
"Arak lebih menjanjikan daripada sekantong susu! Selalu ada yang lebih nikmat didunia ini tergantung seberapa besar kau menerimanya,"
Tan Hao bangun dari posisinya terlihat malas, sedangkan Lan Lihua hanya diam tanpa suara. Keduanya seperti tengah memiliki semacam masalah namun tidak terlihat di permukaan.
"Selamat pagi, gadis ilusi! Hoamph ...."
Sui Jiu membuang muka, terlihat kekesalan diwajahnya. Membuat Tan Hao tersenyum tipis, diselingi gumaman kecil.
"Apa begitu caramu menyambutku! Tch ... Wanita yang tak jelas! Daripada kau diam mematung tanpa arti begitu lebih baik traktir kami sarapan, bukannya belum lama panen besar ya?" sindir Tan Hao polos sembari menggerakkan badannya.
"Dasar lelaki! Biarpun memiliki kekuatan tak tertandingi tapi lagaknya membuatku ingin membunuh orang lagi, hng ...." racau Sui Jiu pelan.
Sementara itu Liu Zey menghampiri Lan Lihua dengan penuh semangat. Dirinya cukup yakin akan tepat jika menanyakan soal keberadaan Tiandou padanya dibanding langsung bertanya pada Tan Hao yang belum tentu memberinya penjelasan.
"Aku tahu apa yang akan kau tanyakan! Tidak perlu khawatir, dia baik-baik saja," kata Lan Lihua ramah diiringi senyuman sebelum Liu Zey sempat duduk di dekatnya.
Pernyataan tersebut membuat Liu Zey menjadi gugup, terlihat jelas dari perubahan ekspresi wajahnya. Dengan malu-malu ia duduk di dekat Lan Lihua sembari tetap menunduk.
"Apakah dia terluka? Kenapa sampai saat ini aku tak melihatnya?" tanya Liu Zey pelan.
"Seorang lelaki tangguh jika bertarung tanpa luka itu sama saja dengan memandang rendah dirinya! Jangan biarkan kecemasan menjadikanmu tidak mau menerima kenyataan! Dia baik-baik saja dan kini berada di tempat yang tak seorang pun mampu menjangkaunya. Jadi tenangkan dirimu," imbuh Lan Lihua berusaha menenangkan Liu Zey.
"Aku tidak ingin mengakuinya! Tapi rasanya perasaanku tak nyaman jika tanpa ada kabar darinya. Apakah ini paksaan atau entahlah ... Yang pasti aku hanya ingin mengetahui kabarnya saja," balas Liu Zey sembari masih tertunduk.
__ADS_1
"Jangan khawatirkan senior Tiandou, dia baik-baik saja dan mungkin setelah kembali akan lebih baik dari sebelumnya. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana melakukan sesuatu untuk permasalahan disini," imbuh Tan Hao santai setelah melirik ringan Liu Zey.
"Aku tidak mengerti apa yang membuatmu tertahan di tingkatan itu selama ini? Katakan padaku apa masalah yang menghadang perkembanganmu?" lanjut Tan Hao terlihat serius.
Lan Lihua maupun Sui Jiu tak bersuara, mereka terlihat sibuk dengan urusan masing-masing yang tak begitu jelas. Sedangkan Liu Zey tertunduk lesu, seolah enggan menjawab pertanyaan Tan Hao.
Seperti yang diketahui bahwa di alam dunia ini tingkat kultivasi terbagi menjadi tiga tingkatan, yakni Pendekar Ahli, Pertapa dan Alam Dewa. Setiap tingkatan masih memiliki tingkat tahapannya.
Pendekar Ahli terbagi kedalam empat tahapan yakni Ahli Dasar, Ahli Menengah, Ahli Atas dan Ahli Puncak. Sedangkan tingkat Pertapa terbagi menjadi delapan tahapan yakni Pertapa Ahli, Pertapa Bumi, Pertapa Angin, Pertapa Langit, Pertapa Cahaya, Pertapa Alam Semesta, Pertapa Surga, dan Pertapa Dewa Langit. Untuk tingkat Alam Dewa hanya terbagi kedalam empat tahapan yang diketahui yakni Alam Dewa Bumi, Alam Dewa Petir, Alam Dewa Api, dan Alam Dewa Suci.
Masing-masing tahapan ditiap tingkatan memiliki tingkat pencapaian yang sama mulai dari Dasar, Menengah, Atas, dan Puncak.
