Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 124 ~ Tebusan Nyawa


__ADS_3

"Apa kau yakin soal itu kak? Lalu bagaimana nanti kakak Ran mengetahui tentang ini?" tanya Liu Zey cepat setelah Sui Jiu menyelesaikan pembicaraannya.


"Yah, tentu saja! Lagipula mereka sedang menuju kesini," balas Sui Jiu datar sembari mengubah posisinya kembali menghadap keempat pendekar dari aliran hitam yang masih sibuk berargumen masing-masing.


"Yang paling penting sekarang adalah mengambil uang-uangku,"


Liu Zey tersenyum datar mendengar perkataan Sui Jiu, beban pikiran yang melanda dirinya berangsur membaik setelah mendengar penjelasan yang Sui Jiu katakan.


"Mereka itu pertapa bumi bukan uang! Dasar wanita pemuja uang ...." kesah polos Liu Zey sembari memasang wajah datar.


CTAARRRR ...


SWOOSHH ...


WHONG ... WHONG ...


"Cukup bicaranya dan jadilah anak baik yang penurut," kata Sui Jiu mengandung tekanan.


Keempat pertapa bumi aliran hitam tersebut terperanjat bersamaan ketika mendengar hempasan energi hebat yang dikeluarkan Sui Jiu. Menciptakan pusaran di sekeliling tubuh Sui Jiu hingga menyebabkan tanah di sekitar tempatnya berdiri beterbangan.


"Empat lawan dua dan kau masih begitu arogan! Ho ho hei gadis cantik, jangan sesali keputusanmu bertindak sembrono!" ujar remeh salah seorang pendekar bertopeng biru.


Yun Lei mundur selangkah menyadari terdapat peningkatan level kekuatan dari ledakan energi tenaga dalam di sekeliling tubuh Sui Jiu. Dirinya mengetahui betul siapa wanita yang kini berada di depannya itu.


"Kalian benar-benar sekumpulan orang dungu yang tidak tahu lawan, cih ... Perhatikan dengan benar!" seru Yun Lei memperingatkan.


Peringatan Yun Lei nyatanya tidak di tanggapi ketiga rekannya yang lain. Malah mereka terlihat semakin bersemangat ketika Sui Jiu mulai berjalan santai kearah mereka.


"Dasar bodoh! Bahkan patriark Chen saja kewalahan menghadapinya, kalian malah ... Haish ... Bagaimana keluar dari situasi ini dan kembali? Aliansi harus mengetahui soal ini," batin Yun Lei sembari memikirkan rencana terbaik melarikan diri.


Ketiga pendekar bertopeng biru tersebut bergerak bersamaan menyerang Sui Jiu tanpa mendengarkan peringatan Yun Lei. Mereka cukup percaya diri dengan kekuatan yang mereka miliki.

__ADS_1


Sementara Liu Zey masih memulihkan diri dengan mengkonsumsi beberapa pil sumber daya yang diberikan Sui Jiu beberapa saat yang lalu.


Sui Jiu tersenyum lebar menanti serangan dari ketiga pertapa bumi tersebut. Baginya, mereka tak lebih dari sekumpulan semut. Hanya Yun Lei yang mengetahui identitas Sui Jiu, alasan ia begitu takut juga karena informasi terakhir yang ia dapatkan beberapa bulan yang lalu menyebutkan bahwa Pisau Ilusi memiliki tingkat kultivasi Pertapa Alam Semesta tahap menengah.


Bukan hanya itu saja, senjata yang dimiliki Sui Jiu juga telah lama menjadi incaran banyak patriark sekte aliran hitam karena levelnya setara pusaka suci kelas atas. Pisau Naga Perak atau lebih dikenal dengan sebutan Belati Naga perak merupakan satu-satunya pusaka kelas suci bertipe dimensi sekaligus memiliki kemampuan ilusi.


RANTAI DIAGRAM RAKSASA ...


TAPAK AMARAH IBLIS ...


PEDANG SETAN ...


Ketiganya melompat diudara bersamaan kemudian melepaskan jurus andalan masing-masing. Tekanan besar tercipta membuat area sekitar dipenuhi energi tenaga dalam yang hebat.


TARIAN DEWI : NAGA ILUSI


Sui Jiu pun tak tinggal diam, ia melepaskan jurus pertama dari Pisau Naga Perak tanpa ba-bi-bu lagi. Berbeda dari biasanya yang lebih banyak bermain-main dengan ilusi, namun kali ini ia lebih agresif.


GROACKK ...


KABOOMM ...


WOSHH ... WOSHH ...


Ledakan hebat tercipta dari benturan jurus yang mengandung tenaga dalam cukup besar. Kepulan asap segera terbentuk, hingga membumbung ke langit. Yun Lei yang menyaksikan hal tersebut menelan ludah dan sekujur tubuhnya gemetar ringan.


