
Serangan Long Wang tepat mengenai titik dimana seluruh energi dalam diri Tan hao berpusat. Munculnya sebuah Dimensi yang menelan tubuhnya disaat ia tengah hilang kesadaran membuatnya memasuki sebuah tempat baru.
Tubuh Tan hao melayang bebas di sebuah tempat yang putih bersih tanpa noda. Dalam ketidaksadarannya, Tan hao masih bisa mendengar suara namun tak bisa membuka mata. Bahkan menggerakkan ujung jari pun tak sanggup ia lakukan.
Tubuhnya terbang bebas dengan laju sangat pelan, hingga mencapai sebuah bangunan berwarna putih susu dengan motif bunga teratai tujuh rupa. Sebuah bangunan yang menjadi satu-satunya yang berdiri ditempat yang tidak berujung. Diatas dan di bawah tubuh Tan Hao hanya terdapat awan biru bersih yang juga bergerak sangat pelan. Tak ada tanah ataupun matahari. Semua yang ada di tempat itu seakan bercahaya dengan sendirinya.
Tan Hao berhenti terbang bebas di muka bangunan itu dengan masih melayang lemah. Sesaat kemudian pintu bangunan itu yang tinggi besar terbuka mendadak dengan memancarkan cahaya berkilau yang langsung menerpa tubuh Tan hao seketika.
Cahaya itu tak berhenti bersinar sampai tubuh Tan hao bergerak perlahan dengan posisi berdiri dan kemudian seperti menyedot pelan memasuki bangunan itu.
Tak berapa lama, Tan hao kembali bisa merasakan kembali dirinya dengan perubahan raut wajahnya yang semula pucat menjadi berseri merona. Seperti aliran darahnya kembali mengalir dengan lancar.
"ouh, kepalaku sakit. Apa yang terjadi-!! Dimanakah ini? a-aduuhh,-!!
Tan hao kembali tersadar perlahan membuka mata dan memegangi kepalanya, sesaat setelah ia bisa melihat tempat ia berada.
"Sebenarnya dimana ini!! Apakah aku telah mati dan mencapai surga..?? Ahh jika benar begitu, alangkah indahnya tempat ini.."
Dengan kembalinya kesadaran yang dimiliki membuat Tan hao bisa menyesuaikan kondisi dimana ia berada dengan masih dalam kebingungannya.
Tan Hao tidak terkejut ketika ia mulai berjalan di lantai yang terbuat dari awan biru seluruhnya. Yang ia pahami adalah dirinya telah mati dan mungkin ini merupakan jalan yang harus ia lewati untuk menuju surga.
"Aneh, sesaat tadi aku merasa sakit sekujur tubuh, tapi sekarang,-!! bahkan aku bisa merasakan aliran nafas dan detak jantungku sendiri. Apakah seperti ini yang di rasakan jiwa setelah mati?? Ahh iya. Jika aku mati lalu bagaimana dengan dunia? bagaimana dengan iblis Long Wang? ah siall.. Aku gagal bahkan sebelum memulai mengenal dunia lebih jauh."
Tan Hao membatin dalam langkah kakinya yang berjalan beriringan dengan awan-awan biru yang ia pijak, jika dilihat dari jauh seperti Tan hao jalan ditempat sementara yang berjalan adalah awan-awan yang ia pijak.
Ia berjalan dengan tidak mengerti arah yang ia tuju, di dalam bangunan yang ia masuki memiliki ruangan yang amat luas bahkan sepanjang mata memandang hanya berwarna putih susu tanpa batas. Namun di sisi kiri dan kanan terdapat pijar api biru yang terbentuk indah diatas bunga teratai mekar yang jarak satu pijar dengan pijar lainnya tidak begitu jauh.
Dalam langkahnya yang tidak mengerti arah tujuan, Tan Hao hanya mengikuti jalan yang terbentuk dari bagian tengah pijar api biru yang ada.
Tan Hao merasakan bahwa kedamaian ketenangan dan hembusan angin begitu membuat dirinya nyaman. Bahkan ketika dalam kebingungan pun, hembusan angin yang terjadi setiap kali ia melangkah membuatnya hening sekejap.
