamnya nampak ada beberapa orang yang memiliki penampilan mencolok seperti bangsawan.


“Tidak ku sangka Pangeran Li Chen masih diam saja setelah situasinya menjadi seperti ini, semakin dia tidak bertindak maka rakyat akan kehilangan kepercayaan atas keberaniannya,” orang berpakaian serba hitam dan memiliki senyum tipis yang khas itu berpendapat.


Pangeran Li Fen tersenyum lebar, ia tak menduga jika mendapatkan kunjungan dari negeri yang terkenal berwilayah tertutup. Menurutnya, dibalik dukungan yang diberikan itu pastilah ada sesuatu didalamnya, tetapi Pangeran Li Fen tidak mau ambil pusing. Ia menyerahkan segala urusan baik itu rencana atau keselamatannya pada Tang Yu.


“Pangeran Li Chen bukannya tidak mau tapi tidak bisa bertindak, Tujuh Tombak Emas saat ini hanya mendapatkan dukungan dari Anggrek Suci dan beberapa sekte kecil. Pertempuran Hibei pasti membuat mereka saat ini kesulitan untuk memulihkan diri, meskipun mereka menang telak...! Dan aku tak menduga itu bisa terjadi,” Tang Yu menjelaskan tapi sorot mata yang terarah pada lantai yang terbuat dari kulit hewan itu terlihat sangat lain.


Meskipun ia menjelaskan begitu, Tang Yu merasa dalam waktu dekat Tujuh Tombak Emas akan melakukan sesuatu. Alasannya bukan hanya karena mata-mata yang mereka kirim tak pernah kembali sebab telah dibantai tapi juga posisi mendesak Pangeran Li Chen yang makin melemah di kerajaan karena hampir semua menteri pendukung maupun dari kalangan bangsawan telah mulai mundur.


“Tuan Shin, aku selalu tahu bagaimana watak adikku. Rakyat percaya atau tidak, tidak akan melemahkan kebaikan konyolnya itu! Dia akan terus saja melakukan berbagai macam hal demi rakyat, haha... Lagipula, Tuan Besar dari bangsawan utama ada disini, mereka yang mendukung hanya bangsawan rendahan yang takut dibantai!” Pangeran Li Chen begitu percaya diri, ia berbicara seolah semua ada di bawah kakinya sambil membelai seorang gadis yang duduk di pangkuannya.


Bangsawan yang dimaksud Pangeran Li Fen hanyalah perwakilan yang dikirim oleh keluarga bangsawan di ibukota kekaisaran.


Tiga orang bertubuh agak gemuk sementara disampingnya terdapat dua orang pendekar bertopeng dengan bersenjatakan pedang itu hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.


Tang Yu sebenarnya ingin menambahkan tetapi ia mengurungkan niat sebab ia sadar jika orang luar tidak boleh terlalu banyak tahu kelemahan Pangeran Li Fen jika ia semakin banyak bicara.


“Kedatangan Tuan Shin kemari setidaknya membawa kabar baik, bukan? Katakan, apa yang harus kami lakukan atas dukungan anda?” Tang Yu membuka suara untuk kembali ke topik utama pembahasan.


Seorang putera mahkota dari Kaisar Shogun datang ke wilayah daratan tengah dan hanya ditemani oleh empat pendekar. Jika bukan karena sesuatu yang sangat penting tidak mungkin akan datang dengan tangan terbuka.


Negeri Taiyo sangat tertutup, bahkan tidak pernah ada perwakilan dari pemerintah Benua Emas maupun Perak yang diijinkan memasuki wilayah mereka. Lebih dari seratus tahun, pulau yang besarnya hanya sepertiga benua perak itu menjadi wilayah paling terisolasi dari wilayah lainnya.


“Shin Buya menghadap calon penguasa Kerajaan Shio tidak lain adalah untuk meminta perlindungan sekaligus dukungan balik. Bisa dibilang, posisi kita sama hanya saja lawan ku adalah Kaisar Shogun itu sendiri....” ungkapnya sambil tersenyum.


