Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 55 ~ Menyerang Lembah Hijau 5


__ADS_3

Sementara pertarungan Tan hao dengan Jiwei Dan masih terhenti. Matriark Zhang Weili memutuskan untuk kembali ke tempat Patriark Sun sian dan dua Tetua Tombak.


Matriark Zhang kembali karena ia merasa sebagai salah satu pemimpin, tidak semestinya ia kabur dari pertempuran. Meskipun dia tau benar kemampuannya saat ini berada di bawah Patriark Sun maupun Tetua Tombak. Namun ia yakin bahwa kehadiran dirinya bisa menjadi bantuan kecil.


Setelah sampai di tempat Patriark Sun, dirinya merasakan ada tekanan yang luar biasa kuat, jauh lebih kuat dari yang sebelumnya ia rasakan.


"Matriark Zhang, kenapa kau kembali kesini. Bukankah aku telah memintamu untuk bersama pendekar aliansi-! Jangan bilang kau kesini sebagai bantuan?" seru Patriark Sun segera setelah Matriark Zhang Weili berdiri di dekatnya.


"Tch, Aku tak berharap kau mati tanpa membawaku. Setidaknya di Neraka nanti kau ada teman mengobrol, bukan!" ucap Matriark Zhang dengan ekspresi kesal karena ucapan Patriark Sun sebelumnya.


Patriark Sun hanya menggeleng kepala pelan dengan ekspresi wajah terserah.


"Dasar kau wanita tua, semakin tua semakin menyebalkan dan juga mulutmu lebih ganas dari Racun."


Setelah tanpa jawaban lagi, hanya terdengar dengusan kesal dari Matriark Zhang. Patriark Sun memintanya berada di belakangnya. Sedangkan Tetua Tiandou dan Tetua Jing yun yang berada di depannya terlihat sangat berkonsentrasi tanpa bicara sepatah kata pun, jelas raut wajahnya terlihat serius dengan tatapan mata tajam ke depan.


"Senior Jing Yun, sepertinya aku akan kesana lebih dulu. Situasi Junior Tan Hao sepertinya tidak menguntungkan, setelah Senior Feiying sampai, kalian baru kesana. Pesan Junior Tan Hao sedikit menggangguku, aku tak bisa lagi berdiam diri menunggu." Tetua Tiandou akhirnya menyampaikan isi hatinya dengan tanpa menatap Tetua Jing Yun.


Tetapi Tetua Jing Yun dengan sigap menahan Tetua Tiandou dengan memegang pundaknya. "Junior Tiandou jangan gegabah, kehadiranmu seorang diri bukanlah pilihan yang tepat. Tahan dirimu sebentar lagi. Aku yakin Tan Hao punya siasat untuk mengulur waktu. Kekuatan kita memang hebat tapi melawan sesuatu yang seperti itu, tidak ada pilihan lain lagi selain kita berempat menyatukan kekuatan."


Tetua Tiandou hanya menoleh sekejap dengan ekspresi rumit di wajahnya. Ia memang membenarkan perkataan Jing yun tapi ia juga tak bisa terus berdiam diri. Setelah beberapa saat ia kembali ke posisinya dan menutup mata. Tetua Tiandou sedang mencoba berbicara pada Yue Yin melalui pikirannya.


"Yue Yin, apakah keadaan Tuan Muda baik-baik saja. Bisakah kau meminjamkanku Mata Langit milikmu sebentar saja, Aku hanya ingin memastikan kondisinya."


Tak butuh waktu lama bagi Yue yin untuk menjawabnya. "Tuan Muda Tan Hao masih baik-baik saja saat ini, tapi aku tidak yakin setelah ini. Mengenai Mata Langit, kau bisa menggunakannya tapi hanya dalam durasi waktu kurang lebih duapuluh menit dan itu hanya bisa di gunakan satu kali dalam sehari."

