
Di dalam rombongan pasukan aliansi aliran putih terlihat ada beberapa sosok penting dari sekte menengah aliran putih maupun netral.
Nampak ada Patriark Gunung Pandan, Su Long serta beberapa tetua sekte. Di belakangnya ada beberapa tetua dari sekte Biara kehidupan, seperti Tetua Tianba dan Tetua Tuoli.
Sekte Anggrek Suci malah hanya meninggalkan tiga orang Tetua Anggrek untuk menjaga sekte, selebihnya dibawa semua oleh Matriark Zhang Weili.
Yang menarik, sekte Pedang Langit terlihat hanya mengirimkan tiga orang tetua pedang tanpa disertai anggota sekte. Entah apa maksud dari itu tetapi yang jelas, seperti yang diketahui bahwa Pedang Langit memang jarang sekali ikut andil dalam aliansi apapun.
Meskipun Tetua Feiying sempat memprotes hal itu kepada Patriark Shen Dong, tetapi tak ada perubahan dalam keputusan mereka. Alasan yang dipakai Patriark Shen Dong selalu sama ketika dimintai penjelasan, hal itulah yang membuat Tetua Jing Yun enggan untuk mempermasalahkannya lebih lanjut.
Di belakang Tetua Feiying ada tetua tombak kelima dan keenam, Mei Lin dan Bai Huang. Pengkhianatan yang terjadi beberapa tahun yang lalu membuat Tujuh Tombak Emas saat ini hanya memiliki delapan tetua tombak.
Tetua Shuxan dan Tetua Tiandou yang masih belum kembali sewaktu terjadi pertemuan membahas pembentukan aliansi, membuat Tetua Jing Yun mau tidak mau hanya menyisakan Tetua Ling Ling dan Tetua Han Liu untuk menemani Patriark Sun Sian dalam menjaga Pangeran Li Fen An serta Putri Li May Lin.
Sementara, para pendekar dari Asosiasi Menara Emas terlihat belum bergabung, adanya mereka cukup mudah dikenali dengan ciri khas tudung emas yang dikenakan. Namun sampai detik ini, belum ada tanda-tanda kedatangan mereka.
Selepas melewati hutan dan baru saja tiba di sisi lain desa, pasukan yang di pimpin Tetua Feiying dan Matriark Zhang Weili langsung disambut oleh ribuan pendekar topeng hitam yang dipimpin dua orang bertopeng merah darah.
"Senior Fei...!"
"Ya, aku tahu! Seharusnya ada lima pemimpin, bukan? Hanya ada dua, kemungkinan informan kita salah mendapatkan informasi," Tetua Feiying mengamati pasukan aliansi aliran hitam yang masih terbentang jarak cukup jauh dari tempatnya, namun itu bukanlah masalah.
Dengan tidak bergabungnya Tetua Jing Yun, praktis dialah yang menjadi acuan untuk dimintai pendapat maupun memberi perintah. Meskipun Matriark Zhang Weili mempunyai wewenang yang sama.
__ADS_1
"Sepertinya, pertempuran kali ini tidak akan mudah! Dilihat dari pergerakan mereka, bisa dipastikan kalau mereka setidaknya berada di Pertapa Bumi," ujar Tetua Bai Huang setelah mengamati secara singkat.
"Itu bukanlah masalah, bukankah kita memiliki seorang Alam Dewa Bumi disini...! Lagipula, meskipun pasukan kita lebih banyak Pendekar Ahli tahap Puncak dan sangat sedikit dari mereka yang lebih dari Pertapa Bumi tahap Menengah. Kita masih memiliki lebih banyak pertapa kelas atas," sahut Mei Lin sejenak melirik Tetua Feiying yang kelihatan sedang terfokus mengamati sesuatu.
Bai Huang sendiri tidak yakin dengan informasi dari mata-mata yang dikirim, sifatnya yang tidak mudah percaya itu menjadikannya terlihat sombong. Meskipun sebenarnya tidak.
'Disini hanya aku yang berada di tingkat Alam Dewa Bumi, perwakilan dari beberapa sekte paling tinggi hanya di tingkat Pertapa Surga tahap Puncak. Jika informasi itu benar, maka ini sama sekali tidak menguntungkan! Aku harap hanya dua orang itu saja, itupun aku tak merasa yakin mampu menghadapi mereka bersamaan. Sementara Matriark Zhang meskipun satu tingkat dibawahku tetapi tidak menjamin dia mampu menangani salah satunya, hmm ... Aku harus bagaimana!'
