
Chen Seng begitu arogan terhadap kekuatannya sendiri, ia bahkan tak memperdulikan seorang pemuda yang berjalan kearahnya. Yang ia ketahui bahwa harus secepatnya mendapatkan pusaka suci tersebut.
Patriark sekte Harimau Emas tersebut merupakan ketua aliansi utama sekte aliran hitam, bukan hanya kekuatannya yang besar serta ketangguhan fisiknya yang kuat melainkan juga karena ia mempunyai kemampuan strategi bertarung yang tinggi.
Dan kelemahan ia adalah terlalu memandang tinggi kemampuannya. Sebab itulah, ia sama sekali tak menganggap kemampuan Lan Lihua setara dengannya meskipun ia telah melihat dengan matanya sendiri.
Alasan lain yang menjadikannya begitu arogan adalah senjata yang ia miliki. Sebuah kapak bermata satu dengan ujung bertombak. Senjata kelas atas yang memiliki warna emas tersebut memiliki sejarah panjang tersendiri di dunia persilatan aliran hitam.
"Chen Seng! Si Harimau Utara tak akan segan menghabisimu, gadis tak tahu diuntung!" seru Chen Seng sesaat sebelum melesat cepat kearah Lan Lihua.
Menyadari serangan mendadak tersebut, Lan Lihua berinisiatif untuk menggunakan pedang petir pemberian Tan Hao saat dulu berlatih bersama. Kelas yang sama dengan senjata yang dimiliki Chen Seng meskipun sebenarnya pedang petir bisa juga disebut sebagai pusaka. Sebab, senjata itu dibuat langsung oleh Yao Liu secara khusus.
Dengan cepat Lan Lihua mengeluarkan pedang petir dari kalungnya dan kemudian bersiap dengan memasang kuda-kuda bertahan.
"Keras kepala! Tch ...."
Lan Lihua mengayunkan pedang petir searah jarum jam, gerakannya begitu anggun. Hingga menciptakan bayangan pedang kebiruan tepat di depan tubuhnya seolah membentuk pelindung.
SWOOSSHH ...
HONGG ... HONGG ...
DUAAARRRR ...
Chen Seng terpental beberapa meter setelah tak mampu menembus jurus bertahan Lan Lihua. Bahkan tak membuatnya bergeming selangkah pun, membuat Chen Seng mengumpat dalam hati.
"Jangan melampaui batas, jika tak mengetahui kualitas! Lihat dirimu sendiri seberapa pantas untuk bersikap angkuh, sebelum keyakinanmu runtuh!"
__ADS_1
Sebuah suara dari arah belakang membuat Chen Seng tersentak hingga matanya terbuka lebar. Pemuda tampan yang memakai setelan pakaian ungu gelap bermotif teratai di bagian punggung belakang berjalan dengan santainya sambil memakan apel.
"Apel yang dipetik kemarin terasa hambar namun memiliki khasiat bagus, tapi lebih baik apel yang baru dipetik. Menyegarkan pikiran disetiap gigitan. Hmm ... Nyam ... Nyam," ujarnya santai sambil melihat bekas gigitan buah yang ia pegang.
"Apa maksudmu kemampuanku tak layak dibanggakan? Oh ... Nyalimu besar juga anak muda! Apa dirimu teman gadis tak tahu diuntung ini, Hng ...."
"Aku tak bilang begitu! Kau saja yang terlalu bodoh sampai lupa caramu bersikap di depan wanita, pendekar menyedihkan yang hanya berani terhadap wanita! Nyam ... Nyam,"
Lan Lihua menahan tawa melihat kelakuan Tan Hao, ia tak menduga jika Tan Hao akan bersikap menyebalkan seperti itu di depan orang yang lebih senior darinya.
"Kakak! Hentikan ocehan tak jelasmu itu, membuatku mual saja, ck ...."
Tan Hao tertawa lebar mendengar perkataan Lan Lihua, kemudian ia melempar satu buah apel berwarna perak tersebut kepada Lan Lihua.
"Makanlah! Aku lihat dirimu melemah karena terlalu mencemaskanku, Hua'er!"
Chen Seng mendengkus kesal, sebab ia merasa diacuhkan oleh dua orang tersebut. Dalam hatinya ia berkata seraya mengamati lebih jelas pemuda yang berdiri tak jauh darinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kak? Aku merasakannya," tanya Lan Lihua cukup serius.
