Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 190 ~ Hubungan Rumit Han Xue


__ADS_3

Tan Hao menatap datar gelas arak di depannya, untuk beberapa saat ia jadi lebih pendiam setelah terdapat benjolan di kepalanya.


'Apa salahku? Bukannya ini membuang-buang waktu, jika tahu begini harusnya aku menolak untuk kesini saja, huh!' keluh Tan Hao dalam hati.


Suasana pagi hari memang cukup sepi, terlebih penginapan yang letaknya berada di tengah hutan jauh dari kota maupun desa. Beberapa pengunjung juga dari kalangan pendekar yang menjalankan misi atau pedagang yang melewati jalur tersebut selebihnya tidak pernah ada pengunjung.


Han Xue datang dengan membawa sarapan, dua nampan yang cukup lebar berisikan berbagai macam makanan. Raut wajahnya terlihat lebih baik dari sebelumnya, itu menandakan Lan Lihua berhasil menenangkannya.


"Tuan, Nona..! Jika masih ada yang kurang, bisa memanggil saya ...!" ucap Han Xue setelah menyiapkan makanan di atas meja dan berniat untuk kembali.


"Tunggu dulu, jangan terburu-buru pergi! Duduklah ...!"


Han Xue menghentikan langkah, ketika Lan Lihua menahannya. Reaksinya begitu berbeda dari semalam, kini dirinya bisa tersenyum walau itu masih kelihatan memberat.


"Duduklah, temani kami! Atau kau juga boleh ikut sarapan bersama kami...!" ujar Fen Fang sambil menggeser posisi duduknya.


"Aku...?"


"Kemarilah. Jangan tegang begitu...!" Lan Lihua menarik lengan Han Xue kemudian membantunya untuk duduk.


Han Xue nampak melirik Tan Hao sebelum ia duduk, tak ada perkataan apapun dan hanya sesekali tangannya bergetar ringan. Kelihatan kalau dirinya sangat canggung di hadapan tiga orang asing yang belum lama mendatangi tempatnya.

__ADS_1


***


"Apa kau tahu ini apa? Maksudku, bisakah kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi disini?" Tan Hao membuka kotak kayu kemudian memperlihatkan isi di dalamnya.


Pada saat yang sama Fen Fang melirik wajah Han Xue, ia bisa menebak reaksi yang ditunjukkannya ketika melihat kunci perak tersebut, tetapi Fen Fang hanya tersenyum tipis sebelum meneguk arak.


Han Xue mengambil napas berulang kali, terlihat kalau ia ragu untuk memberitahukannya tetapi senyuman Lan Lihua membuatnya merasa memiliki pelindung, meskipun ia juga tahu kalau itu hanyalah sementara sebelum mereka pergi dari tempatnya.


"Bangsawan Du Tianxing dari kota Zhongnan menamakannya Kunci Harta Perak, itu tidak berguna jika hanya ada satu bagian. Kunci itu ada satu pasang, aku juga tidak tahu gunanya untuk apa tapi aku memiliki sejak aku masih kecil. Mereka mengambilnya dariku beberapa minggu lalu ...."


Sebelum melanjutkan, Han Xue berdiri dan menutup semua jendela termasuk pintu sebelum kemudian duduk kembali. Hal itu membuat Tan Hao dan Fen Fang cukup memahami apa yang dilakukan Han Xue karena ketakutannya.


"... Sejauh yang aku tahu! Saat para perampok itu menyekapku, Kakak Han Ning terlihat memiliki hubungan dengan mereka. Tidak jelas saat itu, tapi saat aku di siksa, aku seperti melihat Kak Han Ning tertawa. Mereka juga menyebut-nyebut nama Ayah dan juga Kakak Yin ... Yang aku tak habis pikir, saat bersama Ayah, sikapnya sangat berbeda ketika hanya bersamaku,"


Pada saat yang sama, Han Ning sedang berbicara dengan Yin Song di ruangan lain. Kondisi Yin Song telah mulai pulih semenjak Tan Hao membantu menyembuhkan luka luarnya, sekalipun menghabiskan beberapa pil obat tingkat menengah tapi Tan Hao tak mempermasalahkannya.