Ketika Tan hao merasa telah berjalan jauh dan merasa telah berada di tengah perjalanannya. Ia mendengar sayup-sayup nada berirama yang mengalun indah. Sebuah nyanyian yang menyejukkan.
__ADS_1
"ohh.. Suara siapa ini,-!! Dimana..Dimana..?"
Tan hao menoleh kesana kemari untuk menemukan asal suara indah tersebut tapi ia menemukan tak ada siapapun. Kemudian dengan mempercepat langkahnya, Tan hao kembali menyusuri jalan berharap menemukan apa yang ia cari diujung jalan.
Alunan suara yang begitu indah hingga membuat Tan Hao melupakan kebingungan dan keraguan yang ada pada dirinya. Bahkan melupakan masalah yang ia hadapi. Pikiran Tan hao seperti kosong tak ada apapun kecuali ingin mencari sumber suara yang ia dengar.
Semakin Tan hao berjalan menuju ujung pijar Api biru, semakin pula ia jelas mendengar alunan nada yang indah, Tan hao semakin mempercepat langkahnya dengan tergesa-gesa, ingin melihat siapakah wanita yang sedang bersenandung di tempat sepi seperti ini.
Setelah sampai di pijar Api biru terakhir, Tan hao hanya berdiri mematung. Ia terkejut hingga membelalak sesaat karena apa yang ia lihat, kemudian Tan hao menutup kedua matanya untuk menikmati alunan senandung wanita yang tengah duduk diatas bunga teratai yang besar memiliki tujuh warna ditiap kelopaknya. Wanita itu membelakangi tempat berdirinya Tan hao seakan tidak mengetahui kehadirannya dan masih terus bersenandung dengan memainkan kedua tangannya yang memiliki dua helai selendang sutra yang seperti ikut menari.
( Aku bernyanyi dalam sepinya hati.. Aku disini..
• Saat engkau berlalu tinggalkan bayang Semu..
Terhempas masalalu yang kini mengikatku..
• Kucoba tinggalkan semua impian dari jiwamu..
hingga gelap malam menutupi semua mimpiku..
disaat aku butuhkan dalam rindu yang menikam..
• Sanggupkah Aku Dapatkan Kedamaian..)"
Wanita yang berpakaian layaknya seorang Dewi yang suci, apapun yang melekat ditubuhnya sangat indah dipandang. Dengan hanya terlihat dari belakang saja membuat Tan hao begitu terpesona.
Tan hao membuka kedua matanya sesaat setelah senandung wanita itu berhenti dan mendapati dirinya telah melayang tepat di belakang wanita itu.
"Apaa,-!! Bagaimana bisa aku begini..?" Batin Tan hao dengan mengamati tubuhnya sendiri.
Wanita misterius itu dengan perlahan menghadap pada Tan hao, terlihat Bunga Teratai yang ia duduki berputar perlahan.
"Tidak perlu terlalu terkejut, bukan,-!! Aku lah yang membawamu kemari, Anak Muda?"
__ADS_1
Tan Hao seketika terkejut hingga tak dapat berkedip kala melihat wajah wanita misterius itu, Suasana yang begitu tidak ia mengerti. Ketika wanita itu berbicara dengan senyum ramah disertai menutup tipis kedua matanya membuat Tan hao begitu ingin berteriak lantang. Akibat tak mampu melihat dan mendengar suara indah dari wanita itu.
"A-aku, Ma-maaf,-!!"
Wanita misterius itu dengan gerakan halus tangannya membuat sebuah kelopak menjulur dibawah kaki Tan Hao yang seakan menjadi pijakannya, kemudian mengerut hingga tepat beberapa langkah jarak antara mereka berdua.
"Tak perlu risau, Aku dikenal sebagai Dewi Teratai, namaku LianHua Nushen. Aku bukan orang jahat, aku membawamu kemari karena sebuah alasan. Jadi abaikan apa yang ada dipikiranmu karena aku bisa mengetahui apa yang kau pikirkan. Kendalikan dirimu dan pandanganmu atau aku buat kau benar-benar mati."
