
Aura kekuatan yang dilepaskan oleh Tan Hao bukan hanya memenuhi seluruh bagian menara, tetapi juga dapat dirasakan oleh Xinxin dan Mu Yuan yang berada di tempat lain. Yan Chui bahkan sedikit merasa sesak napas ketika Tan Hao semakin dekat dengannya.
Umpatan keras didalam hatinya seolah dapat terlihat dari ekspresi wajah Yan Chui, dirinya merasa salah dalam bertindak padahal telah mengetahui kemampuan lawannya.
"Keluarlah kalian!?"
Teriakan Tan Hao terdengar nyaring dan seolah bergema, bersamaan dengan rembesan aura ungu gelap di udara. Yan Chui dengan cepat bersikap waspada bersiap menyerang.
"Oh, hanya kau disini...! Mana rekanmu yang satu lagi?" ujar Tan Hao setelah berpijak di anak tangga tak jauh dari tempat Yan Chui berdiri.
"Cih...! Kau berlagak sombong hanya karena memiliki pusaka. Apa kau punya nyali bertarung tanpa senjata, ahh ... maksudku kau tidak harus menggunakan senjatamu untuk melawanku atau orang suruhanmu itu akan menjadi abu, heh!"
"Hoo ... Aku tidak menyangka, orang dari Kerajaan Yan hanya tahu cara mengancam! Tapi baiklah, aku turuti permintaanmu. Hng...!" sahut Tan Hao, ekspresinya begitu tajam sembari diam-diam menyiapkan satu biji manik-manik teratai.
WHONG ...
WUSH .. WUSH ... WUSH ...
Yan Chui tersenyum sebelum melepaskan aura energi miliknya yang memiliki warna merah kekuningan. Tan Hao sedikit tersentak dengan lonjakan energi tersebut namun hanya sesaat saja.
Tak butuh waktu lama bagi Tan Hao untuk mengkondisikan tingkat kekuatannya, dengan cepat ia bisa mengontrol tekanan yang menghujam ruang jiwanya itu.
"Kau cukup percaya diri sekali, Yan Chui! Tapi maaf saja, kau bukanlah tandinganku."
DUARRR ...
HONGG ... HONGG ...
SWOSH ...
"Apa?! Bagaimana mungkin...?"
Yan Chui tersentak hingga membuatnya gemetar sesaat ketika Tan Hao secara tiba-tiba menaikkan kekuatannya yang setara Pertapa Alam Semesta tahap Menengah, meskipun sebenarnya dia sendiri berada di tingkat Pertapa Surga tahap Atas.
Meskipun secara perbandingan, kekuatan mereka berdua seperti seekor semut sedang melawan seekor lebah. Tetapi bagi Yan Chui sendiri, ia merasa ada perbedaan besar antara kekuatan Tan Hao dan kekuatan pendekar lain di tingkat yang sama. Itu seperti adanya satu dorongan yang tak kasat mata berada di baliknya.
__ADS_1
JARI DEWA : PENGHANCUR GUNUNG
BLAARR ...
DUKK ... DUKK ...
SROOSH ...
Yan Chui melompat beberapa meter ke belakang sebelum teknik Tan Hao yang berwujud energi keunguan berbentuk jari telunjuk mengarah kepadanya.
"Sial! Aku tidak tahu kalau dia juga menguasai teknik jurus...! Tapi ...."
Yan Chui tiba-tiba mengeluarkan sebilah belati berwarna emas dari cincin bumi di jarinya, gerakannya begitu cepat.
TUSUKAN CAKAR NAGA
HYAAAAA ...
SWOOSH ...
Benturan energi berbentuk jari telunjuk dengan energi berbentuk belati menusuk horizontal menciptakan ledakan besar, hingga membuat seisi menara bergetar cukup lama dan di beberapa bagian mengalami keretakan.
"Itu tadi? Belati Naga Emas, bukan? salah satu dari Belati Naga Kembar? Oh astaga ... Nona Sui, kau masih memiliki keberuntungan rupanya!" batin Tan Hao sesaat sebelum benturan itu terjadi.
Ruangan tempat keberadaan Xinxin dan Mu Yuan pun tak luput dari dampak getaran. Keduanya terlihat tak menyangka dengan efek yang ditimbulkan dari benturan jurus Tan Hao dan Yan Chui tersebut.
Sementara di ruang penjara juga nampak bergetar sampai menimbulkan bunyi rantai yang mengikat Sui Jiu dan juga menggoyangkan tubuhnya.
