Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 75 ~ Lebih baik


__ADS_3

"Tunggu?! Berhenti sebentar,-!!" seru Liu Zey tiba-tiba yang membuat Su Kong kaget hingga hilang keseimbangannya.


"Bisa tidak, jangan tiba-tiba menyuruh berhenti. Hampir saja aku jatuh?!" balas Su Kong yang reflek memeluk batang pohon setelah berhenti mendadak dan hilang keseimbangan.


Liu Zey diam tak bergerak di salah satu cabang pohon, terlihat ia begitu serius.


"Aku merasakan kekuatan yang luar biasa besar namun seperti terkekang sesuatu,-!! Aura yang belum pernah aku rasakan selama ini? Apakah kau tau mengenai hal ini."


Setelah beberapa saat hanya hening, Su Kong telah terduduk di cabang pohon yang sama dengan Liu Zey. Ekspresi wajahnya tidak menentu.


"Aku tidak merasakan apapun,-!! Bisa jelaskan padaku, sesuatu yang kau rasakan?" Su Kong menaikkan kedua bahunya sembari menggeleng kepala pelan.


Liu Zey seolah tak percaya, kekuatan sebesar ini hanya dirinya yang bisa merasakan. Setelah beberapa saat Liu Zey bersikap waspada hingga memastikan sumber aura yang besar tersebut terletak cukup jauh dari tempatnya berada.


Ia merendahkan kewaspadaannya dan kemudian memandang Su Kong yang duduk santai di belakangnya.


"Orang ini,-!!" batin Liu Zey dengan kedongkolan konyolnya saat melihat Su Kong begitu santai dengan mengayun-ayunkan sebelah kakinya.


"Sudahlah lupakan, lagipula kekuatan ini tidak berniat buruk,-!! Apa kau yakin arah kita benar?! Sudah hampir sehari? Apakah masih jauh?" kata Liu Zey datar yang lalu mengalihkan topik pembicaraan.


Su Kong dengan santai mengatakan bahwa tempat tujuan masih sangat jauh, walaupun terletak di wilayah Kota Huizhu namun itu berada di paling barat.


Ia menambahkan sebenarnya kota yang paling dekat dengan letak pusaka tersebut adalah Kota Foshan namun karena akses menuju Hutan Benua Naga telah di tutup beberapa dekade lalu, menjadikan Kota Huizhu wilayah terdekat kedua setelah Kota Foshan.


Jalur yang ada di Kota Huizhu juga lebih sulit di banding jalur yang ada di Kota Foshan, alasan para pendekar berkumpul di Huizhu hanya karena mereka berfikiran lebih baik menyinggung Huizhu dan seisinya daripada menyinggung salah satu pelindung Kota Foshan.


Liu Zey cukup penasaran dengan apa yang disampaikan Su Kong, ia terlihat begitu menyimak dengan baik tanpa menyela.

__ADS_1


"Intinya, perjalanan kita ke tempat pusaka itu berada sama dengan perjalanan dari Huizhu ke Foshan. Aku pikir ini sebuah lelucon, namun setelah berulang kali aku melihat peta wilayah. Ini menjadi masuk akal,-!! Kita tidak punya pilihan lain lagi sekarang. Mau lanjut?!"


Liu Zey mengangguk dengan penuh keyakinan.


"Ehh?!"


Belum sempat ia menjawab perkataan Su Kong, Liu Zey merasakan sesuatu dan melirik tajam satu arah sesaat.


"Baiklah, ayo kita lanjutkan. Tikus yang lapar mencoba memangsa singa yang tidur, bukankah itu hal bagus." kata Liu Zey tegas yang langsung melesat meninggalkan Su Kong.


"Wanita gila ini,-!! Haihh." batin Su Kong sejenak kemudian melesat menyusul Liu Zey.


Keduanya melanjutkan perjalanan mereka walaupun hari telah mulai gelap. Keduanya hanya beristirahat sejenak setelah menempuh jarak tertentu. Dengan kecepatan mereka saat ini, Su Kong memperkirakan akan sampai dalam 2 hari penuh.


Hingga beberapa waktu berlalu, keduanya memutuskan singgah di sebuah gubuk kosong terbengkalai. Liu Zey memutuskan untuk beristirahat lebih lama dari sebelumnya, udara dingin malam yang menjelang pagi terasa begitu menusuk. Liu Zey tak mau mengambil resiko karena itu.


