
Nian Zhen hampir saja terkena jika penglihatannya tidak sebagus mata normal. Ia menangkis lesatan anak panah tersebut menggunakan dua jarinya.
Meskipun sebenarnya ia memakai zirah perang, tetapi Nian Zhen tak ingin kecolongan dengan meremehkan setiap serangan yang mendatanginya.
"Kurang ajar! Beraninya menyerangku dari belakang!" pekik Nian Zhen sementara matanya melirik kesana kemari seperti mengikuti pergerakan Yan Yu.
Kelengahan Nian Zhen akibat serangan mendadak yang dilepaskan Yan Yu tersebut tak disia-siakan Liu Zey, tanpa membuang waktu lagi seperti sebelumnya ia melompat menjauh sejauh yang ia bisa. Terlihat wajahnya memucat sedang pola napasnya tidak beraturan.
Disisi lain, Yan Yu tak menghiraukan teriakan Nian Zhen. Ia tetap bergerak cepat sembari melepaskan anak panah, karena kecepatannya itulah menyebabkan anak panah yang melesat ke arah Nian Zhen terlihat muncul dari berbagai arah.
'Apakah orang itu menolongku...? Atau dia tak sengaja lewat ...!' batin Liu Zey sambil mengatur napasnya, sementara pandangannya tak lepas dari Nian Zhen.
Liu Zey merasa sangat berterimakasih pada orang yang telah menyelamatkannya itu. Beberapa saat setelah pernapasannya kembali membaik, Liu Zey berniat untuk membantu orang yang tak bisa ia lihat tetapi bisa ia rasakan kehadirannya itu yang masih membuat sibuk Nian Zhen dengan serangan panahnya.
"Aku tak bisa bertahan lebih lama, kita tak sanggup melawannya. Pergilah lebih dulu, aku akan menyusul!"
Liu Zey dibuat terkejut ketika akan bersiap menggunakan busurnya sebuah suara yang sangat dekat, terasa seperti tepat didepan telinganya.
Tanpa bertanya lebih jauh lagi, ia bergegas pergi meninggalkan tempat itu yang sebelumnya terdiam sejenak memahami maksud peringatan itu. Dalam pelariannya, Liu Zey meyakini kalau orang itu tak berniat bertarung tetapi lebih ke mengalihkan perhatian untuk bisa membuatnya menyelamatkan diri.
'Orang itu? Terimakasih telah menolongku ... Aku harap dia juga bisa melepaskan diri,' gumam Liu Zey dalam laju pelariannya mengarah ke tempat Xue Mei sebelumnya berada sembari menahan luka dalam yang didapatkannya.
Sementara itu, Yan Yu masih menyerang Nian Zhen dengan panahnya tanpa mengendurkan kecepatannya.
__ADS_1
'Siapa yang mau bertarung sungguhan dengan orang gila macam dia? Bisa tamat riwayatku ... Aku kira wanita itu sudah cukup jauh. Kalau begitu sudah saatnya aku juga pergi,' batin Yu Yan yang masih menyerang Nian Zhen, sebelum ia berniat untuk pergi.
***
"Aku tak menyangka akan bertemu denganmu dalam situasi seperti ini? Kau benar-benar mengejutkanku, Junior Hao ...!" cakap Tetua Jing Yun dalam laju lesatan mereka mengarah ke tempat pasukan utama berada.
"Takdir memang tidak bisa diubah, Tetua Yun! Jika waktu memungkinkan, aku akan cerita lebih banyak tetapi kondisi saat ini lebih penting," balas Tan Hao sembari tersenyum tipis.
'Aku tak mengira, bocah ingusan yang dulu sempat aku remehkan menjadi sosok misterius dengan kekuatan tak terbaca seperti ini! Sungguh, anak yang jenius dan penuh talenta,' Kaisar Obat tak henti-hentinya terus mengamati Tan Hao sejak mereka meninggalkan tempat sebelumnya.
Mereka semua terbang melesat bersamaan menuju ke tempat pasukan utama berada setelah sebelumnya cukup menghabiskan lumayan banyak waktu bagi Tan Hao untuk menjelaskan keberadaannya sekaligus keadaannya waktu itu.