Sui Jiu sendiri merasakan aura tersebut dengan cukup jelas, walaupun dengan bergetarnya rantai membuat kesakitannya bertambah namun guratan senyum tercipta di bibir mungilnya.
"Oh! Sudah dimulai ya? Penyelamatmu sudah datang, nona! Kata guruku, itu tidak bagus. Tidak bagus,"
Kembali Yan Chui berdecak kesal karena tindakannya yang meremehkan lawan. Sebelumnya ia sempat berpikir jika pusaka lah yang membuat Tan Hao kuat tetapi langsung terbantahkan dengan pertukaran teknik jurus dengan dirinya.
"Baiklah! Sepertinya memang aku harus mulai serius, jika tidak! si menyebalkan Yan Mu pasti akan menertawakanku lagi ...!"
__ADS_1
Getaran yang terjadi masih cukup terasa, namun Yan Chui melakukan gerakan tubuh yang belum pernah Tan Hao lihat selama ini. Tan Hao mencoba mengamati apa yang dilakukan Yan Chui sembari menyiapkan manik-manik teratai di tangan kanannya.
Rasa penasaran membuatnya tak melakukan serangan susulan atau bertindak lebih awal. Gerakan tubuh Yan Chui seperti sedang membuat tanda dengan tiga pola sembari kedua tangannya memegang gagang belati emas membuat Tan Hao mengerutkan keningnya.
"Apa dia sedang menari? Atau sedang apa ...?" gumam Tan Hao terlihat sedikit menyipitkan mata.
Tak berselang lama, gerakan tubuh Yan Chui berhenti ketika kakinya sejajar dengan sedikit lutut tertekuk, sedangkan tangan kirinya melebar ke belakang dengan telapak tangan terbuka. Sementara tangan kanannya memegang belati emas yang ujungnya mengarah ke Tan Hao.
SPIRIT LANGIT : KADAL ZIRAH API
WHONG ... HONG ... HONG ...
BLZZTT ...
WHIRR ... WHIRR ...
PLUPP ... PLUPP ...
Tan Hao tercekat dari pijakannya, ia tak menduga bahwa Yan Chui melakukan transformasi jiwa. Hal yang selama ini tidak pernah ia sangka, akan ada orang yang berhasil mempelajari teknik terkutuk itu.
Teknik yang digunakan Yan Chui berkebalikan dari teknik spirit energi yang di gunakan Tan Hao. Jika Tan Hao menggunakan spirit energi dari binatang suci sebagai inti jiwa, Yan Chui menggunakannya pada tubuh fisiknya sendiri.
Perubahan tubuhnya sesuai dengan binatang yang ia serap inti jiwanya, masih berwujud manusia tetapi bentuknya jelas seekor kadal dengan ekor yang memiliki nyala api di ujungnya. Mulutnya nampak menjijikkan dengan lidah panjang menjulur sementara kedua tangannya memiliki kuku hitam tajam yang cukup panjang.
"Orang ini benar-benar gila? Darimana dia mendapatkan teknik pembalik spirit ini...? Perwujudannya hampir sempurna, sebenarnya seberapa banyak darah Kadal Zirah Api yang dia minum...? Sungguh orang tak waras!"
Tan Hao merasa tak habis pikir dengan apa yang telah dilakukan Yan Chui selama ini. Meskipun Tan Hao tahu kalau Kadal Zirah Api merupakan siluman buas tahap puncak, hanya setingkat dibawah Phoenix Api milik Patriark Sun Sian.
Namun tetap saja, butuh banyak darah Kadal Zirah Api ditingkat yang sama dan ditahap yang sama pula untuk bisa berhasil menguasai teknik tersebut. Dan perlu setidaknya lebih dari dua puluh tahun untuk menyerap esensi dari darahnya. Jalan panjang yang rumit dan berat untuk mencapai sebuah kepuasan.
"Untung saja Ye Yuan tidak ada, kalau dia melihat ini! Hmm ... Mungkin pemeran utama kisah ini diambil alih olehnya ... Cih! Orang bodoh,"
"Hahaha ... Kau yang memaksaku memperlihatkan wujud asliku...! Hari ini dimana orang-orang terdekatmu akan mulai membakar uang kertas dan dupa untukmu, hahaha ...."
Tertawanya Yan Chui menyebabkan hempasan udara yang cukup kuat ditambah rembesan aura dari wujudnya yang begitu pekat membuat seisi menara terasa dingin menjerat.
__ADS_1