Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 187 ~ Penginapan Rembulan Merah


__ADS_3

Fen Fang menyudahi pembicaraannya kemudian mendekat ke meja makan. Meskipun pembawaannya santai namun terlihat jelas kalau ekspresinya menunjukkan hal lain.


Sementara Tan Hao telah mulai menyantap makanan bersama Lan Lihua setelah kedua gadis yang merangkap sebagai pelayan kedai sekaligus pelayan penginapan itu kembali ke tempat mereka.


"Apa kau sudah melihatnya? Ku pikir kau sudah paham maksud perkataanku beberapa waktu lalu," ujar Fen Fang sembari mengambil tempat duduk untuk kemudian mulai meraih gelas arak.


Tan Hao meletakkan kembali sumpitnya, "Apa yang terjadi? Kenapa gadis itu seperti baru saja disiksa? Dan aku lihat Tuan Han itu juga tidak terlalu sehat!" tatapan Tan Hao tertuju ke dua arah berbeda dalam satu waktu untuk beberapa saat, sebelum akhirnya menuangkan arak untuk Fen Fang.


Lan Lihua sendiri diam-diam masih memperhatikan gadis yang memiliki luka di tubuhnya itu, gadis itu terlihat sedang duduk dengan tatapan kosong didekat meja samping pintu dapur yang letaknya hanya beberapa meja dari Lan Lihua.


Fen Fang diam sesaat untuk kemudian meneguk arak, setelah itu kembali menajamkan mata kearah gelas yang ia letakkan, "Menurut cerita Tuan Han, beberapa hari yang lalu di tempat ini ada sekelompok pendekar yang mengatasnamakan diri mereka sebagai Harimau Gunung, bukan hanya menjarah harta benda tetapi juga menghancurkan bangunan kedai sebelumnya. Dan puncaknya, kedua anak gadis Tuan Han dijadikan bahan mainan ...!"


Setelah membuang napas berat Fen Fang melanjutkan, "... Tuan Han di pukuli, sementara salah satu anak gadisnya yang menolak keinginan mereka di siksa cambuk. Mereka yang terdiri dari delapan orang itu mengikat lalu menyiksa sementara yang lain mengerjai tubuhnya, alasan itu yang membuatnya kini diam seperti orang tak waras beberapa hari ini."


Apa yang diceritakan Fen Fang berhasil membuat Lan Lihua bereaksi keras, sampai membuat mangkuk yang ia pegang pecah berkeping-keping. Sementara sorot matanya sangat tajam, bahkan Tan Hao terkejut dengan reaksi Lan Lihua yang masih mengepalkan tangannya.


"Harimau Gunung ini apakah semacam perampok atau pendekar dari sekte aliran hitam? Beberapa hari lalu...! Bukannya sebelum perang di Desa Hibei ya!" Tan Hao terlihat sedang berpikir setelah lepas dari keterkejutannya.


Fen Fang tersenyum tipis sembari mengambil daging menggunakan sumpit, "Mereka itu seperti perkumpulan pendekar terbuang yang membentuk sebuah kelompok, bisa juga dibilang mereka perampok kelas teri untuk ukuran jumlah orang!"


"Kapan mereka terlihat terakhir kali dan dimana?" sahut Lan Lihua cepat, nampak raut wajahnya menunjukkan ketegangan penuh makna.


"Hmm ... Kendalikan emosimu Hua'er! Tidak akan lama kita akan bertemu mereka,"

__ADS_1


Fen Fang sedikit kaget dengan reaksi Lan Lihua yang seperti itu, tak disangkanya kalau wanita dingin dan ketus tersebut tertarik dengan urusan soal perampok.


Pemilik Penginapan yang memiliki nama Han Song itu mendekati ketiganya, jelas dari raut wajah serta gerak tubuhnya menunjukkan kalau dirinya tengah tertekan. Tatapannya juga terlihat sedang tidak pada tempatnya, meskipun ia masih mempertahankan senyum ramah.


Tan Hao menyadari hal itu namun ia berpura-pura tak mengetahuinya, sedangkan Lan Lihua masih sibuk berdebat kecil dengan Fen Fang.


"Tuan pendekar, bagaimana masakan kami? Apakah ada yang kurang memuaskanmu? Kami akan menggantinya jika tuan berkenan," sapa Han Song ramah kepada Tan Hao, sebelum kemudian mengambil tempat duduk di sisi lainnya.