'Baiklah! Pertunjukan besar akan segera dimulai, saatnya kau tunjukkan pesonamu, Niu ...!' gumam Fen Fang sembari tersenyum lebar, sementara seruling di pinggangnya nampak bergetar pelan.
Di waktu yang sama, Tetua Feiying masih belum menurunkan perintahnya pada pasukan aliansi untuk maju menyerang. Ia masih sangat memperhitungkan tindakan selanjutnya yang mungkin saja akan terjadi hal yang buruk.
Meskipun banyak dari tetua sekte dari aliansi yang menyarankannya untuk menurunkan perintah menyerang, Tetua Feiying tak lekas mengabulkannya.
"Yang memakai Topeng Emas paling tinggi berada di tingkat Pertapa Bumi, sedangkan Topeng Hitam cukup merepotkan. Mereka rata-rata berada di tingkat Pertapa Langit, jumlah mereka juga tak sedikit. Pasukan kita bisa mengatasi topeng emas itu, tetapi dari kita tak cukup banyak yang mampu melawan lebih dari lima topeng hitam bersamaan. Belum lagi dua pendekar Topeng Merah itu yang aku sendiri tak bisa membaca kekuatannya! Bagaimana menurutmu, Matriark Zhang?"
Tetua Feiying terlihat sangat hati-hati dalam menghitung kekuatan lawan, ia bahkan tak sungkan meminta pendapat Matriark Zhang Weili. Hal itu ia lakukan sebab tak ingin menimbulkan kerugian yang cukup besar di pihak aliansi aliran putih-netral.
"Seberapa yakin senior mampu menghadapi salah satu topeng merah itu?" tanya balik Matriark Anggrek Suci tersebut tanpa menurunkan pandangannya ke arah Tetua Feiying.
__ADS_1
"Tujuh puluh persen! Aku bisa menandinginya, tapi aku tak yakin bisa mengalahkannya!"
"Kalau begitu, aku akan melawan yang satunya lagi! Sisanya, biar para tetua yang mengurusnya ... Kita fokus ke kedua topeng merah itu, bagaimana?"
Tetua Feiying terdiam sesaat sebelum melirik kearah Matriark Zhang Weili yang terlihat serius dengan ucapannya itu.
"Baiklah kalau begitu! Tapi ingat, jangan memaksa mengalahkannya. Cukup imbangi saja sampai Tetua Jing Yun tiba! Semuanya, kita maju!"
Matriark Zhan Weili mengangguk sekali sementara seluruh tetua memberi isyarat pada pasukan di belakang mereka sesuai perintah Tetua Feiying.
Tetua Feiying dan Matriark Zhang Weili melesat dengan kecepatan tinggi menuju kearah kedua topeng merah itu berada, keduanya bersepakat lewat tatapan mata untuk mendahului pergerakan pasukan aliran putih-netral untuk memastikan kedua pendekar topeng merah itu tak bergerak kearah pasukan.
Para tetua dari Sekte Pedang Langit yang lebih dulu bertempur terlihat mulai kepayahan dalam mengatur ritme serangan mereka dan pasukan yang dibawa juga mengalami pergeseran posisi yang awalnya menekan menjadi ditekan.
Hal itu terjadi karena tiga tetua pedang meremehkan pasukan topeng hitam. Mereka hanya mengumpat dalam hati sebelum bantuan datang dari orang yang mereka cela beberapa waktu sebelumnya.
Dengan bergeraknya pasukan aliansi dibawah komando Tetua Feiying, menjadikan waktu untuk pertempuran besar akan segera terjadi.
Tiga tetua pedang saling berpandangan sejenak dan mereka terlihat tersenyum bersamaan ketika mendengar sayup-sayup pergerakan pasukan aliansi.
"Ahh ... Anginku sudah hilang! Mereka juga sudah datang, hmm ... Kita sambut mereka, Xiang!" ujar datar Yin Fen sebelum memberi isyarat dengan tangannya ke pasukan topeng hitam maupun topeng emas untuk juga bergerak.
"Bukannya sejak tadi, cih! Tapi ... Saatnya berpesta, haha!" Yin Xiang tertawa licik di balik topengnya.
__ADS_1
Keduanya melompat bersamaan menyambut datangnya serangan Tetua Feiying dan Matriark Zhang Weili.