
"Kakak! Sebenarnya apa yang sedang kau baca? Apa itu Bintang Gajah Naga? Aku tak pernah dengar ada nama bintang seperti itu?" tanya Lan Lihua penasaran yang kemudian memecahkan lamunan Tan Hao.
"Nanti akan aku jelaskan! Jika sarapan sudah datang, kau langsung makan saja. Tidak perlu menungguku. Aku akan pergi sebentar! Ingat, jangan kemana-mana. Kali ini dengarkan aku, tubuhmu masih lemah," sahut Tan Hao setelah tersenyum tipis, sebelum ia keluar lewat jendela kamar. Tan Hao menyempatkan diri membelai halus rambut Lan Lihua sambil memberikan beberapa pesan.
Tan Hao masih memikirkan beberapa kalimat yang ada di lembaran buku tersebut sembari melompati beberapa atap bangunan menggunakan jurus angin senyap.
'Manusia Ular Gurun, ya! Memiliki Inti Roh seperti hewan buas, tapi mereka bukan siluman buas? Sepertinya memang kekuatan Hua'er akan bangkit setelah menyerap inti roh mereka, tapi aku penasaran seperti apa wujud ratu mereka? Ah sudahlah ... Sekarang yang terpenting pergi berburu!'
Tan Hao melihat banyak dari penduduk kota yang beraktifitas di dekat aliran sungai, mereka bekerja dalam kecepatan yang menurutnya sangat lamban dan seperti malas.
'Eh, orang-orang ini! Ada apa dengan mereka ini? Kenapa mereka kelihatannya tidak bersemangat dalam bekerja? Bukankah Ginseng Air itu sumber daya yang sangat mahal jika di jual!' batin Tan Hao yang masih mengamati secara samar beberapa penduduk yang sedang memanen ginseng air tetapi tak ada suara apapun yang keluar dari mulut mereka seolah mereka semua menderita penyakit bisu.
Kota Shaoguan memang bukan hanya terkenal karena wilayah berpasirnya, tetapi juga penduduk lokal yang sudah di kenal luas sebagai orang-orang malas. Bahkan tak ada satupun penduduk asli yang menjadi pendekar dan jika tidak ada pendatang, Kota Shaoguan hanya akan jadi sebuah wilayah terbengkalai. Padahal sumber mata air yang ada di dalam kota, bukan hanya sangat cocok untuk budidaya ginseng air tetapi juga bermanfaat bagi kultivasi seorang pendekar.
Rasa penasaran Tan Hao dengan perilaku penduduk lokal tersebut membuatnya berhenti dan ingin mengetahui ada apa dengan mereka. Namun belum sempat ia berbalik arah, pandangannya teralihkan oleh asap yang membumbung di langit.
"Lain kali saja aku cari tahu, sekarang yang terpenting aku harus menemukan dimana ada Manusia Ular!" ujar Tan Hao pelan sebelum menyiapkan ruang dimensi dan waktu.
Pada saat yang sama, orang yang sebelumnya menggendong anak perempuan itu menatap tajam Fen Fang.
"Kakek tua darimana ini, beraninya menyerangku dari belakang! Kau salah ikut campur urusan orang, kakek renta!"
Orang itu melesat cepat menggunakan ekornya sebagai tolakan sembari menggendong anak perempuan itu ke arah Fen Fang sembari menyiapkan sebuah pukulan yang terlapisi energi tenaga dalam berwarna oranye.
BAM!
Fen Fang menyunggingkan senyumnya tatkala menahan pukulan tersebut hanya dengan telapak tangannya. Kontan saja membuat reaksi orang berbadan setengah ular itu terkejut bercampur geram.
'Orang ini kuat juga! Tidak bisa di pandang hanya dari penampilannya, cih ...!' gumamnya sambil melompat mundur.
Fen Fang menaikkan sebelah alisnya ketika orang itu membunyikan suara menggunakan lidah bercabangnya. Seolah suara itu bertujuan untuk memanggil yang lainnya.
'Dia hanya setara Pertapa Bumi tahap puncak, mudah bagimu menghabisinya dalam sekali pukulan! Untuk apa kau membuang waktu seperti ini!' keluh Niu Ru di dalam pikiran Fen Fang.