Wanita misterius itu memperkenalkan dirinya sebagai Dewi Teratai dengan wajah ramah disertai senyum manis namun nada bicaranya sangat mengerikan. Membuat Tan Hao menelan ludah, semua pikiran kotornya langsung berubah menjadi ketakutan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Dengan sedikit bergetar Tan hao mencoba memalingkan wajahnya dan berkata "Maafkan aku Dewi Yang Agung, Maafkan aku yang hina ini. Aku telah lancang memandangmu dengan pikiran burukku."
Dewi LianHua Nushen hanya tersenyum tipis dengan anggukan pelan kemudian melanjutkan perkataannya.
"Panggil saja aku Dewi LianHua dan tempat ini adalah Istana Awan Kehidupan. Kau sekarang berada di dalam istana Shenming milikku. Alasan aku membawamu kemari, kau sudah mendengarkannya sesaat yang lalu.
Aku adalah Keabadian dan Aku adalah Pencerahan. Aku yang bertanggung jawab atas nurani setiap insan. Dan sekarang adalah Kau, Tan Hao anak dari si kecil Yaoshan. Penjelasan singkatnya, dahulu ayahmu juga aku bawa kemari seperti dirimu saat ini tapi bedanya, dia tidak sekurang ajar kau saat memandangku. Sampai disini, katakan apa yang ingin kau tanyakan, jangan terburu-buru atas nafsumu, kita memiliki banyak waktu untuk itu."
Tan hao terkejut berulang kali sampai ia tak bisa menyembunyikannya, dirinya merasa seperti sebuah butiran pasir di hadapan Dewi LianHua. Sesaat Tan hao penuh penyesalan atas pikiran kotornya beberapa waktu lalu saat Dewi LianHua membicarakan perbedaan dirinya dan ayahnya. Tan Hao baru menyadari jika alunan senandung yang ia dengar merupakan sebuah syair tentang kehidupan yang ditujukan padanya.
Dewi LianHua bahkan menyebut Dewa Yaoshan si kecil, pikiran Tan hao penuh pertanyaan. Sebenarnya seberapa kuat wanita dihadapannya ini dan seberapa kuat ayahnya yang tak pernah ia tau keberadaannya ataupun rupa dirinya.
"Maafkan Aku Dewi LianHua, Apakah aku telah melakukan kesalahan hingga aku mati begitu cepat dengan cara yang tragis. Bahkan sebelum aku mampu mengenal dunia dan seisinya. Dan... sekali lagi maafkan aku yang tidak sopan terhadap anda tapi Siapakah anda sebenarnya di alam dunia ini,-!!"
Tan hao bertanya dengan merendahkan pandangannya yang bersamaan dengan setengah badan agak membungkuk.
Terlihat jelas bagi Dewi LianHua atas ketidaktahuan Tan Hao atas Penguasa, Dunia, Manusia dan Semesta.
Pernyataan Tan hao membuat Dewi LianHua tersenyum tipis dan kemudian menggerakkan sebelah tangannya pelan. Bersamaan dengan itu muncul sebuah cermin berukuran besar yang tidak memantulkan apa yang ada dihadapannya melainkan memiliki sebuah gambaran sendiri yang begitu jelas.
Keterkejutan Tan Hao semakin menjadi-jadi sebab pertanyaannya belumlah di jawab tetapi Dewi LianHua malah memunculkan sesuatu yang belum pernah Tan hao lihat kegunaannya.
"Benda ini akan menjawab semua pertanyaanmu bahkan sebelum kau mengatakannya. Tenangkan dirimu dan bersihkan pikiranmu. Kita akan segera menyaksikan segalanya. Persiapkan dirimu,-!!"
__ADS_1
Penyataan Dewi LianHua membuat Tan hao menelan ludah, namun ia segera menyesuaikan emosi dan pikirannya. Hembusan angin sejuk yang menerpa tubuh Tan hao membantunya untuk menguasai diri dengan cepat.
Kemudian Tan hao mengikuti Dewi LianHua, memandang cermin besar dihadapan mereka dengan hikmat dan tenang ia mulai melihat apa yang Cermin Besar itu perlihatkan.