"Kakak, apa kau melakukan hal bodoh? Kenapa sampai berani menyinggung mereka lagi? Lihat dirimu ... Sudah berkali-kali hampir mati tapi masih saja ceroboh," Han Ning mengeluh sembari memasang perban di lengan Yin Song, ekspresinya kelihatan kesal namun tak ada amarah, itu seperti khawatir.


Pemuda berusia 25 tahun itu tersenyum tipis, meskipun penuh luka namun masih terlihat wajah tampannya.


"Ya ... Mau bagaimana lagi! Kalau bukan aku lalu siapa lagi? Utusan Han Moon itu dari pendekar aliran hitam, di sekitar sini tak ada pendekar aliran putih lagipula kita tak bisa mencari bantuan atau rencana kita akan gagal! Kakak Han sudah lama terasingkan dan menderita, rencana ini satu-satunya jalan agar kita bisa mendapatkan kembali apa yang harusnya menjadi milik kita,"

__ADS_1


"Tapi, Zhi Ruo itu ... Sampai kapan kita begini!" sahut Han Ning cepat, raut wajahnya kelihatan kesal tapi sorot matanya menunjukkan hal lain ketika menatap Yin Song.


Yin Song menghela napas panjang, "Bertahanlah sebentar lagi, aku yakin kita akan berhasil menyingkirkannya. Lagipula, ketiga orang asing itu juga terlihat tak memiliki keinginan untuk ikut campur ... Sekalipun mencampuri urusan kita, aku akan menghalanginya. Jadi tenanglah ...!"


Han Ning bersungut sebal mendengar perkataan Yin Song, tak ada rasa senang di wajahnya, "Baiklah, sudah selesai. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu, tunggu sebentar ...!" wanita berusia 20 tahunan itu beranjak dari duduknya kemudian keluar kamar diselingi gumaman kecil.


Tan Hao beberapa kali mengangguk ringan ketika mendengar cerita yang disampaikan Han Xue, dalam benaknya sejauh ini yang ia dengar sangat masuk akal dan tak ada yang mencurigakan.


Sama halnya dengan reaksi Fen Fang, dirinya juga tak menyangka jika Keluarga Han akan berbuat seperti itu pada gadis itu.


"Kalian sudah mendengarnya, lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Lan Lihua sambil mengelus pundak Han Xue mencoba menenangkan isaknya.


"Dari yang kau ceritakan, kaitan permasalahan ini tak sesederhana itu. Aku bisa menyimpulkan kalau jalan satu-satunya yang bisa menyelamatkanmu dari keluarga ini hanya Bangsawan Du yang kau sebutkan tadi, kupikir kami bisa membawamu ke Kota Zhongnan,"


Setelah mendengarkan semua cerita Han Xue, Tan Hao memahami kalau ini bukan tanggung jawabnya untuk menyelesaikan, dirinya hanya bisa memberikan saran dan sedikit membantu. Lagipula yang saat ini ada dipikirannya hanya bagaimana keadaan sekte Tujuh Tombak Emas.


Jika masalah mencari orang di kota yang akan ia tuju, bukanlah masalah sulit. Tetapi, jika harus berurusan dengan orang-orang yang ada dibelakang perampok, itu artinya waktu dan tenaga yang dibutuhkan juga semakin banyak.


Tan Hao menyakini kalau urusan ini bukan hanya menyangkut satu keluarga tapi lebih dari itu, melihat apa yang mereka incar.


Penjelasan Han Xue membuat Tan Hao menyadari arti penting dari harta dan kekuasaan. Maka dari itu, ia memiliki ide dan rencana bagus untuk mengurus masalah kota kekaisaran dan juga Pangeran Li Fen An nantinya.

__ADS_1


"Tapi bagaimana cara kita pergi dari sini tanpa diketahui ayah dan juga kakak...! Aku takut mereka tidak akan mengijinkan aku untuk mengikuti kalian," Han Xue terlihat sedih, rasa takutnya sangat jelas kelihatan. Bahkan Lan Lihua pun merasa sangat iba padanya.


"Itu urusan mudah...! Kalian pergi saja lebih dulu, Tuan Han biar aku yang mengurus. Lagipula, para perampok itu tak akan datang lagi kesini," ujar Fen Fang santai yang masih menikmati arak demi arak. Selama dua jam mendengarkan cerita Han Xue, Fen Fang telah menghabiskan tiga kendi arak tapi anehnya ia masih baik-baik saja, seperti hanya sehabis minum air biasa.


__ADS_2