"Kejam! Bagaimana bisa aliran putih memiliki pendekar semengerikan dirinya? Bahkan aliran hitam tak memiliki pendekar wanita yang sekejam dia! Sungguh ironis ... Sebenarnya apa itu hitam dan putih? Apa itu keadilan?" gumam takjub sekaligus ketakutan Yun Lei melihat Sui Jiu berdiri angkuh dibalik asap sedangkan ketiga rekannya tak ada yang selamat. Tubuh mereka bahkan tak ada yang utuh lagi, hancur berserakan.


"Tidak ada yang namanya hitam atau putih! Yang ada hanya tujuan. Perbedaan antara keduanya terpaut bagaimana memandang kehidupan melalui tujuan yang diciptakan! Bicara soal keadilan, mereka menyebutnya sebagai jalan panjang menuju kesia-siaan. Adil untuk hidup, adil untuk kemampuan, adil untuk perbedaan. Semuanya memiliki nilai kebaikan yang seharusnya bersumber di dalam kemurnian hati dan jiwa. Tergantung arah mana manusia memandang keadilan bagi dirinya sendiri,"


Yun Lei menengadahkan kepalanya mencoba melihat lebih jelas siapa yang berbicara padanya dengan cukup santai. Seseorang berdiri melayang dengan kedua tangan terlipat dibelakang tepat diatas Yun Lei berdiri.

__ADS_1


"Seseorang yang bisa melayang diudara? Siapa orang ini? Sejak kapan dia berada disana?" tanya Yun Lei dalam hati sembari masih menyipitkan kedua matanya.


Sebelum sempat bertanya, orang tersebut menghilang bagai asap yang tertiup angin. Membuat Yun Lei bingung.


"Kau sedang melihat kemana? Apa kau ketakutan sampai berdoa pada tuhan seperti itu?" ujar Sui Jiu.


Yun Lei tersadar dari lamunannya, pikirannya kembali tertuju pada Sui Jiu yang masih mempertahankan energi tenaga dalam di sekeliling tubuhnya.


"Kita bisa bicarakan semua dengan baik, bukan? Lagipula mereka tak ada hubungan apapun denganku,"


"Lucu sekali! Setelah memperlakukan adikku dengan buruk lalu kau meminta dibicarakan dengan baik? Apa otakmu sudah berpindah tempat! Hng ...."


Yun Lei kebingungan menjawab pertanyaan Sui Jiu, sebab memang benar apa yang dikatakannya. Siapapun tidak akan ada yang terima begitu saja jika ada saudara atau keluarga yang dilecehkan. Pembalasan atau tebusan merupakan hal paling umum dilakukan atau nyawa sebagai gantinya.


"Aku akan penuhi apapun keinginanmu! Percayalah, aku adalah adik dari kawan lamamu. Mana mungkin aku ingkar janji!" jawab Yun Lei sekenanya, mencoba bernegosiasi.


"Kawan lamaku, kau bilang?"


"Chen Seng si Harimau Utara! Patriark sekte Harimau Emas. Dia adalah kakakku,"


Sui Jiu memiringkan kepalanya mencoba mengingat nama yang disebutkan Yun Lei. Senyum mengembang di bibirnya ketika ia berhasil mengingat siapa dan dimana pernah mendengar nama tersebut.


"Oh! Adik si kucing hutan ya? Baik ... Kurasa bisa kita bicarakan," ujar santai Sui Jiu tersenyum penuh makna sembari menyerap kembali energi tenaga dalamnya.


Yun Lei bernapas lega melihat hal tersebut, ia merasa berhasil membebaskan nyawanya dari kematian. Namun ia menyadari bahwa telah salah menggunakan cara tersebut. Sebab, sebelum berangkat menuju aliansi. Patriark Chen Seng memintanya untuk merahasiakan identitas aslinya, itu sebabnya ia dimasukkan sebagai pasukan biasa.


"Apa yang bisa kau tawarkan untukku?" tegas Sui Jiu setelah duduk di batang pohon yang roboh tak jauh dari tempatnya.


Yun Lei batuk pelan, ia merasa dirinya akan diperas namun ia menyadari itu lebih baik dibanding kehilangan nyawa yang tak dijual dimanapun.


"Sumber daya! Beberapa pil tingkat 5 dan beberapa sumber daya lainnya aku punya. Dan juga beberapa kantung koin perak,"

__ADS_1


Sui Jiu menahan senyumannya, wajahnya terlihat begitu cerah. Namun ekspresinya masih datar.


"Kalau begitu berikan aku semuanya ..."


__ADS_2