
"Ku bunuh kau! Ku bunuh kau!! Bedebahh sialaann ... Haha ha ha,"
Zhi Shen berteriak diselingi tawa kejam, sulur-sulur yang keluar dari kedua tangannya masih terus berkait berusaha mendapatkan tubuh Tan Hao. Sulur yang memiliki warna hitam keunguan itu merupakan teknik Iblis Penyerap Jiwa, berbentuk seperti bayangan namun tak memiliki batas ukuran.
Itu seperti jaring laba-laba dua ruas yang setiap ruas memiliki ratusan cabang, dan setiap ujung cabang itu bertemu membentuk ujung runcing layaknya tombak. Zhi Shen bergerak mengikuti gerakan Tan Hao dalam menghindari serangannya namun ia tiba-tiba diam tersentak saat Tan Hao mengeluarkan manik-manik teratai yang berubah bentuk dengan cepat.
Kedua mata Zhi Shen terbuka lebar melihat benda yang berputar di kedua sisi tubuh Tan Hao.
"Bu-bukankah itu!! The Raging Lotus? Bagaimana mungkin dia memiliki senjata mematikan no tiga dari Alam Atas itu? Sialann ... Benar-benar tidak aku duga!"
Keterkejutan Zhi Shen membuatnya diam begitu pula dengan sulur dari kedua tangannya, mengetahui hal itu Tan Hao menggunakan kesempatan tersebut.
"SHENG LONG!! MAJULAH ...."
Seruan Tan Hao membuat Zhi Shen semakin terkejut. Dibanding ekspresi terkejut, itu lebih seperti terpana akibat tertekan.
GROOOOAARRR ...
Zhi Shen tak bisa berkata-kata lagi ketika mendengar dengan sangat jelas sebuah auman menakutkan dari balik awan. Tak berselang lama, cahaya emas menembus awan tebal tersebut dan mengarah ke tempat dimana Zhi Shen melayang.
"Naga Suci? Leluhur bangsa Naga dari alam cahaya 12? Astaga!! Bagaimana bisa dewa naga pemangsa itu bisa berada di alam rendahan ini? Matilah aku ...." desis Zhi Shen yang seolah pasrah tak berdaya.
Makhluk yang memiliki bulu punggung tujuh warna serta bulu badan berwarna emas dengan dua tanduk panjang melengkung seperti tanduk rusa jantan tersebut membuka lebar mulutnya sembari melaju cepat ke arah Zhi Shen.
Disisi lain, Tan Hao memanfaatkan kesempatan itu. Meskipun baru pertama kali ia menggunakan cakram teratai itu, gerakannya dalam mengontrol cukup halus.
CAKRAM TERATAI : CAHAYA EMOSI
Kedua cakram tersebut berputar dengan sangat cepat mengarah pada sulur yang masih diam tak bergerak akibat Zhi Shen sibuk mengendalikan perasaan takutnya akan makhluk dari perwujudan pedang dewa surgawi tersebut.
Tanpa kesulitan sama sekali, kedua cakram itu membabat habis sulur hitam penyerap jiwa. Putaran berlawanan yang dihasilkannya lebih seperti menggulung dan menyerap dengan paksa daripada disebut menghancurkan.
__ADS_1
"Dewa Iblis, ya? Konyol sekali dirimu memakai nama itu? Kau tak lebih dari beberapa santapan ringanku!"
Naga suci yang memiliki nama Sheng Long tersebut berbicara beberapa jarak dari posisi Zhi Shen. Meski ia hanya menggunakan pikirannya, namun Tan Hao pun juga dapat mendengarnya dengan jelas.
"Naga Suci! Tuan Sheng ... Mohon ampunilah aku ...." iba Zhi Shen menyadari dirinya bukanlah lawan sebanding bagi dewa pemangsa iblis, apalagi Naga Suci merupakan leluhur mereka.
"Untuk kesombonganmu, tak ada ampun!!"
GROOAARRR ...
Auman yang penuh dengan aura pembunuh bertekanan tinggi, menerpa tubuh Tetua Tiandou yang dipakai Zhi Shen. Hempasan angin yang dihasilkan tak dapat di jangkau tingkat kekuatannya oleh Tan Hao sekalipun.
"Shen Long!! Hentikannn ... Tubuh itu sahabatku!!" seru Tan Hao cemas setelah menyadarinya.
Namun, teriakan Tan Hao terlambat sepersekian detik. Naga Suci telah melahap Zhi Shen beserta tubuh yang digunakannya.
Sementara itu di sisi lain, Lan Lihua bertemu dengan pria berjubah biru tua bersama dua orang pria bertopeng putih. Mereka terperanjat bersamaan setelah hanya saling berpandangan saat sebuah suara auman disertai badai angin tajam menerpa tubuh mereka.
