
Mudong Shen bersama Yong Li menggunakan formasi jurus mereka untuk mengirim tubuh dari Harimau Sisik Naga setelah semua persiapan selesai dilakukan. Banyaknya bawahan mereka yang tewas dan terluka membuat keduanya hanya dibantu oleh beberapa pendekar topeng emas. Sementara pendekar topeng hitam sebagian membawa beberapa yang terluka parah, sebagian lagi berjaga di sekeliling Mudong Shen dan Yong Li.
Keduanya cukup kesulitan mengontrol energi yang mereka gunakan, sebab selain besarnya barang yang dikirim juga jumlah mereka yang terlalu sedikit. Mereka membentuk formasi seperti bintang jika dilihat dari atas dengan Harimau Sisik Naga berada di tengah-tengahnya.
Menurut Yong Li, mereka harusnya menggunakan Formasi Bidak Naga dan bukan Formasi Bintang Jatuh. Namun, karena mereka kekurangan jumlah orang mau tidak mau mereka terpaksa menggunakan formasi ruang waktu tingkat dua tersebut yang merupakan formasi khusus pengiriman, apapun bisa dikirim menggunakan formasi tersebut namun tingkat kecepatan dan kekuatan jumlah barang yang dikirim terbatas, sesuai tingkat formasi yang digunakan. Semakin tinggi tingkatnya semakin cepat dan kuat pula jumlah barang yang dikirim.
"Mudong Shen sialann! Harusnya kau membawa lebih banyak anggota elit ... Ini menyedihkan!" seru Yong Li sembari mengontrol hawa energinya yang terlihat berwarna kuning tua berbentuk seperti kepala seekor singa.
Disisi lainnya, Mudong Shen juga tak kalah kesulitan. Ia bahkan berkeringat cukup banyak di sekujur wajahnya. Hawa energi miliknya jauh lebih kuat dibanding milik Yong Li, terlihat berwarna hijau gelap dengan sedikit guratan angin. Bentuknya terlihat menyerupai kepala kumbang jantan dengan dua tanduk besar dan dua tanduk kecil.
"Heh ... Heh! Hanya begini saja kau mengeluh, Kucing Tua! Konsentrasilah ... ini memakan banyak energiku," seru balik Mudong Shen terkekeh sinis.
Sementara itu beberapa pendekar topeng emas terlihat kepayahan menahan energi mereka, itu terlihat dari tubuh mereka yang bergetar. Kedua tangan mereka yang membentuk tanda juga terlihat tak akan mampu bertahan lebih lama lagi.
"Sial ...!! Menggunakan formasi yang dipaksakan seperti ini sungguh menyakitkan, terakhir kali aku menggunakannya dua tahun lalu sendirian dan aku berakhir luka dalam, beberapa meridian pecah hingga aku kehilangan sebagian wilayah terbaikku. Dan sekarang aku harus menggunakannya lagi, ah ... sampai dimana aku selalu jadi pesuruh!" keluh Yong Li tak henti-hentinya mengumpat dalam hati.
Tak berapa lama, setelah Mudong Shen melepaskan seluruh hawa energinya yang merupakan pusat dari formasi. Tercipta garis-garis cahaya yang menghubungkan mereka dan tubuh Harimau Sisik Naga juga terlihat bercahaya serta terlihat seperti terangkat di udara.
DDUUAARR ...
SWOOSHH ...
WHUNGG ... WHUNGG ...
__ADS_1
"SEKARANG ...!"
HYAAAA ... HYAAA ... HYAAA ... HYAAA ... HYAAA
Kelimanya mengikuti Mudong Shen, melepaskan seluruh kekuatan hawa energi mereka kemudian mengangkat kedua tangan ke langit.
WOSHH ... HENG!!
Pancaran cahaya menyilaukan melingkupi tubuh Harimau Sisik Naga keseluruhan hingga terdengar bunyi yang keras saat cahaya tersebut memancar kemudian meredup dengan cepat. Tubuh hewan suci tahap atas yang tak bernyawa itu lenyap tanpa jejak bersamaan dengan lenyapnya cahaya menyilaukan dari formasi tersebut.
Pendekar topeng emas terkapar bersamaan, sementara Yong Li terengah-engah sambil terduduk bertumpu dengan sebelah lututnya, sedangkan Mudong Shen terlihat kehabisan energi tetapi masih berdiri.
