Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 116 ~ Ye Yuan Terpojok


__ADS_3

"Iblis terkutuk! Kurang ajar!" seru Ye Yuan menyadari datangnya gelombang ledakan energi kearahnya. Meskipun ia tak melihat sebab masih beradu serangan dengan Zhi Shen, ia tahu jika energi hitam tersebut keluar dari pedang sabit matahari.


"Apa? Jika kehendak alam ada bersamaku, kekuatan gelap tunduk pada perintahku. Lalu kau bisa apa? Ha ha ... Menyerahlah dan biarkan aku memakan energi kehidupanmu, sampah!"


Jika Ye Yuan menggunakan segenap kemampuannya, Zhi Shen justru terlihat belum menunjukkan keseriusannya meskipun ia meningkatkan kekuatan seiring Ye Yuan menyerangnya tanpa jeda.


Zhi Shen berambisi menyerap energi kehidupan Ye Yuan yang memang sangatlah murni. Di alam dunia, hanya sepuluh hewan suci surga yang memilikinya. Sementara ia cukup percaya diri dengan energi hitam yang tersimpan dalam pedang sabit matahari. Zhi Shen telah memperhitungkan sebelumnya, jika kekuatannya serta ditambah kekuatan yang tersimpan pada pedang iblis tersebut mampu mengalahkan Ye Yuan sekaligus membunuh Tan Hao.


Pertemuannya dengan Tan Hao sejatinya baru kali ini, namun dendam mendalam yang dimiliki Zhi Shen seolah menunjukkan ada sejarah penting yang belum disadari oleh Tan Hao.


Keduanya tak mengendurkan serangan, gema petir dan kilatan cahaya semakin meluas akibat tekanan kuat pertarungan dua makhluk berbeda jenis tersebut. Bahkan mungkin dampaknya telah dirasakan penduduk Desa Hibei tak terkecuali Fen Lian yang masih berada di tempat penyimpanan sumber daya.


Sebagian besar pendekar aliansi aliran hitam yang tak cukup keberanian bahkan melarikan diri dari tempat perkumpulan. Hanya menyisakan beberapa pimpinan aliansi beserta tetua sekte dari masing-masing sekte yang tergabung. Mereka tak lagi memikirkan tujuan, yang mereka pikirkan hanya menyelamatkan diri dari situasi pembantaian yang dirasakan melalui tekanan energi yang semakin meningkat.


Sui Jiu yang hampir tiba ditempat Liu Zey pun terhenti tiba-tiba dengan ekspresi wajah pucat, sedang Lan Lihua semakin mempercepat laju larinya sembari masih menggumamkan sesuatu. Ekspresi wajahnya terlihat begitu cemas, ketika melihat dengan jelas sambaran petir di langit yang semakin mengganas.


Kembali Tan Hao memperkuat Aura Dewa miliknya ketika menyadari perubahan bentuk yang tiba-tiba terjadi pada pusaran energi hitam tersebut.


"Meremehkanku ya? Tak akan kubiarkan, lawanmu adalah aku!!"


Pusaran yang semula terlihat layaknya angin topan dengan cepat memadat dan berubah menjadi kepala iblis dengan mulut terbuka lebar seolah ingin menelan apapun yang ada dihadapannya. Tan Hao menyadari perubahan itu akibat pergerakannya tertahan oleh Aura Dewa yang ia lepaskan.


Kekuatan yang telah melampaui tingkat pertapa dewa langit itu memaksa melepaskan diri dari tekanan Aura Dewa yang menahannya. Tak cukup itu saja, pedang sabit matahari seolah memiliki pikiran. Pusaka iblis tersebut meningkatkan kekuatan hingga menyebabkan seperti kobaran api hitam menyelimuti pusaran tersebut.


"Tidak ku sangka! Kekuatan yang mengerikan ini berasal dari sebuah pedang. Siapa yang akan percaya jika pedang iblis tersebut asalnya dari besi cakrawala yang dimurnikan dengan api magma? Sesuatu yang biasa bagi penempa tapi bagaimana kalau itu dilakukan oleh seorang Saint nomor satu di Alam Langit?"


Tan Hao membayangkan dalam kepalanya bagaimana cara kerja yang ditempuh untuk bisa menghasilkan pusaka hebat seperti yang dihadapinya saat ini. Terlebih kekuatan yang dihasilkan bukanlah sesuatu yang bisa dimasukkan begitu saja.


Bagi Tan Hao, pengetahuan kemampuan menempa bukanlah sesederhana dari proses pembelajaran bertahun-tahun, lebih dari itu. Kekuatan, naluri, jati diri, keyakinan hingga wawasan yang tak terukur dan mungkin diluar itu semua menjadi titik dimana semua hal utama mendukung kualitas tempaan.


Hanya beberapa saat saja Tan Hao terbayang, fokusnya kembali pada pedang sabit matahari yang kini mulai berputar searah jarum jam dengan posisi tegak. Kecepatan berputarnya memang lamban namun kekuatan yang dihasilkan bertambah kuat. Membuat Tan Hao mau tak mau harus menggunakan seluruh potensi Aura Dewa demi mengimbangi lebih jauh.


Sementara itu, Ye Yuan mulai terlihat mengendurkan serangannya. Nampak jelas bahwa ia kehilangan banyak tenaga. Disisi lain, Zhi Shen tak menunjukkan tanda-tanda kelelahan ataupun kehilangan banyak tenaga. Senyum kejamnya masih menghiasi wajah dinginnya.

