Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 131 ~ Amarah


__ADS_3

Ketua ketiga aliansi aliran hitam yang juga merupakan salah satu tetua dari sekte Kumbang Perak itu cukup lama mengamati dua hewan suci yang masih bertarung. Tak jarang ia harus menangkis bola-bola api yang mengarah padanya. Mudong Shen yang dijuluki Kumbang Neraka telah lama terkenal di Kerajaan Hao. Dua kapak yang menjadi pusakanya merupakan wujud dari tanduk kumbang ketika ia bertarung.


"Burung Merpati itu boleh juga! Walaupun begitu dia masih di tahap dasar kukira. Hmm ... Darahnya harus menjadi milikku kalau begitu, mungkin aku bisa menembus tahapan ku kali ini," gumam Mudong Shen sambil masih mengamati dari dahan pohon.


"Pilihan yang bagus Senior!! Yang kami butuhkan hanya kucing besar itu, yang lainnya terserah kalian! Lagipula Maharaja hanya menginginkan tanduk, taring dan darahnya saja," ujar Yan Chui yang muncul entah darimana, tiba-tiba berada di sisi Mudong Shen bersama Yan Wu.


Tak terlihat wajah terkejut dari Mudong Shen, ia kelihatannya sudah menduga kalau dua bersaudara dari Kerajaan Yan itu akan datang tiba-tiba. Hanya senyum sinis yang terlihat di sana seolah tak menyukai gaya bicara serta sikap kedua pendekar yang masih muda tersebut. Mereka memiliki usia yang hampir sama dengan usia Tetua Shuxan dan lebih muda dari Tetua Tiandou. Itulah sebabnya sikap serta gaya bicara mereka tak ada sopan santunnya sama sekali, meskipun sebenarnya kekuatan mereka masih misterius.


"Hng!! Maharaja Yan Ho memang memiliki ambisi yang besar. Namun kalian harus ingat dengan kami atau pekerjaan kalian tak akan berjalan dengan mudah," tukas Mudong Shen setengah mengancam sembari melirik kearah Yan Wu yang masih mempertahankan senyumannya.


Sekte Kumbang Perak memang berasal dari Kerajaan Hao namun dalam perjalanannya, sekte aliran hitam itu cenderung mendukung Kerajaan Yan. Bukan hanya karena wilayah mereka yang lebih dekat dari kota kerajaan namun juga di Kerajaan Yan hanya ada tiga sekte yang berkuasa, mereka merupakan sekte aliran netral pendukung Maharaja Yan Ho.


Empat kerajaan yang berada dibawah Kekaisaran Wang, hanya Kerajaan Yan saja yang berani bertindak sesuka hati mereka. Seringkali tidak membayar pajak, dan juga beberapa kali menentang titah Kaisar Wang.


"Hehe! Apa yang anda bicarakan, Senior Mudong Shen! Sebaiknya kita lakukan pekerjaan dengan benar, tak seharusnya memikirkan hal selain itu, kata guruku itu tidak bagus," ujar Yan Wu santai dengan senyum dinginnya. Kulit wajah putih bagai susu serta memiliki mata sipit berhidung lebih mancung dari kebanyakan orang membuat penampilannya cukup untuk meluluh lantakkan mata wanita, namun tidak dengan mata pria. Ia akan melihat kesadisan, kebencian dan keganasan dibalik sikap ramahnya itu.


KABOOMM ...


WHONGG ... WHONGG


KRRKKK ...

__ADS_1


GROOAARRR ...


Pembicaraan ketiganya harus terhenti ketika Harimau Sisik Naga meningkatkan kekuatannya, serangannya kini membabi buta. Disini lain, Yue Yin kehabisan ide untuk membuat penguasa Hutan Hibei itu untuk tenang. Gerakannya dalam menghindari setiap serangan tanpa menyerang balik malah semakin membuat hewan suci tahap atas itu hilang kendali.


Serangannya bukan hanya tertuju pada Yue Yin saja, namun ke segala arah. Bola-bola api yang keluar dari ekornya kini menjadi semakin kuat dengan perubahan bentuknya, sementara peraduan kedua tanduknya memancarkan api hitam yang menyebar layaknya sengatan listrik.