Liu Zey menatap penuh makna Su Kong yang masih sibuk menata kayu bakar untuk api unggun.


Ditempat yang berbeda di waktu yang sama, Leluhur Lan terlihat tersenyum cukup lebar. Ia seolah sedang merasa bahagia.


"Aku tak percaya, hanya butuh waktu semalam bagimu untuk menyerap intisari dari Tunas Kehidupan yang bahkan aku sekalipun butuh waktu dua hari penuh untuk melakukannya." kata Leluhur Lan sesaat setelah Tan Hao membuka kedua matanya.


Tan Hao tak mengindahkan perkataan Leluhur Lan, ia sendiri tengah menatap kedua tangannya dengan rona wajah cerah.


"Akhirnya kau kembali bagian diriku yang lain, aku cukup kesepian selama hilangnya dirimu." batin Tan Hao yang berbicara pada dirinya sendiri.


Kekuatan Tan Hao seluruhnya telah kembali, ingatan tentang semua hal juga telah kembali, begitu juga dengan keberadaan Ye Yuan yang selama ini ia lupa setelah terbangun.

__ADS_1


Namun, Tan Hao masih belum bisa menyesuaikan kemampuannya. Itu terlihat darinya begitu kaku dalam mengontrol Aura Dewa. Aura yang dulu hampir tidak pernah ia gunakan.


"Terima kasih atas semua petunjuk dan bimbingan Kakek Lan,-!!" ehh?! Lebih tepatnya Kaisar Kera Biru,-!!" ucap Tan Hao sembari memberi hormat.


"Ahh, tidak menyenangkan rasanya?! Kekuatanmu telah kembali dan dengan mudahnya bisa membaca kemampuanku. Haihh. Apa boleh buat." celetuk Leluhur Lan dengan ekspresi kekanak-kanakannya.


Leluhur Lan kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri Tan Hao yang masih dalam posisi duduk bersila.


"Selamat!! Kekuatanmu telah kembali seluruhnya. Jenderal Roh,-!! Sampaikan salamku pada temanmu yang entah sampai kapan akan terus bersembunyi. Aku memberinya waktu satu hari untuknya segera keluar atau Kera lapar ini akan menghajarnya. Haha ha haha,-!!" kata Leluhur Lan dengan menepuk ringan pundak Tan Hao yang kemudian berjalan sembari melipat kedua tangannya dibelakang.


•••


Sementara itu di waktu bersamaan, kondisi Liu Ran berangsur membaik. Setelah mengkonsumsi sumber daya pemberian Liu Zey, ia tak lantas hanya berbaring. Liu Ran menyempatkan diri untuk menyeimbangkan tenaga dalamnya.


Sebelum pergi, Liu Zey telah memerintah beberapa anggota Paviliun Bintang untuk mengawasi Liu Ran di depan pintu kamar.


Liu Zey juga memberi perintah untuk menyediakan segala keperluan yang dibutuhkan Liu Ran, sedangkan Anggota yang lain tetap membuka dan menjalankan Paviliun Bintang seperti seperti sebelumnya.


Meskipun tidak ada perintah dari Liu Zey, anggota Paviliun Bintang akan melakukannya. Mereka semua adalah para gadis tawanan yang telah diselamatkan, alasan yang cukup untuk mengabdikan diri pada pendiri Paviliun Bintang yang berjuluk Dewi Bintang itu.


"Apa kau melakukan hal bodoh lagi,-!! Hehh?! Dasar keras kepala." seru seorang wanita dengan dua pisau terselip di kedua sisi pinggangnya yang bersandar di pintu kamar Liu Ran sembari melipat kedua tangannya. Sedangkan di belakangnya nampak dua orang gadis anggota dari Paviliun Bintang yang menghadap kearah luar.


Kedua gadis yang berjaga di depan kamar Liu Ran seolah tidak terkejut dan merasa biasa saja.


Liu Ran terlihat tidak terkejut dengan kehadiran wanita tersebut yang masih duduk bersila, ia membuka pelan kedua matanya bersamaan dengan senyum merekah di bibirnya.


"Angin apa yang membuatmu datang dan mengataiku seperti ini, Saudari Sui Jiu,-!!" ucap Liu Ran menghardik dengan senyum lebarnya.

__ADS_1


__ADS_2