Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 76 ~ Niat Tersembunyi


__ADS_3

Tan hao merasa apa yang dikatakan Leluhur Lan ada benarnya. Selama ini Ye Yuan memang tak pernah muncul, ia bahkan tak sekalipun hadir di dalam alam pikiran Tan Hao.


"Sayangnya aku tak cukup tau apa yang membuatnya tak muncul,-!! Ah sudahlah?! Lebih baik aku ke tempat Hua'er." batin Tan Hao sembari mencoba berdiri.


Sementara itu, Ye Yuan merasa getir. Meskipun ia berada jauh di dalam jiwa Tan Hao, tetapi ia dapat mendengar dengan jelas apa yang di katakan Leluhur Lan maupun isi hati Tan Hao.


Ye yuan sendiri saat ini tengah berada di kondisi terlemahnya, apa yang dialami Tan Hao juga berdampak padanya.


Dimensi Suci membuatnya kembali muda, bisa dikatakan wujud Ye Yuan menjadi anak-anak.


Bisa diartikan Ye Yuan saat ini kembali liar saat sebelum bertemu dengan Tan Hao. Namun tak mengubah fakta bahwa dia dan diri Tan Hao masih menjadi satu bagian. Hanya yang membedakan jika dalam pertarungan sebelumnya, Ye Yuan dapat membantu dengan seluruh kekuatannya, saat ini jika Tan Hao bertarung, maka yang bisa ia gunakan hanyalah kekuatan Ye Yuan yang telah ada di dalam dirinya saja.


Tanpa sepengetahuan Tan Hao, Leluhur Lan memberikan sesuatu yang tak disadarinya ketika menepuk pundak Tan Hao.


"Ahh, sudah lama aku tak merasakan sensasi seperti ini." gumam Tan Hao kecil dalam laju larinya.


Tempat latihan Tan Hao dan Lan Lihua memang berada jauh dari tempat tinggal mereka. Pegunungan Hewan Buas, termasuk sisi luar dari Benua Naga namun tidak pernah ada yang menginjakkan kaki ditempat itu, meskipun sumber daya begitu melimpah.


"Berat langkah masa lalu disambut haru secerca harapan. Di dalam jiwa terdapat lukisan fana karma kehidupan."


"Kekuatan mutlak tak ada yang abadi, kesombongan berakhir dalam dunia suci."


"Lenyapkan emosi tundukkan nafsu, kendalikan diri di dalam dunia semu."


Terlihat Lan Lihua merapalkan tiga kalimat yang berulang-ulang, bersamaan dengan itu disekitar tubuhnya memancarkan cahaya terang.


Bukan itu saja, Lan Lihua yang tengah duduk bersila diatas batu besar nampak melayang, jika dilihat dari kejauhan maka cahaya terang disekitar tubuhnya nampak persis seperti bunga Teratai yang sedang mekar.


Tan Hao terkejut melihat kejadian itu ketika baru saja sampai.


"Ahh?! Mungkinkah Dewi Kehidupan telah lahir kembali,-!!" batin Tan Hao sejenak kemudian menjejakkan kakinya ditanah.


"Tak ku sangka?! Di dunia ini ada yang namanya kebetulan? Disaat kekuatanku telah pulih dan bahkan terasa lebih kuat dari sebelumnya. Kini diwaktu bersamaan, Hua'er telah berhasil membangkitkan jati dirinya." gumam Tan Hao dengan masih memandangi tubuh melayang Lan Lihua.

__ADS_1


Terlihat sinar terang yang menyelimuti Lan Lihua meredup yang bersamaan dengan itu tubuhnya perlahan turun.


"Oh?! Apakah sudah selesai? Ngomong-ngomong aku tak melihat Paman Feng sejak tadi? Mungkinkah Hua'er melakukan itu seorang diri?" batin Tan Hao sembari berjalan mendekati Lan Lihua yang masih memejamkan kedua matanya.


Tan Hao bisa merasakan dengan sangat jelas perubahan aura energi pada diri Lan Lihua setelah berhasil membangkitkan jati dirinya.


"Apakah aku membuatmu terkagum sekarang, hehh,-!!" ucap Lan Lihua sesaat membuka kedua matanya.


Ia terlihat begitu dingin namun gaya bicaranya tetaplah dirinya yang dulu.


"Kupikir seseorang akan berubah lembut setelah terlahir kembali,-!!" balas Tan Hao sambil mengangkat pelan kedua bahunya.


Lan Lihua hanya membuang muka polos, sesaat setelah itu ia melompat turun dari batu besar kesisi depan Tan Hao.


"Sebelum pergi, Ayah menyuruh kita untuk menemukan sebuah pusaka yang beberapa hari terakhir kemunculannya sudah diketahui khalayak. Ayah berpesan, jika dia tidak menginginkan pusakanya melainkan apa yang ada bersamanya." kata Lan Lihua sembari menunjukkan wajah polosnya.


