
Zey liu sedang menatap tajam Qixuan yang sedang berdiri mengamati pertarungan Chang Yi dengan Ran Liu.
Terlihat jelas bahwa Chang Yi beberapa kali terdesak oleh serangan Ran Liu, walaupun sebenarnya pengalaman Chang Yi lebih banyak soal pertarungan itu tidak menjadikannya lebih unggul dari Ran.
Mereka berada di tingkatan yang sama hanya saja chang Yi telah lama berada di tingkatan itu sedangkan Ran Liu belum genap sepekan.
Zey Liu dengan tatapan tajamnya serta memegang erat Busur Bulan. Sementara Qixuan dengan menatap remeh Ran Liu dengan memegang Panah Setannya.
Zey dan Qixuan memang sama-sama pengguna senjata panah hanya saja yang membedakan keduanya adalah anak panah yang digunakan.
Panah Setan Qixuan menggunakan anak panah dari besi beracun yang ukurannya lebih pendek dari anak panah biasa. Sedangkan Busur Bulan Zey Liu menggunakan anak panah dari padatan Tenaga dalamnya yang bisa dibentuk sesuai keinginannya dan yang paling mencolok dari keduanya adalah anak panah milik Zey Liu bisa dikendalikan arah serangnya sebelum atau setelah dilepaskan sedangkan anak panah milik Qixuan mengharuskan bidikan tepat sasaran.
Namun kedua nya tetaplah senjata tingkat tinggi yang keberadaannya di medan pertempuran menjadi momok menakutkan bagi lawan. Hanya tergantung dari bagaimana mereka menyerang di waktu yang tepat.
Tan Hao masih terus disibukkan oleh serangan beruntun dari beberapa Pertapa Ahli anggota Lembah Hijau.
Dengan menangkis dan menyerang balik, Tan hao berjalan lurus perlahan untuk bisa masuk.
Sebenarnya cukup mudah bagi Tan hao untuk membinasakan mereka semua namun ia berfikir untuk menyimpan kekuatan aslinya maupun jurus-jurusnya. Tan Hao merasa akan menghadapi lawan yang cukup tangguh.
Dan firasat Tan hao mengatakan, lawan tangguh itu sedang menunggunya di dalam sekte.
Sesekali Tan hao menyerang menggunakan Jurus dasar nya yang dengan mudahnya membunuh belasan pendekar bersamaan.
Beberapa kali juga ia mengerutkan dahi, sebab para pendekar ini seperti tidak memiliki hati dan pikiran. Tidak punya rasa takut sama sekali meskipun rekan-rekannya sudah banyak yang tewas dengan berbagai macam luka tragis.
Disisi lain, tanpa ada yang mengetahui pasti mengapa bisa terjadi. Su Ling yang berhadapan dengan Sui Jiu tiba-tiba jatuh tersungkur dengan darah segar mengalir dari hidung mata mulut dan telinganya.
Semua lawan yang di hadapi ketiga Gadis lainnya seketika berhenti menyerang dan mematung menatap penuh keheranan.
Mereka semua tak melihat adanya pertarungan yang sengit antara keduanya namun Su Ling terjatuh begitu saja, sementara Sui Jiu berdiri mantab dengan senyum sinisnya tepat di depan Su Ling.
"Apaa.."
"Pertarungan macam apa yang mereka lakukan.."
"Tidak. Ini buruk, bahkan Su Ling telah tewas mengenaskan secepat itu. Kurang Ajarr!!"
__ADS_1
Jian bersaudara dan Chang Yi berseru serempak dengan tatapan tidak percaya.
Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Tetua Jing Yun dan Tetua Tiandou meskipun mereka bersiap sejak lama, kedua nya juga turut merasa heran dengan apa yang terjadi.
Sementara ratusan pendekar yang ada di belakang Patriark Sun pun hanya seperti sedang menonton sebuah pertunjukan terdiam termenung tanpa ada yang bisa dilakukan.
Sui jiu menatap tajam tubuh Su Ling hingga akhirnya sebuah tendangan ia lepaskan tepat mengenai wajah Su Ling yang membuat tubuhnya terpental jauh hingga menabrak beberapa Pertapa Ahli dari Lembah Hijau.
Beberapa Pertapa Ahli itu pun hilang keseimbangan hingga jatuh tersungkur.
"Apa-apaan ini.."
"Nona Su Ling telah mati.."
"Nona Su Ling telah Mati.."
Teriakan itu sontak saja membuat Jian bersaudara dan Chang Yi meradang. Dengan kemarahan yang menggebu, mereka meninggalkan lawannya dan menyerang Sui Jiu bersamaan.
Mereka melesat dengan kecepatan tinggi dengan umpatan kasar. Sedangkan Sui Jiu dengan cepat menyadari serangan mereka dan dengan cepat pula memegang Pisau Naga Perak serta mengangkatnya kedepan.
"Kurang ajarr, kau pantas mati. Wanita Busukk!!" seru Chang Yi dengan penuh kemarahan dengan melepaskan pukulan jarak jauh menggunakan tenaga dalamnya.
