Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 165 ~ Tujuan Tetua Jing Yun


__ADS_3

Xiao bersaudara yang mengejar Xue Mei dibuat merinding terdiam, keduanya hanya bisa terpaku melihat hujan anak busur yang merenggut nyawa pendekar topeng emas satu persatu.


Sementara Xue Mei sendiri meskipun menyadari dirinya sedang di kejar, tetapi tidak membuatnya tertarik untuk melawan. Ia justru masih menatap wajah Liu Zey dari kejauhan, dalam benaknya ia merasa seperti mengenal namun ia tak ingat dimana.


Liu Zey meletakkan kembali busurnya ke punggung sembari tersenyum kemudian berbalik badan berniat melangkah ke tempat pendekar bertudung berlindung.


Kepercayaan diri Liu Zey terbukti, dengan berakhirnya hujan anak busur memperlihatkan tidak ada satu pun pendekar topeng emas yang masih berdiri. Mereka semua tergeletak tak bernyawa dengan darah menggenang di sekitar tubuh.


Xiao bersaudara yang berasal dari sekte Darah Merah itu mengurungkan niatnya untuk mengejar Xue Mei, mereka bersepakat hanya lewat tatapan mata sebelum kemudian berbalik arah dan pergi begitu saja sembari membawa rasa takut dihati.


"Apa kau ketua dari kelompok ini? Maaf, aku sedikit terlambat untuk menyelamatkan mereka. Saat aku tiba, mereka sudah seperti ini," kata Liu Zey sambil berjalan mendekat.


"Ya! Aku Xue Mei, kami sebenarnya pengawal kepala desa baru yang menyamar sebagai pendekar dari Asosiasi Menara Emas. Tujuan kami awalnya hanya untuk menyelamatkan nyawa kepala desa, tetapi setelah kepala desa dibawa ke tempat yang aman, dia meminta kami untuk memastikan warga desa juga terselamatkan. Ini salahku yang tidak mengetahui kekuatan lawan! Dan lagi, terima kasih sudah menyelamatkan nyawa teman-temanku," terang singkat Xue Mei, terlihat sorot matanya menyimpan penyesalan memandang rekan-rekannya.


"Baiklah! Tidak ada yang salah, hanya terkadang keberuntungan bisa datang dalam berbagai bentuk. Meskipun menyisakan kekecewaan tapi itu tetaplah keberuntungan. Sebaiknya, kau rawatlah dulu rekan-rekanmu. Kurasa tempat ini cukup aman sementara ini. Aku akan berkeliling untuk memastikannya, kau tenang saja, Nona Xue Mei ...!"


Liu Zey bisa memahami perasaan Xue Mei, namun situasi yang belum jelas membuatnya tak bisa menghiburnya lebih jauh. Setelah memberi beberapa macam pil sumber daya, Liu Zey pamit dan pergi begitu saja tanpa memperkenalkan diri.


***


Di waktu yang sama, Tan Hao telah sampai di padang rumput. Ia bisa memasuki wilayah tersebut setelah sebelumnya mengetahui cara yang dipakai oleh Fen Fang.


Karena tidak bernama, Fen Fang menamainya Liang Chizi yang berarti dua penguasa, setelah Tan Hao membagi wilayah tersebut menjadi dua bagian.

__ADS_1


Tan Hao meletakkan Lan Lihua di bawah salah satu pohon yang semuanya tumbuh kerdil, dengan sangat hati-hati ia menyandarkan tubuh Lan Lihua yang sebagian ujung kaki serta tangannya telah membeku.


"Sebenarnya ada apa dengan dirimu, Hua'er? Kenapa bisa sampai seperti ini!" gumam Tan Hao setelah menggenggam kedua tangan Lan Lihua kemudian menyalurkan energinya yang bercampur hawa petir.


Tan Hao tak bisa mengerti dengan struktur tubuh Lan Lihua, ia juga kesulitan untuk mencaritahu ada apa didalam tubuh wanita yang telah merawatnya itu.


"Tuan muda, aku rasa ini berkaitan dengan giok itu! Sebab beberapa saat setelah aku memaksa menyatu dengan tubuhnya, seperti ada sesuatu yang menolakku meskipun terasa lemah," kata Bing Long mencoba menceritakan hal yang tak ia sampaikan pada Lan Lihua sebelumnya.


"Giok Dewi Bulan?" Tan Hao mengerutkan dahinya sejenak sebelum menatap kalung yang dipakai Lan Lihua.


