Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 158 ~ Mulai Beraksi


__ADS_3

"Hahaha...! Kalian hanya sampah, jangan menghalangi jalan tuan kami. Minggir!!" seru salah seorang pendekar topeng putih.


Beberapa rumah terbakar dan juga bangunan rusak parah, sebagian penduduk desa yang tempat tinggalnya berada di tepi luar desa menjadi sasaran para pendekar topeng putih yang menyerang membabi buta.


Warga biasa berlarian menyelamatkan diri, dan beberapa diantaranya memohon untuk tidak dibunuh. Belasan pendekar topeng putih berlaku sesuka hati mereka, disusul sebuah tandu yang di bawa sepasang kuda memasuki desa dan para pengawalnya membunuh warga desa yang menghalangi jalan.


Terlihat samar dibalik kain putih seseorang yang berada didalam kereta kuda tersebut tersenyum lebar sembari memainkan kipasnya, sementara nampak disampingnya terdapat seorang wanita.


Sementara para pendekar topeng putih membantai warga desa yang mereka temui, seseorang yang berada di dalam kereta kuda tersebut terlihat sedang berbincang santai.


Tapi langkah mereka terhenti ketika dihadang oleh beberapa pendekar bertudung emas. Pendekar aliansi aliran hitam yang masuk ke desa semuanya bertopeng putih dan hanya ada lima orang yang memakai topeng biru, mereka mengelilingi kereta kuda tersebut.


"Hei! Menyingkirlah...! Jalan ini milik kami," teriak salah satu pendekar topeng putih yang berada paling depan.


Pendekar bertudung emas yang hanya berjumlah sepuluh orang itu tak ada satupun yang menjawab, semuanya bersiap siaga dengan memegang pedang mereka masing-masing.


"Kenapa berhenti? Apa kalian bodoh, terus jalan dan bantai semua orang yang menghalangi jalanku!" seru orang yang berada di dalam kereta kuda, kemudian dibalas sekali anggukan oleh salah satu pendekar topeng biru di dekatnya.


"Kak Xiao Li! Bukankah mereka dari Asosiasi Menara Emas? Tudung yang mereka kenakan berwarna emas menyala, itu artinya para pendekar ini datang dari cabang kota kerajaan. Kita bukanlah lawan mereka!" bisik salah satu pendekar topeng biru kepada pendekar topeng biru di depannya.


"Diam...! Tugas kita sekarang mengawal Tuan Jun Shan, bukan bertarung. Lagipula, Ketua Mu Yuan hanya memberikan kita perintah untuk memporak-porandakan desa ini, bukan berhadapan dengan asosiasi," tegas pendekar topeng biru yang memiliki rambut lebih panjang dari yang lain. Dari penampilannya, terlihat dialah pemimpin dari para pendekar aliansi yang memasuki desa.


Pendekar yang dipanggil Xiao Li tersebut kemudian melangkah maju tanpa berbicara dan hanya menatap tajam dari balik topengnya.


Kehadiran sepuluh pendekar tudung emas yang tiba-tiba, berhasil membuat fokus para pendekar topeng putih terganggu. Membuat warga desa yang belum sempat melarikan diri memiliki waktu untuk meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Aku tidak sedang menantang Asosiasi Menara Emas, dan kami tak akan menyentuh asosiasi sedikitpun. Mohon tuan pendekar memberi kami jalan!" kata Xiao Li tegas dan lugas diselingi sorot mata tajam.


Tak ada jawaban yang dilontarkan pendekar tudung emas, melainkan bergerak dengan kecepatan tinggi menyerang para pendekar topeng putih dan salah satu diantaranya menyerang Xiao Li menggunakan pedangnya.


Kontan saja hal tersebut membuat pertarungan terjadi tiba-tiba. Belasan pendekar topeng putih berhadapan dengan sembilan pendekar tudung emas. Bunyi benturan senjata terdengar begitu nyaring, dan tak ada satupun dari pendekar topeng putih memiliki kesempatan mengeluarkan jurus tenaga dalam mereka. Semuanya terjadi begitu cepat dan tak berjeda.


"Apa kau tuli? Atau bisu? Kami tak punya urusan dengan asosiasi! Apa kau tahu, siapa orang yang ada didalam kereta kuda itu...? Hah!" seru Xiao Li sembari menangkis tebasan pedang pendekar bertudung emas yang sedari tadi tanpa ekspresi.


Pertarungan keduanya tak terelakkan lagi, Xiao Li yang merupakan pendekar senior dari sekte aliran hitam merasa diremehkan. Terang saja, area terluar dari Desa Hibei tersebut menjadi medan pertarungan kedua kubu.


