
Wajah Su Kong begitu kusut, nampak jelas semangatnya telah pupus. Sedangkan Liu Zey sedang bersiul riang disebelah Su Kong yang kedua tangannya penuh barang bawaan.
"Wanita gila ini,-!! Hanya dalam sekejap puluhan koin perakku menguap begitu saja, haish,-!! Tau begini, siapa yang mau mengajaknya belanja, lain kali aku harus kabur atau aku benar-benar jatuh miskin,-!!" batin Su Kong sambil melirik Liu Zey yang berjalan disampingnya dengan penuh riang.
Sebelumnya, Su Kong tak mengira seorang wanita kejam dalam bertarung memiliki nafsu belanja yang begitu mengerikan. Ia mengajak Liu Zey berbelanja setelah dalam perjalanan menuju kedai minum melewati sebuah toko pakaian dan perhiasan yang lumayan besar.
Su Kong begitu percaya diri ketika mengajak Liu Zey untuk masuk yang reaksinya hanya datar, Su Kong mengira ini hanya sebagai basa-basi saja sebagai kencan kilatnya bersama seorang berjuluk Dewi Busur yang kini mengenakan pakaian aslinya, tak mengenakan jubahnya, akantetapi setelah keluar Toko tersebut terlihat Su Kong begitu menyesali keputusannya.
"Apa kau tau situasi disini nampak berbeda,-!!" kata Liu Zey memecahkan lamunan konyol Su Kong.
"Iya jelas berbeda, uangku kan sudah kau habiskan, ish,-!!" ucap getir Su Kong dengan wajah setengah malasnya.
"Maksudku bukan itu,-!! Hehh, lupakan? Dasar naif."
Liu Zey merasakan aura membunuh yang tajam, meskipun ia masih bersikap biasa saja namun ia begitu waspada. Apa yang dirasakan Liu Zey nyatanya tak bisa dirasakan Su Kong.
Beberapa kali keduanya melewati sekumpulan orang yang lalu lalang di pusat pasar. Liu Zey bisa dengan jelas melihat bahwa seluruh orang yang berada di pasar merupakan pendekar, tidak ada warga biasa.
Saat ia berbelanja pun, yang melayaninya juga seorang pendekar.
"Ini aneh,-!! Kemana orang orang biasanya?! Semua orang disini, orang asing?! Sial, saat ini aku tidak bisa bergerak bebas untuk mencari informasi tanpa jubahku, hehh ini akan berakhir merepotkan." batin Liu Zey setelah lirikannya menyapu singkat lalu lalang orang-orang pasar.
Setelah sampai di kedai minum, Su Kong langsung memesan tempat duduk. Atas saran Liu Zey, ia memesan tempat duduk paling ujung belakang di dekat jendela.
Liu Zey bisa merasakan, orang orang di dalam kedai minum juga bukan berasal dari warga lokal karena ia hapal betul wajah warga lokal yang hampir setiap hari ia lihat dan temui.
"Jika kau bodoh, sebaiknya kau pergi sekarang sejauh mungkin,-!! Dalam waktu dekat, akan ada hal buruk terjadi." kata Liu Zey dengan ekspresi serius tajam menatap Su Kong setelah keduanya duduk.
"Hehh, aku tak sebodoh itu,-!! Aku sudah tau sejak awal?! Biarpun kemampuanku jauh dibawahmu tapi kecerdasanku tak akan kalah darimu." kata Su Kong dengan santainya.
"Ohh?! Begitukah,-!! Lalu apa yang kau pahami dari situasi ini?!" balas Liu Zey yang masih bersikap biasa.
__ADS_1
Meskipun ia sadar, tatapan orang-orang di kedai tertuju padanya. Tetapi, ia bersikap wajar seolah tak memahami tatapan yang mereka tujukan.
Beberapa orang dalam satu meja terlihat hanya diam tanpa pembicaraan hanya sibuk dengan arak masing-masing. Sementara meja-meja lainnya nampak wajar, obrolan ringan disertai tawa kecil menghiasi suasana kedai.
Namun, dalam pandangan Liu Zey situasi ini merupakan hal lumrah di lakukan sebelum melakukan tindakan dengan dampak besar.
Sesaat Liu Zey berfikir tentang kota Huizhu, bukan hal wajar apabila kota yang tidak terlalu besar kedatangan puluhan pendekar berilmu tinggi dalam waktu bersamaan.
Ia berfikir hal menarik apa yang ada di kota Huizhu hingga membuat berkumpulnya para pendekar, yang bahkan Liu Zey tak menyadari kapan datangnya pendekar ini.
"Tentu saja tujuan mereka sama dengan tujuan kedatanganku kesini,-!! Apa kau pikir aku ke kota ini hanya untuk mendatangi Paviliun Bintang?! Hahh, konyol sekali,-!!" terang Su Kong yang merendahkan nada bicaranya.
Pernyataan Su Kong membuat Liu Zey tersentak. Meskipun ia telah lama menetap di kota ini namun ia tak terlalu mengenal seluk beluknya. Selama ini yang ia lakukan hanya menjaga kenyamanan para pedagang kecil menengah hingga warga biasa.
