Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 78 ~ Pegunungan Hewan Buas 1


__ADS_3

Su Kong bergegas kembali ke tempat pertarungan setelah beberapa saat ia menunggu dan memastikan bahwa pertarungan telah usai.


Apa yang ia lihat sungguh mengejutkannya, bukan hanya gubuk tua namun juga area di sekitar mengalami kerusakan yang hebat.


Su Kong melihat kawah lubang yang besar dan melihat Liu Zey tergelatak di tengahnya. Ia menggelengkan kepalanya kemudian menyapu pandangan sekitar untuk mencari jasad Hung Shun namun beberapa kali ia lakukan tak menemukan apapun.


"Oh apakah Jari Setan telah tewas hingga tubuhnya hancur?!" batin Su Kong singkat.


"Itu masalah lain? Sekarang kurasa aku akan merawat seseorang dulu?!" lanjutnya dengan melompat ke tempat Liu Zey tak sadarkan diri.


Su Kong tak habis pikir, bukankah seharusnya Liu Zey bisa menang mudah namun mengapa harus susah payah mengeluarkan jurus hebat dan akhirnya membuat tubuhnya kehabisan tenaga dalam.


"Heh..Dasar?! Wanita yang sembrono,-!!" gumam pelan Su Kong sembari mengangkat tubuh Liu Zey kemudian dengan cepat melompat keluar dari lubang.


Tan Hao masih terus bergerak mengikuti Lan Lihua menembus rimbunnya hutan. Sesekali ia melihat punggung Lan Lihua dengan tatapan kosong seolah tengah memikirkan sesuatu.


Hingga lamunannya terhenti ketika Lan Lihua berhenti tiba-tiba di salah satu cabang besar.


"Ada apa?! Apakah kita telah sampai?" kata Tan Hao sejenak menjejakkan kakinya di cabang pohon yang sama.


Lan Lihua hanya diam sembari menunjuk ke arah depan.


Gerombolan hewan buas rendah terlihat sedang berlari kearah mereka. Tan Hao hanya mengerutkan dahi saat melihat kejadian itu. Sementara Lan Lihua menatap tajam ke arah belakang dari gerombolan hewan buas tingkat rendah yang tengah berlari kearah mereka.


"Hua'er,-!! Menurutmu apakah ada pemburu atau ada pertarungan raja hutan?! Hingga membuat hewan buas ini berlarian seperti ketakutan akan sesuatu seperti itu." kata Tan Hao sembari melihat para hewan buas berlarian dibawahnya dan melewatinya.


"Bukan seperti itu,-!! Ada sebuah penghalang tak kasat mata sedang membesar. Tunggu dulu?! Bukankah kau memiliki Mata Dewa? Seharusnya kau yang lebih tau daripada aku." kata Lan Lihua yang sejenak menatap Tan Hao tak percaya.


Tan Hao terkejut, ia melupakan kemampuan yang ia miliki. Tetapi Lan Lihua tidak mempermasalahkan hal itu, sebab cukup wajar bagi Tan Hao apabila lupa karena belum lama sembuh dan baru saja mendapatkan kembali kekuatannya.


"Sudah sudah?! Tidak apa-apa. Jangan menatapku seperti itu. Lebih baik kau mencobanya sebelum kemampuanmu menjadi tak berguna." Lan Lihua menggeleng kepala pelan melihat reaksi Tan Hao dalam menatapnya.


Tan Hao nampak serius setelah mendapat reaksi biasa saja dari Lan Lihua, bukan tanpa alasan. Sejak kemampuannya telah kembali, ia belum pernah mencobanya sama sekali.


Dan yang pertama ia coba adalah Mata Dewa miliknya yang terakhir kali telah mencapai tingkat kedua.

__ADS_1


Tanpa menunggu waktu lagi, Tan Hao memejamkan kedua matanya sejenak setelah itu membuka mata dengan cepat.


Lan Lihua tersenyum kala melihat pola indah di kedua mata Tan Hao dengan rembesan aura ungu gelap.


Tan Hao sendiri merasa terkejut dengan perubahan kemampuan Mata Dewa Miliknya, bukan hanya bisa melihat jarak jauh namun juga dapat melihat sangat detil bahkan seekor semut yang tengah kebingungan memasuki sarangnya pun terlihat dengan jelas.


"Apa ini karena Biji Teratai dari Dewi LianHua?! Aku tidak menyangka bisa seperti ini peningkatannya." gumam Tan Hao singkat.


"Hei, apa yang kau lihat?! Katakan dengan jelas? Energi pelindung macam apa itu,-!!" seru Lan Lihua dengan mengoyangkan bahu Tan Hao.


"Tung-tunggu sebentar,-!! Jangan mendorongku seperti itu." balas singkat Tan Hao yang penglihatannya kesana kemari.


Lan Lihua lalu menghentikan perbuatannya dengan membuang wajah disertai gerakan melipat tangan.


"Hua'er?! Ini buruk, itu bukan pelindung dari Hewan Buas maupun Pendekar berilmu tinggi,-!! Itu sebuah kubah raksasa yang terbalik? Tunggu sebentar." kata Tan hao serius yang sesaat terdiam sembari mempertajam dan memperjauh penglihatannya.


