Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 142 ~ Pil Yin Yang


__ADS_3

Setelah melewati dua proses peracikan Pil, terlihat Tan Hao cukup berkeringat. Disisi lain, Lan Lihua terlihat kelelahan akibat dari jumlah energi dalam tubuhnya tidak mencukupi untuk melakukan dua proses yang hampir bersamaan itu.


Disudut lain ruangan itu, Fen Lian nampak terheran-heran. Ekspresi wajahnya berubah bergantian ketika melihat Pil terakhir yang dibuat memiliki warna yang berbeda dari yang sebelumnya, ditambah lagi Pil itu memiliki hawa energi yang cukup kuat.


"Aku tidak menyangka bahwa darahku bisa juga sebagai bahan membuat obat...! Kalau begini, artinya aku harus siap darahku terhisap berkali-kali, Oh ...!" gumam Bing Long dalam diri Lan Lihua yang nampak menyesal.


"Sebenarnya Pil ini untuk apa? Lalu kenapa ini berbeda ...?" tanya Lan Lihua sembari menunjuk Pil yang ada di tangan Tan Hao.


"Ini Pil tingkat tujuh, Pil Yin Yang...! Ini untuk Sui Jiu, sedangkan yang ini untuk Liu Ran. Pil untuk Liu Ran sedikit berbeda, sebab itu aku tambahkan sedikit esensi darah naga untuk membuat fungsi khasiatnya bertingkat, selain juga untuk beberapa hal ...." terang Tan Hao sambil menunjukkan kedua Pil itu bersamaan.


"Oh ...!"


Lan Lihua bersungut sebal dan membuang wajahnya sembari menutup mata, terlihat ia tak begitu menyukai alasan Tan Hao membuat Pil, terlebih itu untuk orang yang menurutnya tidak penting untuk ditolong.


"Siapa Liu Ran itu? Apa dia kekasih Tuan Muda ...?" tanya Fen Lian sembari berjalan mendekati Tan Hao, terlihat dari ekspresi wajahnya kalau pertanyaan itu sengaja ia lontarkan.


"Kekasih...! Dia bilang kekasih?!" batin Lan Lihua kaget hingga membuka lebar kedua matanya.


"Ah, hehe ... Jangan salah sangka! Dia adalah orang yang dulu membantuku, sakit yang dia derita juga karena aku. Jadi itulah mengapa aku mempunyai keharusan untuk membalas budi."


Tan Hao memasukkan dua butir Pil tersebut kedalam botol kaca kemudian menyimpannya ke dalam cincin dimensi miliknya. Tak berselang lama, ia seperti tersentak seolah ada sesuatu yang mengenainya. Saat itu juga raut wajahnya berubah begitu serius.

__ADS_1


"Adi Lan, sebaiknya kau cari Liu Zey dan bantu dia berlatih, kemungkinan dia sekarang ada di kamar penginapan. Lalu, Nona Fen! Sepertinya tidak ada alasan lagi untukmu berada disini, kembalilah sesuai perintah ayahmu, serahkan urusan disini padaku...! Dan untuk semua sumber daya disini, aku amankan terlebih dahulu, kita bicarakan lagi nanti setelah aku sampai di kota kerajaan dua bulan lagi,"


Lan Lihua hanya mengangguk sembari menyimpan kembali Periuk Neraka kedalam kalungnya, seolah dirinya tahu apa yang akan dilakukan Tan Hao setelah ini. Sementara Fen Lian cukup kebingungan dengan apa yang disampaikan Tan Hao, namun dirinya menyadari situasi yang terjadi.


"Baiklah..! Kita akan bertemu dua bulan lagi di kota kerajaan. Aku akan menunggumu, urusan asosiasi disini biar ditangani dua bawahanku, agar kau bisa fokus untuk masalah disini. Aku mempercayaimu," kata Fen Lian sembari menunjukkan gestur setuju dengan kedua tangannya.


"Nona Fen..! Mari berangkat,"


Tak berselang lama, muncul dua orang berpakaian serba hitam dengan berpenutup wajah berjongkok tanda hormat tepat di belakang Fen Lian sembari menunduk.


Beberapa saat setelah Fen Lian mengucapkan perpisahan dan pergi bersama dua orang utusan ayahnya. Tan Hao menghela napas panjang, seolah semua ini membosankan baginya. Sementara Lan Lihua hanya memandangi wajah Tan Hao.


