
Tan Hao menyadari pergerakan berbeda yang dilakukan Nian Zhen, mata dewa mampu melihatnya bahkan pergerakan selanjutnya.
Perkiraan Tan Hao tak meleset, Nian Zhen mengambil langkah mundur untuk membuat jarak sebelum ia mengaktifkan seluruh kekuatannya.
Tubuh Nian Zhen yang semula hanya dilingkupi energi tenaga dalam, kini bertambah memiliki semacam corak hitam yang terhubung langsung dengan kedua palunya.
Satu detik sebelum Nian Zhen melesat dengan kecepatan tertingginya, Tan Hao telah menyiapkan biji teratai ketiga dan keempat. Ini merupakan momen dimana pertama kalinya ia sanggup mengendalikan empat cakram amarah bersamaan.
Kecepatan Nian Zhen sangat luar biasa tinggi hingga membuat dirinya seperti terbagi menjadi beberapa bayangan, sementara Tan Hao sendiri telah terlindungi cakram amarah dari empat sisi.
BOOM!!
Nian Zhen seolah menyerang Tan Hao dari empat sisi secara bersamaan, ledakan bertubi-tubi terjadi. Terlihat jelas, kedua pupil mata Nian Zhen mengecil. Tan Hao menyadari itu saat ia menangkap gerakan Nian Zhen dengan mata dewa tahap kedua.
'Kemampuan unik! Itu membantu dalam menstabilkan tubuh saat bergerak cepat ya! Tapi sayangnya, Mata Dewa lebih dominan dari segala penglihatan yang ada,' Tan Hao tersenyum kecil sebelum mulai bergerak. Sejak awal ia hanya bertahan, tapi kini Tan Hao tak lagi berniat untuk membuang waktu setelah beberapa saat lalu mendengar bunyi nada.
Tan Hao bergerak lebih cepat dari Nian Zhen, bahkan gerakan cakram amarah tak mampu mengikuti tubuhnya. Hanya butuh satu kali pijakan saja ia telah berada tepat di depan Nian Zhen.
"Maaf, waktumu habis!"
BAM!!
Nian Zhen menghantam tanah cukup keras hingga membuat tanah layaknya ombak, tak cukup itu saja. Bahkan tubuhnya masih harus terdorong belasan meter sebelum terhenti menabrak dinding batu.
Tan Hao terkejut untuk beberapa saat dengan peningkatan kekuatannya, ia tak menyangka kalau pukulan setengah tenaganya begitu mengerikan.
__ADS_1
Disisi lain, Nian Zhen tak sadarkan diri dengan bola mata memutih. Terlihat jelas di dadanya mengecap bentuk kepalan tangan. Dinding batu dibelakangnya juga nampak mengalami retak hingga ke ujung atas.
"Lain kali aku harus terbiasa dengan kekuatan ini! Bahaya sekali kalau sampai tak terkontrol dengan baik," ujar Tan Hao sambil menarik kembali cakram amarah ke wujud biji teratai.
"Begitu saja terkejut, kau masih di tingkat awal tahap dasar dari seorang Saint! Apa kau akan berguling jika telah mencapai tingkat Puncak, heh!" kelakar Fen Fang yang tiba-tiba telah ada di samping Tan Hao.
Tan Hao melirik sinis, "Lalu, kakek sendiri bagaimana? Pendekar, bukan! Saint, juga bukan! Seorang pengemis yang memiliki mainan kepala manusia, eh! Menjijikkan,"
"Hahaha, kau akan tahu pada waktunya!" sahut Fen Fang diselingi tawa renyah. Tan Hao menatap sinis sekali lagi sebelum ekspresi wajahnya kembali normal.
Sejenak kemudian ia terbang ke tempat Nian Zhen tak sadarkan diri meninggalkan Fen Fang yang masih tertawa sambil berkacak pinggang.
'Jika kau telah memiliki kekuatan lebih tinggi lagi, aku akan membawamu ke Pulau Phoenix! Kau pasti akan terkejut dengan apa yang ada didalamnya, anak sialan! Lihat saja bagaimana aku akan menembus batasan Kaisar Roh ini dan menjadi Dewa Roh! Saat itu terjadi, bahkan jika kau telah menjadi Saint Sejati, tidak mudah bagimu mengalahkan aku. Hehe ...!' Fen Fang tersenyum licik sambil menatap Tan Hao sebelum akhirnya ia mengikuti Tan Hao menuju Nian Zhen.
Beberapa saat kemudian setelah memastikan kalau Nian Zhen tidak tewas dan hanya mengalami kelumpuhan, Tan Hao bernapas lega. Senada dengan Fen Fang, ia juga terlihat beberapa kali mengecek tubuh Nian Zhen.