Tetua Feiying berbicara dalam hati, sementara matanya terus mengamati. Ia merasa sulit memprediksi pergerakan apa yang akan di lakukan kedua orang bertopeng merah yang juga tengah berdiri memandang kearahnya.
"Apa yang Senior Fei pikirkan? Apalagi yang kita tunggu...!" Matriark dari Anggrek Suci itu terlihat tidak sabaran untuk segera bertindak sementara yang memberi perintah masih diam mengamati.
Sementara perwakilan dari beberapa sekte beserta anggotanya telah bersiap sejak awal kedatangan, mereka semua berdiam diri di cabang-cabang pohon menunggu perintah.
"Aku sudah bilang sejak awal, bukan? Kalau kita dipimpin oleh orang penakut yang berlagak arogan seperti dia, sampai kapan juga tidak akan pernah berjalan baik," timpal yang lainnya.
"Kalian ini sebenarnya berada di pihak mana? Mulut kalian lembut sekali ...!" lirih Su Long merasa risih mendengar percakapan antara Shen Lin dan Shen Gang yang menurutnya tidak mencerminkan seorang Tetua Sekte.
Sindiran Patriark Gunung Pandan itu hanya dibalas tatapan sinis kedua tetua Pedang Langit. Mereka bahkan terlihat malas dalam bersiaga, dan hanya meracau tak jelas.
Disisi lain, dua orang bertopeng merah darah itu terlihat sangat santai dan seolah sedang menikmati terpaan angin. Sementara pasukan topeng emas yang lainnya baru saja bergabung di belakang pendekar topeng hitam.
"Fen, kenapa kita tidak menyerang langsung saja! Aku bosan saling memandang seperti ini, mereka semua lemah dan hanya satu orang saja yang lumayan merepotkan. Kita bergerak sekarang saja bagaimana?"
__ADS_1
"Biar mereka yang bertindak lebih dulu, aku malas untuk memprovokasi duluan. Angin disini terlalu sejuk untuk dicampakkan...! Lagipula, semakin lama mereka melakukan tindakan, Nian Zhen memiliki waktu yang banyak pula untuk mengambil benda itu dan menguasai sepenuhnya wilayah ini...! Umm ... Nyaman sekali, apa kau tidak menikmati angin sejuk ini, Xiang!"
Kedua pendekar topeng merah darah itu masih bersandar berlawanan di salah satu cabang pohon. Posisi tempat mereka berada yang membelakangi pusat desa membuat salah satu pendekar topeng merah yang diketahui memiliki nama Yin Fen itu memutuskan untuk hanya menunggu.
Tak dipungkiri memang, kalau posisi mereka sangat menguntungkan. Bahkan jika diteliti lagi, seolah posisi mereka itu tertukar. Namun, bukan itu masalahnya.
Yin Fen secara tidak langsung mengatakan kalau pergerakan mereka ditempat itu hanya awalan yang sementara saja.
***
"Tidak penting darimana aku pelajari ini...! Yang perlu kau tahu, Tombak Emas Singa Ungu ku ini yang akan mengambil nyawamu ...!" Tetua Jing Yun memperlihatkan spirit Singa Emas Ungu yang melingkupi tubuhnya.
Hawa tekanan yang begitu kuat, bahkan Raja Tempa dibuat bergidik tak terkecuali Kaisar Obat. Keduanya mengambil jarak aman untuk memberi ruang bagi Tetua Jing Yun beraksi.
"Sebenarnya, Tombak Tua itu punya masalah apa dengan pengemis tua itu? Amarahnya kuat sekali," gumam Yao Yuen bertanya-tanya.
"Heh...! Kau tak tahu? Dulu, wanita yang disukai tombak tua menolaknya dan lebih memilih pengemis tua itu hanya karena dia mahir bermain nada menggunakan selembar daun ...." sahut Raja Tempa menjawab pertanyaan Yao Yuen yang sebenarnya menyangkut masalah sensitif.
"Hah...! Aku kira masalah apa, ternyata ... Haih!" Yao Yuen terkejut bodoh sebelum terkekeh ringan mengetahui kebenaran yang bahkan tidak ada orang yang tahu kecuali sahabat dekatnya.
"... Bukan masalah itu! Masalahnya, wanita itu menjadi salah satu dari korban keserakahan pengemis tua itu untuk mendapatkan kekuatan!" lanjut Lian Ho menyelesaikan ceritanya. Hal itu membuat Yao Yuen langsung terdiam, terlihat ia menggeser arah pandangannya mengarah ke raut wajah Tetua Jing Yun.
"Dendam ya...! Aku juga pernah punya, dulu! Sebelum seorang bocah ingusan menyadarkanku ...."
__ADS_1