Lan Lihua tersipu dengan senyum Tan Hao, tanpa sadar pipinya memerah. Sesaat kemudian ia tersadar dan langsung mengiyakan permintaan Tan Hao tanpa sanggahan seperti biasanya.


***


Xinxin terlihat tidak menyukai Sui Jiu, itu kelihatan dari tatapan matanya yang seakan tatapan mata menjijikkan. Sementara Mu Yuan nampak terlihat kasihan dengan kondisi Sui Jiu, namun dirinya tak bisa berbuat apa-apa.


Mereka melihat Sui Jiu dari lantai atas, nampak jelas bahwa ruangan itu selayaknya penjara bawah tanah dan hanya ada satu tawanan yang dirantai sekujur tubuhnya serta di siksa dengan cambukan oleh dua orang yang memakai topeng menutupi seluruh wajahnya, seolah mereka manusia yang digerakkan dari jarak jauh.


"Adik Mu, untuk apa menyiksanya seperti itu? Bukankah lebih baik langsung membunuhnya saja," ujar Yan Chui datar.

__ADS_1


"Membiarkan musuh yang mengetahui informasi tentang kita, tanpa menyiksanya perlahan sampai dia mati kesakitan. Kata guruku, itu tidak baik ... Benar-benar tidak baik, kakak!" sahut Yan Mu sembari tersenyum. Ekspresinya seolah sangat bahagia melihat penyiksaan itu.


Disisi lain, Sui Jiu tak sekalipun mengerang atau bahkan mengeluh. Dirinya bisa dibilang cukup tangguh untuk ukuran seorang wanita, sebab kehidupannya sudah banyak mengalami penderitaan yang lebih menyakitkan daripada apa yang dialaminya saat ini.


Pikirannya bercampur aduk, dan yang paling mengganggunya adalah bagaimana bisa ia diketahui orang lain saat dirinya berada dalam ruang dimensi kekuasaannya. Bahkan orang itu dengan mudahnya masuk dan menyeretnya keluar begitu saja, seolah dirinya kehilangan kendali atas tubuh dan ruang dimensi yang ia miliki.


Selama ini, hanya Tan Hao lah yang mampu melakukan itu dengan mudah. Sui Jiu tak menyangka, ada orang lain yang memiliki kemampuan sama dengan dirinya dan bahkan mungkin lebih tinggi berkali lipat darinya.


"Dia itu, sebenarnya siapa? Mengapa aku tak mengetahui apapun tentangnya? Bahkan aku tak mengenalnya sama sekali," batin Sui Jiu sembari melirik keatas, dimana keempat orang itu berada.


"Kata guruku ... Kata guruku! Sebenarnya siapa gurumu? Aku bosan dengan kata-kata itu, terdengar tidak mengenakkan di telinga...! Bisakah kau menggantinya," keluh Mu Yuan sembari memasang raut wajah meremehkan, terlihat jelas kalau dia memang sudah benar-benar merasa bosan dengan kata-kata itu.


"Hng?! Dirimu tidak cukup pantas mengetahui siapa guruku...! Manusia lemah?!" tekan Yan Mu yang sesaat tatapannya setajam pisau kemudian berubah kembali dengan ekspresi wajah penuh senyum ramah.


Mu Yuan terkejut dengan hal itu, sebab tatapan mata yang hanya sepersekian detik itu mengandung aura pembunuh yang tak terhitung jumlahnya. Ia hanya menelan ludahnya tanpa mampu menekan balik. Namun, dalam batinnya ia merasa di kelompok itu dialah yang paling lemah dan mudah ditindas. Meskipun secara kekuatan, Xinxin yang terlemah tetapi tidak dengan kekuasaan.


Diwaktu yang sama, Tan Hao tengah melayang dengan kecepatan cukup tinggi menerabas rimbunnya Hutan Hibei sebelah barat. Dalam lajunya itu, terlihat ia menoleh kesana kemari seperti mencari sesuatu.


Setelah memastikan Lan Lihua bertemu Liu Zey dan mau berlatih bersama. Dirinya bergegas pergi setelah memberikan beberapa butir Pil penambah stamina untuk Liu Zey.


"Aku merasakan kekuatan besar tak jauh dari sini! Tapi kenapa rasanya itu berasal dari satu orang? Tidak mungkin jika Insting Dewa ku salah menilai, kan?"

__ADS_1


__ADS_2