
Fen Fang menatap tajam Tetua Jing Yun, senyumannya seketika berubah menjadi rasa geram. Bukan lagi sebuah rahasia tentang hal itu, sebab memang begitulah masa lalu Fen Fang. Soal itu juga pernah disinggung oleh Yan Mu beberapa waktu lalu.
Niat hati ingin menjelaskan tetapi ucapan Tetua Jing Yun membuatnya seakan tak terima, bahkan setelah selama ini ia berusaha menebus semua kesalahannya dengan membantu orang-orang secara sembunyi-sembunyi.
"HNG?! Lalu apa maumu? Menghentikanku untuk memenangkan perang ini? Jangan naif, Tombak Kecil! Tapi baiklah, kesempatan milikmu!"
Fen Fang melepaskan aura pembunuh, meskipun hanya sebagian kecil saja tapi kekuatannya bahkan mampu mengimbangi aura milik ketiga orang itu. Biarpun begitu, Fen Fang tak benar-benar berniat untuk bertarung. Akal sehatnya masih bekerja normal, sementara pilihannya hanya tertuju untuk menyadarkan kesalahpahaman yang terjadi.
Tetua Jing Yun langsung memberi tanda pada Raja Tempa dan Kaisar obat untuk bertindak bersama. Ia merasa tak perlu membuang waktu hanya untuk pembicaraan yang tak ada ujungnya.
Pertarungan pun tak terhindarkan lagi, Raja Tempa menyerang lebih dulu disusul kemudian Kaisar Obat. Adu serangan teknik jurus terjadi di udara, menimbulkan pekikan bunyi peraduan energi masing-masing.
Sementara Tetua Jing Yun tak lekas menyerang, ia mengamati untuk menemukan celah kelemahan dari Fen Fang sebelum menggunakan Tombak Emas Singa Ungu.
Raja Tempa Lian Ho menyadari apa yang akan dilakukan sahabatnya itu. Gerakannya berubah dari menyerang menjadi seperti membuka celah.
Begitu kesempatan terbuka, Tetua Jing Yun bergerak dengan kecepatan tinggi sembari bersiap mengeluarkan jurusnya.
Fen Fang bukannya tak menyadari, ia memberi kesempatan Jing Yun untuk menyerangnya. Fen Fang percaya kalau sebenarnya terdapat keraguan di hati Jing Yun tetapi situasi yang membuat pikirannya tak bisa tenang.
JURUS TOMBAK : PEMUSNAH JIWA
SWOSH!!
WHUNG!! WHUNG!!
Raja Tempa dan Kaisar Obat menyingkir dengan cepat, mereka memberi jalan sekaligus menghindar dari dampak jurus yang mereka tahu itu sangatlah kuat.
DDUAARR!!
__ADS_1
WOSH!! WOSH!!
Fen Fang hanya menangkis serangan tersebut menggunakan campingnya, efek ledakan yang begitu kuat tetapi camping itu tak tergores sedikitpun.
"Hng! Sudah kuduga, serangan biasa tak akan berpengaruh padamu! Tapi jangan sombong dulu, ini baru permulaan ...!"
"Heh! Kelihatannya kau sangat percaya diri sekali, Tombak Kecil! Seharusnya kau memimpin pasukanmu, bukan malah menghabiskan waktu untuk pertarungan sia-sia ini," sahut Fen Fang sambil melakukan gerakan seperti membersihkan campingnya.
"Sudahlah! Lebih baik serang bersama-sama saja, aku muak dengan pembicaraan kalian!" seru Kaisar Obat yang terdengar tak lagi punya kesabaran.
Raja Tempa Lian Ho sebenarnya ingin menggunakan pusakanya, namun dalam hati merasa tak yakin dapat menggunakannya dengan benar dalam pertarungan satu lawan satu seperti ini.
Fen Fang mengerutkan dahinya ketika Jing Yun mengeluarkan energi yang berbeda dari sebelumnya. Kelihatan jelas raut wajahnya sangat tidak biasa.
"Kau...! Darimana kau mempelajarinya?" pekik Fen Fang menatap lebar.
Tetua Jing Yun memutuskan menggunakan spirit energi, tanpa basa basi lagi ia mengerahkan kekuatannya. Hal itu juga membuat kedua sahabatnya menelan ludah, sebab mereka sama-sama tahu apabila Jing Yun sudah memutuskan untuk menggunakan kekuatan tersebut, maka itu berarti dia sudah habis kesabaran dan ingin menyelesaikannya dengan cepat.