Sebelum Chang Yi berhasil menyerang Sui Jiu, Zey Liu berseru lantang dengan mengangkat Busur Bulan yang sesaat setelah itu hujan anak panah berkilauan menyerang Chang Yi dan Jian Bersaudara.
Mereka tidak siap akan serangan mendadak itu hingga akhirnya kilauan anak panah itu meledak di udara sebelum menyentuh tanah dan mengenai mereka.
"Hey, gadis seksi. Jangan terburu-buru. Lawanmu adalah aku.." Qixuan dengan senyuman licik berkata dengan sombongnya sambil membuka kedua tangannya meremehkan.
Zey Liu hanya mengumpat dalam hati, ia tak menyangka serangannya dapat di tahan oleh Qixuan dengan mudahnya. Pergerakan Zey di tutup oleh Qixuan yang membuatnya sulit untuk membantu Sui Jiu.
Sementara Chang Yi telah beberapa kali berhasil menyerang Sui Jiu. Bunyi dentingan dua senjata segera menggema.
Ran Liu dan Wen Liu tak tinggal diam. Mereka langsung kembali menyerang yang lainnya.
Pertarungan hebat diantara mereka kembali terjadi dengan lawan masing-masing yang sama kuatnya.
Tekanan dari pertukaran serangan mereka membuat situasi di tempat pertarungan begitu mencekam.
__ADS_1
Hanya beberapa saat saja membuat kedua pasukan di kedua belah pihak merasa begitu tertekan.
Kesempatan itu tak disia-siakan Tan Hao, dengan gerakan cepat ia menebas puluhan Pertapa Ahli dari Lembah Hijau yang menutupi jalannya.
Namun tanpa di duga, sesaat setelah itu muncul sebuah energi hitam pekat dari dalam sekte yang semakin membesar membentuk sebuah kubah besar hingga mencakup seluruh area pertarungan.
Kemunculan pelindung hitam itu membuat Tan Hao merasa harus secepat mungkin masuk dan menghadapi orang yang menciptakan pelindung itu sebelum menjadi mimpi buruk bagi Aliansi.
Tanpa membuang waktu lagi, Tan hao segera mengeluarkan Aura Dewa berkekuatan penuh untuk menyerang lawan yang tersisa.
Patriark Sun dan Matriark Zhang merasa bergidik melihat Pelindung Hitam pekat yang semakin mendekati mereka beserta pasukan di belakangnya.
Mereka berdua langsung memerintahkan pasukan untuk segera mundur menghindari Pelindung Hitam yang belum menunjukkan tanda akan berhenti membesar.
Hingga akhirnya pelindung hitam itu berhenti membesar. Patriark Sun jelas melihat itu sebuah penjara besar. Tan Hao dan empat gadis berada di dalamnya sedangkan yang lainnya berada di luar pelindung hitam itu.
"Siall.. sebenarnya benda apa ini. Apakah mungkin..???
Dengan cepat Patriark Sun mengeluarkan jurusnya untuk menyerang pelindung hitam itu, namun seperti yang di duga Patriark Sun. Bahwa Pelindung itu tak dapat di hancurkan dari luar, serangannya terpental balik. Membuat ekspresi wajahnya terlihat penuh kecemasan.
"Patriark, sepertinya kehadiran kita hanya sebagai penonton atau sebagai domba sembelihan jika nanti pemuda itu kalah. Aku punya firasat buruk tentang ini." Matriark Zhang Weili berkata dengan dingin setelah menyentuh pelindung hitam itu dengan telapak tangannya.
Membuat Patriark Sun beserta Tetua Tombak yang lain semakin cemas. Sebab ini diluar dari perhitungan mereka.
Sementara itu di dalam pelindung, pertarungan masih belum menunjukkan siapa pemenangnya.
Tetua Anggota terlihat disibukkan oleh Empat gadis yang tidak memberikan mereka celah untuk menyerang balik atau pun membantu sama lain.
Tak butuh waktu lama bagi Tan hao membinasakan semua pendekar yang menghalangi jalannya. Membuat Sekte Lembah Hijau kehilangan semua anggotanya dan hanya menyisakan Tetua Anggota yang kini dihadapi empat gadis.
Sebenarnya masih ada Tetua Anggota yang lain namun mereka tidak terlihat sama sekali dalam pertarungan ini.
"Kak Ye, sepertinya aku membutuhkan bantuanmu. Lekaslah menampakan diri atau aku akan gagal dalam tugasku di awal perjalanan.." batin Tan hao selepas mengatur nafasnya.
Tan hao merasa akan menghadapi lawan yang sulit, dirinya bahkan tidak cukup percaya diri bisa menang atau setidaknya tidak terbunuh.
Dengan beberapa kali hembusan nafasnya, Tan hao mengeluarkan Pedang Dewa Hampa dari Cincin Dimensi yang selama ini tidak pernah ia gunakan.
__ADS_1
Dengan Dua pedang dewa di tangannya, Tan hao melangkah mantab memasuki sekte Lembah Hijau.
Aura Pedang Dewa Hampa begitu kuat membungkus tubuhnya. Membuatnya terlihat begitu dingin yang tak terkalahkan dengan sorot mata tajam tanpa senyuman.