
Tubuh Tiandou seolah bersinar bersamaan dengan Lan Lihua yang melepas kedua telapak tangan dari punggungnya, bahkan kedua bola mata Tiandou berubah warna keemasan.
Tak sampai disitu, Yue Yin yang berada di luar tubuhnya tiba-tiba tersedot masuk. Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Dewi! Tak kusangka, kekuatan yang kau gunakan untuk menyembuhkannya secara kebetulan juga membuatnya naik tingkat, oh aku menyukai orang ini," kata Bing Long terkagum.
Lan Lihua mencoba berdiri dari duduknya, ia tersenyum tipis.
"Apa yang kau katakan! Aku tak melakukan apapun, itu murni dari jiwanya sendiri,"
Sementara itu di dalam ruang roh, jiwa Tiandou tengah melayang. Kehampaan segera terlihat ketika ia mulai membuka mata.
"Ini?! Dimana ini? Apakah aku sudah mati," Tiandou terkejut hingga tak bisa menguasai reaksinya.
"Jika aku sudah mati lalu kenapa aku merasa, didalam tubuhku mengalir energi yang kuat. Apakah kematian memang seperti ini," racau Tiandou seorang diri sembari mengamati dirinya sendiri.
Tanpa terduga olehnya, muncul setitik cahaya yang kemudian membesar dan terus membesar. Hingga Tiandou menyadari bahwa itu adalah cahaya yang ia kenali.
"Yue Yin?! Kau kah itu," seru Tiandou setengah berteriak.
Cahaya putih kian mendekat hingga berubah menjadi sosok wanita berpakaian layaknya dewi dengan dua selendang panjang di pinggangnya, serta mempunyai mahkota kecil dengan rambut yang terikat panjang.
"Eh kau siapa?" ujar kaget Tiandou melihat ada wanita yang menawan berdiri di depannya.
"Oh ini! Tempat ini adalah ruang roh? Itu artinya ... ." batin Yue Yin yang telah berubah wujud menjadi wanita dewasa.
Selama ini Tiandou tak pernah melihat perubahan manusia Yue Yin meskipun di dalam ruang jiwa selalu memperhatikan. Kini Yue Yin bukan hanya telah mencapai tahap surga namun juga ia telah bisa membentuk wujud manusia sesuai kehendaknya.
"Tuan Tiandou! Apakah kau tak mengenaliku? Aku Yue Yin, gadis yang selama ini menemanimu," ujarnya sembari melayang mendekati Tiandou.
"Ah itu kau ... Hmm lalu apa kau tau ini dimana? Apakah aku sudah mati dan kau terbawa oleh jiwaku?" jawab Tiandou ragu namun dengan cepat ia menepis keraguannya.
__ADS_1
Yue Yin tertawa kecil melihat ada rasa penyesalan juga kecewa meliputi raut wajah Tiandou. Ia tak menertawai itu namun menertawai pemahaman yang didapat Tiandou.
"Tuan, sepertinya aku mengenali sikapmu sekarang ini di beberapa tahun yang lalu, hihihi," kelakar Yue Yin sembari menutup mulutnya dengan jari tangannya.
Tiandou bengong, ia tak mengerti maksud perkataan Yue Yin namun ia mencoba bersikap tenang. Tak ingin menghabiskan waktu dengan percuma, Tiandou berfikir akan lebih baik melakukan sesuatu yang berguna.
"Baiklah ... Baiklah aku menyerah! Lalu bagaimana dengan tempat ini,"
Yue Yin membuka kedua tangannya sembari menatap serius Tiandou.
"Ini adalah Neraka Abadi! Penuh kehampaan, kesendirian, ketidakberdayaan,"
Sontak pernyataan Yue Yin membuat Tiandou terkejut hingga wajahnya pucat pasi, bahkan mulutnya tak bisa mengeluarkan kata-kata dan hanya terbuka.
"Ha ha ha ha ha ... Ada apa dengan reaksimu itu Tuan Tiandou? Aku hanya bercanda," gelak tawa Yue Yin tanpa ditahan melihat Tiandou ketakutan.
"Ah sial, wanita kurang ajar! Katakan yang benar, aku masih belum mengatakan apapun pada Liu Zey," seru Tiandou dengan wajah konyol nya.
"Eh ... Ha! Apa? Jadi Tuan menyimpan rasa pada wanita itu? Ha ha ha ha ... ." seloroh Yue Yin tertawa keras hingga wajahnya memerah.