Beberapa tahun terakhir hanya Liu Zey yang masih tertahan di Pertapa Angin tahap puncak. Berbeda dengan Liu Ran dan Liu Wen yang telah mencapai tingkat Pertapa Cahaya tahap Atas. Sedangkan Sui Jiu sendiri telah jauh meninggalkan ketiganya, dia berada di tingkat Pertapa Alam Semesta.
"Sampai sekarang aku juga tidak tahu! Setiap aku berlatih selalu mencapai titik dimana aku tak bisa merobek penghalang tipis dalam ruang jiwaku," aku Liu Zey polos, terlihat raut wajahnya berubah sedih.
Tan Hao mencoba mendalami pernyataan Liu Zey dengan serius. Ia merasa masalah Liu Zey bukanlah sesuatu yang rumit namun lebih ke sesuatu yang harusnya dilampaui.
"Sepertinya aku tahu masalahnya! Setelah kita kembali ke Asosiasi, aku akan membantumu menembus batas itu. Sekarang yang terpenting adalah kendalikan perasaanmu," kata Tan Hao yakin diselingi senyum kecil.
"Cinta tumpang tindih dengan kebencian. Seberapa besar yang kau rasakan akan berakhir dengan tak berkembangnya dirimu. Untuk apa mementingkan sesuatu yang pada akhirnya membuatmu tertahan? Lebih baik percaya pada diri, pahami jalan nurani melangkah menembus batas ilahi! Hentikan kebodohanmu lanjutkan perkembanganmu ... Tch!" berondong Sui Jiu panjang lebar hingga membuat Tan Hao tersenyum getir mendengarnya.
"Sudahi pembicaraan ini! Sampai kapan kita berada disini?" ketus Lan Lihua yang mulai merasa jenuh.
__ADS_1
Tan Hao cukup dibuat pusing oleh ketiga wanita tersebut yang memiliki sifat saling berlawanan satu sama lain. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Baiklah! Kita kembali ...." ajaknya cepat seperti tak memiliki pilihan lain selain bergegas.
Tan Hao bergerak lebih dulu yang kemudian diikuti oleh Lan Lihua, Sui Jiu menjadi yang terakhir bergerak mengikuti sebab masih merasa dongkol entah apa penyebabnya.
Sementara itu ditempat lain, Fen Lian tengah berdiskusi serius bersama beberapa orang penting Asosiasi cabang Hibei membicarakan situasi yang terjadi. Fen Lian merasa jengah dengan keadaan di luar sana yang sewaktu-waktu mengancam keberadaan Asosiasi Menara Emas cabang Hibei apalagi ditempat ini terdapat ruang penyimpanan sumber daya.
"Bagaimana menurutmu, senior Kun Jia?" tanya Fen Lian pada pria paruh baya yang beberapa hari sebelumnya memeriksa identitas Tan Hao.
"Dari pengamatan saya, aliansi aliran hitam bergerak mundur semalam setelah terjadi badai angin dan guntur. Informasi yang di peroleh orang-orangku tidak begitu banyak. Namun, kejadian semalam berhasil membuat pasukan aliansi menjauhi Hibei," terang Kun Jia yang merupakan senior kelas satu dalam tubuh Asosiasi Menara Emas. Posisinya setara dengan manager cabang.
"Jadi menurutmu saat ini bisa dikatakan Hibei aman? Begitukah ...."
"Benar Nona Fen,"
Fen Lian terdiam sesaat mencoba memikirkan hal lain yang mungkin terjadi tiba-tiba diluar kendali. Raut wajahnya begitu serius. Disisi lain, Manager Xinxin nampak gelisah namun ia samarkan dengan memainkan gelas teh di depannya.
"Manager Xin! Pastikan dalam seminggu ini area di sekitar bangunan Asosiasi bersih dari pengunjung. Tutup semua sistem dan kegiatan yang berjalan, aku ingin semuanya segera terealisasikan mulai besok," terang Fen Lian setelah berpikir cukup lama.
"Ah ... Iya! Baiklah,"
Manager Xinxin tersentak kaget ketika Fen Lian memanggil namanya dengan keseriusan tinggi. Keringat dingin merembes di pelipisnya seolah sedang menyimpan sesuatu, gerakan tubuhnya juga terlihat kaku. Namun hal itu tak disadari Fen Lian maupun kedua orang lainnya.
__ADS_1