Lan Lihua dibuat tertegun melihat pertarungan yang terjadi, dirinya merasa heran namun juga sedikit merasa lega. Sebab, masih ada pendekar yang mencoba melindungi desa.


"Mereka...! Bukankah topeng putih itu pendekar tingkat rendah? Apa maksudnya ini...? Mana mungkin begini?" batin Lan Lihua mengamati dari atap salah satu bangunan tertinggi.


Melihat hal tersebut membuat Lan Lihua merasa tidak perlu untuk ikut turun langsung, ia memutuskan untuk hanya mengamati sekaligus mewaspadai setiap gerakan dan situasi yang terjadi.


"Ini tak bisa dibiarkan! Jika terus begini, kita hanya menunggu untuk dibantai!" seru salah satu pendekar topeng biru yang beberapa saat lalu berbicara dengan Xiao Li.


"Kalian...! Bantu mereka, biar aku yang berjaga disini!" serunya yang kemudian memberi perintah ke rekannya yang lain untuk turun tangan.


Ketiga pendekar topeng biru mengangguk bersamaan kemudian melompat ke tempat pertarungan berlangsung, hal tersebut membuat pendekar tudung emas menjadi semakin bersemangat. Terlihat jelas dari kecepatan serangan mereka yang semakin meningkat, membuat beberapa pendekar topeng putih yang tersisa begitu kelabakan.


"Xiao Wu...! Bantu aku," teriak Xiao Li tanpa menoleh, terlihat ia begitu kewalahan menangkis serangan demi serangan yang di lepaskan pendekar bertudung emas yang memiliki anting di telinga sebelah kiri tersebut.


Teriakan Xiao Li yang meminta bantuan membuat pendekar bertudung emas meningkatkan kecepatan serangannya. Sementara pendekar topeng biru yang dipanggil Xiao Wu tersebut mematung sejenak sebelum melompat cepat sembari menghunuskan pedangnya.

__ADS_1


"Dia cukup menarik...! Dilihat dari gerakan pedangnya, sepertinya dia seorang wanita. Emm ... Seorang wanita dikeroyok dua orang ya!" gumam Lan Lihua tersenyum tipis, mengamati pertarungan yang menurutnya semakin seru.


KABOOM!!


SWOOSH ... BLAARR!!


Pendekar bertudung emas tersebut terseret mundur beberapa meter setelah menerima serangan jurus pedang dari Xiao Wu, namun tak menderita luka sedikitpun.


"Dia...!" pekik Xiao Wu kala melihat wajah pendekar tudung emas tersebut, sebab tudungnya tersingkap oleh angin dampak dari serangannya.


"Xue Mei, pendekar senior sekte Anggrek Suci...! Oh ... Pantas saja aku kewalahan! Aku bukan tandingannya, sial!" gerutu Xiao Li menatap tajam sembari menggenggam erat pedangnya.


Pendekar bertudung emas itu masih tanpa ekspresi, parasnya terlihat jelas setelah tudungnya tersingkap. Bahkan beberapa saat membuat fokus pendekar topeng biru yang lain terganggu melihatnya.


Lan Lihua bahkan sempat tercekat dari duduknya menyaksikan kecantikan pendekar tudung emas yang dikenali sebagai Xue Mei dari sekte Anggrek Suci tersebut. Sesaat senyumnya berubah dingin, terlihat jelas kalau Lan Lihua tidak menyukai wajah cantik itu.


*****


Tan Hao melayang cepat didampingi Fen Fang menuju ke desa Hibei, setelah membereskan perselisihan dua siluman buas penguasa padang rumput ditengah hutan Hibei. Sebelum memutuskan untuk kembali, Tan Hao berhasil menyerap roh energi keseratus yang ia butuhkan.


"Aku tak mengira, kau akan membagi padang rumput itu seperti itu, hahaha...!" kelakar Fen Fang ditengah laju terbangnya.


Tan Hao hanya tersenyum canggung mendengar hal itu. Di tempat lain, kedua siluman buas yang sebelumnya berselisih kini terlihat tenang satu sama lain. Bagaimana tidak, Tan Hao membelah tanah di wilayah padang rumput itu menjadi dua. Garis pemisah yang cukup lebar dan begitu dalam serta memanjang seolah terlihat mengikuti luas area padang rumput tersebut.


"Sebaiknya kita bergegas! Firasatku mengatakan akan terjadi hal buruk," kata Tan Hao memperingati Fen Fang yang masih tertawa membayangkan apa yang dilakukan Tan Hao baru saja.

__ADS_1


__ADS_2