
Setelah menuggu cukup lama. Akhirnya Su jiu tersadar, dia bangun dari duduknya dengan senyum lebar merekah serta ekspresi wajah begitu bahagia.
Tanpa bantuan seperti ketiga orang wanita itu, Sui jiu mampu untuk bergerak dengan bebas. Dasar kekuatannya memanglah ilusi dan sekarang ditambah dengan peningkatan kekuatannya. Cukup mudah baginya bergerak walaupun bukan dimensi miliknya.
Tan hao melihat itu cukup terkejut dengan trobosan yang Sui jiu dapatkan. Sebenarnya ia kagum akan pencapaian yang tlah Sui jiu dapatkan, namun ia sadar jika pujian berlebih akan membuat hati seseorang menumbuhkan sifat sombong.
Dengan langkah mantap disertai senyum lebar, Sui jiu mendekat ketempat mereka berada.
"Tuan, terimakasih atas semuanya. Jika bukan karena campur tangan tuan, aku masih bukan apa-apa. Tidak ada balasan yang setimpal untuk itu, yang aku punya hanya kesetiaan".
"hehe, tak ku sangka. Kau mencapai tingkat Pertapa Langit tahap Puncak, tapi jangan senang dulu. Meskipun kekuatanmu meningkat pesat, namun pondasimu masih belum kuat. Biar bagaimana pun, kau tidak akan bisa menang melawan seorang Pertapa Langit tahap Puncak yang sudah puluhan tahun berada ditingkat itu. Jangan lupa diri". kata Tan hao dengan tenang.
"Aku cukup paham tentang itu,Tuan?. Sekarang bagaimana selanjutnya, saya menunggu perintah Tuan". Sui jiu masih dengan ekspresi kebahagiaannya.
"Baiklah, kalian semua sudah menyelesaikannya sesuai rencana kita akan pergi ke Lembah Hijau, tapi kita keluar dulu dari sini".
CTAAKKK..
Setelah Tan hao menjentikkan jarinya, tiba-tiba mereka seperti asap yang tersedot lubang penghisap, dengan sangat cepat hingga mereka telah berada di dunia nyata.
Beberapa saat setelah berhasil menyeimbangkan diri, mereka semua terkaget-kaget dengan sosok laki-laki gagah dengan pakaian menawan sedang tertidur berdiri disamping tubuh Tan hao.
Mereka cukup yakin itu bukan manusia, sebab mereka melihat bahwa bagian bawah tubuh laki-laki itu seperti asap melayang transparan.
Tiba-tiba orang itu membuka matanya perlahan.
"oh kalian sudah kembali, selamat atas pencapaiannya. ehh.. oh perkenalkan namaku Ye yuan. Tuan Tan hao masih ada urusan, jadi dia belum tersadar, kalian tunggu saja".
"Ye yuan? kau siapa? seorang dewa?" ucap Zey liu dengan penasaran.
"Bukan, aku salah seorang pelindung sekaligus inti kekuatan Tuan Tan hao". Ye yuan berkata dengan penuh percaya diri.
"Sebaiknya jangan bertanya yang tidak perlu ditanyakan, sebelum Tuan sadar kurasa lebih baik kalian menyiapkan makanan dan lagi kalian juga perlu mengisi kekosongan perut kalian, bukan?" lanjut Ye yuan.
"ohh..benar juga. Pantas badanku terasa lemas. Baiklah biar aku yang mencari buruan, kalian tunggu disini". ucap Sui jiu dengan mengusap perutnya pelan.
"Sebaiknya aku temani saudari Sui agar lebih cepat". ucap singkat Ran Liu dengan wajah berharap.
"Tidak perlu. Aku juga ingin mencoba kekuatan baruku, ahh sudahlah aku pergi dulu". kata Sui jiu yang langsung menghilang bagai angin.
"ehh, kakak. Aku penasaran jurus seperti apa yang akan Tuan Muda berikan pada kita". tanya Wen Liu dengan ekspresi penasaran disertai sebelah tangan memegang dagu.
