Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 39 ~ Insting Merpati Bulu Surga


__ADS_3

Sebenarnya para tetua tombak cukup kaget mendengar bahwa Matriark Anggrek Suci datang sendirian tanpa pengawal ataupun pasukan aliansi yang telah diminta.


Namun mereka segera menepis keraguan mereka, sebab memang belum dipastikan kapan akan melakukan penyerangan. Jadi mereka berfikir bahwa Matriark Zhang datang untuk mengetahui rencana lebih lanjut.


Para Tetua Tombak sepakat bahwa yang akan menyambut serta menjamu Matriark Zhang adalah Tetua Tiandou.


Bukan alasan, mereka cukup mengerti bahwa Tetua Tiandou lah yang paling paham tentang situasi dan rencana ini karena dirinya menjadi bagian dalam pembicaraan bersama Patriark Sun serta Tetua Jing Yun dan Tetua Feiying.


Dengan Tetua Feiying yang masih menemani Kaisar Obat Yao yuen, serta Tetua Jing yun yang masih berkultivasi maka tidak ada yang lebih baik lagi dari mereka selain Tetua Tiandou.


"Selamat datang, Matriark Zhang. Maafkan kami yang tidak bisa menyambut kedatanganmu." dengan menunjukkan sedikit hormat serta bersikap ramah Tetua Tiandou menyambut.


Matriark Zhang weili hanya tersenyum tipis.


"Tidak masalah. Lagipula kedatanganku bukan untuk berlibur. Dimana Patriark Sun, aku ingin menemuinya."


Tetua Tiandou merasa ada yang aneh namun ia tidak mencari tahu lebih jauh.


"Patriark Sun sedang berada di kediamannya, setelah penjamuan akan saya antarkan kesana. Sekarang mari ikuti saya."


Ekspresi yang ditujukan Zhang weili cukup datar seperti tidak menyukai ajakan Tetua Tiandou. Hanya mengangguk pelan tanpa senyum.


Keduanya berjalan dengan tenang menuju ke Ruang Penjamuan tamu yang terletak di samping Aula Tetua Tombak.


Para pelayan terlihat sedang berjajar rapi di sisi meja makan dengan berbagai hidangan.


Kemudian Tetua Tiandou mempersilahkan pelayan untuk meninggalkan ruangan dan hanya menyisakan beberapa saja.


"Matriark Zhang, kuharap ini tidak mengecewakanmu. Sebab situasi sedang tidak baik, Tetua Tombak tidak bisa menemani kali ini, hanya saya yang ditugaskan." sambil tangannya bergerak pelan menunjukkam tempat duduk, Tetua Tiandou berkata dengan hati-hati.


"ahh tidak masalah, aku mengerti situasinya." Zhang weili duduk dengan santai dengan senyum kecut nya.


Bukan masalah tidak ditemani Tetua Tombak masalahnya hidangan yang tersaji begitu banyak. Membuat ekspresi Zhang weili sedikit canggung.


Tanpa menunggu lama lagi, dia segera menyantap beberapa roti basah beserta sayur bayam yang ada didekatnya.


Tetua Tiandou juga hanya menyantap sayur kacang panjang dengan santai sambil melirik sesekali Matriark Zhang.

__ADS_1


"Tuan, dia bukan orang sebenarnya. Tuan harus berhati-hati."


Suara Yue yin di dalam pikiran Tiandou segera menghentikan tangannya mengambil sayur dengan sumpit. Ekspresi Tiandou masih tenang.


"Hmm, pantas aku merasa aneh. Apakah kau tahu siapa dia? sejauh mana kekuatannya?" batin Tiandou tenang dengan melanjutkan menyantap makanannya.


"Aku tidak tahu siapa dia yang aku tahu dia memiliki kekuatan yang cukup hebat, tetapi jika bertarung dengan Tuan, dia tidak akan bisa menang namun dia penuh siasat."


Dengan melirik sekali lalu tersenyum hangat kearah Zhang weili yang seperti terburu-buru menghabiskan makanannya.


"oh baiklah, mungkin dia salah satu orang Lembah Hijau. Sepertinya mereka lebih dulu bergerak."


Beberapa saat kemudian, mereka berdua telah menghabiskan satu mangkuk sayur dan berhenti bersamaan. Terlihat jelas mereka terdiam dengan tidak ada satupun gerakan yang di buat.


"Ahh karena Matriark tidak ingin menyantap lebih banyak lagi, sebaiknya kita keluar dan menemui Patriark Sun." ucap Tiandou dengan santainya dan langsung berdiri berjalan pelan meninggalkan ruangan itu yang langsung diikuti Zhang Weili dari belakang tanpa bersuara sedikitpun.


Sebenarnya, kata "keluar" yang diucapkan Tetua Tiandou terasa sedikit ambigu menurut Zhang weili, itu sebabnya ia hanya diam tak bersuara.


"Apa pemuda ini mengetahui penyamaranku? bagaimana bisa? ahh terserah, lebih baik kubunuh saja dia. Tidak mendapatkan Sun sian tak apa, tugasku hanya melemahkan Tujuh tombak emas saja, kan." batin Zhang weili dengan tatapan licik di belakang Tetua Tiandou.


Sementara itu, Tetua Tiandou bukan tidak mengetahui. Diam hanya untuk mencari celah membuka penyamarannya. Dengan langkah santai, tiba-tiba Tetua Tiandou memperlambat langkahnya.


"Heh, dia begitu ceroboh. Dalam sepuluh langkah tadi aku telah bisa membunuhnya ratusan kali, sungguh tetua tombak tidak seperti yang dibicarakan kebanyakan orang." Batin Zhang weili dengan menatap tajam penuh kelicikan dengan memegang sebuah belati di belakang tubuhnya.


