
Setelah memastikan tidak ada bahaya yang mengancam, Yan Yu melompat ke sisi lain danau kecil tersebut. Tapi dirinya hanya mengamati pintu besi yang berukuran sedang tersebut tanpa tahu cara membukanya.
Cukup lama ia mengamati sembari mencari tahu cara untuk membukanya, namun sama sekali tak ia temukan tuas atau semacamnya.
'Apa pintu ini mengarah ke tempat lain? Atau hanya hiasan dinding saja,' gumam Yan Yu sambil menopang dagu menggunakan jemarinya.
Beberapa saat kemudian perhatiannya teralihkan oleh sebuah lubang di dinding gua seukuran tubuh manusia yang letaknya diatas pintu tak terlalu jauh.
Setelah memikirkan segala kemungkinan, Yan Yu memutuskan untuk memasuki lubang tersebut setelah menyimpan panahnya kedalam cincin bumi.
Yan Yu tersenyum getir beberapa saat merayap di lubang sempit tersebut, 'Ini sebenarnya aku sedang mencari apa sih! Tempat ini sempit sekali ...!' keluhannya baru berhenti ketika telah sampai diujung lubang yang terlihat lebih gelap.
Ditempat lain, Tan Hao dan Fen Fang terlihat telah sampai di lereng bukit. Keduanya memandang anak tangga yang menembus bukit tersebut.
"Hao Hao, apa kau yakin ini tempatnya? Rasanya tempat ini tidak ada yang spesial!" ujar Fen Fang datar sambil mengamati situasi sekitar.
Tan Hao terlihat menggunakan Mata Dewa tahap satu, mencoba melihat ujung dari anak tangga itu mengarah. Beberapa saat ia mengerutkan keningnya, seolah merasa heran akan sesuatu.
"Aku rasa benar, ada dua orang di dalam sana! Eh, ada satu orang lagi ... Tapi dia, seperti sedang merangkak!"
Fen Fang memandang Tan Hao, "Mungkin dia mata-mata atau semacamnya yang jelas dua orang ini yang lebih penting, bukan! Ayo, masuk ...!"
Keduanya menaiki anak tangga tersebut sementara Fen Fang berjalan lebih dulu, perhatian Tan Hao tertuju ke kepala Yin Xiang yang masih menggantung di pinggang Fen Fang. Jelas terlihat dari ekspresi wajahnya kalau Tan Hao merasa jijik dan mual.
'Semakin lama bersamanya, aku jadi semakin was-was. Kakek gila ini, memperlakukan kepala manusia seperti itu. Sebenarnya, apa tujuan dan apa yang sedang di rencanakannya! Sebaiknya aku lebih berhati-hati padanya,' batin Tan Hao sambil sesekali memandang Fen Fang dari samping belakang.
Sementara itu Selir Xinxin terlihat gelisah, hal itu membuat Mu Yuan juga bingung. Keduanya sama-sama tak bisa melakukan apa-apa lagi setelah kehilangan penglihatan pergerakan Tan Hao dari bola kristal seukuran kepala manusia tersebut.
__ADS_1
Kekalahan pasukan topeng emas dan hitam yang mereka kirim menjadi alasan lain kekhawatiran Selir Xinxin, ditambah lagi dengan banyak pendekar jagoan yang turun tangan.
Selir Xinxin nampak menggigit bibirnya, "Kita harus bagaimana sekarang? Orang-orang itu tak butuh waktu lama untuk sampai di dua tempat itu! Ditambah orang yang bernama Tan Hao itu ... Menyebalkan!" tatapan matanya begitu tajam tapi juga terselip rasa ketakutan.
Mu Yuan memejamkan mata sebelum membuang napas pelan, "Sebaiknya kita meninggalkan tempat ini! Aku merasa keberadaan kita disini sudah tidak aman lagi. Kita pikirkan cara lain untuk mendapatkan kitab itu kembali,"
Bola kristal pemberian Yan Mu itu tiba-tiba bersinar terang tetapi hanya sekejap. Selir Xinxin dan Mu Yuan tersentak bersamaan sembari menghalangi penglihatan mata mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Selir Xinxin yang masih menyipitkan matanya.
"Aku juga tidak tahu! Bola ini aneh ...!" sahut Mu Yuan.