"Katakan yang jelas apa maksudnya ini,-!!" kata Liu Zey bereaksi.
"Baiklah.baiklah. Aku akan menjelaskan,-!!
"Ahh, terima kasih. Ambil ini." ucap Su Kong sembari memberikan beberapa koin perunggu ke pelayan yang mengantarkan arak.
Beberapa saat kemudian.
"Dengan terbunuhnya Shan Xie, saat ini aku sendirian di kota ini. Aku sempat ragu akan meneruskannya atau tidak,-!! Bukan hal mudah bertarung sendirian jika terjadi hal tak terduga."
Su Kong menghela nafas pelan kemudian melanjutkan perkataannya.
"Di barat kota Huizhu yang merupakan wilayah Hutan Gelap, Yang terhubung dengan Benua Naga, menurut rumor yang beredar beberapa minggu lalu telah muncul sebuah Pusaka tingkat tinggi,-!! Aku tidak tau pasti pusaka itu tingkat apa dan wujudnya seperti apa. Informasi yang aku dengar dari orang yang dapat dipercaya, Pusaka tersebut berbentuk baju zirah yang dapat meningkatkan kemampuan pemakainya selain sebagai pelindung. Menurut rumor yang beredar pusaka tersebut saat ini berada di kedalaman Hutan Gelap di dalam sebuah Gua Kuno." Su Kong berhenti berbicara ketika ia menuangkan arak.
Liu Zey terkejut sejenak mendengar penyataan Su Kong, selama ini ia tak mengetahui informasi tersebut. Ia menenggak arak yang dituangkan Su Kong dengan pelan.
"Aku tak menyangka ada hal seperti itu di dekatku selama ini,-!! Ehh?! Jika pusaka itu benar memiliki kemampuan seperti yang di katakan Su Kong, bukankah itu berarti sangat berguna untuk kakak Ran? Ahh, aku harus mendapatkannya kalau begitu." batin Liu Zey yang teringat dengan kondisi Liu Ran.
__ADS_1
"Apa yang aku pahami dari rumor yang aku dengar, Pusaka ini kemungkinan bernama Zirah Naga Suci. Jika benar,-!! Kita semua yang ada disini bekerja sama pun tak akan sanggup mengambilnya." ucap Su Kong melanjutkan perkataannya setelah menenggak segelas arak berukuran kecil.
"Aku telah menghabiskan banyak waktuku hanya untuk membaca gulungan-gulungan kuno, di salah satu gulungan kuno yang tak lengkap isinya menyebutkan jika Pusaka Zirah Naga Suci merupakan milik Dewa Yaoshan ketika turun ke bumi untuk menjemput istrinya. Masalah sebenarnya bukan itu, tetapi Pusaka terdapat seekor Naga di dalamnya."
"Lalu,-!!" sergap Liu Zey dengan penasaran tinggi.
Liu Zey tak mengira, meskipun kemampuan beladirinya tidak tinggi namun kemampuan Su Kong begitu dalam tentang pengetahuan. Liu Zey merasa membiarkan hidup Su Kong merupakan keputusan yang tepat.
"Lalu apa?! Naga tersebut memiliki kekuatan yang melampaui batasan teratas kekuatan yang pernah di capai pendekar di alam bumi ini,-!!"
Liu Zey menelan ludahnya.
"Artinya kesempatan kita berhasil mengambilnya tak lebih dari 10%?!"
"Ha ha?! Apa kau bercanda? Menurut perhitunganku, tak lebih dari 1%. Itu pun tak menjamin keselamatan hidup kita." balas Su Kong yang tertawa namun jelas tawanya begitu dipaksakan dalam keseriusan.
"Sayangnya, gulungan kuno itu tak lengkap. Andai saja lengkap, mungkin aku bisa mengetahui cara terbaik untuk mengambilnya." penjelasannya ia akhiri dengan menggeleng kepala pelan.
Liu Zey nampak kecewa dengan pernyataan Su Kong, ia merasa kesempatan untuk menyembuhkan Liu Ran yang sempat terbuka kini tertutup rapat sekali lagi. Raut wajahnya terlihat murung walaupun ia menunduk, Su Kong dapat melihatnya dengan jelas.
Su Kong memahami penyebab murungnya Dewi Busur, ia merasa telah memberi harapan kosong. Namun, sesaat kemudian ia terkejut sendiri setelah teringat akan sesuatu yang lain.
"Oh aku hampir lupa, di dalam Gua Kuno memiliki salah satu sumber daya paling langka. Bunga Teratai Iblis?! Bukankah sumber daya ini jauh lebih baik daripada Pil Yin Yang,-!!"
"Apa?!"
Sontak saja membuat Liu Zey berdiri dengan menggebrak meja. Ia bukan hanya terkejut mendengarnya tapi juga merasa tak percaya.
Apa yang dilakukan Liu Zey membuat hening orang-orang di dalam kedai dan menatapnya dingin serta tajam.
"Hei, pelan sedikit?! Kau malah memancing hal buruk? Haihh,-!!" Su Kong tersentak kaget, ia begitu canggung dengan mengusap-usap kepalanya.
__ADS_1