__ADS_1
Hewan Langit yang memiliki sisik putih seperti susu dan memiliki sebuah lonceng di lehernya itu masih terlihat sama malasnya dengan sikapnya kemarin lalu. Fen Fang tersenyum kecut mendengar keluhan itu yang terdengar ditelinganya seperti sebuah ejekan.
'Kenapa bukan kau saja yang mengurus mereka? Bukankah kalian sama-sama ular, lagipula kau kan selalu mengaku sebagai ular paling cantik! Tentu saja kau lebih berhak menghukum mereka dibanding aku,' kelit Fen Fang sambil melirik tipis dalam wujud roh yang berada di samping Niu Ru.
'Sudah aku katakan, mereka tidak ada hubungannya denganku! Satu-satunya yang aku akui dan memiliki kekuatan mengerikan hanya Python Naga Air, selain dia tak ada yang menarik perhatianku.'
Fen Fang tak menjawab melainkan terfokus pada anak perempuan yang tengah pingsan di atas bahu orang itu. Tapi sejenak kemudian ia tersenyum tipis.
Tak berselang lama, tiba-tiba muncul dari balik pasir belasan orang setengah ular yang hanya memakai seikat kain yang mengikat pinggang mereka.
"Kalian urus kakek itu! Aku akan membawa anak ini ke tempat Jenderal Rui Yun. Jangan berikan dia hidup!" perintahnya sembari membenamkan diri ke pasir.
DUAR!
'Uhk...! Ku-kurang ajar!" orang itu muntah darah segar setelah terpelanting membentur dinding rumah yang terbuat dari tanah, anak perempuan yang sebelumnya ia panggul ikut terpelanting namun kearah berbeda dan entah bagaimana bisa, anak itu mengarah ke arah wanita yang sejak kejadian itu hanya terdiam mematung menyaksikan semuanya.
"Bagaimana keadaan Hua Hua? Kau kesini apa itu artinya dia sudah sadar?" tanya Fen Fang pada orang yang tiba-tiba muncul dari balik pasir tempat orang yang membawa anak perempuan itu mencoba pergi.
"Dia baik-baik saja, aku kesini untuk berburu sesuatu yang akan membuatnya pulih kembali!" Orang itu tak lain adalah Tan Hao, ia tersenyum lebar menatap belasan orang berbadan ular tersebut.
Dalam pandangan Tan Hao, mereka lebih cocok di sebut sebagai Siluman Ular dibanding Manusia Ular Gurun. Penampilan mereka jauh melenceng dari apa yang dibayangkan Tan Hao. Meskipun ia sedikit kecewa tetapi mengetahui ada banyak siluman ular dihadapannya, kekecewaannya terbayar lunas.
"Maksudmu! Inti Roh mereka?" Fen Fang terkejut menyadari maksud ucapan Tan Hao, sementara dirinya mengamati lebih jelas raut wajah Tan Hao yang kelihatan senang itu.
"Benar!" kata Tan Hao sebelum kemudian bergerak cepat kearah belasan manusia ular itu.
Fen Fang tersenyum kecut mendengar jawaban Tan Hao, dirinya tak menyangka jika Lan Lihua membutuhkan Inti Roh dari manusia ular yang menurutnya mirip dengannya hanya saja sedikit berbeda yang dibutuhkan.
"Heh...! Aku tak menyangka, Hua Hua sama mengerikannya denganku dalam urusan konsumsi energi!" ujarnya sebelum kemudian mengikuti gerakan Tan Hao dalam membunuh belasan manusia ular tersebut.
Tak ada dari mereka yang dapat melihat pergerakan dua orang beda usia tersebut, kecepatannya sangat tinggi membuat mereka hanya bisa merasakan hempasan udara sebelum kepala mereka terlepas begitu saja tanpa tahu sebabnya.
Kejadian itu hanya berlangsung satu tarikan napas, orang yang sebelumnya memanggul anak perempuan, kini telah kehilangan akalnya ketika melihat serangan tak terlihat tersebut.
__ADS_1
Baginya, serangan itu bahkan lebih sempurna dibanding serangan tak terlihat yang dimiliki manusia ular. Batinnya berteriak namun mulutnya terkunci, wajahnya memucat dengan cepat yang dihiasi tetesan peluh di pelipisnya.