"hehe, aku berfikir pastinya jurus yang hebat dan juga yang cocok untuk kita". Ran Liu tersenyum namun juga terlihat ekspresinya sama penasaran juga.
Kedua kakak beradik itu saling menerka-nerka jurus apa yang akan mereka dapatkan. Sementara Zey Liu hanya menjauh serta duduk disisi lain bawah pohon beringin dengan beberapa kali memandang kedua tangannya.
Dari mereka semua, memang hanya Zey seorang yang kekuatannya paling rendah. Dia memikirkan hal-hal yang membuatnya semakin merasa telah gagal dan hanya menjadi beban jika nantinya ikut serta dalam rencana penyelamatan Liqin Mei.
Ditengah-tengah rasa sedihnya serta hampir merasa putus asa. Ye yuan mendekatinya serta duduk disampingnya dengan ekspresi ramah senyum kecil.
"Di dunia ini kekuatan adalah pengukur seberapa berharganya seorang pendekar. Namun, kekuatan juga yang menyebabkan seseorang kehilangan jati diri mereka. hehh, dunia seperti ini sungguh membosankan. Benarkan?"
"ehh, emm. Menurutmu apakah kemampuanku cukup pantas berada diantara mereka?" dengan menunduk serta kedua tangan menggenggam erat Zey menitikkan airmata.
"Hehh, apakah pantasnya seseorang di lihat dari seberapa besar kemampuannya? Jangan menyela takdir, semakin kau mempertanyakan hatimu semakin juga kau akan terjatuh lebih dalam". balas Ye yuan dengan menatap ramah.
"emm, aku tidak tahu harus bagaimana. uhh..?"
__ADS_1
Ye yuan berdiri dengan ekspresi yakin penuh ketegasan.
"Kau hanya perlu menerima dirimu sendiri lalu membuat hal mustahil menjadi mungkin".
Dengan menjulurkan tangan kanannya ye yuan melanjutkan perkataannya.
"Bangkit untuk maju atau diam meratapi kesedihan".
"Tsk..benar juga. Baiklah. Aku akan menantang diriku sendiri untuk melampaui hal yang kuanggap mustahil". zey liu tersenyum kecil lalu meraih tangan ye yuan dan bangkit berdiri.
Beberapa saat kemudian.
"ahh berhenti berandai-andai. Lihat? Tuan muda sudah bangun". ucap Ran Liu berseru pada Wen Liu yang dari tadi bergumam tanpa henti.
"Kalian kemarilah, ada beberapa hal yang ingin kusampaikan". seru Tan hao singkat.
Yang membuat mereka dengan cepat mendekat.
"oh kemana Sui Jiu?"
"Dia sedang mencari makanan untuk kita". balas singkat Wen Liu.
"Ah baiklah. Begini, sebelum aku memberi beberapa jurus pada kalian, pertama aku ingin mengetahui keahlian dan senjata seperti apa yang kalian miliki. Untuk Sui jiu aku sudah tahu sebab pernah bertarung dengannya". kata Tan hao berekspresi serius.
"ah kami memang punya senjata masing-masing Tuan Muda tetapi sudah sangat lama kami tak menggunakannya". ucap Ran Liu dengan kejujurannya serta muka wajah serius menunduk.
"Tak masalah, sekarang katakan padaku senjata apa yang kalian gunakan".
"Baiklah Tuan, Aku menggunakan Trisula sebagai senjata, lalu adik Wen menggunakan pedang dan adik Zey menggunakan panah. Kami dulunya memiliki guru masing-masing jadi senjata kami juga berbeda, tapi setelah memutuskan tak lagi menjadi pendekar. Kami tidak pernah lagi melatih ataupun menggunakannya". jelas Ran Liu dengan pandangan serius serta ekspresi wajah bersalah.
"Cukup, tak perlu memikirkan masalalu cukup jadikan itu pengalaman berharga untuk melaju di masa depan. Baiklah, aku sudah tahu apa yang cocok untuk kalian.." sergap Tan Hao memotong bayangan ingatan masalalu Ran Liu.
