Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 175 ~ Pertempuran Hibei 7


__ADS_3

Tetua Feiying tak mampu berkata-kata lagi, keterkejutannya semakin bertambah ketika menyadari kalau orang di depannya itu datang bersama seseorang yang kekuatannya tak terasa sama sekali.


Sama halnya dengan Tetua Jing Yun, Tetua Feiying tak mengenali Tan Hao. Ia hanya bisa melihat punggungnya saja yang memiliki motif bunga teratai mekar tanpa teringat lambang tersebut.


"Apa kau baik-baik saja, Tetua Fei?" tanya Tan Hao sambil menoleh ke kiri melirik Tetua Feiying.


"Ah iya! Aku baik-baik saja, terimakasih ...."


"Dari sekarang, serahkan sisanya padaku. Kau bantulah pasukan yang lain," pinta Tan Hao tanpa berniat menjelaskan siapa dirinya lebih dulu.


"Ah iya, itu...! Matriark Anggrek Suci juga sedang menghadapi satu orang lagi, aku akan membantu ...."


"Itu bagianku, sebaiknya kau prioritaskan pasukanmu lebih dulu sesuai permintaannya," potong Fen Fang santai tetapi tatapan matanya mencoba mencari keberadaan orang yang dimaksud.


Tetua Feiying mengamati punggung Tan Hao sekali lagi sebelum akhirnya berbalik badan dan melompat ke arah pasukan aliansi.


'Siapa orang itu? Kenapa aku merasa sangat familiar dengan cara bicaranya? Hmm ....' gumam Tetua Feiying sembari menelan pil penambah stamina, pikirannya masih mencoba mengingat sementara matanya memandang ke arah pasukan yang tengah bertarung.


Sementara itu, Yin Fen di buat terkejut dengan ucapan Tan Hao sebelumnya. Terlihat jelas ketegangan di wajahnya, pun begitu dengan tubuhnya yang masih gemetar kecil hanya karena merasakan aura energi yang terpancar dari tubuh Tan Hao.


"Siapa kau berani ikut campur? Apa hubunganmu dengan Ming Yin dan Yin Zhu?" pekik Yin Fen keras sambil menunjuk Tan Hao, dirinya terasa begitu tertekan hanya dari hawa keberadaannya.


Energi berwujud iblis masih berada di depannya namun telah kehilangan tombak pedang dan sebelah lengan, hal itu membuat Yin Fen semakin meradang tapi juga terdapat sedikit ketakutan.


"Aku akan pergi mengurus yang lainnya!" kata Fen Fang setelah menemukan posisi dimana Matriark Zhang Weili berada sebelum akhirnya menghilang begitu saja seperti menembus ruang.


Tan Hao hanya mengangguk pelan kemudian mengeluarkan energi yang dengan segera melingkupi tubuhnya, pikirnya ini merupakan kesempatan bagus untuk mencoba kekuatan baru yang telah ia capai.


Dalam beberapa kesempatan, Tan Hao tak bisa mengeluarkan seluruh kemampuannya maka dari itu dia tak ingin lagi mengulang kesalahan yang sama. Sebagai seorang petarung saint dan bukan lagi disebut seorang pendekar dari alam bawah, membuat kekuatannya tak dapat terdeteksi oleh para pendekar alam bawah kecuali pendekar yang telah mencapai tingkat Alam Dewa Surga tetapi dalam seratus tahun terakhir di alam bumi ini tak pernah ada yang mampu mencapainya dan hanya berujung pada Alam Dewa Api.


"Tanyakan sendiri ke mereka di neraka! Hidupmu sudah berakhir sejak aku datang,"

__ADS_1


JARI DEWA : BAYANGAN PENGHANCUR


HONG!!


SWOSH!!


Tanpa basa basi lagi, Tan Hao langsung mengeluarkan jurusnya. Sebuah energi ungu kehitaman berbentuk satu jari keluar dari jari telunjuk Tan Hao sesaat sebelum Yin Fen menyadarinya.


BOOM!!


Ledakan keras terjadi begitu saja tetapi ekspresi Tan Hao masih sama, jurus yang seharusnya menggunakan pedang dewa surgawi tetapi ia ubah kedalam versi mini.


Disisi lain, Yin Fen menatap tajam. Ia mengeram menahan kemarahan sebab mengorbankan energi wujud iblis hanya untuk menahan satu jurus yang dikeluarkan Tan Hao.


'Orang ini punya kemampuan yang mirip dengan ketua! Sungguh sialan, aku harus bagaimana? Kabur ... Tidak! Tidak bisa semudah itu,' Yin Fen merasa buruk setelah menyadari efek yang ditimbulkan oleh serangan Tan Hao.


Beberapa detik setelahnya Yin Fen menyerang Tan Hao secara langsung, ia menyadari akan kalah jika menggunakan energi jurus. Ia terlihat cukup percaya diri akan kecepatan dan ketangguhan kekuatan fisiknya.


Tan Hao menyambut serangan Yin Fen hanya dengan senyuman tipis, hal itu membuat Yin Fen merasa semakin diremehkan. Sesekali ia mengeluarkan gas racun dari balik genggaman tangannya.


Orang-orang sempat terkesima dengan apa yang mereka lihat, ketakutan tapi juga kagum. Para pendekar topeng emas yang posisinya tak jauh dari tempat keduanya bertarung sedikit banyak tertekan oleh energi yang dikeluarkan Tan Hao.


