
Tetua Jing Yun memejamkan mata sebelum mengubah arah pandangannya, "Perang hanya akan menimbulkan kerugian, tak ada yang namanya kemenangan. Yang ada hanya penyesalan dan tangisan. Kebahagiaan karena masih bisa bernapas tak lebih dari sebuah rasa semu sebagai penengah kepedihan."
Tetua Feiying mengangguk pelan, apa yang dikatakan Tetua Jing Yun memang benar. Begitu juga ketiga sahabatnya yang lain, mereka membenarkannya. Tak ada perang yang berakhir membahagiakan, menang atau kalah bukan tujuan dan hanya sebuah sebutan tanpa makna.
Disudut lain terlihat beberapa pendekar yang tergabung ke dalam aliansi juga nampak ada yang menangis, bukan tanpa sebab. Mereka menangis karena keluarga atau saudara dan juga mungkin sahabat baiknya telah menjadi salah satu mayat yang tak lagi bisa dikenali.
"Aku pernah mengalami ini sendirian dan sampai saat ini luka itu tak pernah bisa aku sembuhkan! Aku berharap, setelah semuanya bertemu dengan keluarga atau saudara menjadikan mereka lebih baik ...!" Ujar Fen Fang dengan suara berat sebelum menundukkan campingnya, setelah itu ia memegang pundak Tetua Jing Yun sambil menyunggingkan senyum sebelum akhirnya menghilang bagai asap tertiup angin.
Setelah beberapa waktu terdiam, mereka semua akhirnya bergerak setelah Tetua Jing Yun angkat suara. Tak ada dari mereka yang tersenyum meski kemenangan didapatkan. Semuanya terlihat kehilangan semangat menyaksikan mayat-mayat tak utuh bergelimpangan.
"Ada apa dengan kalian! Berdiri dan bersihkan tempat ini, aku yakin kalian tak ada yang sampai hati meninggalkan tempat ini begitu saja. Penduduk desa ini tak seharusnya melihat semua ini, ayolah!" Tetua Feiying berseru lantang mengingatkan pasukan yang terlihat lemas.
Disisi lain, Patriark Su Long telah lebih dulu memerintah anggota sektenya untuk mulai membereskan mayat-mayat tersebut.
***
Tan Hao hanya melempar senyum sinis menanggapi Nian Zhen, 'Entah kenapa, aku jadi lebih menyukai Teratai Amarah ini! Tidak tahu, seperti apa nanti kalau Shen Long telah kembali. Hehe mungkin akan ada kecemburuan,' terlihat di tangan kanannya telah memegang dua manik-manik teratai.
Sebelumnya Tan Hao ingin menggunakan Pedang Dewa Hampa tetapi diurungkannya, pada akhirnya ia lebih memilih menggunakan Cakram Teratai Amarah. Ia berpikir tak baik jika selalu menggunakan kemampuan ilusi setiap kali bertarung.
"Aku mendengarmu...!" balas Tan Hao santai tetapi tidak dengan kewaspadaannya.
Nian Zhen membuang ludah sebelum bergerak dengan kecepatan tinggi sambil mengayunkan palu kembarnya. Raut wajahnya benar-benar merah padam, sementara kekuatan yang terkandung di dalam serangannya ini berkali lipat lebih tinggi dibanding saat beradu pukulan.
Tan Hao melemparkan kedua manik-manik teratai itu ke udara, 'Saatnya kembali bekerja!' kemudian menggerakkan manik-manik itu menggunakan spirit energi.
__ADS_1
Manik-manik itu dalam sekejap berubah menjadi dua buah cakram ganda bertingkat, bunyi desingan akibat perputaran tiap tingkatnya membuat Nian Zhen hampir kehilangan keseimbangan lompatannya.
"Senjata yang aneh untuk orang yang aneh! Tapi tidak masalah, akan aku hancurkan!" seru Nian Zhen sebelum menghantam dua cakram tersebut menggunakan kedua palunya.
Pertarungan kembali terjadi namun kali ini mereka menggunakan pusaka yang terlapisi energi. Benturan demi benturan terjadi sangat cepat, bukan lagi hanya goncangan hebat yang terjadi tetapi juga menciptakan sambaran api diselingi petir ke berbagai arah.
Meskipun mereka sama-sama menggunakan energi yang tak sedikit tapi ada perbedaan diantara mereka. Tan Hao hanya berdiam diri menggerakkan cakramnya, sementara Nian Zhen bergerak dalam kecepatannya selagi mengayunkan palu kembarnya.
Serangan dari berbagai arah ia lancarkan tetapi hanya berakhir dengan berbenturan dengan cakram ganda tanpa bisa mendekati Tan Hao. Hal itu membuat Nian Zhen meningkatkan porsi serangannya.
