
"Cukup, Wu! Tak perlu berlebihan," ucap Yan Chui sambil melirik Yan Wu, memintanya mengakhiri perbuatannya.
Yan Wu menoleh pelan sambil masih mempertahankan senyumannya, senyum yang membuat kedua matanya seolah menutup. Senyum yang jika dilihat orang lain akan dimaknai dengan senyum ramah dan sopan.
"Baiklah ... Baiklah! Aku hanya bercanda saja, kak!" ucapnya polos.
Yan Chui kembali memandang Chen Seng, kondisi perkumpulan menjadi hening karena perbuatan Yan Wu menjadikan situasi yang terletak ditengah belantara hutan tersebut mencekam tanpa suara.
"Katakan! Apa yang membuatmu seperti ini? Kesempatanmu hanya sekali dan mungkin kami bisa membantumu! Atau jika tidak ...." ujar Yan Chui pelan namun bernada mengancam. Membuat Chen Seng diam dengan kebingungannya sendiri.
Chen Seng menarik napas panjang sebelum ia mencoba memberikan penjelasan. Dalam pikirnya, ia menyadari kecerobohannya dalam bertindak. Ia mengecam dirinya sendiri seolah menjadi pendekar yang tak memiliki pendirian hanya karena satu orang.
"Alasanku bertindak seperti ini karena ada seorang yang memiliki kekuatan tak terbayangkan, orang itu mungkin berada di pusat desa sekarang. Sejujurnya, aku tak tahu harus mulai dari mana menjelaskannya, orang itulah yang membunuh guruku lima tahun lalu dan dia juga yang memiliki takdir dewa ...." urai singkat Chen Seng.
Yan Chui menoleh kearah Yan Wu sejenak kemudian ia tertawa, tawa renyah yang seolah menganggap cerita Chen Seng dilebih-lebihkan. Begitu juga dengan Yan Wu yang menatap mata Chen Seng dengan senyumannya.
"Senior Chen! Gurauan anda lumayan juga ha ha ha! Jika benar seperti itu, itu berarti guru anda yang tak terlalu hebat atau orang itu mendapat keberuntungan. Lagipula, itu lima tahun lalu kan? Seharusnya sekarang dia paling tidak sudah cukup berumur, itu mudah bagi kita untuk mengurusnya," kelakar Yan Chui sambil tertawa.
Chen Seng mendengus kasar hingga terlihat hembusan napasnya mengudara. Sorot matanya berubah lain dari sesaat lalu, sorot mata tajam seolah penuh kemarahan.
"Oh kalian terlalu memandang tinggi kekuatan yang kalian miliki rupanya! Bagaimana menurutmu tentang orang yang dijuluki Dewa Iblis dari sekte Lembah Hijau? Aku ingin dengar pendapat kalian ...." sahut Chen Seng seolah terdapat kemarahan didalamnya.
Yan Chui terdiam sejenak mendengar perkataan Chen Seng, tawa renyahnya lenyap begitu saja.
"Maksudmu orang yang memiliki mata iblis dewa kematian! Jiwei Dan? Dia gurumu ...?"
"Ya. Dia guruku!" sahutnya cepat.
__ADS_1
"Jadi kabar itu benar adanya? Dia tewas oleh seorang bocah berusia tiga belas tahun? Tapi yang kudengar, bocah itu juga ikut lenyap bersama jasadnya. Apakah kau yakin tidak sedang dibodohi seseorang?
"Kakak! Jika benar begitu, seharusnya orang itu sudah tewas bersamanya. Aku berpikiran sama denganmu! Ada orang yang memanfaatkan kejadian itu untuk menakut-nakuti kita," Yan Wu menimpali dengan masih mempertahankan senyumnya walaupum terjadi perubahan diwajahnya.
"Tidak! Aku melihat dan memastikannya sendiri jika itu benar. Orang itu adalah orang yang sama dengan orang yang membunuh guruku! Bahkan guruku yang tak tertandingi saja tewas, apalagi kita yang tidak bisa dibandingkan dengannya,"
Anggota aliansi masih terdiam, mereka hanya bisa mendengar tiga orang tersebut tanpa punya nyali untuk ikut campur dalam pembicaraan.
"Kenapa kalian diam? Bukankah tadi kalian menertawaiku ...."
GROOOAARRR ...
BOOMMM ...
Raungan menggema terdengar nyaring dan adanya sebuah ledakan besar yang mengiringi membuat Chen Seng menghentikan perkataannya untuk kemudian menoleh kearah sumber suara raungan tersebut.
