
Tan Hao beberapa kali mengerutkan kening ketika membaca isi gulungan informasi itu. Bahkan Lan Lihua yang mencoba mencuri baca tak mendapatkan perhatiannya karena saking serius dirinya untuk memahami.
Tertulis jelas disebagian gulungan itu bahwa pasukan yang mengarah ke kota kerajaan berpindah haluan menuju sekte Tujuh Tombak Emas, tak begitu jelas darimana asal pasukan itu tetapi informasi menyebutkan kalau dari lokasi kemahnya saat ini hanya butuh waktu sehari semalam untuk sampai di sekte.
Tan Hao menghela napas berat sebelum kemudian menutup gulungan hitam tersebut, 'Sepertinya Raja Yan ini bukan hanya orang yang licik tetapi juga orang yang pandai membuat strategi. Menurutku seharusnya pasukan aliansi aliran putih-netral sudah sampai. Itu artinya situasi akan terkendali untuk beberapa malam dan juga Jenderal Rui Yun beserta pasukannya ku kira sudah berada di posisi mereka. Aku hanya punya waktu setengah hari untuk membuat Hua'er pulih dari kondisinya, semoga itu waktu yang cukup!'
Sejenak kemudian Tan Hao tersadar dari pemikirannya ketika tak sengaja menoleh, wajah Lan Lihua begitu dekat dengan wajahnya. Ia tak menyadari jika sedari tadi Lan Lihua berusaha ikut membaca gulungan itu namun tak memiliki celah.
"Eh...! Kau sedang apa Hua'er? Kenapa wajahmu terlihat kesal!" tanya Tan Hao sedikit canggung.
Lan Lihua tersenyum manis tetapi terlihat lirikan kedua matanya tak menunjukkan keramahan. Tan Hao langsung paham dengan reaksi Lan Lihua yang seperti itu. Begitu cepat ia menemukan cara untuk mengalihkan perhatian Lan Lihua.
"Ah apa kau tahu? Aku punya benda yang kau inginkan! Apakah kau mau melihatnya?" ujar Tan Hao sedikit tertawa kecil.
Lan Lihua mendengus ringan sambil mengubah posisi berdirinya menjadi terduduk, "Kakak tahu apa soal apa yang aku inginkan? Itu bukan sesuatu yang menarik bagimu, kan!"
"Apa yang kau katakan! Tentu saja itu penting bagiku, lihatlah ... Aku memiliki inti roh yang pastinya akan berguna bagi pelatihanmu!" sahut Tan Hao sambil memperlihatkan sebuah inti roh berwarna hijau cerah seperti nyala api sebesar kepalan tangan.
Lan Lihua terpana melihat benda yang melayang di atas telapak tangan Tan Hao itu, matanya menunjukkan ketertarikan luar biasa sampai terlihat tidak berkedip sama sekali.
Hanya sesaat saja Tan Hao memperlihatkan sebelum menyimpannya kembali, kemudian ia menyentil kening Lan Lihua dengan lembut.
"Kau itu berharga bagiku, jangan sekali-kali mengatakan aku tak tertarik tentang apa keinginanmu! Bersikaplah dewasa, kau akan berumur sembilan belas tahun tak lama lagi, jangan kecewakan Kakek Lan Hou dengan keegoisanmu dalam berperilaku...."
Pipi Lan Lihua memerah, matanya menari-nari mendapat perlakuan seperti itu dari Tan Hao. Ia tak menyangka akan ada saatnya dimana Tan Hao memperlakukannya dengan baik. Meskipun sejak pertama kali bertemu ia menyukai namun setelah waktu lama bersama, baru kali ini sikap Tan Hao bukan hanya manis tetapi juga terdapat kelembutan disana.
__ADS_1
"B-baiklah, baik...! Aku mengerti! Berhenti memperlakukanku seperti anak-anak, aku bahkan lebih tua setahun darimu...!" Lan Lihua nampak canggung ketika bersuara, ia bahkan sulit mengatakan kalau sudah seharusnya sejak lama ia mendapatkan perhatian seperti itu.
Tan Hao bangkit dari duduknya sambil meregangkan kedua tangannya, "Baiklah...! Waktunya kita berlatih serius tanpa gangguan. Kita pergi ke tempat Pagoda Tao Suci...!"
Lan Lihua yang masih tersipu hanya mengangguk pelan sambil menatap malu-malu. Sementara Tan Hao langsung menarik lengan Lan Lihua.
Sementara itu diwaktu yang sama Fen Fang sedang duduk bersila dengan lima kepala mengelilinginya, kepala-kepala itu diletakkan seperti membentuk sebuah pola bintang jika lihat dari atas.
Kedua telapak tangannya menyatu didepan dada sementara kedua matanya menutup rapat. Tubuh Fen Fang memancarkan hawa energi yang begitu kentara, aura energi itu bahkan lebih pekat dari yang pernah ia tunjukkan.