'Cakram ini kuat sekali! Terbuat dari bahan apa, sampai pusaka tingkat suci ini tak sanggup menggoresnya,' Nian Zhen masih bisa berpikir walaupun kepalanya dipenuhi amarah.
Tan Hao sendiri juga tak menyangka jika senjata yang digunakan Nian Zhen tak hancur ketika bersentuhan dengan Cakram Teratai miliknya. Pusaka tingkat dewa berhadapan dengan pusaka tingkat suci, benar-benar pertarungan tingkat tinggi.
BOOM!!
Kembali ledakan demi ledakan menghiasi langit, gema yang tercipta bahkan terdengar hingga ke sekte Tujuh Tombak Emas yang berjarak ribuan mil. Beberapa desa dan kota yang tak jauh dari lokasi pertarungan juga mendapatkan dampak yang cukup signifikan.
Fen Fang tiba-tiba muncul disalah satu cabang pohon berseberangan dengan keberadaan Die Lin, 'Ah ternyata benar, mereka bertarung sungguhan. Ini menarik! Aku lelah sekali untuk ikut campur, sebaiknya aku disini saja! Lumayan, menikmati angin sore sambil melihat tontonan yang menarik, hehe,' terlihat ia begitu santai sembari menyiapkan tempat untuk duduk bersandar.
"Serahkan apa yang kamu ambil di tempat ini! Terakhir kali aku memintanya baik-baik," tekan Tan Hao sembari mempercepat putaran serangan cakramnya.
Nian Zhen mendengus keras, terlihat ekspresinya kentara sangat emosional, "Jangan mimpi...! Sampai aku mati pun kau tak akan mendapatkannya," tak berselang lama, ia juga memperkuat serangan palu kembarnya.
DDUAARR!!
__ADS_1
WHUNG!!
Benturan keras mendengung hebat, bahkan sampai membuat pasukan aliansi yang masih sibuk membereskan mayat berhenti untuk melindungi telinganya.
Tetua Jing Yun dan lainnya tak berdampak yang terlalu, mereka melindungi keenam inderanya menggunakan tenaga dalam. Meskipun mereka sama penasarannya dengan pertarungan yang terjadi, namun mereka enggan untuk melihat.
Rencana yang telah tersusun dan juga waktu yang tak banyak tersisa membuat mereka secara langsung juga turun tangan membantu untuk membersihkan mayat serta sisa-sisa pertarungan.
Sementara itu perhatian Fen Fang teralihkan ketika Die Lin mengerang keras sambil menutup kedua telinganya. Hal itu membuatnya merasa iba, ia tahu benar kalau orang yang mengerang itu pasti orang yang beberapa saat lalu bertarung dengan Nian Zhen sebelum Tan Hao datang.
Fen Fang tersenyum tipis sembari memetik selembar daun, 'Cih, bocah sialan itu! Banyak sekali wanitanya...! Ketampanan juga pas-pasan, sifat juga tidak jelas, apalagi perasaan. Cih! Sama sekali tidak peka,' sebelum akhirnya memainkan nada menggunakan selembar daun tersebut yang kemudian memunculkan hawa energi lembut selanjutnya mengarah ke tempat Die Lin berada.
Tak berselang lama Die Lin merasa sangat hening, bahkan ia beberapa kali mengecek telinganya. Dalam hati ia merasa ketakutan kalau ia telah menjadi tuli. Tetapi ia segera sadar kalau ada sebuah energi keemasan yang membungkus tubuhnya.
Die Lin menoleh kesana kemari mencari orang yang telah memberikannya perlindungan tersebut tetapi sama sekali ia tak dapat menemukan siapapun, bahkan merasakan hawa keberadaannya pun tidak mampu sama sekali.
DDUAR!!
KABOOM!!
Kembali ledakan beruntun terjadi ketika Nian Zhen menyerang Cakram Teratai tersebut menggunakan pusakanya yang sesaat lalu ia satukan. Kini, palu tersebut memiliki dua kepala yang bersambung, tak hanya kekuatannya yang bertambah tetapi juga daya hancur yang meningkat.
Terlihat jelas kalau dampak ledakan terakhir memporak-porandakan area sekitar. Nian Zhen kehabisan akal untuk mendekati Tan Hao sementara ia tak mampu menyingkirkan cakram ganda yang terus memblok setiap serangannya dari berbagai arah.
'Aku tak bisa terus begini! Benda itu menyebalkan, aku harus memikirkan cara untuk menemukan celah disaat dua benda itu menahan seranganku! Hmm ... Sepertinya tidak ada cara lain lagi,' Nian Zhen akhirnya mengambil langkah mundur selagi menatap tajam Tan Hao, terlihat ia sedang mempersiapkan sesuatu.
__ADS_1