
Setelah berhasil menguasai jurus yang di berikan Tan hao, mereka berempat menyiapkan segala keperluan untuk bergerak ke Lembah Hijau.
Malam memang sudah datang namun masih muda, walaupun jarak tempuh antara tempat mereka berada dengan Lembah Hijau lumayan jauh. Dengan kemampuan yang mereka miliki tak membutuhkan waktu lama untuk sampai.
Setelah mereka selesai bersiap dan Tan hao selesai melakukan pelatihan ringannya. Mereka mulai bergerak menerabas rimbunnya hutan. Menurut Sui jiu, jika harus melewati jalan besar mereka harus juga melewati beberapa kota kecil. Dan di beberapa kota tersebut ada banyak anggota Lembah Hijau yang menguasai.
Setelah menimbang beberapa kemungkinan, akhirnya Tan hao memutuskan untuk melewati belantara hutan. Masalah beberapa kota yang telah dikuasai Anggota Lembah Hijau akan diselesaikan dalam penyerangan langsung. Tan hao tetap mendahulukan pembebasan Liqin Mei, sebab jika dia masih di sekap dan penyerangan dilakukan maka jelas dia akan dijadikan sandera hidup.
Dalam laju larinya dalam kecepatan tinggi, keempat wanita itu mampu mengimbangi kecepatan Tan hao.
Mereka melesat cepat bagaikan angin, bahkan batang-batang pohon yang mereka pijak sama sekali tak bergerak karena saking cepatnya.
"Tuan, sebentar lagi kita akan sampai di tempat dimana Liqin Mei berada setelah melewati lembah ini." Sui jiu yang berada di samping Tan hao mengingatkan dengan menunjuk arah depan.
Dengan peringatan Sui jiu, Tan hao berhenti di salah satu batang pohon besar yang diikuti keempat wanita lainnya dengan berpijak pada beberapa batang pohon sedang di belakang Tan hao.
Alasan Tan hao berhenti adalah untuk melihat situasi yang ada dengan Mata Dewa nya juga untuk melihat seberapa besar kekuatan yang ada.
Dengan Mata Dewa yang dimilikinya, ia mampu melihat dengan jelas ada sebuah bangunan di dalam lebatnya hutan. Bangunan itu tidak terlalu istimewa, namun di bagian depan terdapat beberapa penjaga dengan tingkat Pendekar Ahli Puncak serta dua orang dengan tingkat Pertapa Ahli Atas, sedangkan di bagian belakang terdapat tiga orang dengan tingkat Pertapa Bumi awal. Lalu bagian samping kanan kiri bangunan hanya terdapat belasan orang dengan tingkat Pendekar Ahli Atas dan dibagian dalam terdapat satu orang dengan tingkat Pertapa Langit awal serta beberapa orang disekitarnya .
Tan hao dengan jelas melihat beberapa wanita di rantai di bagian perut, kedua tangan dan kakinya, serta beberapa laki-laki yang juga mengalami hal yang sama.
Setelah beberapa saat Tan hao menganalisa kekuatan yang ada, kemudian ia turun yang dengan cepat diikuti keempat wanita dibelakangnya.
"Sepertinya kekuatan mereka lumayan bagus untuk jadi lawan kalian. Hmm." dengan senyum tipis serta wajah tenang Tan hao menjelaskan situasi di sekitar bangunan sesuai apa yang ia lihat. Keempat wanita itu hanya diam mendengarkan tanpa menyela.
Setelah penjelasan singkat itu selesai, Tan hao menggelengkan kepalanya pelan.
"Sayangnya aku tidak mengenali Putri Liqin Mei diantara mereka, apakah diantara kalian ada yang mengenali atau setidaknya terdapat tanda khusus yang dia miliki."
Dengan cepat Sui jiu menjawab dengan tegas serta jelas.
"Menurut penyelidikanku beberapa waktu lalu, Nona Liqin Mei memiliki Cincin Giok berwarna Hijau dan juga penampilannya sedikit berbeda dari wanita lain disekitarnya."
"Apakah saudari Sui yakin? Kurasa mereka semua bukanlah gadis-gadis biasa. Bagaimana kalau kita salah membawa orang yang mengaku-ngaku sebagai Liqin Mei untuk diselamatkan." Ran liu segera menimpali ucapan Sui jiu dengan serius.
"Heh, apa kau meragukan kemampuanku sebagai mantan pembunuh bayaran? Lagipula diantara mereka ada satu gadis yang sangat tidak biasa bahkan identitas Liqin Mei kalah jauh darinya. Apa sulitnya untuk kita menyelamatkan mereka semua dengan membunuh para penjaga itu, Hng..?" raut wajah Sui jiu sedikit geram dengan ucapan yang galak.
Tan hao segera menengahi pembicaraan yang bisa saja menjadi adu mulut. Mengetahui sifat Sui jiu yang kasar serta keras.