Tiga perwakilan dari keluarga bangsawan terkejut bukan main, mereka saling tatap tanpa ada satupun yang mengerti makna tatapan masing-masing.


Sementara Tang Yu tak kalah terkejut, ia sampai melebarkan pandangannya seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.


“... Aku datang bukan hanya dengan ini! Pasukanku berada di Pegunungan Kaca Api, mereka sangat senang di sana karena suasananya mirip dengan yang ada ditempat kami...! Jika Pangeran Li Fen setuju, aku akan membantu mengerahkan pasukanku saat waktunya tiba!”

__ADS_1


Pangeran Li Fen sama sekali tidak tahu mengenai Negeri Taiyo, ketika Shin Buya menawarkan kesepakatan pun dirinya terlihat santai bahkan masih menikmati sikap manja budak wanitanya.


“Menurut Paman Tang, bagaimana?” tanyanya sambil mengunyah buah anggur.


Tang Yu terdiam sejenak untuk memikirkan keuntungan apa yang diperoleh Pangeran Li Fen dari kesepakatan ini, sementara tiga bangsawan lain hanya diam tanpa mampu memberi saran.


Sementara itu, di waktu yang sama. Tan Hao berjalan lebih dulu sambil terus mengajak bicara Fen Fang sedangkan Lan Lihua menatap kesana kemari seperti merasakan sesuatu di kejauhan.


Sudah hampir dua jam mereka berjalan menyusuri hutan yang ada di Pegunungan Kaca Api, alasan mereka tak menggunakan kecepatan dalam bergerak adalah adanya kabut halusinasi.


Sebelumnya memang Fen Fang yang menjelaskan bahwa semakin intensif tubuh seseorang menggunakan energi semakin bertambah pekat kabut yang tercipta. Untuk itulah, mereka memutuskan untuk berjalan normal.


Jarak tempuh dengan tujuan yang tidak terlalu jauh, juga untuk menemukan hewan buas atau bahkan mungkin siluman buas.


Tan Hao memang sangat memerlukan Inti Roh mereka untuk berkultivasi selain juga untuk mengambil kristal hewan buas yang bernilai tinggi jika dijual.


Lan Lihua menghentikan langkahnya ketika pandangannya terarah pada satu titik, kabut tipis yang mengambang menjadi masalah utama penglihatannya tapi tidak untuk persepsi jiwa-nya.


“Ada apa? Apakah ada sesuatu disekitar sini?” tanya Fen Fang menyadari gelagat Lan Lihua.


Tan Hao menghentikan langkahnya begitu mendengar Fen Fang berbicara, ia langsung menoleh ke arah Lan Lihua.


“Tempat ini dipenuhi energi tenaga dalam yang tak biasa! Ini jelas adalah manusia, tapi...!”


“Tapi apa? Berapa jumlah mereka? Aku tak tahu kenapa ada yang bisa bertahan disini, bukankah kata Kakek Fang sangat sulit bahkan untuk Pertapa Alam semesta sekalipun?” Tan Hao merasa penasaran dengan yang dikatakan Lan Lihua tetapi reaksinya masih tergolong santai.


"Jumlah mereka ... Dua....” Lan Lihua menjawab tetapi seperti berhenti begitu saja.


Fen Fang mengerutkan dahinya, ia merasa ini adalah hal yang buruk, “Dua puluh...?”


Lan Lihua menggeleng sambil mendesah pelan, “Dua Ribu....!”

__ADS_1


Baik Fen Fang maupun Tan Hao yang langsung berubah serius sangat terkejut, mereka berdua saling tatap sementara Lan Lihua masih terus memperluas jangkauan persepsi jiwa-nya.


“Lebih tepatnya, hampir mencapai tiga ribu orang dan mereka tersebar di berbagai titik! Aku merasa seolah tempat ini arena bermain bagi mereka...!” Lan Lihua menjelaskan sambil mencoba mencari posisi setiap orang secara akurat.


__ADS_2