"Kakak! Inikah kekuatanmu yang sebenarnya? Apa dirimu baik-baik saja?" batin Lan Lihua sembari menatap langit.
Kedua pria bertopeng beserta pria berjubah biru tua tertegun melihat Lan Lihua. Mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Bagaimana bisa dia bersikap santai seperti itu?" batin salah seorang pria bertopeng putih yang bersusah payah menahan hempasan badai angin tersebut.
"Wanita itu? Monsterkah dia?" ujar yang lainnya.
Sementara pria berjubah biru tua tersebut masih tak berkedip. Sorot mata yang terlihat tertekan dibawah tekanan badai angin ditambah dengan apa yang ia saksikan.
"Naga!!"
Lan Lihua menyadari tatapan ketiga orang tersebut, namun ia tak memperdulikannya. Ia lebih mengkhawatirkan keadaan Tan Hao dengan masih berdiri tenang menatap langit, sebelah tangan mengepal baju di depan dadanya.
__ADS_1
"Dewi! Tidak perlu khawatir, kekuatan ini bukan milik Tuan Tan Hao, ini sesuatu yang aku sendiri sulit menjelaskannya. Tuan dalam kondisi baik-baik saja, tapi kemunculan kekuatan ini! Aku takut aku salah mengenalinya," jelas Bing Long berusaha menjawab kekhawatiran Lan Lihua. Ia keluar dari ruang jiwa Lan Lihua dan membentuk pelindung tak kasat mata melingkupi tubuh Lan Lihua saat badai angin berkekuatan tinggi tersebut datang menerpa begitu tajam.
Itulah yang membuat pria berjubah biru tua tersebut terpana tak percaya. Ia dapat melihat dengan jelas meskipun transparan, sementara kedua pendekar di sampingnya tak dapat melihatnya.
"Kemunculan siapa yang paman maksud? Apakah itu hal baik bagi kakak?" tanya Lan Lihua sembari menatap mata Bing Long yang juga melihat langit.
"Jika ini benar! Aku yakin kekuatan ini adalah dia, Naga Suci Sejati. Leluhur asli bangsa naga yang dikenal dengan nama Sheng Long, Zhenzheng Sheng Long di Alam Cahaya 12. Kami ras naga mengenalinya secara turun temurun sebagai Naga Suci Pembantai ...." terang Bing Long sedikit ragu.
"Kakak!" batin Lan Lihua kembali memandangi langit malam.
"Apa hal itu benar adanya? Lalu kenapa aku tidak pernah mendengar sebelumnya? Jika bukan paman yang mengatakannya, aku menganggap itu hanya sebuah mitos," balas Lan Lihua setengah menyelidik.
Bing Long hanya diam, kemudian ia beringsut merubah wujudnya untuk kembali ke dalam ruang jiwa Lan Lihua setelah hempasan badai angin tersebut berhenti.
"Pedang Dewa Surgawi milik Tuan Tan Hao adalah satu-satunya jawaban yang aku pikirkan saat ini," ujarnya sebelum masuk kedalam diri Lan Lihua.
Tatapan kekaguman terlihat dari pria berjubah biru tua tersebut, setelah ia kembali menguasai tubuhnya. Ekspresinya terlihat berbeda ketika bertemu Lan Lihua beberapa saat yang lalu.
"Apa ada yang salah, Patriark Chen?" tanya salah seorang pendekar bertopeng putih.
"Patriark! Sebaiknya kita lekas kembali ke sekte Harimau Emas, aku merasa buruk terlalu lama ditempat ini," ujar pendekar bertopeng lainnya.
Pria berjubah biru tua tersebut mendengus kesal, ia melirik tajam kearah dua orang pengikutnya tersebut.
"Sejak kapan kalian memiliki kuasa untuk memerintahku? Hng ...."
"Maafkan kami, Patriark! Maafkan kelancangan kami!" ujar keduanya hampir bersamaan.
"Kalian lihat wanita itu! Dia memiliki sesuatu yang lebih hebat dibanding alasan kita di tempat ini. Kita tak bisa pulang dengan kosong, lagipula aku tak bisa mengacuhkan sesuatu yang akan membuat sekteku berkuasa kembali, hmm ...."
Lan Lihua membuang muka, ekspresi kesal jelas terlihat diwajahnya. Jika bukan karena kekhawatiran terhadap Tan Hao, sudah barang tentu ucapan pria berjubah biru tua tersebut yang tak lain adalah Chen Seng Patriark sekte Harimau Emas, membuat Lan Lihua marah dan bertindak langsung.
__ADS_1