Pasukan ketiga dari aliansi aliran hitam dibuat kelimpungan dengan serangan membabi buta tersebut. Meskipun mereka telah berjaga mengambil jarak aman namun nyatanya serangan Harimau Sisik Naga tersebut menjangkau area yang cukup luas.


Sebagian pendekar bertopeng biru dan putih dibuat sibuk dengan menangkis kilatan api hitam serta sesekali bola-bola api terarah ke tempat mereka. Sedangkan para pendekar bertopeng hitam tak banyak bergerak dari posisi mereka, hanya menangkisnya menggunakan energi tenaga dalam.


Topeng yang mereka kenakan dapat dilihat dari tingkatan kultivasi yang mereka miliki, yang terendah mereka yang memakai topeng biru kemudian diatasnya topeng putih. Sedangkan topeng hitam setidaknya memiliki kemampuan sedikit dibawah dari topeng emas yang merupakan pemimpin kelompok.


"Sepertinya suasana disini cukup menghibur, ah ... Aku datang sedikit terlambat, ya?" ucapnya santai melayang di samping kanan Mudong Shen. Ketiganya hanya membalas dengan lirikan dingin.


Ketiga orang tersebut masih bersikap santai melihat pertunjukkan yang terjadi, tubuh mereka terlapisi energi tenaga dalam transparan berwarna menurut energi yang dimiliki masing-masing, membuat serangan Hewan Suci tahap atas itu hanya meleset dan bahkan terpental balik saat mengenai energi pelindung dari tenaga dalam yang mereka ciptakan beberapa saat lalu tersebut.


"Jika terus seperti ini! Tubuhku akan menghilang karena kehabisan energi, apa boleh buat? Aku harus mengirimkan pesan secepat mungkin pada Tuan Ye Yuan," batin Yue Yin sebelum menggunakan kepakan sayapnya untuk menangkis sengatan api hitam.


BLAARRR ...


HONGG ... HONGG ...

__ADS_1


SWOOSSHH ...


DDUUAARR ...


Pepohonan sekitar lenyap tak bersisa hingga membentuk lingkaran yang lebar saat Harimau Sisik Naga menggunakan dua jurusnya secara bersamaan untuk menyerang Yue Yin yang terbang bebas diudara menghindari serangan brutalnya.


Serangan dahsyat tersebut tak sempat di sadari oleh beberapa kelompok pendekar yang sibuk dengan halauan mereka akan api hitam, kontan saja tubuh mereka terbakar api hitam yang terselimuti listrik berkekuatan tinggi. Hanya dalam satu detik tubuh puluhan pendekar topeng biru dan putih lenyap tak tersisa.


Mudong Shen dibuat geram dengan kejadian tersebut sebab mereka merupakan anggota aliansi dibawah komandonya. Pandangannya tertuju tajam kearah hewan suci tersebut. Sedangkan ketiga orang disampingnya bersikap biasa-biasa saja seolah menganggap hal tersebut biasa terjadi dalam pertarungan. Apalagi ini merupakan pertarungan dari makhluk yang tak memiliki akal dan hanya memiliki naluri.


"Apa kita akan terus diam menonton saja sampai pasukan kita tewas semua, baru kita mulai bergerak?" geram Mudong Shen tanpa menoleh.


"Terserah kau saja! Aku ikut rencanamu!" timpal Yong Li datar.


Yan Wu dan Yan Chui hanya terkekeh pelan, tubuh keduanya mulai terlihat seperti asap yang tertiup angin. Seolah tanpa wujud.


"Apa kalian hanya datang untuk menonton dan pergi setelah menertawai? Tidakkah kalian mau membantu menundukkannya?" ujar Mudong Shen menyadari gelagat dua bersaudara itu.


"Hahaha, tugas kami hanya mengamati. Kami tak diijinkan untuk ikut campur. Aku percaya kalian mampu! Lagi pula sebentar lagi, kelompok pertama dan keempat akan tiba. Jadi kami serahkan ini pada kalian! Semoga beruntung senior! Sampai jumpa ...."


Pernyataan Yan Chui sebelum menghilang bukan hanya membuat Mudong Shen geram menahan amarah, Yong Li pun juga merasakan hal yang sama. Mereka merasa seolah menjadi umpan atau mungkin sebagai korban persembahan demi menyelesaikan tugas dan rencana.

__ADS_1


__ADS_2