Rasa takut mulai menjalari tubuhnya, rasa tak berguna mulai menghantam pikirannya. Tak ada lagi yang bisa ia banggakan saat melihat anak buahnya mati semua hanya dalam satu tarikan napas tanpa perlawanan sama sekali.
"Jadi ini, inti roh dari siluman menggelikan itu!" ujar Tan Hao sembari mengamati pijar api berwarna oranye muda yang menyala di atas telapak tangannya.
Terhitung ada sebelas lebih inti roh yang Tan Hao dapatkan dengan mudah, sementara Fen Fang hanya mendapatkan delapan. Senyum mengembang di wajah Tan Hao menandakan ia cukup puas dengan hasil yang ia dapatkan.
"Aku rasa ini lebih dari cukup untuk Hua'er! Untuk sekarang, baiknya kita memburu mereka untuk meningkatkan kekuatan Hua'er. Apa kakek keberatan?" ujar Tan Hao sembari menyimpan semua inti roh itu kedalam cincin dimensi.
Fen Fang terhenyak sesaat sebelum tersenyum kecil, "Tidak masalah, lagipula aku juga sedang mencari kepala yang pas untuk kekuatanku. Aku jadi tidak perlu merasa bersalah dengan membunuh mereka daripada harus membunuh manusia sungguhan. Hehe ...!"
"Kalian ini sebenarnya siapa? Apa maksud kalian dengan memburu mereka?" teriak orang itu bernada ketakutan, terlihat darah ikut menyembur.
Tan Hao dan Fen Fang saling pandang sejenak sebelum akhirnya keduanya tertawa bersamaan, hal itu membuat orang yang sebelumnya bertingkah angkuh itu semakin bergidik bersamaan dengan gemetaran tubuhnya.
'Orang-orang ini mengerikan sekali! Mereka bukan hanya kuat, tapi lebih ganas dibanding kami. Aku harus cepat melapor Jenderal Rui Yun.' batinnya seraya memunculkan ular kecil dari ujung jari yang kemudian masuk kedalam pasir. Hal itu tak terlihat oleh Tan Hao ataupun Fen Fang.
Tak berselang lama, orang yang bertugas di dinding kota yang sebelumnya Fen Fang temui datang dengan tergesa-gesa bersama lima orang bawahannya. Kelihatan dari ekspresi wajahnya tidak ada rasa khawatir maupun cemas karena telah kecolongan dalam berjaga.
"Nyonya, apa yang terjadi? Apa nyonya tidak apa-apa?" tanya orang itu yang terlihat jelas dia memakai pakaian khas asosiasi namun memiliki motif dan bentuk berbeda.
Fen Fang hanya melirik sinis ketika orang itu bertanya, 'Apa matamu buta, huh! Bukannya kelihatan jelas disini ada apa? Apa kau pikir kami sedang bermain catur sambil minum teh, cih...!'
"Manusia Ular hampir menculik anakku, untung ada dua orang ini yang menyelamatkannya. Tuan Bao Jia darimana saja? Bukannya menjaga!" jawab wanita itu bernada setengah meninggi sembari menatap tajam.
"Maafkan kami nyonya! Serangan terjadi bukan hanya disini saja, tapi di tempat kami juga...." kilahnya diselingi lirikan sinis kearah Tan Hao dan Fen Fang.
"...Mereka hanya orang asing yang tidak tahu sedang berhadapan dengan apa! Jadi nyonya jangan sembarangan menilai baik orang yang belum jelas asal-usulnya. Kami dari Asosiasi Menara Emas akan berusaha lebih keras lagi, nyonya jangan khawatir!" imbuhnya menyakinkan wanita itu tanpa memperdulikan Tan Hao dan Fen Fang.
"Sudah cukup basa basimu! Aku sisakan seekor untuk kau jadikan bahan laporan! Aku peringatkan kau untuk selalu waspada dan bersikaplah baik saat bertemu orang asing sebelum kau menyesal nantinya," Tan Hao menatap datar sebelum melompat pergi disusul Fen Fang.
"Kau akan menyesal atas sikapmu!" ketus Fen Fang sambil melirik sinis.
__ADS_1