__ADS_1


"Syukurlah jika ia baik-baik saja, aku lega mendengarnya. Akan masih cukup waktu untuk membantu sampai Tetua Feiying datang-! ohh, benarkah aku bisa menggunakannya. Tak masalah jika hanya berdurasi singkat, itu sudah lebih dari cukup. Terimakasih atas bantuannya Nona Yue Yin." Dalam pikirannya, Tetua Tiandou menghela nafas pendek pertanda lega, namun ekspresinya masih tetap tegang.


Setelah di rasa cukup baginya untuk berbicara pada Yue Yin, ia membuka mata kembali. Dan langsung mencoba menggunakan Mata Langit milik Merpati Bulu Surga.


Meskipun Mata Langit berbeda dengan Mata Dewa milik Tan Hao, tapi kemampuannya hampir sama dengan Mata Dewa tingkat pertama milik Tan Hao. Mata Langit tidak bisa naik tingkat, namun kemampuan khasnya ialah dapat melihat aliran energi di dalam tubuh seseorang.


Mata Langit juga memiliki bentuk unik yakni bola mata Tetua Tiandou berwarna perak dengan sedikit guratan hijau menyebar halus dengan titik tengah hitam yang kecil.


Perasaan Tiandou bahagia bercampur tegang, sebab ia bisa melihat aliran energi dari Tan hao sangat stabil, tidak menunjukkan tanda-tanda mengalami masalah apapun. Tapi disisi lain, ia juga melihat adanya gumpalan energi yang sangat besar. Energi yang jauh lebih besar dari milik Tan hao.


Tetua Tiandou tegang bukan main sampai tubuhnya tidak terasa bergetar dengan keringat dingin bercucuran. Sebab, ia melihat dengan jelas, gumpalan energi besar itu bukan berwarna cerah seperti miliknya tapi sangat murni seperti milik Tan Hao hanya saja warnanya sangat gelap.


Jika milik Tan hao berwarna emas dengan pantulan putih bersih, energi dari gumpalan besar itu berwarna hitam pekat dengan pantulan merah gelap. Saling berhadapannya kedua energi itu terlihat begitu kontras. Tetua Tiandou seperti orang melongo namun ekspresinya bukan terkejut tapi ketakutan.


Tetua Jing Yun terkejut ketika melihat bola mata Tetua Tiandou yang berubah, ia ingin bertanya bagaimana bisa namun setelah melihat tubuh Tetua Tiandou bergetar hebat disertai keringat dingin keluar dari pelipisnya, begitu jelas raut wajahnya pucat pasi. Membuat Tetua Jing yun membatalkan niatnya untuk bertanya masalah perubahan mata Tetua Tiandou dan segera memegangi kedua bahu Tiandou dari samping dan kemudian bertanya tentang apa yang dilihatnya dengan sedikit nada menekan penasaran.


"Junior, apa yang membuatmu begitu ketakutan seperti ini, katakan dengan jelas. Aku tak bisa melihat apa yang kau lihat."


Patriark Sun maupun Matriark Zhang bisa melihat dengan jelas tingkah laku Tetua Tiandou, tanpa bertanya lagi mereka berdua mendekat untuk lebih bisa mendengarkan alasan yang membuat Tiandou sampai begitu ketakutan.


Tetua Tiandou merasa tak bisa melihatnya lebih lama lagi, ia memutuskan untuk menyudahi penggunaan Mata Langit. Setelah itu ia memejamkan mata dan terlihat sedang mengatur nafas serta menstabilkan kondisi tubuhnya.


Hanya dalam satu menit saja melihat gumpalan energi besar yang berada tidak jauh dari Tan Hao, bisa membuat Tetua Tiandou begitu pucat pasi ketakutan. Lalu bagaimana jika langsung berhadapan dengannya. Sungguh, pikiran Tetua Tiandou begitu dilema dan tertekan.


