Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 164 ~ Lawan tak Sebanding


__ADS_3

Pendekar topeng merah darah pun dibuat kaget dengan hal itu, keduanya sempat menoleh sejenak sebelum akhirnya meminta pasukan bergerak lebih cepat.


Xinxin yang masih bersama Mu Yuan mendadak pucat pasi menyaksikan hal tersebut. Keduanya seperti berada di suatu ruangan yang hanya ada hitam, sangat gelap.


Mereka telah berpindah tempat setelah bangunan menara tiba-tiba meledak hingga hancur bagai debu tak menyisakan apapun, keberuntungan masih menyertai mereka yang ternyata berada di ruang bawah tanah.


Mu Yuan tidak diijinkan ikut bergabung, setelah Xinxin kehilangan dua pengawal pribadinya. Yang satu bertugas mengirim laporan kepada Raja Yan, dan satu lagi mengirim surat kepada Raja Shu. Menjadikan Mu Yuan sebagai pengawal tunggal dari Selir Xinxin.


Tak ada yang istimewa dari Xinxin selain kejam dan tak punya pikiran menurut Mu Yuan, dirinya tak bisa berbuat banyak bahkan untuk meninggalkannya begitu saja pun tak dapat ia lakukan.


"Bagaimana kalau kita bertemu wanita itu? Wanita itu sungguh gila, sangat gila...!" pekik Selir Xinxin yang masih dalam keadaan tertekan.


"Cih! Wanita ular sepertimu tahu rasa takut juga ternyata?" sahut Mu Yuan tanpa berkedip.


"Ah sialan! Kekuatan darimana itu? Jika aku berhadapan dengannya ... Apa yang harus aku lakukan?" gerutu Mu Yuan dalam hati. Pikirannya menerawang jauh memikirkan hal hal yang tak masuk akal, sampai membuatnya tertegun cukup lama.


***


Lan Lihua tiba-tiba jatuh terduduk, tak berselang lama tubuhnya memancarkan hawa dingin yang begitu kental. Area disekitarnya juga terkena imbas, seperti membeku melingkar yang berpusat pada tubuhnya.


Bing Long kelihatan merasa cemas, sebab telah menyadarinya beberapa saat lalu. Tapi meskipun begitu, ia tak tahu apa yang dialami Lan Lihua, hanya tahu kalau energi di dalam tubuhnya bergejolak dengan pergerakan tinggi tak teratur.


"Dewi ...!"


"Paman Bing! Dingin ... Mati rasa ... Tubuhku!" gagap Lan Lihua menggigil sembari menahan keseimbangan tubuh menggunakan pedangnya.


KABOOM!!


DDUARR!!


Terdengar ledakan cukup keras tak jauh dari posisi Lan Lihua, namun tak membuat perhatiannya tertarik. Gemetar tubuhnya semakin menjadi hingga membuatnya tak mampu lagi bertumpu.


Lan Lihua mengerang tertahan diatas tanah sambil memeluk pedangnya, kelihatan jelas wajahnya memutih. Lebih dari sekedar pucat.


Liu Zey menyerang para pendekar topeng emas selagi mereka kehilangan konsentrasi akibat melihat kilauan di langit, kontan saja hal tersebut membuat beberapa dari mereka mengalami luka yang cukup serius.

__ADS_1


"Dasar wanita sialan! Berani-beraninya kau ...!"


"Hahaha ... Salah kalian sendiri, kenapa begitu bodoh! Siapa suruh berpaling dariku yang cantik ini, eh' haha!" goda Liu Zey sembari tertawa seperti meremehkan.


"Ayolah! Marahlah, keluarkan emosi kalian! Semakin kalian marah, semakin mudah bagiku untuk membunuh kalian," batin Liu Zey setelah menggoda beberapa pendekar topeng emas yang menatap tajam ke dirinya.


Benar saja perkiraan Liu Zey, mereka tersulut emosi dan bertindak sendiri-sendiri dalam melancarkan serangan ke arahnya. Hal itu disambut senyuman oleh Liu Zey sebelum menyerang mereka satu persatu menggunakan busurnya.


Adu serangan kembali terjadi namun kini lebih mudah bagi Liu Zey, gerakannya yang lincah sambil melepaskan anak busur yang terbentuk dari energi tenaga dalam membuat pendekar topeng emas semakin meradang.


Belasan pendekar topeng emas hanya tersisa beberapa yang masih melancarkan serangan teknik jurus, selebihnya terkapar di tanah dengan penuh luka tusukan.


Liu Zey cukup cerdas dalam menyerang lawan selagi bergerak dalam kecepatan tinggi, seolah tidak ada hambatan sama sekali pada tubuhnya.


