Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 141 ~ Meracik Pil


__ADS_3

Lan Lihua mengikuti arahan Tan Hao seperti saat dulu ketika latihan bersama, biarpun ia sejak kecil telah diajari meramu Pil obat oleh Feng Zhenzu namun pemahaman Tan Hao jauh lebih tinggi darinya. Hal itu di saksikan sendiri oleh Feng ketika bekerja bersama Tan Hao yang dipandu oleh Leluhur Lan tanpa sepengetahuan Lan Lihua.


Ketika Lan Lihua sedang menyiapkan semua bahan yang diperlukan, Tan Hao tengah bermeditasi. Sementara Fen Lian sedikit menjauh, sebab dirinya tak ingin mengganggu dan juga merasa penasaran bagaimana proses meramu Pil karena selama ini Fen Lian tak pernah sekalipun melihatnya.


Periuk Neraka memiliki ukuran yang cukup besar, jika dibandingkan mungkin seukuran dengan seekor gajah. Tetapi Lan Lihua seolah telah terbiasa dengan benda itu, padahal ini merupakan pertama kali ia menggunakannya.


"Dewi! Sebenarnya Pil apa yang akan dia buat? Lihatlah kekuatannya itu, aku merinding sendiri merasakannya," ujar Bing Long di dalam pikiran Lan Lihua.


"Entahlah ...! Aku juga tidak tahu, tapi dari semua bahan ini kemungkinan bahan untuk membuat Pil tingkat enam atau mungkin tingkat tujuh ...! Ya begitulah dia kalau sedang serius, tapi selama ini dia lebih banyak santainya daripada seriusnya. Tch...."


Perkataan Lan Lihua tak sepenuhnya di setujui Bing Long, ia menilai lain dari sudut pandangnya sendiri. Namun, Bing Long hanya diam dan mengamati Tan Hao dengan seksama, sementara Lan Lihua melanjutkan persiapannya.


Sementara itu, di dalam Ruang Roh. Tan Hao terlihat sedang berbicara dengan sesuatu yang memiliki wujud gumpalan energi berwarna hijau cerah, gumpalan energi yang seperti nyala api itu mengambang bebas di depan Tan Hao yang tengah berdiri.


" ... Kalau Ye Yuan mengetahui, entah apa yang akan dia lakukan padaku. Tapi, aku juga tak menyalahkan dirimu, hanya saja aku masih belum mengetahui dimana tubuh aslimu, dan aku juga tak tahu sampai kapan kau diam ...!" kata Tan Hao sambil menatap gumpalan energi berwarna hijau yang memiliki ukuran sebesar kepala itu.


HONG ...


Gumpalan energi tersebut bergetar pelan menyebabkan nyala energinya berkobar seolah ingin menjawab perkataan Tan Hao, namun tak dapat bersuara.


"Meskipun dirimu hanya bagian terkecil, tapi kekuatanmu besar. Aku ingin kau membantuku, yah ... Setidaknya sampai si burung bau itu kembali, jika kau menyetujuinya hubungkan ini ...! lanjut Tan Hao sembari mengeluarkan bola energi berwarna ungu di telapak tangannya.


HONG ... HONG ...


Energi hijau tersebut bergetar naik turun sesaat kemudian memecah energinya seperti benang yang langsung menusuk bola energi di telapak tangan Tan Hao.


"Oh ... Sepertinya kau bersemangat sekali ya! Aku penasaran seperti apa wujudmu yang sebenarnya, dilihat dari energimu yang sangat murni ini ...." ujar Tan Hao sembari mengontrol gejolak bola energi ditangannya yang merupakan Inti Rohnya.

__ADS_1


Inti Roh berbeda dengan Inti Jiwa, perbedaan dari segi kekuatannya cukup besar ditambah dengan efisiensi tingkat kemampuan yang terpaut jauh. Seharusnya, dalam tubuh seorang pendekar hanya memiliki inti jiwa dan itu terhubung langsung dengan tenaga dalam mereka. Tapi untuk Tan Hao yang merupakan keturunan Saint yang agung, dalam tubuhnya juga memiliki Inti Roh. Itulah sebabnya ia memiliki ruang jiwa dan ruang roh.


"Sayangnya, kau hanya pecahan kecil ...!" lanjutnya setelah berhasil menyeimbangkan energi di telapak tangannya, kemudian memasukkannya kembali ke rohnya bersamaan dengan gumpalan energi berwarna hijau itu yang telah tertaut berdampingan.


Tak berselang lama, Tan Hao membuka kedua mata diselingi senyuman tipis. Kemudian ia berdiri dan menghampiri Lan Lihua yang tengah mengamati bahan-bahan sumber daya dengan serius.