Disisi lain, Burung Elang Emas yang sebelumnya diberi pelajaran kecil oleh Tan Hao terlihat sedang mengintip dari kejauhan. Entah sejak kapan, ia mengubah ukuran tubuhnya menjadi sebesar ukuran burung elang asli.


Tan Hao mencoba memegang kalung giok yang memiliki warna biru cerah dan memiliki semacam corak rumit di dalamnya. Ia penasaran dengan ucapan Bing Long, untuk itu Tan Hao berniat mencaritahu penjelasannya sendiri.


Panglima Naga Timur itu dibuat terkejut ketika merasakan energi tubuh yang dimiliki Tan Hao ketika mencoba memasuki giok itu menggunakan spirit rohnya, selama perjalanan bahkan ia tak merasakan adanya perbedaan. Namun kali ini ia jelas menyaksikannya sendiri kalau energi Tan Hao sama sekali berbeda dari energi sebelumnya.


"Tuan muda...! Benar-benar perkembangan yang menakjubkan! Tak sia-sia Dewi Huanran sampai terbuang dari klan itu, demi melahirkanmu."


Bing Long merasa takjub sendiri sampai-sampai hatinya terus membicarakan bahkan terkesan mengagumi, sementara pandangannya tak lepas dari apa yang dilakukan Tan Hao.


***


Jauh ditempat lain, Tetua Jing Yun bersama dua orang lainnya terbang dengan kecepatan tinggi namun bukan mengarah ke tempat pergerakan pasukan aliran hitam.

__ADS_1


Dua orang yang mengikutinya bahkan tak mengetahui tujuan Tetua Jing Yun sebelum mereka menyadari, ketika telah melewati hutan.


Mereka saling berpandangan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, keduanya sama-sama merasakan perasaan yang sama. Sebuah energi besar yang dimiliki satu orang, cukup terasa walaupun mereka tahu energi itu seperti sedang disembunyikan.


"Jangan tertipu dengan aura energi ini!" ujar Tetua Jing Yun mengingatkan.


Beberapa saat sebelum keduanya menanyakan perihal itu, Tetua Jing Yun tiba-tiba melepaskan aura energinya. Keduanya sempat terheran sebelum akhirnya melihat dari arah berlawanan, muncul seseorang terbang dengan kecepatan tinggi.


"Raja Tempa! Kaisar Obat! Waspadalah, lawan kita kali ini bukan orang biasa," pinta Tetua Jing Yun memberi saran, terdengar dari nada bicaranya cukup serius.


Dua orang dibelakang Tetua Jing Yun yang merupakan Raja Tempa, Lian Ho serta Kaisar Obat, Yao Yuen menjawab bersamaan sebelum mengeluarkan aura energi mereka masing-masing.


Sementara dari arah lain terlihat seorang bercamping yang berpakaian lusuh semakin mendekat, kelihatan dari sorot matanya menunjukkan ketertarikan sementara bibirnya menyunggingkan senyum tipis.


Raja Tempa maupun Kaisar Obat memiliki pemahaman masing-masing mengenai tujuan Tetua Jing Yun yang memilih pergi kearah lain, keduanya sadar kalau pasukan sebesar apapun jika pemimpin yang memiliki kekuatan besar dikalahkan lebih dulu, maka mudah saja bagi lawan untuk menghancurkan sisanya.


"Cukup sampai disini saja perjalananmu, pengemis tua! Jangan harap bisa melewati kami...! Hmm ... Mana rekanmu satu lagi?" tekan Tetua Jing Yun sembari memancarkan hawa pembunuh.


Pengemis tua, Fen Fang. Terkekeh ringan sembari melepaskan campingnya kemudian menyelipkannya di pinggang belakang.


"Jangan tergesa-gesa begitu, itu tidak bagus! Informasi yang kalian dapatkan sepertinya salah...! Aku dan rekanku, bukan bagian aliansi aliran hitam. Malah kami berniat membantu menghabisi mereka," sanggah Fen Fang serius namun diselingi senyuman yang membuat Tetua Jing Yun tidak bisa begitu saja percaya ucapannya.


"Pengemis Tua, Fen Fang...! Si Tua Seruling Iblis, pembantai kejam sepuluh kota hanya demi mendapatkan kekuatan! Aku tak percaya dengan omong kosongmu, jangan harap bisa membodohiku!"

__ADS_1


__ADS_2