Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 129 ~ Salah Umpan


__ADS_3

"Cih! Dasar wanita berwajah ular! Tapi sayangnya, sikap manismu tak berlaku terhadapku. Nah ... Mari kita lihat, sampai dimana permainan ini kau mainkan," kata Sui Jiu santai memperhatikan gerak gerik Manager Xinxin.


Manager Xin nampak menyunggingkan senyum ketika keluar dari ruangan Fen Lian. Entah apa sebabnya, ia terlihat berbicara sendiri sepanjang lorong yang mengarah ke ruangannya. Sesekali ia tertawa kecil sesekali juga ia terdiam seakan ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


Sui Jiu mengikuti Manager Xin sesuai instingnya, hal itu juga yang di sarankan oleh Tan Hao, sebab menurutnya Dewi Ilusi memiliki kecerdasan cukup tinggi dan diberi keleluasan bertindak selama tidak membunuh. Meskipun seharusnya, orang yang bernama Xinxin itu adalah targetnya. Dewi Ilusi nyatanya lebih mendengarkan Tan Hao daripada tugas yang telah ia terima bayarannya. Lagipula, menurutnya cepat atau lambat wanita yang bernama Xinxin itu akan mati juga.


Sudah lebih dari tiga jam berjalan ia mengikuti Xinxin, Sui Jiu mengetahui terdapat dua orang yang melindungi Xinxin dari balik bayangan. Keberadaannya tak dapat diketahui oleh mata normal ataupun persepsi pendekar, sebab berada di dalam bayangan tubuh Xinxin.


Dua orang yang menurut penglihatan Sui Jiu setidaknya berada di tingkat Pertapa Langit tahap Atas. Itu ditandai dari hampir tidak terasanya energi keduanya. Dari balik dimensi miliknya, Sui Jiu bisa melihat secara jelas kedua orang tersebut. Namun sebaliknya, dirinya tidak diketahui oleh siapapun dan hanya Tan Hao lah yang memiliki kemampuan diatasnya.


"Sepertinya menyerahkan urusan ini pada Chen Seng adalah keputusan salah. Beberapa hari lagi binatang itu akan keluar dari tempat persembunyiannya dan menurut kabar itu adalah kondisi terlemahnya. Dan juga sumberdaya yang di curi oleh pak tua itu, cih ... Asosiasi bahkan mempunyai yang lebih baik dan lebih banyak. Kesempatan yang harusnya dijalankan malam ini, tapi nyatanya Chen Seng menghilang tanpa jejak," kesah Manager Xinxin seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.


Namun Sui Jiu menangkap lain maksud dari perkataannya, sebab ia sudah mengetahui informasi mengenai Xinxin dengan lengkap. Sui Jiu tahu benar alasan mengapa ia di minta untuk melenyapkan nyawa wanita itu. Rekam jejak yang tak ada seorang pun tahu termasuk Fen Lian.


"Jalangg sialan ini?! Dia begitu pintar bersilat lidah! Memanfaatkan ketamakan pendekar aliran hitam untuk menjalankan keinginannya. Heh ... Andai dia tahu apa yang menjadi incaran utamanya bersama seorang yang mengerikan untuk di singgung! Aku tak bisa membayangkan bagaimana ekspresinya nanti, he he ...." ujar Sui Jiu seolah membalas pernyataan Manager Xinxin.

__ADS_1


Ditempat lain, Chen Seng hampir sampai ditempat orang-orang dari sektenya berkumpul. Meskipun begitu, terdapat beberapa kelompok yang tersebar di empat tempat di dalam Hutan Hibei. Kelompok pendekar aliran hitam yang tercampur dari lima sekte berbeda. Kelompok pertama diketuai langsung oleh Chen Seng, meskipun ia pandai dalam strategi perang dam memiliki kemampuan tinggi namun kekuatannya adalah yang paling lemah diantara empat ketua lainnya.


Dalam laju larinya beberapa kali ia mengumpat dalam hati, pikirannya tengah sibuk memikirkan bagaimana caranya mundur dari aliansi dan membawa seluruh anggota sekte untuk kembali tanpa menyinggung kelompok lain.