"Sudah.sudah.. Benar apa yang Sui jiu katakan, kita harus menyelamatkan mereka semua dan membawa mereka semua ke sekte Tujuh Tombak Emas. Mengenai identitas yang mereka miliki itu kita pikirkan nanti setelah kita berhasil melakukannya malam ini."
Setelah penyusunan rencana selesai, Tan hao langsung menyuruh mereka lekas bergerak.
Ran Liu bergerak ke bagian depan, Wen Liu serta Zey Liu di bagian samping kanan dan kiri, serta Sui Jiu di bagian belakang sementara Tan hao mengamati dari kejauhan dengan Mata Dewa nya.
Rencana yang Tan hao buat memang cukup rapi sesuai kemampuan keempat wanita itu.
__ADS_1
Sedangkan Tan hao hanya melihat dari jauh bukan untuk jadi penonton melainkan menyerang menggunakan Ilusi dengan Mata Dewa nya jika salah satu dari keempat wanita itu mengalami kesulitan.
Lagipula Tan hao juga menyadari jika bisa saja ada beberapa orang lagi yang datang tanpa mereka sadari. Ye yuan lah yang bertugas mengamati area sekitar dengan jangkauan yang lebih luas dibanding kemampuan Mata Dewa milik Tan hao.
Dan yang pertama bergerak dengan terang-terangan adalah Ran Liu sebagai pengalih perhatian. Sedangkan Wen dan Zey menyerang secara sembunyi-sembunyi ketika Ran liu telah berhasil mengalihkan perhatian mereka.
Lalu Sui jiu dengan menggunakan Ilmu ilusinya berhadapan dengan ketiga Pertapa Bumi tahap awal di bagian belakang.
Dengan langkah pelan tapi pasti, Ran liu berjalan mendekati beberapa orang di depan bangunan seperti gudang penyimpanan itu dengan ekspresi wajah datar tanpa senyum.
"Hei hei, apa aku tak salah lihat? seorang wanita cantik datang ketempat ini sendirian malam-malam begini. Wuohhh, makanan lezat..sungguhh.." ucap salah seorang penjaga melihat Ran liu dengan santai berjalan semakin mendekat dengan Trisula terselip di pinggang kirinya.
"Hehe, sungguh keberuntungan malam ini, tepat sekali aku merasa butuh sesuatu yang nikmat." tandas seorang yang lain dengan senyum licik menyeringai.
Ketiga penjaga itu tak menaruh curiga sedikitpun, dengan menyeringai licik mereka mendekati Ran Liu. Mempunyai wajah cantik serta bentuk badan indah cukup untuk membuat ketiga orang itu terbius nafsu apalagi di dukung dengan pakaian yang dikenakan Ran Liu sedikit mengekspos kaki jenjangnya dengan belahan terusan baju yang tinggi.
"Tuan-tuan kedatanganku kesini untuk mencari salah satu sahabatku, apakah kalian sudi kiranya membebaskannya." basa-basi Ran liu dengan wajah dibuat semanis mungkin.
"ahh uhh.. nona. Itu bisa diatur, hehehe sebelum itu nona harus memuaskan kami." dengan mengusap usap kedua telapak tangannya serta lidahnya menjulur diantara bibir, salah seorang dari mereka tersenyum kemenangan.
"Ah benar, kami bisa bebaskan sahabat nona, asalkan nona memuaskan kami terlebih dahulu hehe he hehe.." sergap yang lainnya dengan tatapan licik.
"ahh Tuan-tuan sungguh nakal, um-m baiklah.. Kemarilah, lakukan yang kalian inginkan.." dengan ekspresi menahan jijik Ran Liu masih berpura-pura manis.
Perkataan Ran liu tentu saja disambut tawa renyah ketiganya, lalu dengan perlahan ketiga nya mendekati Ran Liu dengan kedua tangan terangkat kedepan menyeringai sadis.
dddduuuaaaarrr.. craaackkk..craaakkk..
srettt sretttt srettt.. cttaaarrrr..
Ketika jarak ketiganya dengan Ran liu hanya terpaut tiga langkah. Dengan sangat cepat Ran liu menarik Trisula Dewi Perangnya serta mengangkatnya dan berseru dingin.
Seketika itu juga petir berwarna biru kehitaman menggelegar di langit serta menurun tajam menyerang ketiga orang penjaga itu dengan sangat cepat.
Yaa, Ran liu langsung mengeluarkan jurus utama yang dimilikinya. Membuat ketiga orang itu terkejut tanpa mampu bersiap ataupun menghindar.
Suara petir itu begitu tajam terdengar. Hanya sekali saja sambaran itu terjadi, namun ketiga orang itu langsung tewas dengan tubuh hangus terpanggang.
Bersamaan dengan suara petir itu, Wen serta Zey langsung mengeluarkan kekuatan masing-masing.
..TARIAN PEMBUNUH BINTANG..
Seketika itu muncul cahaya menyilaukan berbentuk pedang namun beberapa saat kemudian Cahaya berbentuk pedang itu terpecah menjadi cahaya kecil seperti jarum-jarum tajam.
