
Langit mencurahkan air ke bumi, tetesan kristal bening membasahi daun dan pepohonan. Siang hari di dalam Pegunungan Kaca Api seperti menjelang malam, beberapa waktu terlewat sejak terakhir kali Tan Hao dan lainnya bertemu pendekar dari Negeri Taiyo.
Fen Fang yang berteduh dibawah daun talas gunung memandang langit yang masih saja gelap sebelum kemudian melirik ke arah Tan Hao, terlihat bukan hanya bajunya basah tetapi juga ada bagian yang rusak.
‘Sejak aku menindak mereka, Hao Hao lebih banyak diam. Apa dia sedang marah padaku?’ Fen Fang merasa apa yang dilakukannya pada belasan pendekar samurai itu telah mengecewakan Tan Hao.
Memang sejak kejadian beberapa waktu lalu Tan Hao tidak banyak bicara dan kini terlihat diam karena dirinya sedang bermeditasi. Lan Lihua juga sempat berpikir kalau Tan Hao marah atas sarannya pada Fen Fang.
Padahal yang sebenarnya Tan Hao sedang melatih dirinya di dalam ruang roh, ia memanfaatkan hutan sumberdaya yang ada di dalam cincin dimensi untuk memperoleh inti roh maupun tanaman sumberdaya.
Sebenarnya Tan Hao masih ingin menyimpan lebih lama dan melihat evolusi yang terjadi, tetapi sekarang ia tak punya banyak waktu untuk berburu dan mengumpulkan apa yang dibutuhkan untuk pelatihannya.
Apa yang ia dengar dari pendekar samurai membuatnya sadar jika ingin mengubah dibutuhkan kepintaran, jika ingin menguasai dibutuhkan kekuatan.
Selain itu, peningkatan Lan Lihua membuatnya seakan tertinggal jauh. Oleh karena itu saat ini Tan Hao bisa dikatakan menerima motivasi berlebih untuk giat berlatih memanfaatkan apa yang tersimpan di dalam cincin dimensi.
Sementara Yi Jin terlihat malas menemani Lan Lihua berteduh, posisinya yang berjarak beberapa meter dari Fen Fang membuatnya terdiam tanpa lawan bicara.
Pendekar Seruling Iblis tak bisa menyadari wujud asli maupun kekuatan dari Yi Jin, meskipun dalam jarak dekat. Ia tak bisa merasakan apapun selain menganggapnya kucing biasa.
Jika ia tahu kebenarannya bahwa Kylin Air Api merupakan peringkat pertama hewan dalam legenda sedang Phyton Naga Angsa hanya peringkat ke delapan yang mana itu adalah yang terakhir, mungkin saat ini dirinya bukan hanya terkejut tetapi juga merasa nyawanya terancam.
Untuk mengingat bahwa di Alam Bumi terdapat dua macam hewan suci. Pertama adalah Hewan Suci Surga, diantaranya Phoenix Petir Ungu, Gagak Raja Langit, Phyton Naga Air, Ular Tulang Petir, Vermilion Bulu Emas, Elang Tujuh Warna, Harimau Mata Tiga, Singa Tanduk Perak, Bangau Api Biru dan Kura-Kura Ekor Naga.
Sedangkan yang kedua adalah Hewan Legenda, diantaranya ada Kylin Air Api, Garuda Sayap Emas, Bangau Tujuh Es, Falcon Biru Perak, Kylin Hitam, Rubah Hitam Ekor Tujuh, Naga Bumi Penjelajah dan Phyton Naga Angsa.
Mereka berada di ranah yang berbeda meskipun secara kekuatan hampir bisa sebanding. Hewan Suci Surga berkaitan dengan Penciptaan sedangkan Hewan Legenda adalah mereka yang telah melewati rintangan langit suci dan bertahan hidup selama kurun waktu puluhan ribu tahun.
__ADS_1
Hanya ada delapan hewan yang mampu melewati ujian kenaikan langit, untuk itu mereka dinamakan Hewan Legenda.
Kembali Lan Lihua nampak tak tenang, sementara Yi Jin masih bermalas-malasan di pangkuan Lan Lihua.
“Apa yang kau khawatirkan? Bukankah katamu dia lelaki yang baik? Lagipula, aku tidak mencium emosi kemarahan di dalam dirinya...!” Yi Jin berbicara sambil mengusap kepala dengan salah kakinya.
Lan Lihua melirik ke arah Tan Hao sekali lagi sebelum kemudian mendesah berat, “Aku tak khawatir soal itu, tapi aku khawatir tindakanku akan menyulitkannya lagi! Selama ini aku hanya bisa menyusahkan, apapun yang aku lakukan selalu salah,”
Yi Jin mengerti maksud Lan Lihua tetapi dia tidak mengerti perasaan seorang manusia, itu terlihat dari jawabannya yang hanya menggelengkan kepala.