Bagi Chen Seng yang sudah mengetahui, berurusan dengan pemuda yang bernama Tan Hao sama saja dengan cari mati. Jika bisa memilih, ia lebih baik memilih bertempur melawan sekte aliran putih. Kekuatan mereka masih berada di dalam kendali, tetapi untuk seorang Tan Hao yang mampu membunuh dewa iblis Jiwei Dan di usia muda, itu seperti melawan rajanya para dewa.


"Lihat itu! Ketua Chen telah kembali,"


"Iya benar, itu ketua!"


"Semuanya! Dengarkan aku! Kita mundur. Tidak ada alasan lagi untuk melanjutkan kebodohan ini! Kita diperalat dan dijadikan umpan," seru Chen Seng setelah berhenti dan berdiri tepat ditengah-tengah kelompok itu.


Semua orang terkejut mendengar pernyataan Chen Seng, banyak dari mereka terlihat tak percaya dengan yang mereka dengar. Suasana menjadi riuh dengan banyaknya argumen serta saling berbicara mempertanyakan satu sama lain. Chen Seng sendiri tak punya pilihan lain, lebih baik mengatasi masalah keributan karena pernyataannya ketimbang mengatasi masalah hidup mati sektenya.


Ancaman yang ia terima dari Tan Hao menurutnya bukan ancaman sepele, sebab ia mengetahui jika mudah saja bagi Tan Hao melenyapkan sekte Harimau Emas yang memang tak terlalu besar sebagai sekte kelas menengah aliran hitam.

__ADS_1


Dua orang muncul tiba-tiba tanpa tahu arah datangnya. Keduanya berjalan cukup santai kearah Chen Seng. Dua orang itu merupakan pendekar aliran hitam dari Kerajaan Yan yang bergabung dibawah pimpinan Chen Seng dan menjadi beberapa orang yang menggerakkan aliansi.


"Apa maksud anda, Senior Chen?"


"Kami akan kecewa dengan keputusan sepihakmu! Dan mungkin ini akan berakhir buruk untukmu ...."


Chen Seng menghela napas mencoba mengatur ketenangannya yang masih diliputi rasa tegang. Dalam hatinya tersenyum getir, ia melupakan keberadaan dua orang tersebut.


"Saudara Yan Wu! Saudara Yan Chui! Keputusan yang aku ambil bukan semata karena pilihanku, ini demi kelangsungan sekteku dimasa depan! Aku harap saudara bisa mengerti ...." kilah Chen Seng berharap keduanya mau mendengarkan.


Yan Wu tiba-tiba melepaskan aura energi miliknya, tersirat senyum manis namun itu hanyalah basa-basinya saja. Aura energi yang membuat semua anggota aliansi terdiam bersamaan. Begitu juga dengan Chen Seng yang menangkap lain maksud dari Yan Wu.


"Maafkan aku saudara Wu! Jika anda mau mendengarkanku, lebih baik urungkan niat kalian untuk melanjutkan rencana konyol ini! Berburu binatang suci dan merampok sumberdaya asosiasi serta menginginkan pusaka itu! Ini semua tidak sebanding dengan nyawa orang banyak dan masa depan kita nanti! Aku bisa katakan kalau kita tetap melanjutkannya, yang ada didepan kita hanyalah ... Kematian?!" urai Chen Seng mencoba memberi penjelasan. Meskipun begitu senyuman manis Yan Wu masih terjaga begitu juga dengan aura energi yang ia lepaskan.


"Tenanglah Senior Chen! Anda terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dicemaskan! Bukankah pengorbanan memang selalu berbanding lurus dengan apa yang kita dapatkan? Keberaniankah atau keputusasaan dari kegagalan yang belum dijalani, biasanya kerap kali menjadikan kita seorang yang pengecut penuh perhitungan," sahut Yan Chui santai yang kedua matanya menutup dengan tangan terlipat dibelakang.

__ADS_1


Chen Seng membisu, ia kehabisan cara untuk menjelaskan. Meskipun ia tahu jika bicara terus terang dengan apa yang ia ketahui adalah yang terbaik saat ini. Tapi, bagi dua orang di depannya itu jika mendengarnya tak akan mungkin percaya dan malah menganggap Chen Seng gila.


__ADS_2