Namun setelah beberapa saat, ia telah bisa menguasai tubuhnya. Tetua Tiandou langsung menceritakan apa yang terjadi dan apa yang membuatnya begitu ketakutan. Penjelasan singkat Tetua Tiandou begitu jelas di dengar Tetua Jing Yun dan Patriark Sun serta Matriark Zhang. Ketiganya berekspresi sama. Terkejut tanpa bisa berkata apa-apa lagi, terlihat raut wajah ketiganya pun juga sama, Pesimis.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, Jiwei Dan masih berada di posisinya dan belum berniat untuk menyerang Tan Hao lagi. Jiwei Dan menatap tajam Tan hao yang disertai dengusan kebencian. Disisi lain, Tan hao terlihat begitu tenang. Pandangannya bukan terfokus pada Jiwei Dan tapi pada sosok Mata Besar di sebelah kirinya, tapi walau begitu kewaspadaannya tetap memantau pergerakan Jiwei Dan yang berada di sebelah kanan dirinya.


"Hei, kau anak dewa. Aku tidak berniat menghadapimu. Aku terlalu malas untuk menghadapi Ayahmu nantinya. Jadi, aku berbaik hati, sekarang kau pergilah. Si Manusia Sampah itu merupakan salah satu pemujaku, tak perlu kau bunuh pun ia akan mati. Karena jiwanya telah aku makan. Intinya, tugasmu telah selesai di tempat ini, Si Manusia sampah itu biar jadi urusanku."


Tiba-tiba Sosok Mata Besar berbicara pada Tan Hao di dalam pikirannya, yang sontak saja membuatnya terkejut membelalak. Tan Hao tak mengira jika ia dapat bicara, bahkan di dalam pikirannya.


Dan yang membuat Tan Hao sangat terkejut adalah ia tau mengenai asalnya juga mengenai identitasnya. Tan Hao tak habis pikir, Sosok Mata Besar itu berbicara seolah ia tak merasa takut jika bertarung dengan Dewa Yaoshan. Nada bicaranya seolah menganggap Dewa Yaoshan tak lebih kuat darinya.


Dengan keberanian yang ia miliki, Tan hao bertanya balik dengan sangat tegas.


"Jika ingin mencabut rumput haruslah sampai keakarnya, jika tidak? ia akan tumbuh lagi. Tak peduli itu rumput berduri atau pun beracun. Selama menciptakan keburukan bagi sekitarnya, harus di bunuh dan memastikannya tidak bisa tumbuh lagi."


Sosok Mata Besar itu pun berseru lantang di dalam pikiran Tan hao dengan kemarahannya.


"Bocah Busukkk. Aku Long Wang Dewa Raja Naga tak pernah takut apapun. Aku sudah berbaik hati padamu, tapi tak ku sangka. Ayah dan Anak sama arogannya. Persetan dengan Yaoshan, aku akan membunuhmu."


Pernyataan Sosok Mata Besar itu membuat Tan hao bukan lagi terkejut melainkan lebih dari itu. Selama ini ia tak pernah mengetahui jika ada dewa lainnya. Paman Yao liu tak pernah menceritakan apapun padanya.


Ekspresi Tan Hao begitu buruk, tak pernah ia berfikir akan berhadapan dengan Seorang Dewa. Mau bagaimana pun Tan Hao berfikir berbagai siasat, Seorang Dewa tetaplah Dewa. Kemampuan yang dimiliki tak terbatas.


Tan Hao mengertakkan giginya tanpa mampu lagi menjawab pernyataan Long Wang. Hanya dalam batin ia terus menyebut namanya, Long Wang Dewa Raja Naga. Tan Hao terus menyebut nama Sosok Mata Besar itu seakan ingin mengingat dengan jelas nama yang akan menghabisi dirinya.


Semua siasat yang dipikirkan Tan Hao seketika lenyap semua, Hati dan pikiran Tan hao begitu di penuhi tekanan dan kebimbangan.


Namun, tiba-tiba ia merasakan nyeri luar biasa di dadanya. Tan hao dengan cepat memegangi dadanya dengan masih bertatapan tajam dengan Sosok Mata Besar itu.

__ADS_1


__ADS_2