Legenda Dewa Surgawi

Legenda Dewa Surgawi
Ch. 125 ~ Sui Jiu dan Liu Zey


__ADS_3

Yun Lei tersedak napasnya sendiri mendengar permintaan Sui jui, ia tak menyangka akan kehilangan seluruh harta rampasan yang ia kumpulkan beberapa hari terakhir ini. Meskipun dirinya menyadari tak ada pilihan lain selain mengiyakan permintaan Sui Jiu dan hanya mengumpati dirinya sendiri yang begitu bodoh, tak lekas pergi meninggalkan tempat tersebut ketika mulai menyadari kehadiran seseorang.


"Kenapa diam? Keberatan? Atau ...." hardik Sui Jiu tajam sembari melirik kejam.


Lagi-lagi Yun Lei dibuat ketakutan dengan tatapan wanita itu, jika bukan karena nama besarnya sebagai pembunuh bayaran nomor satu mungkin Yun Lei masih bisa mengamankan situasi. Namun, kenyataannya adalah wanita dihadapannya itu merupakan orang paling dihindari bahkan patriark sekte aliran hitam pun segan terhadapnya.


"Tidak! Tidak! Jangan berpikir yang macam-macam. Aku bersedia memberikannya padamu, tetapi apa gunanya uang bagimu yang bisa dengan mudah mendapatkan apapun yang kau mau tanpa perlu bersusah payah?" jawab Yun Lei kemudian memberanikan diri mempertanyakan.


"Tak perlu kujelaskan hal yang tak akan kau pahami! Jadi ... Berikan atau tidak!"


Yun Lei menelan ludah, raut wajahnya pucat. Gerakannya begitu lamban ketika mencoba melepaskan cincin bumi di jari telunjuk kirinya. Agaknya, ia merasa berat tetapi juga akalnya berkehendak lain.


"I-ini ... Semua ada disini termasuk perbekalan dan pakaian ganti," ujar Yun Lei memberikan cincin penyimpanan miliknya dengan gerakan tersendat-sendat menunjukkan ketidakrelaan.


Sui Jiu meraih cincin tersebut dengan cepat, senyum merekah tercipta di bibir mungilnya. Sedangkan Yun Lei hanya bisa tertunduk di penuhi pikiran rumit.


Tak butuh waktu lama bagi Sui Jiu memeriksa cincin tersebut menggunakan kekuatannya, setelah memastikan kebenaran ucapan pendekar berambut putih tersebut Sui Jiu batuk pelan.


"Aku hanya membutuhkan uang dan sumber daya, ku kembalikan pakaian dan bekalmu!" ucap Sui Jiu santai sembari mengeluarkan beberapa pakaian ganti milik Yun Lei dan sebuah kantung berukuran sedang berisi roti kering.


Liu Zey tersenyum melihat tindakan yang dilakukan Sui Jiu, biar bagaimana pun ia mengagumi cara hidup Dewi Ilusi itu yang kejam terhadap kejahatan dan lunak terhadap kebaikan. Selama ini, meskipun ia masih bekerja sebagai pembunuh bayaran. Namun yang ia ambil selalu sama, berkaitan dengan orang-orang yang memiliki rekam jejak tinggi soal kejahatan.

__ADS_1


Yun Lei hanya bengong sambil memandangi tumpukan pakaian serta sekantung roti kering di hadapannya. Ia tak menduga jika itu akan dikembalikan padanya.


"Apa kau serius soal ini?" tanya Yun Lei memastikan.


"Ya! Tentu saja. Lagipula buat apa pakaian laki-laki bagiku? Soal bekal, itu cukup hingga kau sampai di Harimau Emas. Bawalah dan pergi ...."


Mendengar hal tersebut membuat Yun Lei tak mau membuang waktu lagi, dengan cepat ia meraih pakaian dan roti kering tersebut kemudian berlari dengan cepat meninggalkan tempat itu.


Liu Zey menghampiri Sui Jiu yang masih tersenyum senang dengan apa yang ia dapatkan, beberapa sumber daya kualitas bagus bukan alasannya. Melainkan sekantung koin perak yang memiliki nilai kurang lebih dua juta koin. Itu cukup untuk membeli sumber daya tingkat tinggi yang akan di gunakan untuk pengobatan Liu Ran.


Selama ini memang dialah yang menyediakan sumber daya utama bagi Liu Ran, sedangkan sumber daya pendukung lainnya bagian Liu Zey dan Liu Wen yang memberikannya.