Tak ada yang spesial dari serangan yang dilancarkan Yin Fen, ia hanya menonjolkan kecepatan dan kekuatan fisiknya. Bagi Tan Hao sendiri serangan itu seperti serangan putus asa yang tidak ada artinya sama sekali.


Satu-satunya alasan dia tak membunuh langsung Yin Fen karena teringat dengan saran dari Ye Yuan kali terakhir. Jika ia telah mampu membangkitkan kekuatan seorang Saint maka menyerap roh iblis merupakan pilihan terbaik untuk meningkatkan kemampuan daripada menyerap roh siluman buas.


Tan Hao tak perlu khawatir akan dikendalikan roh iblis itu jika menyerapnya, sebab di dalam inti rohnya terdapat Chicun Jin Lian. Bukan hanya sebagai penyegel kekuatan dimensi tetapi juga memurnikan segala hal buruk dan jahat yang masuk ke dalam tubuh Tan Hao.


Bisa saja ia membunuh Yin Fen dengan mudah tetapi roh iblis dalam dirinya akan ikut hancur jika ia menggunakan jurus, oleh karena itu Tan Hao memanfaatkan ilusi sementara dirinya dengan mudah menyerap kekuatan dari roh iblis itu.


Tak perlu menghabiskan banyak waktu bagi Tan Hao untuk menjebak Yin Fen ke dalam ilusinya setelah Yin Fen menyerang membabi buta.

__ADS_1


Tan Hao menaikkan sebelah alisnya, 'Aku masih penasaran hubungan antara Roh Iblis dengan Iblis Hati. Apakah keduanya sama atau berbeda, terakhir kali aku berhadapan dengan Iblis Hati adalah saat melawan Senior Yao Yuen dan sampai saat ini tak pernah lagi aku temukan. Hmm ....'


Yin Fen terjebak kedalam Ruang Dimensi yang sebelumnya Tan Hao ciptakan, membuatnya bertarung dan menyerang bayangan Tan Hao saja. Sementara itu Tan Hao sendiri telah bersiap menyambut keluarnya roh iblis dari dalam tubuh Yin Fen, ia menatap tajam rembesan energi hitam yang perlahan mulai keluar.


Sementara itu, Tetua Jing Yun, Raja Tempa dan Kaisar obat datang hampir bersamaan dari sisi berbeda. Itu terlihat seperti mengepung pasukan topeng emas dan hitam dari empat sisi ditambah ada Tetua Feiying disisi lainnya.


Pasukan aliansi aliran putih-netral bersorak sorai melihat kehadiran para pendekar jagoan yang mereka segani. Hal itu disambut mereka dengan menambah daya serang karena kepercayaan diri yang meningkat drastis. Praktis hal itu membuat pendekar aliran hitam tertekan.


"Kemenangan milik kita."


"Iya benar. Tidak ada alasan bagi kita untuk kalah."


"Lihat disana! Kaisar Obat Yao Yuen juga telah datang. Kita tak perlu takut lagi cedera ataupun terluka."


"Apakah ini kenyataan! Empat dari lima orang jagoan aliran putih berkumpul ditempat ini. Oh ... Aku harus menunjukkan kemampuanku di depan mereka."


Para pendekar dari aliansi aliran putih bertarung dengan keberanian dan semangat yang tinggi, mereka masing-masing menunjukkan keahlian yang berbeda dari yang sebelumnya.


Tak dipungkiri lagi memang, empat orang itu telah terkenal di seluruh penjuru Benua Perak. Bahkan orang-orang yang mengagumi mereka menjuluki mereka sebagai Jagoan Tanpa Tanding.


Lima orang yang terkenal karena formasi bertarung mereka yang tak terkalahkan seperti anak panah, Tetua Jing Yun sebagai ujung tombaknya, sementara di kedua sisi ada Patriark Sun Sian dan juga Tetua Feiying. Sementara dibelakangnya ada Raja Tempa dan yang berada di paling belakang ada Kaisar Obat.


Tetapi, ketidakhadiran Patriark Sun Sian membuat mereka tak bisa memperlihatkan formasi serangan. Tetapi hal itu bukan menjadi masalah, kehadiran mereka yang terlihat memimpin dari empat sisi membuat pendekar topeng emas dan hitam mau tidak mau menambah daya serang maupun kekuatan mereka.


Tidak adanya pendekar Topeng Merah Darah membuat mereka kehilangan arah serangan, terlihat dari pergerakan mereka yang tak terorganisir berbanding terbalik dengan pergerakan pasukan aliansi aliran putih-netral.


Dari tempat lain, Selir Xinxin mengumpat kesal. Dia melihat dari bola kristal semua hal yang terjadi di pertempuran termasuk apa yang sudah di dapatkan Nian Zhen.


"Untuk apa kau bersikap seperti itu? Bukankah ini sesuai rencanamu...! Mereka menang disini tapi tidak disana ...."


"Heh, apa kau kira mengorbankan pasukan sebanyak itu murah?" sahut Selir Xinxin melirik tajam.

__ADS_1


"Ya ya ya, terserah kau saja! Yang penting sekte ku aman," balas Mu Yuan mengalah sambil membalas lirikan selir kesayangan Raja Yan itu.


__ADS_2