Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 66 ~ Langkah Tan Hao


__ADS_3

Semalaman Tan hao tak bisa tidur, ia masih tetap duduk di kursi panjang hingga matahari mulai terbit. Tan hao bukan hanya memikirkan tentang mimpinya semata tapi juga hal lain. Mengenai kekuatannya, mengenai permintaan Dewi LianHua, mengenai Biji Teratai yang ia terima dan masih banyak hal lain lagi.


Dengan begitu banyaknya permasalahan yang akan ia hadapi, Tan hao masih belum bisa menentukan jalan terbaik yang akan ia pilih. Semua pikiran yang ada menjadi semakin rumit karena dipikirkan secara bersamaan.


Hingga matahari telah mulai meninggi pun, Tan hao masih memandang kosong ke arah kota Foshan. Lamunan panjang yang tak menghasilkan jawaban apapun.Membuat Tan hao bingung dengan dirinya sendiri.


Lamunan Tan hao akhirnya berakhir ketika pundaknya disentuh oleh Lan Lihua dari belakang.


"Apa kau terlalu mabuk sampai tak tidur semalaman,-!! Aku khawatir kau akan kembali sekarat karena hal sepele seperti ini." sapa Lan Lihua dengan jelas namun senyumnya begitu manis mengandung keramahan.


Pakaian serba putih dengan selendang panjang dikedua sisi pundaknya yang melilit ringan kedua tangannya menjadi penampilan feminin pertama yang Lan Lihua kenakan selama ini.


Bahkan rambutnya tak lagi tergelung, terurai indah dengan mahkota sayap berwarna biru di atas kedua telinganya menjadikan penampilan Lan Lihua begitu mempesona.


Suatu keanehan bagi Tan hao yang biasanya selalu bersikap berlebihan ketika melihat wanita cantik, tetapi sekarang ia hanya menatap kosong Lan Lihua yang berjalan di samping Tan hao mencoba duduk di dekatnya.


"Ah kau,-!! Tidak, aku hanya ingin melihat matahari terbit saja." kata Tan hao singkat tanpa reaksi apa apa.


"Tak usah berbohong,-!! Aku takut bahwa aku mengetahui bahwa kau saat ini sedang rumit." sergap Lihua sambil memandang kearah Tan hao memandang.


Tan hao tersenyum tipis dengan sedikit tawa kecil.


"Hehh.. Apakah kau pernah merasa seperti seluruh dunia menekanmu dari segala sisi."


"Aku bahkan pernah merasakan lebih buruk dari itu, tidak ada jalan yang mudah untuk di lewati meski kita berada di istana megah dengan batu giok sebagai pijakan, selalu akan ada hembusan angin atau bahkan diri kita sendiri yang menyulitkan."


Lan Lihua melirik Tan hao sesaat kemudian memandang lurus kearah Kota Foshan sambil memegang kalung yang ia kenakan.


"Antara kau memiliki kekuatan yang hebat atau tidak memilikinya sama sekali, itu sama saja. Semua yang kita jalani sesuai dengan apa yang kita miliki,-!! Dulu aku merasa kalung ini memberikanku kekuatan luar biasa dan aku berfikir akan mampu menembus sesuatu yang paling tinggi tapi pada kenyataannya,-!!"

__ADS_1


Tan hao menggeleng pelan dengan tawa kecil seolah membenarkan pernyataan Lan Lihua. Dirinya sadar benar bahwa apa yang dikatakan Lan Lihua pernah ia rasakan juga.


"Lalu, saat ini apa keputusan yang kau buat untuk masa depanmu,-!! Maksudku tentang jalan yang akan kau lalui." kata Tan hao dengan memandang mata Lan Lihua yang lebih dulu memandang dirinya.


Lan Lihua tersenyum manis, hembusan angin menerpa rambutnya yang semakin membuatnya begitu manis.


"Aku akan melalui jalan tersulit, bahkan jika itu mengorbankan nyawaku dan kuharap kau masih berada disampingku."


Tan Hao tersentak merona, pandangannya kesana kemari seperti tersipu malu namun tidak terlihat berlebihan. Melihat senyum Lan Lihua yang begitu manis membuat jantungnya berdetak lebih cepat, suatu hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


Bahkan ketika melihat senyum Ran Liu yang merupakan wanita paling cantik yang ia temui tak sebanding dengan senyum Lan Lihua. Lan Lihua terlihat begitu berbeda dari pandangan Tan hao. Meskipun dirinya saat ini tak terlalu tertarik dengan wanita seperti saat dulu namun entah kenapa dalam hatinya merasa ada sesuatu yang terasa mengganjal.


"Jika begitu, maukah kau bersamaku melewati jalan terjal yang akan ku tempuh." kata Tan hao pelan.