"Kakak Sui! Kenapa kau tak bunuh saja orang itu? Dia berasal dari aliran hitam. Tak mengherankan jika suatu saat akan membalas dendam padamu," ujar Liu Zey pelan.


Memang benar apa yang dikatakan Sui Jiu, selama manusia memiliki hati dan pikiran. Bekerja secara normal akan memberikan mereka jalan untuk mengerti tentang bagaimana pilihan yang di tempuh. Hal itu juga yang pernah ia alami dulu sewaktu pertama kali bertemu Tan Hao. Seseorang dapat berubah menjadi lebih baik tergantung cara orang bersikap dan menunjukkannya sesuatu yang benar.


"Aku penasaran! Sejak kapan kakak berada disini? Hmm ...."


"Heh! Ceritanya panjang, tapi intinya sasaranku ternyata salah. Kupikir orang yang bernama Fen Lian itu, tapi ternyata bukan. Orang yang harusnya ku bunuh bernama Xin Xin! Seseorang telah membayar dengan harga tinggi untuk kepalanya," terang Sui Jiu bercerita.


Liu Zey tertegun mendengar cerita singkat Sui Jiu, pikirannya melayang membayangkan betapa kejamnya Sui Jiu menghabisi nyawa tak berdosa dengan diiringi gelak tawa. Raut wajahnya memucat diselingi senyum terpaksa menatap Sui Jiu yang masih santai menghitung sesuatu dengan jarinya.

__ADS_1


"Astaga! Orang ini salah membunuh orang tapi masih santai begitu seolah tak melakukan apa-apa! Sifat macam apa itu, cih ...." batin Liu Zey sambil memandang konyol Sui Jiu.


Sui Jiu menyadari tatapan risih Liu Zey, ekspresinya yang konyol mencoba memasang tampang manis.


"Hentikan bayangan bodohmu! Aku tak sesadis itu, lagipula aku tak jadi membunuh orang. Tuan Muda melarangku,"


"Eh! Oh ...." timpal polos Liu Zey.


Cukup lama keduanya beradu argumen yang tak jelas. Hingga terhenti ketika terik matahari pagi mulai menerpa tubuh mereka. Setelah merasa cukup beristirahat dan tenaga mereka kembali pulih, Sui Jiu mengajak Liu Zey untuk kembali ke cabang Asosiasi Menara Emas desa Hibei.


Meskipun Liu Zey menerima ajakan tersebut, hatinya masih mengkhawatirkan keadaan Tiandou yang belum kembali. Sebenarnya ia ingin menanyakan pada Sui Jiu namun diurungkannya sebab sudah pasti bukan jawaban yang diberikan melainkan ceramah yang berujung cemoohan.


Tak berapa lama mereka berjalan menyusuri rimbunnya Hutan Hibei. Keduanya bertemu Tan Hao dan Lan Lihua yang tengah beristirahat. Sui Jiu memandang sinis Lan Lihua dari kejauhan sebab Tan Hao tengah merebahkan badannya sedangkan kepalanya berada diatas paha Lan Lihua.


Bahkan Liu Zey pun tersipu malu melihat pemandangan tersebut. Bukannya ia melihat Tan Hao dan Lan Lihua, tetapi dimatanya yang terlihat adalah dirinya bersama Tiandou.


"Aku tak mengerti! Apa bagusnya wanita itu? Bahkan aku lebih memilih Liu Ran dibandingnya, cih ...." kesah Sui Jiu melihat keduanya sambil terus berjalan mendekat.


"Kakak Tiandou! Dimana dirimu saat ini? Kenapa kau tak kembali? Apakah kau baik-baik saja?" batin Liu Zey sembari menggenggam erat bajunya.


Tan Hao dan Lan Lihua sebelumnya telah menyadari kedatangan Sui Jiu dan Liu Zey, membuat keduanya tak bereskpresi apa-apa selain menikmati udara pagi serta cahaya mentari yang masih muda. Bahkan Lan Lihua mengusap ringan kepala Tan Hao seolah tak melihat ada orang lain disekitar mereka.

__ADS_1


"Sepertinya sudah tak perlu susu lagi! Balita yang dulu kurawat sekarang telah beranjak dewasa sampai bisa membedakan mana yang murni dan mana yang bergizi," ledek Sui Jiu setelah berdiri cukup dekat.


__ADS_2