Tak berselang lama, kepala-kepala itu memancarkan cahaya ke langit dan membentuk seperti dinding dengan Fen Fang berada ditengahnya. Tak cukup itu saja, hampir bersamaan muncul sosok aura berbentuk ular memiliki sayap dan bertubuh naga dari tubuh Fen Fang.
Aura itu tak lain adalah Niu Ru, Phyton Naga Angsa. Hewan langit yang merupakan spirit energi dari Pendekar Seruling Iblis. Kemunculannya bahkan menyebabkan langit gelap seketika, dan ketika lonceng di lehernya berbunyi, kepala-kepala itu mengeluarkan semacam pancaran jiwa berbentuk roh iblis hitam legam.
Roh-roh dari kepala manusia ular memiliki wujud berbeda dari roh kepala manusia. Itu terlihat dari warna gelap yang tercipta, dimana roh kepala manusia ular lebih gelap dan seperti memiliki pantulan warna merah dibagian luarnya.
"Hyaa....!"
Tangan Fen Fang melepaskan energi ke arah langit sementara seluruh tubuhnya terlapisi cahaya merah cerah. Sementara dua roh dari kepala manusia masih berputar-putar diatas kepala Fen Fang.
BLAAR!
JJDERR!
Amukan kilat dan petir mengaum tatkala Fen Fang menyerap jiwa berbentuk roh iblis hitam legam, tubuhnya tersambar petir lima kali dalam porsi yang meningkat disetiap satu sambaran menjadi kelipatannya.
__ADS_1
Aura energi dari Niu Ru juga mendapat sambaran yang sama tetapi dalam porsi yang lebih tinggi. Kejadian itu berlangsung kurang lebih selama empat tarikan napas sebelum akhirnya tubuh Fen Fang berhenti memancarkan cahaya merah.
Setelah sambaran petir berakhir, Fen Fang berangsur-angsur menyeimbangkan energi tubuhnya sambil menurunkan kembali kedua tangannya.
Begitu juga dengan Niu Ru yang nampak menggeliat hingga gesekan sisiknya seperti alunan nada yang terdengar harmoni.
"Akhirnya...! Akhirnya aku mencapai tahap ini...! Niu Ru, aku telah berhasil menembus tingkat Pertapa Alam dewa tahap ketujuh! Aku tak mengira akan naik dua tahap sekaligus...!" seru Fen Fang kegirangan.
"Hei hei ... Itu terjadi karena aku juga bagian dari dirimu! Jangan sok lupa, dasar orang tua bau! Semakin tua kau semakin bau...!" sindir Niu Ru yang sepertinya tak lagi terlihat malas.
Fen Fang mendongak keatas mencoba melihat Niu Ru dan saat itu juga ia tertawa renyah, "Pantas saja kau berani bicara seperti itu...! Kau telah naik ke tingkat hewan suci rupanya, hahaha...! Aku membutuhkan dua tingkatan lagi untuk menjadi seorang Saint Murni dan kau membutuhkan tiga tingkatan lagi untuk menjadi hewan suci surga...!"
Niu Ru seperti mengiyakan tetapi balasannya terdengar ambigu, "Cih ... Kau berharap aku mau tersambar lima belas petir lagi? Buang jauh-jauh keinginanmu itu, aku sekarang terlalu kenyang. Aku akan tidur untuk menenangkan kekuatanku, sebaiknya kau mengubah penampilanmu sebelum kembali atau tak ada seorang pun yang akan mengenalimu,"
Fen Fang mengabaikan ucapan Niu Ru sebelum kembali masuk ketubuhnya, ia kini sedang mengamati dirinya sendiri sambil terkagum-kagum.
***
Pendekar tudung emas yang ditugaskan membersihkan area bangunan kuil dari orang-orang yang biasanya menggali benda peninggalan berharga, kini berdiri di samping tiang penyangga. Lebih tepatnya bersembunyi dibalik bayangan tiang penyangga.
Hanya butuh tak kurang dari dua jam baginya untuk membersihkan area luar maupun dalam dan memastikan kalau bangunan itu sudah terbebas dari aktifitas apapun.
Tak berselang lama, Tan Hao datang bersama Lan Lihua. Pendekar tudung emas itu terlihat semakin menyembunyikan kehadirannya ketika Tan Hao semakin mendekat. Seperti ia merasa kalau dirinya sudah diketahui keberadaannya.
"Hua'er...! Sebaiknya kau persiapkan dirimu dari sekarang, kita akan berlatih di bawah tekanan panas bumi. Aku katakan, kita hanya punya waktu setengah hari saja! Jadi konsentrasi lah dengan baik, mengerti!" Tan Hao memberi saran sebelum mengajak Lan Lihua memasuki bangunan setengah hancur tersebut.
__ADS_1
Tan Hao hanya melirik sambil tersenyum tipis ketika melewati tiang penyangga bangunan. Sementara Lan Lihua terlihat beberapa kali mengatur napasnya sambil mengikuti langkah Tan Hao.