Tan Hao tersenyum namun terlihat terpaksa, ekspresi yang dapat di tebak oleh Lan Lihua jika pasti telah terjadi sesuatu di luar perkiraan. Namun, Lan Lihua tak berani mempertanyakan lebih jauh ketika ia merasakan aura yang merembes dari tubuh Tan Hao lebih cerah dari sebelumnya.
"Kak Hao Hao! Orang itu menginginkan senjata pemberianmu dan juga kekuatanku ...."
"Iya aku tahu! Dia adalah pemimpin kelompok utama aliansi pertama aliran hitam yang berada di hutan ini! Bukankah seharusnya kau bisa mengenalinya sesuai persepsimu! Hmm ....?"
Lan Lihua tersentak konyol, bagaimana bisa ia tak menyadari jika orang yang ia rasakan kekuatannya beberapa hari lalu adalah orang yang berada di hadapannya saat ini. Perasaan cemas dan khawatir yang mendera membuatnya tak bisa berfikir jernih.
__ADS_1
Tan Hao mengeluarkan pedang sabit matahari yang terbungkus petir ungu dari cincin dimensi miliknya. Pedang tersebut masih sulit dikendalikan, itulah sebab mengapa Tan Hao membungkusnya dengan energi petir suci miliknya. Bukan hanya berfungsi mencegah pedang tersebut menyerap jiwa orang yang telah mati, namun juga menekan pergerakan kekuatannya.
"Apa kau tertarik dengan benda ini?" tanya Tan Hao pada Chen Seng. Seketika itu membuatnya terhenyak, hingga memudarkan energi tenaga dalam ditubuhnya.
"Pedang Sabit Matahari? Siapa kau sebenarnya? Dan darimana kau dapatkan pusaka itu?"
Tan Hao tersenyum lebar sambil memandang pedang yang terlihat seperti disiksa oleh ribuan petir.
"Seorang murid tentu saja akan mengenali pusaka milik gurunya! Jika tidak, maka murid itu pantas untuk dilenyapkan,"
Chen Seng membuka lebar matanya sesaat kemudian tertunduk sembari mengepalkan kedua tangannya. Terlihat jelas reaksinya begitu rumit.
"Apa kau Tan Hao? Bocah yang mengaku anak dewa dan yang telah membunuh Guru Dan? Bukankah kau telah ikut lenyap bersama jasadnya? Bagaimana kau masih bisa hidup? Katakan padaku dimana guruku?"
Pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan Chen Seng yang masih tertunduk, namun sorot matanya begitu tajam menatap Tan Hao. Ia memang belum pernah bertemu, saat kejadian waktu itu pun Chen Seng tak berada di Lembah Hijau sebab sekte yang ia ketuai tengah bersitegang dengan sekte Badak Hitam memperebutkan wilayah kekuasaan beserta harta bumi.
"Ya! Aku si bocah ceroboh waktu itu. Mengenai gurumu, aku harus katakan bahwa ia telah menjadi nutrisi energi spiritualnya sendiri. Kenapa aku masih hidup? Tentu saja rumor bahwa aku keturunan dewa adalah benar, bukan?" sergap Tan Hao sembari menebar senyum lebar.
Tak butuh waktu lama bagi Tan Hao mengenali hubungan antara Jiwei Dan dengan Chen Seng, sebab energi tenaga dalam yang dimiliki Chen Seng sebagian besar merupakan aura energi yang sama dengan yang dimiliki ketua Lembah Hijau tersebut.
"Jika kau tak percaya aku adalah bocah itu! Buka matamu dan lihatlah ...."
SWOOOSSHHH
WHONGG ... WHOONG...
WHIIRRR ...
__ADS_1
Chen Seng terkejut ketika Tan Hao melepaskan Aura Dewa miliknya yang berkekuatan sedang meskipun tidak sampai melebihi batasan tingkatan yang bisa dipahami, namun itu cukup mengakibatkan Chen Seng tak bisa bergerak, bahkan bernafas pun kesulitan. Sementara Lan Lihua dengan sendirinya terlindungi oleh energi spiritual dari naga es yang telah menyatu dengannya.
"Kurang ajar! Saat dia masih bocah saja bisa melenyapkan Dewa Iblis, bagaimana sekarang! Apa yang harus aku lakukan, ah sial ...." gumam Chen Seng sembari berusaha mendapatkan tempatnya.