Tan hao tidak menjawab pertanyaan Wen Liu dan hanya menatap Ye yuan dengan senyuman yang langsung di balas anggukan pelan ramah.
Dengan seluruh benda berharga yang ada di cincin pemberian pamannya Tan hao memiliki banyak senjata kelas menengah, atas juga langit serta memiliki ribuan buku jurus milik pamannya dan juga banyak buku-buku lainnya yang Tan hao belum mengerti kegunaannya.
Hanya saja dalam beberapa waktu dia melakukan pencarian, Tan hao hanya berhasil menemukam beberapa jurus yang cocok dan beberapa pilihan senjata.
Dengan mengayunkan tangannya pelan, seketika itu muncul 5 senjata kelas atas beserta 4 lembar berisi ramuan jurus.
Benda-benda itu melayang di depan Tan hao yang seketika itu juga membuat ketiga wanita itu melongo tak percaya. Sekali melihat saja mereka langsung jatuh cinta dengan senjata yang ada di depan mereka.
"Tatapan macam apa itu? ini hanya senjata kelas atas, kalaupun aku jual pasti harganya murah. Aku tidak percaya kalian begitu terkesima melihatnya". seru Tan hao dengan senyum renyah.
"T-tuan apakah bercanda? ini merupakan senjata tingkat tinggi, bagaimana mungkin kami tidak mengenalinya. Senjata ini merupakan senjata kuno sebagian warisan dari Pertapa Dewa Langit yang telah dicari oleh beberapa orang. Tidak kusangka ternyata ada pada Tuan Muda". dengan wajah terkejut tak percaya Ran Liu mengatakan asal senjata itu dengan masih memandanginya.
"Kakak Ran benar, ini senjata paling berharga. apakah Tuan yakin memberikannya pada kami?" timpal Zey dengan penuh tanya.
"Hehe bagiku, benda-benda ini tidak ada gunanya. Hanya menjadi barang simpanan saja. Lebih baik aku berikan pada kalian".
"Tuan yakin? senjata ini merupakan harta tingkat tinggi,.
Trisula ini bernama Trisula Dewi Perang lalu Pedang ini bernama Pedang Bintang kembar lalu panah ini bernama Busur Bulan dan Pisau ini merupakan senjata paling misterius menurut kami bernama Pisau Naga Perak.
Apakah Tuan yakin dengan ini? kami tak cukup pantas menerimanya". jelas Wen Liu dengan ekspresi tak yakin serta pandangan nanar.
"Oh aku terkejut kau bisa mengenalinya. Benar itulah nama dari senjata ini. Dan lembaran ini adalah formula jurus untuk penggunaan senjata-senjata ini. Kalian cukup pantas, sebab aku tidak sedang berlibur bersama pelayan. Aku ingin kalian menjadi pendekar hebat yang berada disisiku. Jadi apakah kalian menerimanya?" kata Tan hao tegas dengan kedua tangan terbuka lebar ekspresi wajahnya menatap tajam.
__ADS_1
"Kalian bodoh, tinggal bilang iya saja apa susahnya. cihh terlalu banyak omong kosong" seru Sui jiu dengan membawa beberapa ekor ayam hutan serta kelinci.
"Hehe. Aku suka gayamu" batin Ye yuan dengan dua jempolnya terangkat sambil tertawa renyah.
"aih makanan sudah datang. Sebaiknya aku simpan dulu. Kalian siapkan makan siang sebelum kita mati lemas karena kelaparan". sergap Tan hao menengahi keraguan mereka bertiga.
Setelah Tan hao menyimpan kembali benda-benda itu. Mereka pun dengan sigap melaksanakan perintah yang diberikan.
Tan hao hanya menunggu dengan duduk bersandar di pohon beringin membiarkan keempat gadis itu sibuk menyiapkan hidangan.
Meskipun hanya berupa ayam bakar serta kelinci panggang namun masakan itu cukup enak, sebagai pelayan penginapan ketiga bersaudara itu ahli dalam memasak.
Beberapa saat kemudian.