"Serumit itukah menyiapkan ini? Atau kau lupa urutannya ...?" tanya Tan Hao sembari menepuk pundak Lan Lihua.


"Ahh ... Tidak! Semuanya sudah siap. Kapan kita akan mulai?" tanya balik Lan Lihua yang terlihat penasaran.


"Sekarang! Mereka berdua sangat membutuhkan Pil ini, kita tak punya banyak waktu lagi, ayo kita mulai ...!"


"Mereka berdua? Siapa maksudnya? Hng ... Pasti wanita itu! Cih ...." batin Lan Lihua setelah sesaat sebelumnya rasa penasaran berubah menjadi rasa kesal.


Tanpa menunggu lagi, Tan Hao berjalan mendekati Periuk Neraka itu sembari menciptakan api ditangannya kemudian melempar api berwarna ungu tersebut tepat di bagian tengah periuk itu yang memiliki lubang kecil.


WHONG ... DDUARR ...


WHUSS ... WHUSS ...


Ledakan terjadi bersamaan di tiap kepala naga yang ada di periuk tersebut seolah menyemburkan api ungu setelah Tan Hao membentuk tanda menggunakan kedua tangannya. Ledakan itu juga membuat Fen Lian terkejut hingga hampir terjungkal kebelakang.


"Sekarang! Masukkan 4 Ginseng Es, 3 Jamur Angin, 3 Tanaman Selor, 5 Rumput Pelangi, 3 Anggrek Suci, 2 Bunga Matahari Emas, 4 Inti Mahoni Putih, 1 Daun Tinta hitam ... 2 buah Kerang Susu Giok!" seru Tan Hao bersamaan dengan menyeimbangkan energi di kedua telapak tangannya untuk mengontrol semburan api yang dikeluarkan oleh sembilan kepala naga di periuk tersebut.


Tanpa menjawabnya, Lan Lihua begitu cekatan dalam menyiapkan semua yang disebutkan Tan Hao. Satu per satu bahan-bahan tersebut dimasukkan Lan Lihua sesuai urutannya. Dalam beberapa waktu, periuk yang memiliki empat kaki tersebut seperti bergetar diselingi semburan bersamaan di sembilan kepala naganya.


Berbagai fluktuasi energi terjadi begitu cepat dan berat, tak ayal membuat Fen Lian terpaku menatapnya. Hingga sampai saat dimana terjadi gelombang energi yang menjulang ke atas berkekuatan tinggi.

__ADS_1


SWOSH ...


"... 1 Mange Mawar Darah ... Masukkan ...!" seru Tan Hao setelah memastikan gelombang tersebut dapat seimbang.


Seusai gelombang besar tersebut, terlihat bahwa proses pembentukan pil sedang berjalan. Setelah sebelumnya melewati proses pemurnian yang menimbulkan fluktuasi besar. Tan Hao nampak begitu serius mengamati sembari mengontrol api pada periuk tersebut menggunakan energi di kedua telapak tangannya.


"3 Kelopak Teratai Naga Langit, masukkan ...!"


Lan Lihua begitu gesit dalam bertindak, sebab ia tahu kalau proses pembuatan obat perlu yang namanya waktu dan ritme, selain persepsi yang tinggi. Dan meskipun persepsi jiwanya lebih tinggi dari Tan Hao, namun untuk kekuatannya masih kalah jauh.


DDUUAARRR ...


HONGG ... HONGG ...


Tak berselang lama setelah bahan terakhir dimasukkan, ledakan api terjadi bersamaan dengan sebuah cahaya keemasan muncul di atas periuk tersebut.


"Apakah gagal? Kenapa sepertinya itu meledak ...?" gumam Fen Lian sembari menyipitkan kedua matanya.


Tan Hao melompat dengan cepat kearah cahaya keemasan itu berada dan menggenggamnya.


"Kerja bagus, Adik Lan ...!" kata Tan Hao sambil tersenyum kearah Lan Lihua.


Lan Lihua tersenyum sesaat kemudian memalingkan wajahnya sembari menyeka keringat di keningnya menggunakan lengan baju.


"Cih ... Hanya Pil tingkat enam saja begini merepotkan," gumamnya pelan, terlihat wajah kesalnya begitu manis dilihat oleh Tan Hao.


"Ehem ... Kau salah! Ini Pil tingkat delapan kualitas menengah," sahut Tan Hao diiringi batuk pelan, membuat Lan Lihua melotot tajam namun pandangannya kearah lantai dan tertutup lengan bajunya.

__ADS_1


"Baiklah, kau istirahat dulu sejenak! Setelah ini kita buat satu butir lagi," lanjut Tan Hao sembari memasukkan Pil tersebut kedalam sebuah botol kaca, setelah sebelumnya mengamati bentuk Pil tersebut.


__ADS_2