•••••
"Ini adalah Ruang Roh, ini letaknya jauh lebih dalam dari jiwa yang selama ini aku tempati. Jika seseorang telah mampu memasuki Ruang Roh miliknya maka sudah dipastikan jika orang itu telah sampai di tingkat Kaisar Roh," terang Yue Yin setelah beberapa saat lalu mencoba serius.
"Jadi artinya aku telah naik tingkat disaat sekarat, lanjutkan penjelasanmu," timpal Tiandou seakan tak percaya.
Yue Yin kemudian melanjutkan penjelasannya, Tiandou sesekali tertegun sesekali tersenyum ketika mendengar penjelasan Yue Yin.
Membutuhkan waktu yang tak sedikit untuk menjelaskan semua yang ia ketahui pada Tiandou.
Sementara itu di luar ruang roh Tiandou, tubuhnya tergelatak dan kepalanya bersandar di pangkuan Liu Zey. Isakan kesedihan terus terdengar darinya hingga membuat Lan Lihua membuang nafas berulang kali.
__ADS_1
"Jangan menangis, harusnya kau senang! Mungkin saat ini dia sedang melatih diri di dalam kesadarannya,"
Nyatanya apa yang dikatakan Lan Lihua tak cukup mampu mengubah kesedihan yang dirasakan Liu Zey, Lan Lihua hanya memandang Tan Hao dengan penuh pertanyaan.
Tetapi bukannya membantu menenangkan, Tan Hao justru hanya mengangkat kedua bahunya kemudian memegang pedang dewa surgawi nya.
"Dasar laki-laki tak tahu malu! Apanya yang anak dewa, begini saja tak mau membantu, tch ... ." gerutu Lan Lihua sembari membuang muka.
"Hei pedang bodoh, bisakah kau berbicara padaku? Apa yang membuatmu bersemangat seperti ini," tanya Tan Hao pada pedang yang melayang lepas dari sarungnya.
Pedang Dewa Surgawi mengeluarkan nyala terang, keemasan yang begitu berwibawa. Anehnya, hanya memancarkan nyalanya pada tubuh Tan Hao saja.
"Aku adalah hasrat, aku adalah keinginan, aku adalah pengabdian, aku adalah kekuasaan, aku adalah kekuatan ... ."
Tan Hao mendengar jelas suara tersebut mengaung di dalam kepalanya, membuatnya tersentak mundur satu langkah.
"Aku tak percaya kau dapat bicara! Selama ini kupikir kau benda mati tanpa roh,"
Ye Yuan pun merasa takjub, ia bahkan mendekat mencoba melihat lebih jelas.
"Dewa Yao memiliki pusaka yang mengagumkan, selain yang kuingat ini mungkin sama menakjubkannya dengan Pedang Dewa Hampa, oh ... Apakah ukiran ini mempunyai arti,"
"Haohao! Kupikir senjata ini tak sederhana? Yang kuingat aku tak pernah tahu Dewa Yao menggunakannya,-!! Mungkin ini sesuatu yang dikhususkan untukmu," seru Ye Yuan yang masih meneliti ukiran di bilah pedang.
Tan Hao mengerutkan dahinya, selama ini memang ia tak terlalu memperhatikan pedangnya. Bahkan ukiran yang terdapat di bilahnya pun baru beberapa saat lalu ia ketahui.
"Sungguh aku telah mengabaikan sesuatu yang penting,-!! Aku harusnya menyadari jika sesuatu yang berkaitan dengan ayah pastilah bukan benda sembarangan," ucapnya berat menyadari ia melakukan kesalahan dalam memahami semua yang ditinggalkan ayahnya.
Hal yang belum disadari Tan Hao bahwa pedang dewa surgawi memiliki sebagian hasrat dari Dewa Yaoshan. Sebuah keinginan yang tertanam ketika proses pembuatan senjata tersebut yang bertepatan dengan proses kelahiran Tan Hao ketika itu.
Sebelum Tan Hao memerhatikan lebih jauh lagi, terjadi ledakan energi dahsyat dari arah tempat Tiandou berada. Sebuah ledakan energi yang begitu murni.
__ADS_1
Lan Lihua bahkan termundur beberapa langkah terkena hempasan energi tersebut. Bing Long sendiri cukup kaget dibuatnya, sebab tak pernah ada kekuatan lain yang mampu menekannya di masa ini selain kekuatan milik Tan Hao.
"Akhirnya dia berhasil," ujar Tan Hao mengubah posisinya membelakangi pedang dewa surgawi yang melayang melihat Tiandou yang tengah terduduk bersila dengan kedua tangan membuka kesamping dan kepalanya menengadah.