Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 49 ~ Pemilik Giok Dewi Bulan


__ADS_3

"Ayah, kenapa kita harus repot-repot merawat orang yang bahkan tidak kita kenal. Bahkan dia tidur selama 3 tahun tanpa pernah bangun sekalipun. Aku pikir dia sudah mati.. kenapa kita tidak memakamkan saja dia".


Terlihat seorang gadis muda menggerutu pada ayahnya yang sedang duduk di kursi yang bergoyang maju mundur sambil membaca sebuah buku.


Meskipun menggerutu dengan kasar, namun dia tetap berhati-hati mengelap tubuh seorang pemuda yang tengah berbaring di ranjang kayu sederhana.


"Hua'er.. jaga sikapmu. Ayah tidak pernah mengajarkan perhitungan dalam membantu orang yang dalam kesulitan. Dan lagi dia tidak mati, Leluhur bilang jiwa nya masih berkelana. Tugas kita adalah menjaga dan merawatnya, setelah Leluhur pulang nanti. Kita akan tahu apa penyebab jiwa nya belum kembali." sanggah keras pria berpakaian dan berambut putih itu dengan tatapan tajam.


"Tapi ayah.. aku sudah.."


"Diam dan lakukan tugasmu". sergap pria itu dengan tegas.


"Huft." gadis itu hanya membuang muka dengan raut wajah sebal dengan kedua pipi mengembung.


Gadis itu dengan wajah polos sebalnya masih mengelap tubuh terbaring pemuda dengan kain basah yang sesekali menghela nafas pendek.


Perawakan Ayah dari gadis itu cukup aneh, bagaimana tidak, pakaiannya putih dengan jubah panjang menjuntai bahkan kaki dan tangannya tertutupi seluruhnya. Berambut putih panjang dengan kumis dan jenggot tebal panjang juga berwarna putih. Bahkan alis matanya juga putih tebal.


"Sudah tiga tahun dua bulan yaa, sejak kemunculan energi di langit saat itu. Lalu, pemuda ini?. Ahh, entahlah. Aku hanya bisa menunggu Leluhur Lan kembali". batin pria tua itu dengan melirik dengan sebelah alis terangkat ke arah pemuda yang terbaring yang memakai pakaian Setelan Ungu kebiruan itu.


Pria tua itu meletakkan bukunya di pangkuannya, kemudian menyandarkan kepalanya sambil memejamkan matanya dengan tenang mengikuti ayunan kursi.


Pria tua terlihat tersenyum tipis sambil membayangkan masalalu.


Dalam bayangan ingatannya, ia bersama putri satu-satunya yang ia adopsi setelah menemukannya berada di dalam keranjang terseret arus sungai saat masih bayi itu sedang mencari ikan di pinggir sungai dekat dengan perbatasan Benua Naga bagian barat.


Mereka tengah bersama seorang yang sepuh berperawakan tambun pendek dengan kumis panjang bergelombang sedang memancing, sedangkan anak gadis pria tua itu terlihat sedang asik bermain bersama binatang-binatang kecil seperti kelinci dan kucing hutan.


"Feng Zhenzhu, apa kau sudah memberitahu gadis kecil itu tentang kebenaran dirinya?" kata pria sepuh itu dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Ahh soal itu.. Aku belum menemukan waktu yang tepat Leluhur Lan?. Lihua sudah ku anggap anak kandungku sendiri, bahkan namanya pun aku ambil dari marga Anda. Aku selalu merasa berat ketika ingin mengatakannya." Pria tua yang di panggil Feng Zhenzhu itu menekuk wajahnya yang terlihat sedih dengan helaan nafas ringan.


"Dia sudah 14 tahun, usia yang sudah cukup matang untuk mengetahui kenyataan bahwa dirinya memiliki tubuh Dewi Suci. Yang telah ditakdirkan untuk menjadi petunjuk arah jodohnya. Kalung Giok Dewi Bulan yang ia miliki akan mempertemukannya dengan orang yang menjadi jodohnya. Seorang yang memiliki tugas dewa, yang akan memulai ulang dunia. Cepat atau lambat." Pria sepuh itupun menarik pancingnya pelan sambil berkata panjang lebar dengan ekspresi senang.