Seorang pendekar bertudung yang masih memiliki kesadaran, dibuat takjub dengan kelincahan serta kecerdasan Liu Zey dalam melihat celah lawan ditengah pergerakannya.


Pendekar topeng emas yang tersisa merasa menjadi mainan, mereka terlihat seperti sasaran anak panah sebagai bahan latihan.


Pertapa Bumi tahap menengah menjadi sasaran empuk seorang gadis bertubuh ramping, hal itu membuat mereka semakin marah. Dipermalukan gadis ingusan dan bahkan seperti sama sekali tak ada harga dirinya.


Peningkatan basis kultivasinya lumayan tinggi hingga hampir menyentuh seribu lingkaran tenaga dalam membuatnya saat ini memiliki dua kali lipat lebih banyak tenaga dalam dari tingkatan sebelumnya.


"Kurang ajar ... Kau!"


TELAPAK API : KOBARAN PENGHANGUS


SWOSH!!


WHISS!! WHISS!!


"Heh! Teknik lemah, sudah cukup main-mainnya!"


BUSUR BULAN : FORMASI HUJAN PENCABUT NYAWA


WHONG!!

__ADS_1


WUSH!! WUSH!!


SROOSH!!


DDUAARR!! DDUARR!! DUARR!!


Pendekar topeng emas yang tersisa, terhujani energi berbentuk anak busur yang menghujam selayaknya rintik hujan. Setelah teknik jurus salah satu diantara mereka tak mampu membendung hujan anak busur tersebut.


"Lu-luar biasa...! Nona ini sungguh luar biasa...!" gumam pendekar bertudung yang tengah bersandar lemas setelah sebelumnya berhasil bangkit terduduk.


"Apa-apaan itu ...!" seru Xue Mei yang baru saja tiba, terkejut melihat dua sisi berbeda. Rekan-rekannya terkapar sementara seorang wanita sedang membombardir pendekar topeng emas dengan jurus serangan anak busur.


Xue Mei mengabaikan pertarungan itu, ia memilih bergegas menghampiri salah satu rekannya yang masih sadarkan diri.


"Bagaimana bisa kalian seperti ini? Ini, telan...!" tanya Xue Mei sembari membuka paksa mulut pendekar bertudung yang sedari tadi duduk bersandar di dinding bangunan.


Setelah memastikan rekannya menelan pil sumber daya peningkat stamina, pandangan Xue Mei kembali tertuju pada Liu Zey yang terlihat tersenyum senang.


"Apa dia yang dimaksud sahabat Nona Lihua? Sebenarnya mereka datang darimana, kekuatan mereka benar-benar mengerikan sekali? Tapi untungnya, mereka dipihak yang sama! Aku tak bisa membayangkan, andaikan mereka berdua berada dipihak musuh," gumam Xue Mei menatap lekat-lekat wajah Liu Zey.


***


"Hua'er...! Apa yang terjadi? Bukankah baru saja kau berhasil mengalahkan musuh? Bagaimana kondisimu?" tanya Tan Hao serius, terlihat dari ekspresi wajahnya sebuah kekhawatiran.


"Tuan Hao...! Dewi Lan sangat menderita, energi tubuhnya seperti terkoyak dan lalu sebagian darahnya membeku. Ada sesuatu yang tak biasa di dalam tubuhnya, aku menyadarinya baru beberapa waktu yang lalu," jelas Bing Long berusaha menjawab pertanyaan Tan Hao yang tak bisa dijawab oleh Lan Lihua, sebab ia tertelungkup kaku menahan hawa dingin dari dalam tubuhnya.


Bibir mungil Lan Lihua membiru bahkan ketika Tan Hao mencoba memegang tangannya, telapak tangannya merasakan dingin luar biasa. Mungkin hanya butuh waktu beberapa detik menyentuhnya untuk membuat tangannya beku.


Menyadari kondisi Lan Lihua semakin memburuk jika dibiarkan, Tan Hao melapisi tubuhnya dengan energi petir ungu sebelum mengangkat dan menggendong Lan Lihua berniat membawanya menjauh dari wilayah desa.


Menurut firasatnya, wilayah sekitar desa akan jadi medan perang besar. Untuk itu, tanpa membuang banyak waktu lagi Tan Hao menggunakan kekuatan dimensi untuk membawa pergi Lan Lihua.


"Hua'er...! Bertahanlah...!"


Rasa khawatir Tan Hao membuatnya mengabaikan situasi di dalam desa untuk sementara waktu dan memutuskan tanpa pikir panjang lagi membawa Lan Lihua ke padang rumput yang sebelumnya ia gunakan untuk tempat berlatih.

__ADS_1


__ADS_2