Sementara Tan Hao terlihat melepas cincin yang ada di jari Nian Zhen, "Orang yang tegas, memegang keyakinan tinggi meskipun diperalat oleh raja yang tamak kekuasaan. Tapi dihatinya, tidak ada niat berbuat jahat. Orang ini sangat baik, bahkan terus memegang teguh tugasnya, heh! Mungkin aku ingin seperti dia, memegang teguh sebuah tugas!"
Fen Fang berdiri sembari tertawa renyah, ia terlihat sependapat dengan Tan Hao sebelum pandangannya tertuju pada cincin, "Kau mau apa dengan benda itu? Barang murahan, bukankah kau sudah memiliki cincin kualitas tak tertandingi?"
Tan Hao tak menjawab, melainkan mengalirkan sedikit energinya untuk membuka paksa segel kepemilikan cincin bumi tersebut. Tak berselang lama, ia mengeluarkan segala sesuatu yang tersimpan di dalam cincin milik Nian Zhen itu.
Fen Fang terkejut dengan seluruh isi yang dikeluarkan tersebut, terlebih pandangannya tertuju ke kotak hitam yang mengeluarkan hawa energi tipis ditengah banyaknya harta benda maupun sumber daya.
"Kitab Suci Sembilan Surga...!" pekik Fen Fang terbelalak ketika Tan Hao mengeluarkan kitab tersebut dari tempatnya.
__ADS_1
Tan Hao tersenyum tipis sembari kembali memasukkan seluruh harta benda dan sumber daya ke cincin bumi, "Inilah incaran sebenarnya Raja Yan, salah satu kitab alam dewa yang memuat pondasi lengkap tingkat Alam Dewa dan juga manuskrip kuno kewilayahan Kekaisaran Tang beserta struktur pembentukannya,"
Fen Fang tertegun sesaat mengamati kitab tersebut, "Jadi maksudmu, Raja Yan berkeinginan membangun kembali Kekaisaran Tang sekaligus menjadi pendekar abadi! Oh, menarik. Sungguh menarik ...!"
"Sudahlah, kita bahas lain kali. Ada hal penting yang harus dibereskan lebih dulu," kata Tan Hao sambil menyimpan kitab itu kedalam cincin dimensi miliknya.
Tan Hao menelankan sebutir pil penambah tenaga sebelum meninggalkan Nian Zhen, meskipun beberapa saat lalu menjadi lawan tetapi ia yakin kalau Nian Zhen bukanlah orang jahat yang gila membunuh.
Ia mendekati Die Lin serta menyerahkan cincin bumi yang berisi harta benda dan sumber daya tersebut, Tan Hao meminta Die Lin untuk membagikannya ke seluruh warga Hibei untuk membiayai pembangunan ulang desa.
Terlihat ia juga berpesan sesuatu yang penting, itu terlihat dari reaksi Die Lin yang amat serius mendengarkan tanpa menyela.
Fen Fang nampak tidak sabar menunggu Tan Hao yang sedang membicarakan sesuatu dengan pendekar dari Asosiasi Menara Emas tersebut. Ekspresinya baru berubah ketika Tan Hao melesat kearahnya.
"Lama sekali, kau bilang ada sesuatu yang harus dibereskan tapi setelah bertemu wanita cantik kau jadi lembek, Cih!" gerutu Fen Fang sembari bersiap untuk melompat.
Tan Hao tersenyum jengkel, terlihat guratan otot dipelipisnya menatap sinis Fen Fang, "Cerewet! Ayo pergi ...!"
Keduanya terbang dengan kecepatan sedang menuju ke sisi lain desa yang berbatasan langsung dengan Hutan Hibei wilayah barat laut. Tak ada pembicaraan yang berarti antara keduanya, hanya sesekali mereka saling berbalas perdebatan konyol.
Sementara itu, langkah Yan Yu terhenti ketika telah sampai di hulu aliran air tersebut. Nampak jelas di depannya seperti danau kecil sementara di seberang tempatnya berdiri terdapat sebuah pintu gerbang yang terbuat dari besi.
"Dibawah tanah ada tempat seperti ini! Tempat apa sebenarnya ini? Kenapa sebelumnya tak pernah ada informasi apapun mengenai gua rahasia dibawah Hibei!" ujar Yan Yu sambil mengamati tempat itu disertai kewaspadaan tinggi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
***Terimakasih atas dukungannya. Jangan Lupa tekan Like-nya ya...! Setiap satu like dari kalian menjadi nutrisi untuk penyemangat saya dalam menulis, jika menyukai cerita dukung Vote maupun Gift (sekiranya suka, jika tidak ya tidak apa-apa). Jangan lupa pakai masker jika keluar rumah, jaga kesehatan. Utamakan kesehatan keluarga, Semoga Reader's sehat selalu.
Selamat Membaca*** ...