"Pusaka?!! Pusaka seperti apa yang dimaksud? Apakah kau tau letak tempatnya?!" sergap Tan Hao cepat.


"Aku tidak tau jelas tetapi kata ayah kalungku lah yang akan menunjukkan letak tempatnya. Masalahnya, arah dari yang ayah katakan berada ribuan mil dari sini. Semua orang mengira itu terletak di dekat Kota Huizhu, tapi ayah mengatakan tidak, itu hanyalah bentuk lain dari perlindungan alaminya. Yang pasti, letak tempatnya jauh lebih dalam di Benua Naga. Tempat yang sangat berbahaya, Pegunungan Hewan Buas." kata Lan Lihua menjelaskan dengan gestur kedua tangannya.


"Ini bukan soal menemukan dan memilikinya namun ini soal latihan kita, kata ayah. Pusaka dan benda yang ada bersamanya hanya hadiah dari keberhasilan kita dalam mencapai titik tertinggi latihan,-!! Lalu, bagaimana?!"


Tan Hao tersenyum penuh makna beberapa saat lamunannya, terlihat raut wajahnya begitu cerah seperti telah mengetahui sesuatu.


"Baiklah. Sesuai perintah Paman Feng?! Kita akan pergi berlatih di Pegunungan Hewan Buas. Dan memberikannya benda yang paman inginkan." kata Tan Hao penuh keyakinan.


"U-um." jawab singkat Lan Lihua sembari mengangguk mantab.


Kemudian keduanya kembali kerumah menyiapkan keperluan serta meminta restu Leluhur Lan sebelum pergi.


•••


"Hei, gara-gara dirimu kita jadi kesiangan,-!! Jika kita keduluan orang lain, kau yang lebih dulu kubunuh." seru Liu Zey dengan menunjuk tajam Su Kong.

__ADS_1


Sementara Su Kong hanya tersenyum getir sembari membatin.


"Aihh, dasar wanita landak?! Bukankah salahmu sendiri tidur di dekat perapian sedangkan menyuruhku tidur lebih jauh. Kau yang cukup hangat sedangkan aku kedinginan tetapi kenapa malah kau yang marah-marah."


Su Kong juga tak menyangka bahkan dirinya juga tidur seperti terlelap padahal ia tidur dengan menahan dingin.


"Iya..iya baiklah,!! Ini salahku." balas Su Kong sekenanya.


Liu Zey nampak marah namun reaksi yang ditunjukkan Su Kong membuat kemarahannya lambat laun mereda.


Hingga pada akhirnya Liu Zey tak lagi mempermasalahkannya setelah beberapa kali adu mulut.


Setelah beberapa saat keduanya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan tetapi sebelum itu keduannya menyantap beberapa makanan ringan sebagai sarapan seperlunya.


"Hehh,-!! Kupikir sehebat apa?! Hanya karena Racun Kodok Pelelap saja tidak mampu dia atasi. Aku terlalu memandang tinggi dia." batin Hung Shun setelah melihat sikap Liu Zey dan Su Kong di salah satu puncak pohon.


Setelah kejadian beberapa waktu sebelumnya, Jari Setan menilai Liu Zey maupun Su Kong memiliki informasi lebih tentang benda Pusaka yang ia cari.


Tanpa terpikir cara lain, Hung Shun mengikuti keduanya secara sembunyi-sembunyi dan bahkan meninggalkan dua rekan lainnya.


Namun, apa yang dipikirkan Hung Shun nyatanya tak benar, Liu Zey sejak awal memang telah mengetahui keberadaannya.


Hung Shun yang terkenal sebagai Jari Setan di buat terkejut hingga membuat dirinya hampir terjatuh.


"Tidak baik mengintip orang lain seperti itu?!"


Sapaan halus tepat di belakangnya yang membuat Hung Shun terkejut. Hingga sejenak kemudian ia tersadar, itu adalah Liu Zey dengan senyum tipisnya menatap dingin Hung Shun.


"Apa?! Bagaimana mungkin gadis ini,-!! Bukankah baru saja aku melihatnya di gubuk, mengapa aku tak melihat atau bahkan merasakan pergerakannya." batin Hung Shun disertai senyum getir.


Hung Shun menatap penuh tanya dan sesekali melirik kearah gubuk tua sebelumnya.


"Aku tak bermaksud jahat pada kalian?! Hanya saja aku merasa penasaran dengan apa yang sudah kalian ketahui mengenai benda itu." kata Hung Shun membela diri.

__ADS_1


Jelas apa yang ia katakan bukanlah hal sebenarnya, ia hanya tak memiliki cara yang bagus untuk mengelak dari Liu Zey.


__ADS_2