Sesaat kemudian dia mendapatkan ikan berukuran sedang, terlihat dia begitu senang. Sangat berbeda ekspresi wajahnya beberapa saat yang lalu.


Sementara itu Feng Zhenzhu masih tertunduk lesu dengan ekspresi membenarkan pernyataan Pria Sepuh itu.


"Cucuku, Hua'er.. lihatlah kakek mendapatkan ikan besar. Kakek bahkan lebih hebat dari ayahmu, hahhaha. Ayo kita pulang dan memasaknya. Kita tinggalkan ayahmu yang payah ini." dengan tingkah bodoh kegirangan Pria sepuh itu melompat lompat kecil sambil mengangkat ikan di tangannya sembari memanggil gadis itu.


Gadis manis yang bernama Lan Lihua itu pun seketika berekspresi senang dengan serta berlari ke arah Pria sepuh itu.

__ADS_1


"Wooaahh.. Kakek Lan ini benar-benar ikan yang besar."


Beberapa saat kemudian. Kakek dan cucu itupun berjalan dengan konyolnya sambil sesekali tertawa lantang menyusuri jalan setapak di pinggir aliran sungai.


"Tch... kedua orang ini sama bodohnya." gumam pelan Feng Zhenzhu dengan muka polos datar yang berjalan di belakang kakek dan cucu itu.


Walaupun gadis itu sudah berumur 14 tahun tapi tingkah polahnya tidak ubahnya seperti anak-anak. Sifat yang sama seperti kakeknya.


Membuat Feng Zhenzu kadang merasa seperti sedang mengasuh dua anak kecil.


Akantetapi, Feng Zhenzhu tahu benar jika sikap serta sifat Pria Sepuh itu akan berubah kejam dan dingin ketika sedang bertarung ataupun berhadapan dengan orang asing.


Ditengah perjalanan mereka kembali ke rumah, mereka melihat seorang pemuda tergeletak diatas batu di pinggir sungai.


Dengan sigap Feng Zhenzhu mendekati serta memeriksa kondisi pemuda itu.


Feng Zhenzhu menghela nafas panjang saat mengetahui pemuda itu hanya pingsan.


Namun, ekpresi berbeda ditunjukkan Pria Sepuh itu.


Singkat cerita, pemuda itu dibawa kerumah mereka. Kemudian Pria Sepuh itu memeriksa kondisinya lebih detil lagi.


Terlihat Feng Zhenzhu mengerutkan dahi sementara Lan Lihua hanya diam tanpa ekspresi disamping tubuh pemuda itu yang sesekali menekan nekan pipi pemuda itu dengan ujung jarinya.


Setelah selesai memeriksa, Pria sepuh itu berdiri kemudian berjalan keluar tanpa menjawab pertanyaan Lan Lihua.


"Feng, kau harus menjaganya. Pemuda itu belum mati tetapi jiwanya sedang berkelana. Aku akan mencoba menolongnya. Tapi butuh waktu 3 tahun untuk mengumpulkan semua yang di butuhkan. Aku akan pergi sekarang. Pastikan tidak ada orang yang tahu dia berada disini." kata Pria sepuh itu dengan menepuk pundak Feng Zhenzhu lalu menghilang secepat angin.


Feng Zhenzhu hanya diam mematung karena belum sempat ia bertanya lebih lanjut, Pria sepuh itu telah menghilang.


"Ayah, coba lihat. Jari pemuda ini akhirnya bergerak. Apakah dia akan segera bangun." seruan Lan Lihua membuat Feng Zhenzhu segera tersadar dari ingatan masalalunya.


Meskipun raut wajah Feng Zhenzhu sedikit kecewa karena bayangan masalalunya yang terhenti. Namun, ekspresinya berubah ketika melihat apa yang dikatakan Lihua benar. Ujung Jari-jari pemuda itu bergerak lemah.


Membuat Feng Zhenzhu begitu bahagia.


•••


Sementara itu, di perbatasan antara Lembah Hijau dan hutan kota Shuning bagian luar. Pasukan yang di pimpin oleh Patriark Sun nampak tengah beristirahat. Pancaran sinar bulan tertutupi awan gelap tipis dengan udara dingin menelisik. Membuat suasana terasa begitu mencekam yang ditambah dengan keheningan.