Disisi lain, Yan Yu tersentak kaget hingga membuat kepalanya membentur dinding lorong dengan cukup keras ketika sepijar cahaya mengenai penglihatannya.
Fen Fang dan Tan Hao saling pandang sejenak sebelum tatapan mata mereka berubah serius. Anggukan kepala sekali menjadi penanda keduanya untuk lekas mempercepat langkah.
Menyadari arti tatapan mata tersebut, Mu Yuan memberanikan diri mendekat untuk melihat lebih jelas apa yang sebenarnya terjadi.
"I-ini...!"
Mu Yuan terperanjat hebat, reaksinya tak memperlihatkan bahwa ia seorang pertapa kelas atas yang memiliki segudang pengalaman mengejutkan.
"Ada apa? Apa yang kau lihat?" tanya Selir Xinxin yang ikut terkejut bersamaan.
Mu Yuan mundur beberapa langkah, wajahnya terlihat memucat dengan cepat, "Raja Yan tewas, Pangeran Li Chen An gila, pasukan terbantai. Kerajaan Yan lenyap dan kita ...!"
"Kita apa? Bicara yang jelas!" seru Selir Xinxin setengah berteriak, terlihat ekspresinya menjadi lebih cemas dibanding sebelumnya setelah melihat reaksi yang diperlihatkan Mu Yuan.
__ADS_1
"Ma-mati!" Mu Yuan tergagap sementara tubuhnya gemetaran.
Apa yang dilihat Mu Yuan di bola kristal tersebut tak lain adalah kejadian yang akan datang. Itu terlihat bukan seperti meramal, tapi lebih seperti ke maju beberapa waktu ke masa depan.
Semua bayangan bergerak dengan cepat, hanya butuh lima detik bagi Mu Yuan untuk bisa melihat semuanya. Bahkan ketika ia melihat langsung bola kristal tersebut, seolah ia melihat dengan mata kepalanya sendiri semua kejadian itu beserta penyebabnya.
"Apa kau bilang? Kita mati! Jangan bercanda disaat seperti ini, matamu mungkin bermasalah. Coba lihat lagi!" Selir Xinxin tak lagi merasa terkejut, ia malah terlihat seperti menahan kegeraman mendengar penjelasan yang disampaikan Mu Yuan.
"Tidak! Aku yakin, sangat yakin sekali ...!"
BLARR!!
Sebelum Mu Yuan menyelesaikan perkataannya tiba-tiba salah satu pintu besi yang terletak dibelakang Selir Xinxin meledak dengan cukup keras. Bahkan sebagian pecahan besi dan batu menghempas tubuh Selir Xinxin.
"Hai, halo! Apa kabar kalian?"
Mu Yuan tercekat hingga membuatnya menempel dinding ruangan tersebut setelah mendengar suara dari balik pintu yang hancur berantakan.
"Kau?! Bagaimana bisa kalian menemukan tempat ini?" pekiknya lantang sembari menunjuk.
Fen Fang tersenyum lebar sementara kedua tangannya terlipat ke belakang. Ledakan yang terjadi karena tendangan kaki kiri Fen Fang sementara pandangan mata Tan Hao langsung tertuju ke Bola Kristal setelah efek ledakan mereda.
"Cukup mudah, tinggal menggunakan akal saja," kelakar Fen Fang namun tatapan matanya menusuk kearah Mu Yuan.
'Kristal Penjelajah Waktu...! Aku tak mengira akan menemukannya disini. Kitab Suci Sembilan Surga dan Kristal Penjelajah Waktu, dua benda tak ternilai harganya tidak aku sangka keberadaannya berdekatan ditempat ini,' batin Tan Hao sebelum kemudian tersenyum hangat dan melangkah masuk ke ruangan yang tak begitu luas tersebut.
Selir Xinxin menderita luka luar yang cukup parah setelah terkena puing-puing bekas pintu masuk. Beberapa kali ia batuk ringan dalam membersihkan puing yang menimpa tubuhnya tanpa menyadari kalau beberapa langkah di depannya berdiri seorang pengemis yang memakai camping serta memiliki kepala manusia tergantung di pinggangnya.
__ADS_1
Yan Yu masih membelalak lebar menyaksikan beberapa kejadian tersebut dibalik rongga lubang yang ada di dinding ruangan tersebut.