"Heh heh ... Sepertinya kita memang terlalu tua untuk memaksakan ini! Lihatlah wajahmu, begitu menyedihkan, heh heh .. he ... he!" ujar Yong Li sembari berusaha menguasai pernapasannya.
"Sepertinya disini baru memulai pertunjukan! Apakah aku terlambat untuk bergabung ...!"
"Siapa kau?" seru Yong Li sembari berdiri setelah menyesuaikan dirinya.
"Aku? Bukan siapa-siapa! Hanya orang lewat yang ingin bergabung dalam pesta, hmm ... Memangnya kenapa?" ucapnya santai, terlihat tangannya memegang pedang giok berwarna ungu yang memiliki helaian sutra keemasan di ujung gagangnya.
Patriark Kumbang Perak itu mengamati wanita misterius tersebut dengan kejelian tinggi. Ia mencoba mengingat ingatannya mengenai wanita yang berlagak sombong tersebut namun tak ada satupun ingatan yang ia temukan, ia juga tak bisa mengenali penampilan wanita itu. Sejenak kemudian, fokusnya justru tertuju pada pedang yang dipegang wanita bertopeng ungu tersebut.
"I-itu?! Bukankah itu pusaka milik Feng, si pria tua menyebalkan itu? Siapa wanita ini? Bagaimana bisa dia menggunakannya?" batin Mudong Shen sembari mengerutkan dahinya.
__ADS_1
Disisi lain, para pendekar topeng hitam terlihat gemetaran. Mereka memiliki tingkat kultivasi rata-rata di tingkat Pertapa Langit tahap dasar. Namun, mereka seakan tak mampu menahan aura energi yang terpancar dari wanita bertopeng ungu tersebut. Hal itu disadari Mudong Shen dengan cepat. Ia merasa ini bukanlah sesuatu yang kebetulan.
"Kucing Tua! Apa dia kenalanmu? Apa kau mengenalnya? Aku merasa tidak asing dengan pedang itu!" tanya Mudong Shen pada Yong Li tanpa mengalihkan perhatiannya.
Yong Li mendengus kasar, pandangan matanya tak lepas dari wanita yang masih berjalan santai, terlihat ia bersiap menyerang kapanpun dengan pedangnya.
"Aku tak merasa mengenalnya! Aura ini ... Dia mungkin setingkat dengan kita atau lebih tinggi lagi. Kabar buruknya, aku tak punya cukup tenaga jika dia menyerang," balas Yong Li serius.
Kedua patriark tersebut langsung bersikap waspada ketika menyadari aura pedang yang di pegang wanita itu meningkat bersamaan dengan aura tubuhnya yang memancar terang.
"Sepertinya, pertarungan tak terhindarkan lagi! Apa kau mau melawannya?" ucap Mudong Shen.
"Cuih!! Jika aku memiliki cukup tenaga, sudah sejak tadi aku membunuhnya. Hng!! Sebaiknya kau lawan saja ...."
"Dasar kucing busuk! Sikap macam apa itu ...!" seloroh Mudong Shen datar dengan mimik wajah bodoh memandang Yong Li yang memasang ekspresi polos.
Sementara itu, diwaktu yang sama ditempat lain. Chen Seng lagi-lagi dibuat kesal dengan dirinya sendiri. Perjalanannya menuju tempat Harimau Sisik Naga berada terpaksa harus terhenti. Bawahan dan seluruh anggotanya dibuat heran dengan tingkah Chen Seng, mereka diam-diam membicarakan sikap Chen Seng yang terkesan lunak dan terlihat takut hanya karena bertemu seorang laki-laki yang masih muda.
"Apa dia bangsawan? Atau dia seorang putra mahkota?" lirih salah seorang pendekar bertopeng biru.
"hei! Lihatlah itu, bagaimana bisa Ketua Chen yang terkenal kejam bisa menjadi seperti anak kecil didepannya? Sebenarnya siapa identitas pemuda itu?" lirih yang lainnya.
"Sebaiknya kita jangan menyinggung orang itu! Ketua Chen saja begitu hormat, sudah pasti identitasnya begitu tinggi," timpal yang lainnya.
__ADS_1
Sementara itu, Chen Seng menahan kekesalan dihatinya. Belum juga hari berakhir, ia sudah bertemu pemuda itu dua kali.
"Hari ini akan aku ingat sebagai hari sialku!" batin Chen Seng kesal sembari mendengarkan orang di hadapannya itu yang tengah memberi perintah.