Setelah selesai menyantap makan siang, ketiga wanita itu hanya diam tak berbicara apapun. Hanya Sui jiu yang sejak tadi terus berbicara sendiri.
Acara makan siang yang seharusnya penuh rasa senang, terlihat begitu kaku dan hening. Sampai selesai pun tetap kaku.
"Fiuuhhh.. akhirnya kenyang juga.." ucap Tan hao puas setelah menghabiskan beberapa ekor kelinci panggang serta seekor ayam bakar.
Suasana begitu canggung. Jelas terlihat bahwa Liu bersaudara sedang memikirkan sesuatu yang jelas berbeda-beda pemikiran.
Dengan cepat Tan hao mengeluarkan kembali senjata itu.
"aihh kalian ini. Sudahlah buang jauh-jauh keraguan dihati kalian.
Trisula Dewi Perang ini milikmu, Ran. Sudah terima saja jangan banyak bertanya.
Pedang Bintang Kembar ini milikmu, Wen. Kedua pedang ini sama menawannya dengan dirimu.
lalu Busur Bulan ini milikmu, Zey. Senjata ini begitu indah seperti parasmu, cukup cocok.
Terakhir, Pisau Naga Perak ini untukmu, Sui. Ini lebih baik dari pisau ilusi milikmu". Tan hao menghela nafas kemudian memberikan senjata-senjata itu dengan sedikit raut wajah datar.
"Oh mengenai jurus. 4 Lembaran ini merupakan bagian dasar dari masing-masing buku jurus lengkapnya yang sesuai dengan jenis senjata yang kalian miliki. Aku hanya mengambil bagian pertamanya saja. Jika kalian bisa sempurna menguasainya, akan aku berikan bagian berikutnya. Masing-masing memiliki 4 bagian keseluruhan. Jadi pastikan kalian mempelajarinya dengan baik.
Yang pertama,
Kilat Biru Trisula Dewi, lembaran ini jelas untukmu Ran. Ambilah, pelajari dengan baik.
Tarian Pembunuh Bintang, lembaran ini memang untukmu Wen. Ambilah, pelajari dengan baik juga.
lalu, Formasi Hujan Pencabut Nyawa, lembaran ini khusus untukmu, Zey. Dengan Busur sebagai senjatamu, jurus ini akan sangat mematikan. Ambil dan pelajarilah.
Terakhir, Aura Absolut Dewi Ilusi, meskipun masih jauh dibawahku namun jurus ini sangat hebat, cocok untukmu Sui. Ambil dan pelajarilah..". Tan hao memberikan Lembaran formula jurus setelah memberikan senjata-senjata itu sesuai karakteristik masing-masing.
Mereka bertiga seakan masih tidak percaya dengan apa yang mereka terima. Hanya Sui jiu saja yang dengan senyum senangnya mengucapkan beberapa kalimat terimakasih.
"Baiklah. Angkat kepala kalian, keraguan tidak akan membuat kalian kuat. Ketidakpastian tidak akan membuat kalian berkembang. Mulai sekarang kalian merupakan bagian dariku. Apa kalian mengerti?" kata Tan Hao cukup tegas.
"Kami mengerti, Tuan". ucap mereka bersamaan.
Setelah melihat kembali rasa percaya diri mereka menguat. Tan hao menjelaskan bahwa masih ada waktu sehari sebelum menuju Lembah Hijau. Tan hao menjelaskan jika malam hari adalah waktu yang tepat untuk menyusup ataupun menyerang diam-diam oleh karena itu Tan hao ingin mereka sedikit banyak melatih jurus serta senjata masing-masing.
Sementara itu di Sekte Tujuh Tombak Emas sedang kedatangan tamu istimewa. Dia merupakan Matriark Anggrek Suci, Zhang Weili.
Kedatangannya yang seorang diri cukup membuat beberapa anggota sekte terkejut.
__ADS_1
Sebab Zhang weili datang dengan tatapan menakutkan tanpa ekspresi apapun.
Dan yang menyambut kedatangannya di depan gerbang kediaman Tetua Tombak adalah Tetua Tiandou.