__ADS_1


"Dasar payah, bentuk ini membuatku tak leluasa menggunakan kekuatanku yang sebenarnya. Selain itu, HaoHao juga disibukkan dengan pedang sialann itu. Ahh ... Bagaimana selanjutnya? Apa yang harus aku lakukan?" decak kesal Ye Yuan setelah sebelumnya menghentikan serangannya kemudian mengambil jarak dari Zhi Shen.


"Ha haha ... Apakah tenagamu sudah habis? Atau kau menyadari jika tak bisa melukaiku lalu memutuskan untuk memberikan energi kehidupanmu untukku? Oh aku sungguh menerimanya kalau begitu ... Haha ha ha,"


Ye Yuan membuang ludah mendengar perkataan Zhi Shen, tatapan muak terlihat. Ekspresi Ye Yuan kali ini benar-benar sesuatu yang belum pernah terlihat selama ini.


Sejurus kemudian, Ye Yuan teringat masa dimana ia bersama Shiling bermain bersama di sebuah taman dengan banyak bunga. Tawa ringan Shiling membuat Ye Yuan tersenyum tipis, rona bahagia terlihat jelas di muka wajah kecilnya.


"Dewi, jika aku tak sempat menemukanmu. Kuharap kau tak melupakanku begitu saja. Setidaknya temukanlah burung yang lebih gagah dariku. Emm ... Maksudku yang bisa melindungimu lebih baik dariku," batin Ye Yuan dengan mata sedikit berair.


Ye Yuan merasa bahwa ini mungkin akan menjadi akhir baginya, andaipun ia menggunakan wujud asli dan mengerahkan seluruh kemampuannya, tak ada jaminan akan mampu mengalahkan Zhi Shen. Tenaganya yang terkuras ditambah kekuatannya yang semakin melemah membuat Ye Yuan tak punya pilihan lain selain menyerang Zhi Shen dengan satu serangan terakhir menggunakan seluruh kemampuan serta kekuatan yang tersisa.


"Setidaknya aku kalah dalam berjuang, tidak berakhir sebagai pecundang! Ayo kita coba!" seru Ye Yuan dengan ekspresi dingin. Meskipun masih terlihat guratan ketidakyakinan.


NIRWANA : PEDANG HALILINTAR PENGUNCANG SEMESTA


HONGG ... HNG ...


JJDEERRR ... JDDEERR


BLAARRR ...


SWOSSHH ... SWOOSHH


Ledakan petir biru berkekuatan tinggi terjadi sesaat setelah Ye Yuan berseru lantang sembari membentuk sebuah tanda menggunakan kedua tangan diatas kepalanya.


Kekuatan petir yang dahsyat menyambar begitu padat dari segala arah, membuat Zhi Shen terkejut melihatnya. Tak berselang lama, dari balik awan diatas kepala mereka muncul petir biru berwujud naga dengan mulut menganga lebar, setiap sisik tubuhnya yang terbuat dari petir berbentuk seperti pedang dengan ujung menghadap ke depan.


Jurus yang dikeluarkan Ye Yuan kali ini merupakan tingkatan selanjutnya dari jurus pedang halilintar, yang mana ini adalah kali pertama ia gunakan.


"Matilah kau, iblis terkutuk?!"


WHONGG ... WHONGG

__ADS_1


DDUAAARR ...


GRRRR ... GRRRR


Ribuan sisik petir berwujud pedang menyerang Zhi Shen yang masih terdiam melayang. Bukan hanya itu, naga petir itupun juga menyerang bersamaan seperti akan melahap Zhi Shen.


Cahaya terang dilangit lebih terang dari sebelumnya, membuat siapapun yang menyaksikan langit dapat melihatnya meskipun di belahan bumi yang lain. Getaran besar terasa semakin memberat, suara petir menyambar begitu menggelegar mengalun-alun.


Zhi Shen tersadar beberapa detik sebelum naga petir tersebut mendekatinya, gerakan tangannya begitu cepat menarik pedang sabit matahari seolah pedang tersebut menembus ruang.


"Kau gila! Dasar sampah!"


JURUS PEDANG : SABIT DEWA MATAHARI


SROSSSHHH ... WHUNGG ... WHUNGG


WHISSHH ... HNG ...


Zhi Shen mengeluarkan jurus terakhir dari pedang sabit matahari, kekuatan dahsyat berkumpul seketika berbentuk energi hitam menyerupai kobaran api hitam yang terus membesar hingga terlihat disana merupakan kumpulan dari jiwa gelap yang meraung-raung. Wujud sabit iblis yang sebenarnya menghantam naga petir dengan ribuan pedang bersamanya.


KABOOMMM


DDUUAARRR ....


SREETT...SREETT...


WHIRRR...


Ledakan dahsyat akibat hantaman dua jurus terkuat dari dua makhluk berbeda jenis tersebut membuat seisi langit bercahaya terang menyilaukan, bahkan Tan Hao harus menyipitkan matanya.


Kejadian tersebut berjalan sangat cepat hingga menyebabkan area dalam radius ratusan kilometer berguncang. Sambaran petir dari balik awan muncul di berbagai wilayah karenanya.


Bahkan pusaran energi hitam yang sebelumnya dikeluarkan pusaka dewa iblis tersebut lenyap tertelan cahaya terang tersebut. Efek tekanan berat juga dirasakan Tan Hao hingga membuatnya terseret mundur beberapa meter. Menciptakan badai angin yang luar biasa tinggi, tak heran jika seluruh pohon dihutan terhempas. Bahkan efeknya sampai pada pusat Desa Hibei, yang mana bukan hanya atap rumah saja namun hampir sebagian bangunan hancur terhempas.

__ADS_1


__ADS_2