"Tidak ada masalah, kami menyukainya. Mungkin ada hal lain, Tuan Han?" Tan Hao menatap datar Han Song sembari meletakkan gelas araknya.


Entah apa yang dipikirkan pemilik penginapan tersebut, dia terang-terangan langsung meminta Tan Hao untuk membantunya. Cerita yang disampaikan kepada Fen Fang sebelumnya, kini ia lengkapi dengan sangat jelas dan berdasar.


Lan Lihua dan Fen Fang langsung diam ketika Han Song mulai bercerita sembari menahan tangis sementara tubuhnya nampak bergetar.


Hampir dua jam lamanya Han Song menjelaskan semuanya, tak ada yang terlewat yang bisa ia katakan. Pikirnya, Tan Hao dan Fen Fang sebagai pendekar tingkat tinggi mampu membantunya untuk lepas dari jerat perampok gunung yang setiap seminggu sekali akan datang mengambil persediaan makanan dan uang.


Rencana mereka untuk dapat tidur beristirahat harus sirna, sebab pagi sudah hampir menjelang. Han Song terlalu bersemangat dalam bercerita tentang perampok yang menguasai wilayah tersebut beberapa bulan terakhir.


Dari semua cerita yang ia dengar, Tan Hao mengambil kesimpulan bahwa pendekar yang merampok ini bukan orang-orang yang bertindak atas dasar bersenang-senang.


'Berdasar ciri-cirinya, kemungkinan orang-orang ini dari sekte Golok Bara Api...! Heh, jika benar mereka. Aku akan sangat menantikannya,' Tan Hao memegang dagunya sembari mengangguk pelan.


"Seharusnya hari ini mereka akan datang lagi, sebagai seorang ayah bahkan aku tak mampu melindungi kedua putriku. Tuan pendekar, mohon bantu kami lepas dari mereka. Kami akan berikan seluruh harta yang tersisa sebagai imbalannya ...!" Han Song langsung berlutut sembari menundukkan kepalanya ke lantai.

__ADS_1


Tan Hao terkejut dengan itu dan langsung berdiri dari duduknya, "Paman Han, jangan seperti ini! Aku berjanji akan menyelesaikan mereka tanpa imbalan apapun. Jangan pikirkan hal itu, sebaiknya paman menyiapkan diri,"


Fen Fang beranjak dari duduknya kemudian keluar tanpa berbicara sepatah kata pun. Sementara Lan Lihua memandang iba Han Song dengan mata nanar.


Kedua anak gadis Han Song langsung mendatangi ayahnya begitu melihat ayahnya berlutut pada seorang pemuda.


"Ayah, apa yang kau lakukan? Dia tak akan sanggup berbuat apa-apa! Bahkan Kak Yin Song yang seorang Pertapa Ahli Puncak saja hampir kewalahan"


"Han Ning...! Jaga bicaramu? Cepat minta maaf!" Han Song berseru lantang mendengar putri tertuanya bersikap tidak sopan dengan merendahkan orang lain.


"Tuan Hao, maafkan putriku! Aku kurang mendidiknya dengan baik!"


Tan Hao tersenyum tipis kemudian menepuk kedua bahu Han Song, "Tidak masalah paman! Aku mengerti perasaan putri paman,"


DUAR!


"Han Song!! Keluar kau...! Beraninya menyuruh orang untuk melawan kami!"


Tan Hao terkejut sesaat ketika terjadi ledakan yang berasal dari luar penginapan. Sementara Han Song dan kedua putrinya langsung lemas gemetaran.


"Tu-tuan, mereka datang! Aku mohon, tolonglah kami?" pinta Han Song memelas, terlihat pipinya berderai air mata.


"Tenanglah paman! Sebaiknya kalian bersembunyilah ...!" ujar Tan Hao sambil tersenyum kemudian berbalik badan melangkah keluar.

__ADS_1


Di luar penginapan ada lima orang bersenjata golok tengah bersiap, sementara salah satu diantaranya sedang menginjak kepala seorang pendekar yang terlihat babak belur.


"Han Song!! Keluar atau ku bunuh adik kesayanganmu ini...!"


__ADS_2