“Tenang saja, dia bukan orang lemah. Bahkan jika waktu itu dia serius bertarung melawanku, aku bisa pastikan yang akan terluka parah adalah aku! Sejak saat itu aku tertarik padanya, tapi aku ini Hewan Legenda, mana mungkin bicara blak-blak an seperti itu, heh...!”
Wajah Lan Lihua yang sejak tadi tanpa ekspresi, kini mendadak tersenyum mendengar pengakuan Yi Jin. Ia tak menduga, jika bukan paksaan darinya yang membuat Kylin Air Api itu mau mengikutinya.
Sementara itu, di waktu yang sama. Shin Buya yang sedang menikmati hidangan dan arak sambil bersenda gurau dengan Pangeran Li Fen dikejutkan oleh bisikan dari salah satu pengawalnya.
Sontak saja teriakan terkejut Shin Buya membungkam semua yang hadir termasuk perwakilan dari bangsawan besar.
“Maafkan ketidaksopanan saya Pangeran Fen! Saya tidak bisa melanjutkan perjamuan ini, ada masalah yang harus saya selesaikan!” Shin Buya berdiri lalu meminta maaf sebelum kemudian berbalik badan berniat meninggalkan kemah Pangeran Li Fen.
“Tunggu! Apa yang terjadi, bisa kau beritahu aku? Mungkin aku bisa membantumu menyelesaikannya,”
Shin Buya menghentikan langkahnya dan menoleh, “Ada yang membunuh beberapa pasukanku, aku tidak bisa tinggal diam mohon Pangeran Fen bermurah hati,” setelah menyelesaikan perkataannya, Shin Buya melangkah cepat meninggalkan Pangeran Li Fen yang masih terdiam tak mengerti.
Raut wajah Shin Buya sangat merah, bola matanya bahkan seperti menonjol ingin keluar. Kedua tangannya mengepal keras, ia berjalan cepat menuju ke perkemahan pasukannya yang berada cukup jauh walaupun masih satu area dari perkemahan pasukan Pangeran Li Fen.
“Kurang ajar, siapa yang melakukan ini? Siapapun beritahu aku detilnya!” Shin Buya berteriak lantang setelah sampai di perkemahannya.
__ADS_1
Ia tak menduga yang pertama ia lihat adalah tumpukan mayat belasan pasukannya, termasuk ketua ke sepuluh, Kosuke Ryu.
Kemarahannya semakin menjadi jadi ketika tak ada satupun yang berani menjawab pertanyaannya. Semua pendekar samurai yang ada hanya berlutut sambil menundukkan kepala mereka.
“Tenanglah, Tuan Shin! Aku baru saja memeriksa tempat itu!” seseorang yang memiliki bekas luka di mata kanan datang tiba-tiba dengan santainya.
Shin Buya langsung bisa mengenali orang itu, kemarahannya berangsur memudar ketika orang itu memberi salam hormat.
“Senior Hirada! Katakan padaku, apa yang kau dapatkan disana? Apa kau menemukan pelakunya? Aku ingin mencincang tubuhnya, meminum arak dari tulang tengkoraknya, dia....”
“... Aku tak menemukan apapun, selain sobekan kain ini,” Totsuki Hirada menunjukkan potongan kain berwarna biru keunguan.
Mata Shin Buya memerah dengan cepat, ia menatap dendam potongan kain itu, “Apapun yang terjadi, temukan pemilik kain ini dan bawa kepalanya padaku!”
Totsuki Hirada mengangguk pelan sebelum kemudian kembali pergi dengan cara melompat berkecepatan tinggi, itu seperti ia menghilang begitu saja.
“Tuan Shin mohon tenanglah, Panglima Hirada pasti menemukan pelakunya!” salah satu pengawal pribadi Shin Buya mencoba menenangkannya.
Keberadaan Panglima Hirada di dalam pasukan Shin Buya sama halnya dengan keberadaan Tang Yu di sisi Pangeran Li Fen hanya saja keduanya berbeda kedudukan.
Totsuki Hirada dikenal sebagai panglima tanpa tanding, sebab tak satupun pertempuran yang ia jalani berakhir dengan kekalahan.
Ia adalah salah satu panglima kebanggaan Negeri Taiyo, tetapi memiliki perilaku buruk. Kaisar Mugi Wara menurunkan jabatannya secara sepihak dan karena itulah dirinya bergabung dengan Shin Buya yang merupakan anak dari selir pertama sang kaisar.
Kekuatan yang dimiliki bisa dikatakan setingkat Pertapa Dewa Langit membuatnya menjadi yang terkuat kedua di dalam pasukan setelah Shin Buya sendiri.
Tetapi ia tak tahu monster macam apa yang sedang ia buru, perilakunya yang menyimpang membuat akal pikirnya juga ikut berantakan. Itulah sebabnya ia tak pernah bisa naik ke tingkat Alam Dewa.
__ADS_1