"Umm." sergap Lan Lihua singkat dengan senyuman khasnya disertai anggukan ringan.


Tan hao kehabisan kata-kata mendengar jawaban yakin Lan Lihua yang cepat dan singkat. Dirinya merasa mendapatkan angin segar yang menerpa tubuh dan memenuhi setiap sendinya.


Disisi lain, Feng Zhenzu melihat keduanya dengan tersenyum. Meskipun jauh, tapi ia bisa dengan mudah mendengar setiap percakapan yang terjadi antara keduanya.


"Ku harap, aku masih memiliki cukup usia saat melihat kalian berada di puncak paling tinggi di Alam Bumi ini. Berusahalah, Hua'er.. Tan'er..-!! Jodoh dari langit atas kalian. Aku yakin." batin Feng Zhenzu yang kemudian berlalu pergi meninggalkan Tan hao dan Lihua.


•••


Ketika Lan Lihua pergi untuk menyiapkan sarapan, Tan hao mencoba mengaktifkan Mata Dewa miliknya. Ia merasa harus mengetahui dengan jelas kekuatan yang tersisa pada dirinya saat ini.


Tan hao berfikir untuk memeriksa Mata Dewa miliknya apakah masih ada atau sudah hilang bersama kekuatannya.


Dimensi Suci yang dikatakan Dewi LianHua sungguh membuat Tan Hao penasaran. Sebuah Dimensi kosong yang memiliki kekuatan luar biasa, bahkan Dewi LianHua pun tak bisa mengendalikannya walau bisa menggunakannya. Sebuah Dimensi luar biasa yang telah merenggut semua kekuatannya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Tan Hao terlihat tersenyum kecut. "Aihh, bahkan Mata Dewa sekarang hanya level 1,-!! Sepertinya aku harus bekerja sangat keras dan tak berlama-lama ditempat ini."


Ketika Tan Hao ingin beranjak dari duduknya, rasa nyeri mendadak terasa begitu mencengkeram kepalanya. Terang saja membuat Tan Hao terhuyung-huyung dan jatuh terduduk dengan memegangi kepalanya.


"Uhh, ada apa ini,-!! Rasa sakit macam apa ini,-!!"


Tan hao berseru meringis kesakitan, hingga kedua matanya berair menahan rasa sakit.


Rasa sakit yang mendadak muncul tak bertahan lama mendera Tan hao tetapi terasa begitu menyakitkan hingga membuat tubuh Tan hao bergetar.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah aku membuat kesalahan,-!!" batin Tan hao ketika telah kembali normal seperti tak pernah terjadi apa-apa.


Tan hao berfikir keras akan hal itu, menyadari rasa sakit yang baru dialaminya bukanlah sesuatu yang biasa.


"Hei, sarapan sudah siap. Kakek dan ayah sudah menunggu. Cepatlah bergabung,-!!


Teriakan Lan Lihua dari depan pintu rumah sambil melambaikan tangan kearahnya membuat Tan hao terkejut sejenak kemudian mengakhiri pikirannya.


"Ya ya ya. Aku datang,-!!" seru Tan hao sambil berdiri dan melambaikan tangannya membalas lambaian tangan Lan Lihua.


"Lebih baik aku mengisi perut dulu, nanti kupikirkan lagi. Haihh, seperti terlahir kembali tapi menjadi semakin buruk, oh takdir takdir,-!!" batin Tan Hao sambil berjalan menuju Lan Lihua yang masih menunggunya di didepan pintu rumah.


Tak berselang lama Tan hao bergabung dengan Leluhur Lan dan Feng Zhenzu yang sudah memegang semangkuk nasi. Terlihat begitu banyak macam hidangan yang tersedia, mulai dari sayuran, daging hingga sup.


"Kau lama sekali, cepatlah duduk dan ambil mangkukmu,-!! Setelah ini kita akan mulai berlatih, jadi makanlah yang banyak, hmm,-!!" Kata Leluhur Lan sambil mengambil lauk yang ada kemudian melahapnya.


Tan hao tertawa kecil sambil duduk. Sementara Lan Lihua memandang Tan Hao dengan tersenyum manis.


Mereka berempat terlihat begitu menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh Lan Lihua, dan yang paling menikmati tentu saja Feng Zhenzu. Sebab selama ini dirinya lah yang memasak dan menyiapkan tapi hari ini yang melakukan semua itu Lan Lihua seorang diri.

__ADS_1


Feng Zhenzu merasa senang bukan hanya karena putrinya telah bersikap dewasa namun juga karena beban pekerjaannya telah banyak berkurang.


Feng merasa mulai hari ini, dirinya akan banyak memiliki waktu luang. Karena kehadiran Tan hao merubah perilaku dan sikap Lan Lihua.


__ADS_2