Sisi kanan bangunan yang hanya ada belasan orang dengan tingkat Pendekar Ahli Atas, seketika jatuh tertelungkup setelah cahaya cahaya kecil itu menembus tubuh mereka secara cepat.
..FORMASI HUJAN PENCABUT NYAWA..
__ADS_1
Zey juga mengeluarkan jurusnya. Kekuatan Busur Bulan memang sangat mengerikan.
Setelah seruan zey itu dengan melepaskan anak panah terbentuk dari padatan energi tenaga dalamnya ke langit lalu memencarkan cahaya.
Seketika itu pula terdapat ratusan anak panah berkilauan jatuh menghujam tubuh belasan orang di bagian sisi kiri bangunan.
Belasan orang itu tidak sempat mengetahui apa yang terjadi, tiba-tiba saja tubuh mereka terjatuh bergelimpangan sesaat kemudian tak bernyawa.
Memang jurus yang dimiliki Wen dan Zey tak memiliki suara atau getaran apapun hanya berbentuk seberkas sinar terang, sebab itu mereka lebih cocok untuk menyerang diam-diam.
Dengan sekejap saja sisi depan kanan serta kiri telah berhasil dibereskan, hanya tinggal sisi belakang.
"Hehe hehe, mereka sungguh wanita yang mengerikan jika sedang bertarung, fiuuhhh." gumam Tan hao pelan serta menghela nafas.
"Benar. Aku tak menyangka hanya butuh beberapa detik saja untuk mereka menyelesaikannya, hehe hehe. Lain kali aku harus jaga ucapan di depan mereka hihihi.." sergap Ye yuan dengan sedikit terkejut dengan gerak cepat ketiga saudari itu disertai dengan senyum kecil.
"Ehh, kenapa Sui jiu tidak melakukan pergerakan? kenapa malah diam mematung dibalik pohon?" gumam Tan Hao pelan setelah menyadari bahwa sui jiu masih tetap dalam posisinya.
"Tan'er sebaiknya kau periksa dia, aku merasa dia tidak dalam kondisi bagus, entah apa sebabnya." tandas Ye yuan dengan wajah serius.
Tanpa menunggu lagi Tan hao melesat kearah Sui jiu berada.
Ran Liu segera masuk bangunan setelah membereskan penjaga depan. Kemudian Wen Liu mengikutinya dari belakangnya sesaat setelah ia masuk. Sementara Zey Liu masih berjaga di sekitar pintu depan.
"Sui, apa yang kau lakukan. Kenapa kau tak bergerak seperti yang lain?" ucap Tan Hao dengan menepuk pundak Sui jiu pelan dari belakang.
Terlihat jelas bagi Tan hao setelah menegurnya, terlihat ekspresi Sui begitu pucat, tapi bukan karena ketakutan.
"Kakak Xin Jiu ada diantara ketiga orang itu. Tuan, maafkan aku tidak bisa meneruskan ini. Dia Kakak ku satu-satunya. Bagaimana mungkin aku menyerangnya?" dengan sedikit bergetar Sui jiu menjelaskan alasannya masih diam bersembunyi.
"Oh jadi begitu. Lalu bagaimana seharusnya? apakah kau rela kakakmu terus berada di jalan gelap? atau kau menyadarkannya. Pilih lah." ucap Tan hao datar setelah mengamati lebih jelas ketiga orang yang tampak sedang berbincang ringan.
"A-aku.."
"haishh sudahlah, lebih baik kau segera masuk lewat depan saja hadapi Pertapa langit yang ada di dalam, Saudari Ran dan Wen tak akan sanggup melawannya. Disini biar jadi urusanku. Pergilah.." sergap Tan hao memotong perkataan Sui Jiu dengan ekspresi ramah meyakinkan.
"Tapi Tuan? aku minta jangan bunuh kakakku." lirih Sui jiu yang masih menatap salah satu dari ketiga orang itu dengan tatapan sedih.
"Tenang saja, aku berjanji. Sekarang pergilah."
Sui jiu tidak berkata apapun karena dia percaya bahwa Tan hao tidak mungkin membunuh kakaknya. Keyakinannya pada Tan hao begitu kuat sebab dia pernah merasakan bagaimana rasanya berhadapan dengan Tan hao.
"Haishh.. ikatan memang diperlukan. Tapi ikatan juga menghancurkan. Seorang manusia penuh dengan perasaan, ketika indera mereka terbuka maka ada saatnya indera mereka akan tertutup. Haihh,.." desah lelah Tan hao dengan menggeleng kepala ringan.
Kemudian melesat cepat dan berdiri ditengah-tengah ketiga orang penjaga.
"Ohh..Halo semua." sapa ramah Tan hao dengan senyum manisnya yang sontak saja membuat ketiga orang itu terkejut hingga refleks melompat mundur beberapa langkah.
__ADS_1