Tiba-tiba dengan sangat cepat Zhang Weili memeluk Tiandou dari belakang serta belatinya menempel kuat di leher depan Tiandou.


"Hehh, kau ceroboh anak muda. Seharusnya yang kubunuh Sun sian, tapi rencana berubah. Aku akan menghabisimu lebih dulu, xixixi." dengan tawa licik serta mencengkram kuat tubuh Tiandou, Zhang weili tidak lagi bersikap baik.


Tetua Tiandou tidak terkejut sama sekali, malah terlihat seperti pasrah dengan penuh ketenangan dengan senyum kecil di bibirnya serta mata terpejam.


"haihh, aku tak mengira secepat ini, padahal aku masih 25 tahun belum menikah, haruskah aku mati secara tragis." lenguhan pendek Tiandou sambil berbicara seakan pasrah tetapi ekspresi wajahnya lugu konyol.


SSRRIIINNNGG..


"heh, selamat tinggal, pecundang."


Dengan kecepatan tinggi, zhang weili menggorok leher Tiandou tanpa aba-aba dengan senyum kemenangannya lalu menjilat belatinya yang bernoda darah.

__ADS_1


Kontan saja leher Tiandou mengeluarkan darah segar mengalir membasahi pakaian bagian depan dengan masih tegak berdiri.


"Hahaha hihihi, apanya yang sulit. Xianjin terlalu melebih-lebihkan. Satu beres, sekarang tinggal selanjutnya." tawa licik Zhang weili yang tertahan sambil memandang arah bangunan Patriark Sun.


Berada dalam area Tetua tombak menyebabkan suasana sepi dari murid sekte, apalagi tidak ada orang lain lagi selain mereka berdua di halaman depan Aula Tetua.


Dengan langkah pelan tapi pasti Zhang weili meninggalkan Tiandou yang masih berdiri mematung dengan darah yang keluar dari sobekan panjang mendatar di lehernya.


Sementara itu di sekte Lembah Hijau.


"Saudara Chang yi, apakah kau yakin Saudara Zhang mampu melakukan misi itu." tanya salah seorang tetua anggota yang sedang berkumpul di sebuah ruangan yang hanya berisi 5 orang.


Kelima Tetua Anggota sekte Lembah hijau sedang berkumpul membahas rencana menyoal perintah dari Ketua mereka yang berkaitan dengan Tujuh Tombak Emas.


Mereka dengan cepat menyusun rencana dan segera bertindak. Perintah yang diterima bukan soal tujuan saja namun juga nyawa mereka.


Para Tetua anggota tidak ingin mengulang masa kelam pembantaian yang dialami Lembah Hijau sebab tidak menjalankan perintah Jiwei Dan atau terlambat bertindak atas perintahnya.


"Kemampuan Zhang Junda berada diatasku, tidak ada alasan untuk meragukannya. Yang harus kita pikirkan sekarang adalah pergerakan setelah ini." balas Tetua Chang Yi dengan tatapan tajam penuh perhitungan.


"Adik Xianjin, bagaimana menurutmu peta kekuatan Tujuh Tombak Emas saat ini." dengan muka wajah serius, Xiahe bertanya dengan menatap wajah Xianjin.


"Baiklah, selama aku berada disana sejauh ini yang aku tahu, delapan Tetua Tombak memiliki kemampuan lumayan dan yang cukup hebat ada 2 orang. Jing Yun dan Feiying. Untuk yang lainnya, karena masih muda kemungkinan kekuatannya berada dua tingkat dibawah kita. Jadi menurutku, jika kita menyerang dengan kekuatan penuh, yang harus kita waspadai ada 3 orang. Jika Saudara Zhang Junda mampu membunuh salah satu diantara mereka maka kita lebih unggul soal kekuatan." jelas Xianjin dengan jelas tanpa bertele-tele.


"Lalu, apa kau tahu dimana letak Tombak Naga Es." sahut Qixuan dengan cepat.


Dengan menggeleng pelan ekspresi wajahnya terlihat pasrah Xianjin melanjutkan ucapannya.


"Sayangnya, sejauh ini aku tidak pernah sekalipun melihat atau mengetahui letak Pusaka itu. Namun menurut yang aku dengar dari para Tetua Tombak, Pusaka itu berada di ruang rahasia yang ada di kediaman Patriark Sun. Pernah aku mencoba mencarinya tapi tak menemukan apapun."


"Cukup. Untuk masalah Pusaka itu kita pikirkan belakangan. Sekarang kita harus bersiap sebelum Zhang Junda mengirimkan sinyalnya." sergap Xingguang Zhao dengan berdiri cepat.


Tetua anggota Lembah Hijau merencanakan penyerangan dengan keyakinan bisa menang. Namun mereka tak mengetahui jika Empat Orang di sekte Tujuh Tombak Emas merupakan pengguna Spirit Energi seperti ketua mereka.


Walaupun kekuatannya jauh berbeda namun mereka tetaplah memiliki kekuatan mengerikan yang tidak akan pernah para Tetua anggota sangka.


Mereka tidak akan menyangka, untuk menghadapi serangan mereka hanya membutuhkan 3 orang Tetua Tombak saja.

__ADS_1


Terlepas dari penyamaran Zhang Junda sebagai Zhang Weili Matriark dari Anggrek Suci menggunakan Ilmu Tulang Jangkrik Lunak yang dia miliki.


Dan mereka juga tidak akan menyangka jika apa yang akan terjadi pada sektenya sebelum penyerangan dilakukan.


__ADS_2