
"Apa tujuanmu?" Mudong Shen menatap tajam, instingnya mengatakan kalau wanita itu adalah ancaman besar bagi aliansi dibawah pimpinannya.
"Tujuanku ya?" Wanita bertopeng itu mengangkat pedangnya, terdengar tawa kecilnya begitu remeh.
"Membantai kalian?"
Sebelum Mudong Shen mendengar lebih jelas apa yang diucapkan wanita bertopeng ungu tersebut, bawahannya yang bertopeng hitam tiba-tiba berjatuhan dengan luka yang sama. Tepat dileher mereka.
Kecepatan serangannya bahkan tak dapat dilihat oleh Yong Li, dan hanya terlihat kilatan cahaya kebiruan bagi Mudong Shen.
"A-apa yang terjadi? Bagaimana bisa?!" Yong Li terkejut melihat kejadian tersebut. Ia bahkan tak melihat pergerakan apapun dari wanita itu, menurut penglihatannya wanita itu masih berada ditempatnya.
Sedangkan bagi Mudong Shen yang dapat melihat sekilas gerakan pedangnya, ia tersentak sembari memandang dingin wanita itu.
"Apa yang kau lakukan? Jalaangg ... Sialann?!"
Wanita bertopeng ungu tersebut hanya membalas seruan Mudong Shen yang kelihatan benar emosinya memuncak itu dengan tawa renyah seolah benar-benar meremehkan.
"Oh ...! Kau pikir bisa berbuat sesukamu? Kau membunuh hewan tak bersalah lalu kau merasa apa yang aku lakukan salah? Ha ha ... Naif sekali!"
Yong Li berusaha memberi tanda pada ketua lainnya menggunakan cincinnya untuk segera datang. Sedangkan Mudong Shen mencoba secepat mungkin mengkondisikan tubuhnya demi menghadapi wanita itu.
"Aku datang sebagai perwakilan dari hewan yang kau bunuh. Anggap saja ... Balas dendam?!" ucapnya tegas, terlihat dari nada suaranya wanita itu menyimpan amarah yang besar. Meskipun tatapan tajam matanya tak terlihat, tetapi Aura Energi tubuhnya terasa terus menguat.
Tiga pendekar topeng emas mulai tersadar dan terkejut menyaksikan dihadapan mereka, rekan-rekannya telah tewas mengenaskan dengan luka dileher. Hampir bersamaan, gerakan mereka berdiri dan melompat menjauh dari wanita bertopeng ungu tersebut setelah menyadari penyebab tewasnya seluruh rekannya.
"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa, sementara disini ada ketua kedua dan ketua ketiga!" tanya salah satu pendekar topeng emas yang tak mendapat jawaban dari kedua rekannya.
Mudong Shen mengepalkan tangannya, kegeramannya semakin memuncak mendengar wanita itu tertawa dengan renyahnya.
"Katakan! Apa hubunganmu dengan Feng Zhenzu? Bagaimana bisa kau menggunakan pusaka miliknya?" tanya Mudong Shen berniat memberi sedikit waktu bagi yang lainnya menyesuaikan tenaga dalam mereka.
"Apa kau bilang? Feng Zhenzu? Artinya pedang itu ... Pedang Bintang Ungu?" Yong Li terkejut mendengar pertanyaan Mudong Shen pada wanita itu, tatapan matanya menjadi lain memandang wanita bergaun ungu tersebut.
Wanita bertopeng ungu tersebut langsung terdiam dari tawanya, tatapannya begitu tajam dibalik topeng yang ia kenakan. Terlihat oleh Mudong Shen perubahan sikapnya menjadi lain.
__ADS_1
"Bagaimana bisa dia mengenali pusaka milik ayah? Kalau begini ... Aku harus menyelesaikan mereka secepat mungkin," batinnya, sesaat kemudian memasang kuda-kuda siap menyerang.
"Apa pedulimu? Sebaiknya kau pikirkan nyawamu sendiri,"
HAWA PEDANG : BAYANGAN KEMATIAN
GLLRRRR ...
JDDEERR ... JDDEERR ...
WONGG ... WONGG ...
Ribuan pedang berukuran normal berwarna ungu transparan muncul dari balik awan sesaat setelah wanita itu menunjuk langit menggunakan pedangnya yang memancarkan kilatan cahaya.
"Oh! Inikah jurus pedang dari pusaka pria tua itu? Lumayan hebat," gumam Mudong Shen sembari mencengkeram kedua kapak dipunggungnya.
"Hoi ... Hoi! Kumbang jelek! Lakukan sesuatu atau kita akan jadi daging rica-rica ...." kata Yong Li tersenyum getir sembari melihat ke langit.