***
Tubuh Tan Hao bergetar setelah beberapa saat yang lalu mencoba memasuki Giok Dewi Bulan menggunakan Spirit Roh-nya. Bukan tanpa sebab, Roh Tan Hao seperti berada di tengah-tengah dari alam raya.
Roh-nya seperti sebutir debu yang dikelilingi milyaran dunia serta bintang-bintang yang terang. Tetapi ada yang berbeda dari yang ia lihat.
"Pusaka Dewa memang menyimpan segala hal yang menakjubkan...! Tapi itu apa?"
Tan Hao penasaran dan lalu mencoba mendekati salah satu bintang paling besar yang memiliki warna lebih gelap dari yang lainnya.
Sementara diluar, Bing Long terlihat sabar menunggu sambil berjaga. Pikirannya menjadi terlalu khawatir saat tubuh Lan Lihua bertambah menggigil.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi? Seingatku, Dewi Kehidupan yang dulu tak memiliki gejala seperti ini! Terlalu lama menyendiri membuatku buta pengetahuan yang terus berkembang, ah sial!"
KWAK!!
Bing Long masih terlarut dalam pikirannya, mengabaikan teriakan burung elang emas yang seolah memanggilnya. Lamunannya baru terhenti ketika menyadari bahwa Tan Hao telah tersadar, buru-buru ia mendekati berniat bertanya.
"Tidak ada masalah apa-apa! Hanya energi yang kelewat besar muncul tiba-tiba. Tubuh Hua'er seperti ini karena efeknya saja, aku sudah menyeimbangkannya. Bisakah Paman Bing menjaganya sementara waktu? Aku harus bergegas kembali, firasatku mengatakan telah terjadi hal diluar dugaan," jelas Tan Hao sembari berdiri, ia menyentuh kening Lan Lihua dengan dua jarinya sebelum melesat pergi.
Bing Long terdiam tiba-tiba sebelum sempat mengeluarkan suara, hanya mengangguk menjawab permintaan Tan Hao.
"Aku harus segera menyelesaikan peperangan ini dan mencaritahu ada apa dengan Hua'er!" batin Tan Hao memantapkan diri sebelum membuka dimensi ruang setelah keluar dari pelindung padang rumput itu.
Sebelumnya, Tan Hao merasa ada yang janggal dengan bintang tersebut. Kitab Seribu Kehidupan hanya mencatat kalau bintang-bintang itu adalah sumber energi sedangkan milyaran dunia adalah sumber kehidupan, Giok Dewi Bulan bisa dibilang sebagai transkrip kecil yang memuat alam semesta.
Tak banyak yang bisa Tan Hao lakukan, sekalipun ia mencoba menyalurkan spirit energinya berharap dapat membuat bintang tersebut menjadi terang seperti bintang yang lainnya.
Namun hal itu sia-sia, meskipun berulang kali ia mencoba. Sebelum akhirnya ia mendapat ide untuk menghubungkan secara langsung pada bintang di sekitarnya, dan itu cukup berhasil walaupun terangnya tidaklah seterang yang lain.
Sebelum kembali ke kesadarannya, Tan Hao menyempatkan diri mengamati alam raya tersebut serta mengingat setiap apa yang ia yakini akan berguna nantinya.
Sepeninggal Tan Hao, Bing Long menjadi lebih pendiam. Ia terus mengamati Lan Lihua yang secara ajaib mulai kembali ke keadaan semula, namun kecepatannya sangatlah lamban.
KWAK!!
"Jangan berisik! Tidakkah kau lihat, tuanku butuh ketenangan!" bentak Bing Long yang membuat Elang Emas itu seketika menggeser badannya di belakang cabang pohon karena ketakutan.
Sebelum akhirnya Elang Emas itu memberanikan diri terbang mendekati Lan Lihua kemudian mematuk pelan kepala Lan Lihua.
Bing Long cukup geram dibuatnya, kelakuan Siluman Buas tahap Atas itu terlihat seperti hewan buas tahap dasar menurutnya.
__ADS_1
"Jangan tidak sopan, dasar burung ...!" sungut Bing Long sambil mencoba memukul kepala Elang Emas itu namun tidak sempat mengenai.
Kegeraman Bing Long tiba-tiba lenyap ketika menyadari apa yang dilakukan Elang Emas itu, membuat kecepatan pemulihan Lan Lihua bertambah.