Tan Hao beserta empat gadis yang mendampinginya juga sudah bergabung. Namun mereka berada di sisi bagian lain dari tempat pasukan pendekar itu berada.

__ADS_1


Perjalanan ke Markas Sekte Lembah Hijau masih menyisakan setengah perjalanan lagi. Untuk menghemat tenaga, Patriark Sun memutuskan untuk beristirahat dan melanjutkannya ketika pagi masih gelap.


Beberapa Pendekar membentuk kelompok kecil dan membuat api unggun kecil untuk sekedar menghangatkan badan.


Sedangkan Empat Tetua Tombak terlihat duduk di atas batang pohon dengan arah pandangan menghadap keempat sisi.


Patriark Sun dan Matriark Zhang beserta dua pengawalnya duduk di depan api unggun kecil berseberangan sisi.


"Patriark, aku masih penasaran. Sebenarnya seberapa kuat pemuda itu. Yang aku lihat, dia hanya seorang pemuda yang dikerumuni empat gadis cantik." kata Matriark Zhang Weili pelan dengan menghadap api unggun disertai lirikan ke arah Tan hao yang sedang duduk bersandar di atas batang pohon beserta empat gadis di bawahnya juga duduk bersandar.


Meskipun pelan namun Tan hao dengan jelas mendengar perkataan Zhang Weili dan hanya pura-pura tak mendengar dengan senyum tipis sesaat memejamkan mata.


Patriark Sun tersenyum tipis dengan pandangan kearah api di depannya.


"Hehh.. Hanya butuh salah satu dari empat gadis itu untuk mengalahkanmu, bahkan sebelum kau mampu mengeluarkan jurus terhebatmu."


Perkataan Patriark Sun dengan nada datar membuat Matriark Zhang terkejut hingga tersedak nafas sendiri. Dengan setengah melotot tajam.


Sesaat kemudian dia mengamati empat gadis yang bersandar dengan posisi santai sambil memegang senjata mereka. Hanya satu gadis yang ia lihat tidak memiliki senjata.


Matriark Zhang mengamati satu persatu dari mereka seperti sedang mencaritahu sesuatu.


"Ahh, Aku pikir itu omong kosongmu. Tapi kenyataannya aku tak bisa melihat tingkatan mereka, Gehhehe.." ucap ringan Matriark Zhang dengan tawa kecil.


"Tch, dasar wanita tua. Lihat dengan jelas, senjata yang mereka pegang. Hmm, aku berbaik hati memberitahumu, gadis yang memegang busur itu adalah yang terlemah diantara mereka, tapi percayalah jika bertarung hidup mati denganmu. Dialah pemenangnya." sergap Patriark Sun Sian dengan senyum tipis sambil melirik.


Keterkejutan Matriark Zhang berlanjut ketika menyadari bahwa ketiga gadis itu memiliki Senjata Pusaka tingkat tinggi. Yang bahkan dirinya pun tak memilikinya.


Tatapan tidak percaya menghiasai wajah Matriark Zhang dengan mengalihkan pandangannya ke api di depannya.


Setelah itu tak ada lagi pertanyaan, seperti telah kehabisan kata-kata.


Sementara itu Tetua Tiandou terlihat sedang duduk bersila di atas batang pohon. Tubuhnya mengeluarkan aura tipis berlapis, namun tidak memancarkan kekuatan.


Malam semakin Larut, dengan hawa dingin semakin menderu. Menunjukkan pagi akan segera tiba.


Meskipun tak ada yang benar-benar tidur, tapi mereka semua terlihat memejamkan mata dengan sebagian duduk bersandar sebagian yang lain masih di depan api unggun.


Ditengah terpejamnya mata Tan hao. Dirinya melihat sosok pria yang duduk di singgasana emas dengan dua mata besar di atasnya seperti sedang menatapnya tajam penuh nafsu membunuh.


Seketika itu Tan hao bangun dengan tergagap hingga hilang keseimbangan lalu terjatuh ke tanah.

__ADS_1


Ekspresi wajahnya begitu pucat, selama ini Tan hao tak pernah mengalami ketakutan hebat seperti ini.


"Hoh..hoh..hoh..Sosok itu lagi. Sebenarnya siapa orang itu. Kekuatannya begitu besar sampai membuatku merinding. Siiaall."


__ADS_2