"Cih ... Dasar kucing busuk! Kau bisa apa hah?" timpal Mudong Shen sembari menyiapkan kapaknya.
KAPAK BUMI : TEBASAN NERAKA
SWOOSSHH ...
HUNGG ... HNG ...
DDUAARR ... DDUARR ...
Jurus yang dikeluarkan Mudong Shen yang berupa aura energi berlapis-lapis seperti bulan sabit itu menusuk langsung ke langit bersamaan dengan ribuan pedang transparan berwarna ungu menghujam dengan kecepatan tinggi kearah kedua patriark tersebut berdiri.
JDEEERRRR ...
DDDUAAAARRR ...
BOOMM ... BOOMMM ...
__ADS_1
SWOOSSHH ...
Pertemuan dua jurus tersebut menimbulkan ledakan yang begitu besar di udara. Namun sayangnya, jurus dari Mudong Shen tak mampu menahan semua serangan tersebut.
Kepulan asap tebal membumbung di udara beberapa saat setelah sebagian yang lain dari ribuan pedang transparan tersebut tak berhasil dihalau oleh Mudong Shen.
"Kau ceroboh, Kumbang jelek! Hampir saja kita mati," ujar Yong Li yang melayang diudara sembari memegang Mudong Shen dengan sebelah tangannya.
"Heh! Kenapa bukan kau saja yang melawannya? Lepaskan aku, aku bukan bocah yang bisa seenaknya kau pegang seperti ini," gerutu jengkel Mudong Shen yang kerah baju bagian tengkuknya masih dipegang oleh Yong Li.
"Aku tak menyangka, gadis itu memiliki kekuatan sebesar ini? Aku penasaran, ada hubungan apa dia dengan pria tua itu?" imbuh Mudong Shen sembari memperhatikan wanita bertopeng itu dari balik kepulan asap.
"Apa kau takut jika membunuhnya, Si Tua Feng itu akan muncul dan membalasnya?" tanya balik Yong Li datar.
"Sikapmu itu meremehkan! Kau belum tahu saja, bagaimana mengerikannya berhadapan langsung dengannya? Aku hampir kehilangan nyawaku hanya dengan tiga gerakannya,"
"Apa Si Tua Feng itu sekuat itu? Aku hanya mendengarnya dari cerita, bukankah dia telah lama menghilang dari dunia persilatan?"
"Tidak! Dia telah berhasil mencapai tahap tertinggi dari ilmu tenaga dalam. Kabar terakhir, dia menjadi ahli peramu obat beberapa tahun setelah menemukan seorang anak," jawab Mudong Shen seolah tanpa berpikir.
"Tu-tunggu dulu? Gadis ini! Mungkinkah dia anak angkat pria tua itu?!" imbuhnya dengan keterkejutan oleh perkataannya sendiri, membuat Yong Li mengerutkan dahi seolah tidak memahami maksud Mudong Shen.
Wanita itu mengibaskan pedangnya untuk menghilangkan asap yang masih mengepul, gerakannya begitu lugas. Tak berselang lama, aura energi tubuhnya berubah warna menjadi biru kehijauan.
"Aku sudah katakan, bukan? Dengan bantuanku tak perlu membuang banyak waktu untuk melenyapkan mereka! Sekarang biarkan aku yang mengurus mereka, Dewi!" sebuah suara bergema sayup-sayup terdengar disekitar tubuh wanita itu.
Mudong Shen dan Yong Li cukup keheranan dibuatnya, hingga mereka terdiam cukup lama untuk mencaritahu suara darimana yang mereka dengar itu, meskipun terasa tidak begitu jelas.
"Baiklah ... Baiklah! Aku mengaku ceroboh, sekarang bantu aku menyelesaikan ini sebelum kakak mengetahuinya!" gumamnya pelan seolah berbicara sendiri.
"Apa kau dengar suara tadi? Apa yang kau dengar, pendengaranku tak begitu jelas?" tanya Yong Li pada Mudong Shen yang terlihat sibuk melirik kesana kemari seperti mencari sesuatu.
Keduanya terfokus pada wanita itu sampai tak menyadari jika ketiga pendekar topeng emas yang posisinya tak berada jauh dari mereka sebelumnya, kini menjadi mayat dengan tubuh terpotong-potong berserakan.
Ketiga pendekar topeng emas tersebut tak sempat menyelamatkan diri setelah terpaku menatap langit melihat ribuan pedang dengan ujung pedang mengarah ke mereka. Tubuh mereka terlalu tidak berdaya hanya untuk sekedar menghindar. Menjadikan mereka kini hanya tinggal nama.
__ADS_1
"Aku tak menemukan apapun! Mungkin itu suara angin, atau semacamnya. Sudah ... Lebih baik kau bantu aku, kita serang bersama-sama ...!"