"Oh, diluar rencana ya? Tak kusangka, lebih cepat dari yang diperkirakan," ujar Yan Wu datar seolah tak terlalu kaget dengan gema suara tersebut.
"Cukup! Sudahi pembicaraan ini! Sebaiknya kita bergegas kesana, kupikir kelompok yang lain juga menuju kesana," kata Yan Chui memberi perintah.
"Kalian pergilah lebih dulu! Aku butuh beberapa waktu untuk memulihkan tenaga!" jawab Chen Seng beralasan. Meskipun hal tersebut tak dipercayai tapi keduanya tak mempertanyakan. Mereka pergi begitu saja tanpa sapaan, tubuh keduanya seolah bagai asap tertiup angin.
Chen Seng menghela napas, ia tidak menyangka akan seperti ini. Semula ia menyangka akan menguasai semuanya sendiri untuk kepentingan sektenya namun sampai disini ternyata keinginannya lenyap tak berbekas hanya karena bertemu dengan satu orang.
Sementara itu ditempat lain, Yue Yin tengah disibukkan dengan amukan Harimau Sisik Naga. Ia tak mengira jika pergerakannya untuk mendekati binatang kelas suci tersebut berakhir mengusik tidur panjangnya.
Yue Yin sendiri juga merupakan binatang kelas suci namun ia berasal dari alam langit. Hal itulah yang menyebabkan Harimau Sisik Naga terusik sebab ia merasakan ada kekuatan asing memasuki wilayahnya.
__ADS_1
Perlu diketahui jika yang membedakan antara binatang kelas suci dari alam langit dan alam bumi adalah mereka dapat bertransformasi kedalam wujud manusia dan dapat berbicara jika telah mencapai tahap puncak.
Sedangkan binatang kelas suci dari alam bumi tak bisa bertransformasi namun dapat berbicara hanya jika telah mencapai tingkat puncak dan mengalami tiga cobaan langit.
Yue Yin cukup kewalahan menghadapi amukan Harimau Sisik Naga sebab dirinya saat ini hanyalah pecahan kecil dari kekuatan aslinya.
"Menurutlah kucing besar! Aku tak berniat buruk padamu! Aku hanya ingin bertemu dan berteman saja," ujar Yue Yin sambil menghindari bola-bola api yang ditembakkan Harimau Sisik Naga dari ekornya.
Jika dilihat sepintas, wujud Harimau Sisik Naga mirip Qilin Api Yang. Dua tanduk emas dengan corak sisik naga berekor api yang menyala, yang membedakan adalah Harimau Sisik Naga tak memiliki dua kumis dan bertaring panjang.
GROOAARRR ... GRRRR ...
SWOOSHH ...
Meskipun berwujud Merpati yang memiliki bulu putih serta badan seukuran burung Phoenix tetapi tak membuat Yue Yin leluasa bergerak. Selain karena banyak pohon besar menjulang yang mengganggu pergerakan sayapnya. Juga karena Harimau Sisik Naga tak memberikannya kesempatan.
Tak berselang lama, kelompok ketiga dari aliansi yang memang letak tempat berkumpulnya lebih dekat dari kelompok lain tiba berangsur-angsur.
Mereka yang tiba lebih dulu dibuat kagum serta terkejut melihat pertarungan dua makhluk berbeda jenis tersebut. Sampai membuat mereka berdiri mematung dari kejauhan tanpa berani lebih dekat.
Yue Yin menyadari kedatangan mereka, namun ia tak bisa melepaskan diri dari serangan-serangan yang dilancarkan Harimau Sisik Naga tersebut.
"Luar biasa?! Aku tak menyangka, ditempat ini juga terdapat hewan suci lainnya. Ini merupakan penemuan besar! Darah mereka merupakan yang terbaik untuk menembus tingkatan! Sedangkan inti kristal di jantung mereka adalah yang paling sempurna untuk meningkatkan kekuatan," ucap seorang yang memakai baju tanpa lengan dengan dua kapak di punggungnya. Orang itu memiliki tanda garis bekas sayatan dimata kanannya.
"Lalu apa rencana kita selanjutnya, Senior Mudong Shen?" tanya seorang pendekar bertopeng hitam dibelakangnya.
"Apalagi? Selain menunggu yang lainnya datang! Kita saja tak akan cukup melawan satu hewan, dan sekarang ada dua? Lagipula, hal bagus membiarkan kedua hewan itu saling bertarung sampai kehabisan tenaga. Baru setelah itu kita bergerak," balas orang yang memiliki nama Mudong Shen itu sembari terus mengamati pertarungan kedua hewan suci tersebut.
__ADS_1