Lan Lihua tak tinggal diam begitu saja, dirinya yang merupakan Reinkarnasi Dewi Kehidupan mencoba menggunakan Insting Dewi Kehidupannya untuk merasakan pelindung tak kasat mata tersebut.


Meskipun ia tak dapat melihat dengan kedua matanya namun roh nya dapat merasakan ditambah dengan Insting Dewi Kehidupan yang beberapa saat sebelumnya telah bangkit, mempertajam persepsinya.


"Oh tidak?! Dia bisa melihatku?! Hua'er, ini buruk,-!! Aku melihat kekuatan dalam diri Naga itu seperti sebuah kekosongan yang tak terbatas." lanjut Tan Hao yang merasa cemas hingga berkeringat dingin.


Disisi lain, Lan Lihua telah berkeringat dingin dengan kedua matanya yang terpejam.


"Aku tau?! Aku merasakannya? Tapi itu seperti sedang memanggilku." kata Lan Lihua yang tubuhnya terlihat gemetaran.


Keduanya secara bersamaan menghentikan perbuatannya yang diakhiri dengan nafas tersengal-sengal.


Lan Lihua maupun Tan Hao saling menatap tanpa mampu berbicara satu sama lain.


•••


"Hehh?! Begitukah reaksimu ketika aku datang?!" kata Sui Jiu sembari berjalan mendekati Liu Ran.


"Haih..? Cukup basa basinya?! Aku tau kau datang kemari ada maksud tertentu, aku tau benar sifatmu itu, Saudari Sui." kata Liu Ran sembari mengubah posisi duduknya.

__ADS_1


Sui Jiu tersenyum penuh makna sembari duduk di meja kecil di depan Liu Ran.


"Apa kau tau ada sebuah rumor tentang adanya Pusaka Dewa muncul di dekat kota ini?! Kedatanganku kemari untuk mengajak Saudari Liu Zey untuk bersama menemukannya." kata Sui Jiu jelas sambil mengambil buah apel di sampingnya lalu memakannya.


"Kau terlambat satu hari, Liu Zey sudah pergi bersama putra Patriark Gunung Pandan, Saudara Su Kong." sergap Liu Ran cepat.


Sui Jiu menghentikan memakan apel dan menatap tajam Liu Ran.


"Su Kong?! Pemuda sombong itu? Bagaimana bisa orang mesum seperti itu bisa kalian percaya dalam masalah ini."


Liu Ran tersenyum manis. Ia tak berharap bercerita panjang lebar mengingat kondisi tubuhnya yang baru saja pulih.


"Oke baiklah, lupakan soal itu. Lalu kenapa aku seperti merasakan adanya aura seorang yang ku kenal di tempat ini?! Bisa kau katakan apa yang terjadi?" kata Sui Jiu sembari meletakkan buah apel yang sebagian tergigit sembari menatap serius Liu Ran.


Liu Ran tersentak, baru saja ia tak ingin menjelaskan apapun tetapi akhirnya dirinya menghela nafas sejenak. Mengetahui bahwa tak bisa menyembunyikan masalah apapun dari Sui Jiu.


Meskipun watak Sui Jiu kasar dan blak blak an. Namun selama ini ia lah pelindung sesungguhnya dia dan kedua adiknya.


Sui Jiu selalu datang tepat waktu ketika ketiganya dalam masalah yang tak bisa diselesaikan seorang diri.


Ketiganya menganggap Sui Jiu sudah seperti kakak mereka meskipun faktanya Sui Jiu bergabung dengan ketiganya dan menjadi saudari keempat.


"Aku tak mengetahui pasti. Yang jelas keadaanku seperti ini karena berurusan dengan Xie Mo. Dia datang mengacau disaat pertunjukanku." ucap Liu Ran jelas.


Raut wajah Sui Jiu menjadi suram dan tertunduk. Jelas ia mengenal benar siapa yang dimaksud Liu Ran.


"Lanjutkan ceritamu." ucap singkat Sui Jiu.


Liu Ran menghela nafas panjang. Ia telah mendengar pernyataan dari Xie Mo sebelumnya bahwa kematian Xin Jiu ada hubungan dengannya.


"Aku telah membunuhnya di dunia dimensi yang kau tinggalkan untuk kami. Sejujurnya aku tak tau mengenai hal itu, aku turut bersedih ketika mengetahuinya dari orang lain. Yang pasti, jasadnya kini masih berada di dunia dimensi milikmu." kata Liu Ran sembari menyerahkan sebuah gulungan kecil pada Sui Jiu lengkap dengan seutas tali sebagai pengikatnya.


Reaksi Sui Jiu begitu sulit ia tebak. Sui Jiu meraih gulungan tersebut dengan cepat tanpa berkata apapun kemudian melangkah pergi dengan wajah tertunduk tanpa memberikan salam.


"Haihh..? Pantas kau disebut Dewi Ilusi, dengan sikapmu ini siapapun yang berhadapan denganmu tidak ada yang tidak merasa takut. Untungnya aku tau sifat aslimu. Semoga dendammu itu tidak menjerumuskanmu kembali, saudariku." batin Liu Ran yang menatap punggung Sui Jui.

__ADS_1


__ADS_2